Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Pergi Jauh


__ADS_3

Sunrise melukis langit dengan warna merah jambu dan matahari terbenam dengan warna jingga terlukis di langit rumah sakit. Jidan memandang langit itu di balik jendela kaca tubuhnya di atas kursi roda.


" Bu Arasi bila mencintaimu adalah ilusi, maka izinkan aku berimajinasi selamanya."batin Jidan melamun di pinggir jendela kaca lantai tiga rumah sakit.


Beberapa saat suara keras adiknya terdengar nyaring sampai di dalam ruangan, Jidan tersadar dari lamunannya. Wajahnya berubah menjadi kesal.


"Berisik banget si cerewet itu. "gumam Jidan namun masih bisa di dengar.


"Jangan menggerutu begitu."


Tiba-tiba ada suara dari arah belakang, suara yang sangat familiar. Jidan langsung berbalik, ternyata bu Arasi berjalan menuju dirinya dengan membawa sesuatu di tangannya.


Dan sekarang bu Arasi tepat berdiri di depan dirinya yang terduduk di kursi roda. Bu Arasi memperlihatkan sesuatu yang tadi ia genggam kepada Jidan, tepatnya menempelkan di pipi Jidan yang masih melongo melihat bu Arasi.


"Bisa jelaskan kenapa ini ada di dalam tasmu? "tanya bu Arasi masih menempelkan benda itu di pipi Jidan.


"Arasi biar aku jelaskan dulu,.. a.. aku.."


"Cukup kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi...aku kecewa padamu. "kata bu Arasi kemudian membawa pergi buku yang selama ini ia cari dan keluar dari ruangan Jidan.


"Tunggu... Arasi..aku.. aku jelaskan dulu.. "ucap Jidan sambil mengejar bu Arasi dengan kursi rodanya namun bu Arasi sudah menutup pintu ruangan Jidan, dan ia telah kehilangan kepercayaan dan juga cinta bu Arasi.


"ARKKK" Jidan teriak dengan keras karna ia sangat frustrasi, kepalanya ia jambak dan selang infus yang masih menempel di tangannya ia lepas dengan paksa, kemudian ia berlari keluar dari ruang rawat dan mengejar bu Arasi. Namun sia-sia bu Arasi terlihat sudah pergi meninggalkan rumah sakit dengan taksi yang baru saja lewat di depan matanya.


Jidan tidak putus asa dia juga menghentikan sebuah taksi dan meminta supir taksi itu untuk mengejar taksi di depannya.


"Cepat Pak... jangan sampai kehilangan jejak..hook.. ."kata Jidan cemas. Namun tiba-tiba mulutnya mengeluarkan banyak darah.


"Anda tidak apa-apa mas? "tanya sang supir taksi yang kwatir karna melihat Jidan masih berpakaian pasien dan mulutnya juga mengeluarkan darah segar.


"Jangan pedulikan saya pak tetap kejar taksi di depan. "jawab Jidan kemudian meraih tisu yang ada di taksi itu untuk mengelap darah di mulutnya.


Sekitar lima belas menit taksi bu Arasi berhenti di depan sebuah rumah sederhana, di sana ia turun dengan tergesa-gesa.


Tak lama kemudian taksi Jidan tepat berhenti di belakang taksi bu Arasi.


Jidan langsung turun taksi, sementara ia belum membayar taksi itu karna ia tidak membawa uang sepersen pun.


"Ehh mas taksinya belum di bayar.. "teriak sang supir pada Jidan.


"Bentar pak tunggu di situ sebentar jangan pergi, aku hanya ada sedikit urusan. "jawab Jidan dari kejauhan sambil berlari mengejar bu Arasi yang terlihat akan masuk ke dalam rumah.


"Tunggu. "Jidan menghentikan langkah bu Arasi dengan memegang pergelangan tangannya.


Bu Arasi menoleh ke belakang, ternyata Jidan.


"Lepaskan tanganku, aku tidak ingin melihatmu lagi. "kata bu Arasi namun ia terlihat sangat kwatir karna pakaian Jidan terlihat penuh darah.


"Tolong jangan pergi....aku mencintaimu Arasi, aku sangat mencintaimu.."kata Jidan namun dengan suara pelan.


Kemudian Jidan tidak sadarkan diri di depan bu Arasi.

__ADS_1


"Jidan... kamu kenapa... bangun.. Jidan... "bu Arasi panik kemudian berlari meminta tolong supir taksi yang tadi masih menunggu di halaman untuk membantu membawa Jidan ke rumah sakit.


