Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
kekosongan Hati


__ADS_3

Malam semakin gelap, Pakha akhirnya mau kembali ke istana hutan kelam bersama suaminya. Hatinya benar-benar sakit, cinta yang sedari dulu ia jaga harus ia hapus dengan kekuatannya sendiri. Tinggal kenangan personal yang bisa ia ingat sendirian. Berharap sang kekasih hati hidup dengan baik tanpa dirinya, tugas pertama telah selesai. Kini tinggal tugas selanjutnya yaitu memperbaiki hubungan kakaknya agar menjadi keluarga yang utuh seperti dulu. Pakha harus mencari tahu apa penyebab keruntuhan rumah tangga kakaknya itu, namun ia perlu waktu untuk menemukan jawabannya.


"Sayang jika kamu lelah istirahatlah."kata Bima menaruh tubuh Pakha di atas ranjang karna Pakha kelelahan menangis.


"Iya. "jawab Pakha singkat.


"Ya udah, aku tinggal dulu ya, kamu istirahat saja. "ucap Bima kemudian mencium kening istrinya itu, dan kemudian menghilang dari hadapan Pakha.


Semantara itu, Boy akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, karna tubuhnya benar-benar sembuh bahkan dia merasa lebih segar dari pada sebelumnya. Boy benar-benar tidak ingat apapun. Namun ia masih ingat semua kehidupannya namun ada suatu puzle yang hilang dari ingatannya bahkan hatinya rasanya aneh.


"Apa yang aku lewatkan?perasaanku seperti baru saja kehilangan sesuatu. "batin Boy melamun di dalam mobil yang sedang melaju.


"Ada apa nak, kamu terlihat cemas, apa ada sesuatu yang tertinggal? "tanya papa Boy yang menyedari kegelisahan putra semata wayangnya.


"Tidak kok pa, aku cuma butuh istirahat saja. "jawab Boy kemudian kembali menatap pepohonan yang terlihat di balik kaca mobil.


"Pa cepat sedikit dong, anak kita udah pengen istirahat tu. "ucap ibu Boy pada suaminya.


"Sabar ma, keselamatan itu yang utama, lagi pula papa dari tadi juga udah ngebut nih. "jawab ayah Boy sepaneng memperhatikan jalanan yang macet.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya mereka sampai juga di istana mewah milik keluarga Boy.


Ibu Boy turun terlebih dahulu, kemudian para pelayan datang menghampiri tuan mudanya berniat untuk membantu namun Boy tolak karna tubuhnya sudah sembuh.


"Aku bisa jalan sendiri, kalian bantuin papa saja untuk memasukkan barang-barangnya ke dalam rumah. "perintah Boy.


"Baik tuan. "kata para pelayan.


Boy langsung masuk ke dalam rumah.


Sesampainya di kamar, Boy pun langsung melemparkan tubuhnya di atas ranjang big size yang sudah lama tidak ia tiduri.


"Sejak kapan aku lebih suka rambut panjang seperti ini. "batin Boy menyentuh rambutnya yang sudah sebahu.


Boy kemudian bangkit dan berjalan menuju ke arah cermin, ia menatap lekat-lekat penampilannya saat ini.


"Cih jelek sekali ni wajah, pertama-tama aku harus merubah penampilanku dulu. "gumam Boy saat bercermin.


"Pak Anto.. Antoo.. cih kemana dia. "teriak Boy memanggil kepala pelayan di rumah itu.


"Iya tuan, tunggu sebentar."suara Pak Anto menyahut dari jauh saat mendengar namanya di panggil.


CEKLEK

__ADS_1


"Permisi tuan ada yang bisa saya bantu. "


"Bawakan aku seorang cukur yang paling handal, dan bawakan aku seorang ahli kulit yang paling terkenal. "perintah Boy pada Pak Anto.


"Baik tuan, tunggu dalam lima belas menit akan saya bawakan mereka di depan tuan. "


"Sekarang kamu boleh pergi. "kata Boy.


Pak Anto pun pamit undur diri untuk melaksanakan perintah tuan mudanya itu.


Tok.. Tok.. Tok..


Sedetik kemudian pintu kamarnya di ketuk oleh seseorang. Boy pun mempersilakan masuk orang tersebut.


"Maaf mengganggu waktunya, saya hanya membawakan makan malam ini atas perintah nyonya. "kata seorang bibi memangkul makanan di atas nampan.


"Taruh saja di meja, segeralah keluar dari kamarku, aku ingin segera istirahat. "Usir Boy pada bibi itu.


