Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Hati gelisah


__ADS_3

Pagi datang dengan sejuta cahaya, langit yang cerah berwarna biru muda, angin sejuk memberikan kesegaran di seluruh alam semesta.


Begitu juga seorang perempuan yang sedang menghirup udara pagi bersama dengan seorang pria yang di cintainya.


"Selamat pagi sayang, apa tidurmu semalam nyenyak? "tanya bima di ujung pintu kamar mandi dengan rambut masih basah.


"Pagi juga bim"jawab pakha dengan nada rendah karna matanya masih mengantuk.


"Hari ini kan libur, ada rencana apa kamu sayang ? "tanya bima sambil berjalan ke arah pakha yang baru bangun tidur.


"Entahlah aku belum punya rencana apapun hari ini"jawab pakha sambil mengucek mata.


Setelah itu pakha melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karna bima ingin mengajak pakha liburan di suatu tempat. Pakha hanya mengiyakan ajakan bima karna hari ini ia malas untuk pulang ke kampung halamannya. Meskipun biasanya jika hari libur tiba dia pasti menyempatkan diri untuk menengok keluarganya. Kepulangannya di kampung halaman itu hanya untuk menengok kak nawang , bukan orangtuanya, jika saja bukan karna kak nawang dia pasti malas untuk pulang ke rumah. Karna orang tuanya tidak terlalu peduli dengan pakha.


Ketika pakha sedang mandi di kamar mandi hpnya berbunyi ada sebuah nama yang memanggilnya. Bima menghampiri HP pakha yang berbunyi itu ada tulisan boy bawel yang sedang memanggil telefon pakha. Bukanya mengangkatnya namun bima langsung mereject panggilan itu. Kemudian HP pakha di matikan agar tidak ada yang mengganggu kebersamaan mereka berdua.


"Masih berani kamu menelpon pakha, dasar laki-laki tak tau untung , sudah ku peringatkan namun kamu tidak juga jera"geram bima kembali menaruh hp pakha di tempat asalnya.


Beberapa menit kemudian pakha keluar dari kamar mandi. Dia langsung memilih pakaian yang akan di gunakan untuk pergi jalan-jalan bersama bima.


"Oh ya bim tadi sepertinya aku mendengar telepon masuk, siapa tadi yang telefon? "tanya pakha sambil memakai bajunya.


"Gak ada tuh salah dengar kali"jawab bima berbohong .


Pakha percaya dengan perkataan bima dia pun tidak mengecek hpnya dan langsung bersiap-siap berangkat.


Sementara itu di sebuah kamar ada seorang laki-laki yang sejak satu jam yang lalu mondar mandir sambil membawa hpnya seperti mengkwatirkan sesuatu.

__ADS_1


"Kenapa pakha menolak panggilan telefon ku?, biasanya dia tidak pernah begini, kalau dia sibuk pasti memberi tahu aku lewat pesan, kenapa saat ku hubungi ulang hpnya jadi tidak aktif, aku takut terjadi sesuatu padanya"gumam boy mukanya terlihat cemas.


Dia segera mengambil kunci mobilnya yang terletak di atas meja dan langsung buru-buru melajukan mobilnya menuju ke kosan pakha.


Setelah pakha sudah siap semua, bima segera melajukan motornya bersama pakha , beberapa saat boy sampai di kosan pakha. Boy berlari masuk ke kosan pakha pikirannya berkecamuk, kemudian ia menggedor pintu kamar pakha sambil memanggil manggil namanya.


Tidak ada jawaban di dalam kamar itu namun ada seorang perempuan yang keluar dari sebelah kamar pakha.


"Masnya ingin cari siapa? "tanya mbak itu.


"Maaf mbak saya ingin mencari pakha, apa mbak tau dia ada dimana? "tanya boy sedikit kwartir.


"Sepertinya dia tidak ada mas, saya lihat tadi baru saja ia keluar kamar sendirian dan beberapa saat masnya sampai di sini"jawab mbak itu.


"Baiklah makasih atas infonya mbak"kata boy langsung melangkah menuju mobilnya.