"Jidan..sadarlah hiks.. hiks.. aku juga mencintaimu, tapi..kita sekarang kakak adik dan kamu selamanya akan menjadi adikku. "kata bu Arasi sambil menangis saat memangku kepala Jidan yang tidak sadarkan diri.


"Pak tolong cepat sedikit. "


"Baik nona. "


Sementara itu di rumah sakit sedang gempar saat Nawang dan Oci membuka ruangan Jidan di temani ibu Jidan. Mereka semua kaget karna Jidan sudah tidak ada di kamarnya dan selang infus tertinggal di atas kursi roda. Ibu Jidan panik kemudian mereka semua memanggir dokter dan satpam untuk ikut mencari Jidan.


"Ummi pulang dulu saja kasian kaysa dia pasti sudah menunggu lama, kasian juga ibu yang jagain kaysa kalau dia rewel. "kata Oci pada Nawang.


"Baik bi.."jawab Nawang kemudian keluar dari ruangan Jidan.


Sementara Oci ikut yang lain mencari Jidan.


"Loh naee kok sudah pulang, emang ada apa di dalam kok rame? "tanya Dandi yang dari tadi mengikuti Nawang.


"Bukan urusanmu, pergi kamu!.apa kamu belum puas menghancurkan rumah tanggaku. "kata Nawang marah.


"Biar aku antar naee. "tawar Dandi.


"Tidak perlu."kata Nawang menolak, ia kemudian menghentikan taksi untuk ia naiki.


Sedangkan Dandi hanya tersenyum lebar.


"Tidak apa kamu menolak aku sekarang, tapi bagaimana kalau foto ini aku berikan ke suamimu..kamu pasti akan merengek minta kembali padaku. "batin Dandi sambil menggenggam foto dirinya dengan Nawang waktu kuliah.


Beberapa saat kemudian taksi Jidan sudah sampai di depan rumah sakit, dan kebetulan ayah Jidan sedang mencari di halaman rumah sakit. Bu Arasi memanggil dokter dan ayah Jidan menghampiri mereka berdua.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ara, mengapa Jidan bisa bersamamu? "tanya ibu Jidan dan sekarang juga menjadi ibunya.


"Tadi Jidan mengejarku saat aku pulang. "jawab bu Arasi merasa bersalah.


"Apa?? kamu dari dulu tidak pernah berubah bisanya cuma bikin susah, tidak salah jika aku meninggalkan mu. "kata ibu Jidan kemudian pergi meninggalkan bu Arasi yang masih berada di halaman rumah sakit.


Kata-kata itu seperti sayatan pisau yang sangat sakit bagi bu Arasi yang mendapatkan kata-kata seperti itu dari ibu kandungnya sendiri.


"Baru kali ini aku menyadari bahwa satu orang yang sama bisa menyakitiku dua kali, dengan kesalahan yang sama pula."batin bu Arasi kemudian setetes air matanya turun di pipi cantiknya. Dia tahu ibunya tidak akan pernah lagi mengakuinya anak dan dia tidak terlalu banyak berharap lagi untuk mendapatkan kasih sayang orang tuanya.


"Sudah cukup aku mempunyai ibu sepertimu, lebih baik aku hidup sendiri tanpa siapa pun yang peduli padaku. "


Keesokan harinya bu Arasi keluar dari rumah sambil membawa koper di tangannya, di sana ia sudah di tunggu sebuah taksi. Bu Arasi berhenti sejenak, ia melihat kembali rumah sederhana yang sudah belasan tahun ia tempati. Kemudiam masuk ke dalam taksi.


"Jalan pak. "


"Baik non. "


Kini taksi itu berjalan meninggalkan halaman rumah yang sekarang menjadi kosong.


"Pak berhenti sebentar di pemakaman nusa indah ya, aku ingin menaruh bunga ini sebentar sebelum pergi ke bandara. "kata bu Arasi sambil membawa bunga tulip di tangannya.

__ADS_1


"Baik non. "


Taksi itu pun berhenti di sebuah pemakaman tak terawat dengan banyak ilalang yang tumbuh di sekitarnya. Gundukan tanah yang terdapat sebuah batu dengan tulisan Painah yang nampak kabur karna di tumbuhi lumut dan terkikis hujan.


Bu Arasi menaruh bunga yang tadi ia bawa di atas kuburan tersebut.