Bibi itu pun ketakutan, ia segera menaruh nampan itu di atas meja kemudian cepat-cepat keluar dari kamar Boy.


Entah mengapa sikap Boy bisa berubah menjadi dingin seperti itu, para pelayan dan bibi pun menyadari perubahan sikap Boy dari yang dulu ramah, baik dan hangat menjadi dingin kasar dan cuek.


"Gimana bi sudah di antarkan makanannya? "tanya ibu Boy.


"Tapi apa bi, apa Boy tidak mau memakannya? "tanya ibu Boy penasaran.


"Bukan itu nyonya,..anu.. emm.. tu.. tuan muda terlihat berubah nyonya, dia bukan seperti tuan muda yang aku kenal dulu. "kata sang bibi sambil menundukkan kepala.


"Ah soal itu.. mungkin dia lagi kecapean, dia kan baru keluar dari rumah sakit. "kata ibu Boy menenangkan bibi.


"Ah begitu ya nyonya, maaf jika perkataan saya menyinggung hati nyonya. "


"Tidak apa-apa kok bi, terima kasih ya sudah mengantarkan makanannya. "


"Iya sama-sama, saya permisi dulu nyonya. "pamit sang bibi.


Ibu Boy sebenarnya juga merasakan perubahan sikap putranya namun ia masih belum tau, kehidupan apa yang Boy jalani sejak menghilang selama itu. Ibu Boy tetap bisa memaafkan apa pun kesalahan anaknya karna berkat Boy ia juga merasa lebih tenang sehingga kesehatannya sudah semakin membaik. Ibu Boy sakit gara-gara merindukan anak satu-satunya yang menghilang.


"Boy semoga kamu baik-baik saja nak. "batin ibu Boy kwatir.


RUMAH OCI


Triring.. triring..

__ADS_1


Telfon rumah berdering beberapa kali, dan Oci mendengar suara itu, ia pun langsung bergegas mengangkat telfon tersebut.


"Assalamualaikum dengan kediaman Oci."


"Hay.. broo.. gimana kabarmu. "kata seseorang di ujung telefon.


"Ini... suara ini sepertinya aku kenal. "kata Oci pada sang penelfon.


"Ini aku Boy. "


"Hah. "Oci masih loading, dia belum percaya bahwa yang berbicara bersama dia itu benar-benar sahabatnya.


"Kok cuma hah, reaksi apaan itu saat mendengar sahabatnya kembali bukanya senang malah cuma hah. "Boy ngedumel di dalam telefon.


"Sorry.. aku baru konek..alhamdulillah sahabatku sudah kembali, gimana kamu sudah tobat sekarang?"kata Oci mencomot sembarang topik pembicaraan.


"Apa maksudmu, tobat gimana yang kamu maksud? "Boy malah balik bertanya.


"Kamu geger otak atau gimana sih, masa kamu tidak ingat sama sekali. "jawab Oci penasaran.


"Sia*an kau, aku benar-benar tidak ingat apa pun, dokter bilang kepalaku tidak ada masalah apa-apa. "kata Boy nyolot.


"Biasa aja bro jangan nyolot begitu, baguslah kalau kamu lupa dengan perbuatan kotormu itu. "jawab Oci .


"Hah aku tidak tau apa yang barusan kamu katakan."kata Boy bingung.


Sementara itu di balik sibuknya Oci berbincang-bincang kaysa memanggil-manggil ayahnya namun tidak ada jawaban.


"Huwa... ayah!! "teriak kaysa dan langsung menangis karna tidak ada jawaban dari ayahnya.


Oci pun mendengar tangisan kaysa dan langsung berlari meninggalkan telefon itu begitu saja dan langsung menghampiri sumber suara.


"Kaysa kamu tidak apa-apa nak, apa yang sakit? "kata Oci panik saat melihat putrinya tiba-tiba menangis.


"Ayah di panggil tak awab, kemana yah, kaysa akut cendilian. "ucap kaysa masih menangis.


Oci langsung menggendong kaysa dan menenangkannya.


"Cup.. cup.. cup.. anak ayah udah dong nangisnya. "


Sementara itu setelah sambungan itu terputus Boy berpikir keras, hal penting apa yang ia lupakan. Berulang kali mencoba mengingatnya namun nihil ia pun tidak bisa mengingat apa pun.


"Aissh. "Boy menggaruk rambut panjangnya dengan frustrasi.

__ADS_1


Sekian dulu ya.. nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. Tetap semangat membaca.


__ADS_2