Namun sepanjang perjalanan ia tidak juga melihat pakha, kemana pakha sebenarnya?apa dia baik-baik saja? banyak pertanyaan yang melintas di pikiran boy. Hatinya tidak akan tenang sebelum ia mendengar kabar pakha. Boy takut kejadian hilangnya pakha terjadi lagi. Dia tetap mengendarai mobilnya di segala arah ,matanya melihat kanan kiri jalanan dan tangan satunya sambil memegang HP yang tak henti-hentinya memanggil nomor pakha. Saat ini kondisi boy sedang tidak enak badan karna leher bekas cekikan makhluk itu semakin hari semakin memburuk bahkan terasa perih namun ia tidak peduli dengan kesehatannya sendiri. Baginya pakha adalah hidupnya ia tak mungkin bisa hidup tanpa pakha.


Boy ingin meminta bantuan sahabatnya untuk mencari pakha.


Oci setuju dengan hal itu, kak nawang juga ikut membantu mencari pakha. Ketiga orang itu sedang kebingungan mencari pakha namun pakha hari ini malah bersenang-senang bersama bima di sebuah pantai pasir putih.


"Bim ayo cepat"kata pakha sambil berlari-lari di bibir pantai putih yang indah itu.


"pelan-pelan dong sayang nanti kamu jatuh"teriak bima yang mengejar di belakang pakha.


Pakha sedang bermain pasir, menceburkan kakinya di dalam air dan bermain bersama bima. Sungguh membahagiakan hari ini bagi pakha sampai-sampai dia tidak pernah mengecek teleponnya sama sekali. Mentari sudah mulai menyengat tubuh , sang waktu terus berjalan, hanya sepenggal kisah yang terukir di atas pasir putih yang menjadi saksi kebahagiaan sepasang kekasih yang saling melepas rindu itu.

__ADS_1


Di tempat lain ada ketiga orang yang merasa cemas dengan prempuan yang sering hilang kabar itu. Oci dan kak nawang mencari pakha di sekitar kampung halamannya karna biasanya di hari libur pakha pasti pulang kerumah. Sedangkan boy masih mencari pakha di tempat-tempat yang sering pakha kunjungi.


Sudah hampir setengah hari pakha tidak ada kabar, boy tanpa rasa letih terus memanggil nomor itu. Alhamdulillah akhirnya nomor pakha aktif juga dan terdengar suara perempuan yang di kwatirkannya.


"Hallo boy ada per..... "pakha belum selesai berbicara langsung di beri banyak pertanyaan oleh boy.


"Kamu di mana sekarang?tidak terjadi apa-apakan denganmu? kenapa dari tadi telepon mu tidak aktif? kenapa kamu tidak memberi kabar padaku?kenapa tadi telefon ku di tolak? kenapa..."boy belum sempat menyelesaikan pertanyaan namun langsung di hentikan oleh pakha.


"Cukup boy tenang dulu, tanya satu-satu agar aku tidak bingung menjawabnya"jawab pakha di ujung teleponnya.


Setelah itu boy memberikan pertanyaan satu-persatu pada pakha dan pakha langsung menjawabnya. Obrolan mereka cukup lama sehingga laki-laki di samping pakha merasa kesal karna di cuekin.


Pakha senyam-senyum sendiri mengangkat telefon itu.


"Apakah telepon itu lebih asik dari pada diriku? "tanya bima kesal.


"Udah dulu ya boy nanti ku telepon lagi"kata pakha di ujung telfonnya kemudian mengakhiri sambungan telepon itu.


Pakha kemudian menoleh bima dan tersenyum.


"Bukan begitu bim, kamu jangan marah dong, aku hanya menjawab telefon boy karna kak nawang dan oci mengkhawatirkan diriku"kata pakha menenangkan bima.


Pakha langsung menghampiri bima di sampingnya dan langsung mendusel-duselkan kepalanya di dada bima. Bima pun langsung tersenyum dan mengacak acak rambut pakha, akhirnya mereka berdua kembali baikan.


Begitu juga dengan boy akhirnya kekhawatirannya mempunyai sebuah jawaban, boy segera menghubungi oci dan kak nawang bahwa pakha baik-baik saja. Mereka pun kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing. Boy baru tersadar jika ada sesuatu yang terasa sakit di bagian tubuhnya padahal tadi pas mencari pakha ia tidak merasakan apa-apa.


"Ark leherku terasa perih, sebaiknya aku harus segera periksa ke dokter agar lukaku tidak parah"gumam boy kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit untuk memeriksa luka di lehernya itu.

__ADS_1


Sekian dulu ya, ikuti episode selanjutnya author bakal memberikan kejutan untuk kalian.


__ADS_2