"Nenek Ara ingin pamit.. mungkin beberapa tahun Ara tidak akan menjenguk nenek lagi.. keputusan Ara sudah bulat, Ara ingin ke luar negeri tempat yang Ara inginkan sewaktu kecil. Setelah beberapa tahun Ara bekerja menjadi dosen akhirnya Ara bisa membeli tiket nek. Nenek tidak usah kwatir Ara pasti bisa bahagia di sana. Selamat tinggal nek. "kata bu Arasi kemudian mencium batu berlumut itu untuk perpisahan.


Di satu sisi keadaan Jidan sudah lebih stabil. Dokter mengatakan ia di perbolehkan pulang hari ini. Keluarga Jidan sangat senang setelah mendengar penjelasan dokter.


"Baik terimakasih dok. "


"Tapi ingat ya bu, Jidan harus banyak istirahat agar cepat pulih. "


"Baik dok. Kami permisi dulu. "kata ibu Jidan kemudian mendorong kursi roda Jidan untuk meninggalkan rumah sakit.


Di Bandara


Bu Arasi sudah bersiap-siap masuk ke dalam pesawat. Dia melangkah masuk kemudian duduk di kursi pinggir jendela sesuai dengan nomor yang tertera di kertas yang ia bawa. Ketika ia ingin mengalihkan mode hpnya menjadi mode pesawat ternyata tadi saat hpnya dalam mode diam banyak panggilan tak terjawab yang masuk. Bu Arasi membuka info ternyata semua panggilan itu dari Jidan. Bu Arasi mengabaikan dan langsung mengalihkan mode pesawat karna sebentar lagi pesawat akan lepas landas.


Kini roda pesawat telah berjalan, dan tepat pukul 9 pagi, ia meninggalkan tanah kelahirannya.


"Selamat tinggal Indonesia dan kenangan. Selamat tinggal Jidan. "batin bu Arasi sambil melihat awan di ketinggian 3000 kaki.


Di rumah Jidan


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, silahkan ulangi panggilan beberapa saat lagi. "


Jidan sangat gusar dari tadi panggilannya tidak ada jawaban sama sekali, dan nomor bu Arasi tidak bisa di hubungi.


"Bu Arasi kemana kamu?kenapa tidak menjawab teleponku sama sekali. "gumam Jidan kemudian menyaut kunci motornya.


"Mau kemana kamu? "tanya ayah Jidan.


Jidan tidak menjawab pertanyaan ayahnya dia langsung naik motor dan pergi begitu saja.


"Anak jaman sekarang di tanya tidak jawab, baru saja keluar rumah sakit langsung keluyuran. Awas aja kalau terjadi sesuatu tidak akan ku maafkan. "kata ayah Jidan kemudian menyeruput kembali kopi di tangannya.


Sekitar sepuluh menit akhirnya Jidan tiba di rumah bu Arasi namun rumah tampak sepi. Jidan memanggil beberapa kali tidak ada jawaban apa pun. Ia kemudian bertanya pada tetangga Arasi.


"Bu mau tanya penghuni rumah sebelah di mana ya dari tadi saya panggil tidak ada jawaban."tanya Jidan.


"Oh bu Arasi? tadi kebetulan saya ketemu, dia bilang ingin ke bandara sambil membawa koper di tangannya. "jawab tetangga itu.


"Apa?bandara?"Jidan langsung pergi menaiki motornya melesat menuju bandara terdekat.


Sesampainya di bandara ia berlari kesana kemari berharap bu Arasi masih belum naik pesawat, ia berlari sambil memanggil manggil nama bu Arasi. Dari lalu lalang penumpang bandara tersebut ia tidak menemukan bu Arasi di sana.


"Bu.. ARASIII."teriak Jidan keras.


Seketika ia langsung menangis sejadi-jadinya tidak peduli dengan orang yang lalu lalang lewat.

__ADS_1


*Untuk kedua kalinya aku kehilangan seseorang yang benar-benar membuatku merasa berarti. Sekeras apapun aku berlari dari kenyataan. Sekeras apapun aku berlari dari takdir. Sekeras apapun aku mencari jawaban dari semua pertanyaan, ia tetap pergi dan aku kehilangan arah. Tidak ada lagi yang cukup berarti buatku. Mungkin, kita hanya sepenggal kisah yang lupa ditamatkan oleh penulisnya. Lalu, terkubur waktu hingga membuat tokoh utama terjebak kenangan.SUARA HATI JIDAN.*


Sekian dulu.. nantikan keseruan lainnya di episode selanjutnya. Tetap semangat membaca.


__ADS_2