
"APA AKU DAPAT NILAI C, TIDAKKK"
Seketika Pakha langsung bangun dari pingsannya, mimpi buruk itu mengingatkan bahwa hari ini ada matkul sang dosen killer.
Pakha melirik jam kecil di dinding ternyata sudah pukul 8 pas.
Kalian tahu saat kalian mengocok kaleng minuman sprit lalu membukanya dan isinya menyembur ke mana-mana? Nah, begitulah perasaan Pakha sekarang. Ambyar kata dari bahasa jawa yang menggambarkan perasaan Pakha saat ini.
Sontak ia langsung kabur menuju kamar mandi. Telat itulah yang ia pikir sekarang, sialnya kamar mandi di dalam kamarnya ada yang pakai hal itu membuatnya tambah gusar.
Dok dok dok
"Hey siapa yang pakai kamar mandiku, cepat keluar, kalau tidak aku dobrak sekarang. "teriak Pakha dengan lantang sambil menggedor gedor kamar mandi itu.
"Aiss waktuku sudah mepet aku tidak mungkin melewatkan matkul dosen kaku itu. "gerutu Pakha sambil menanti sang pemakai kamar mandi keluar.
Ceklek. Akhirnya orang di dalam kamar mandi itu keluar.
Pakha menatap sinis sang pemakai kamar mandi itu, yah ternyata wajah Boy yang muncul di balik kamar mandi dengan bertelanjang dada dan hanya memakai satu handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya.
"Pakha ada apa kenapa kamu teriak-teriak seperti ini?"tanya Boy cemas.
"Arrrrk Boy, apa yang kamu lakukan kau telah mengotori mataku yang suci, "teriak Pakha tak kalah kencangnya namun matanya tidak berpaling sedikit pun dari badan Boy.
Boy hanya tersenyum menanggapi kata-kata Pakha. Pakha langsung mendorong Boy untuk segera keluar dari kamar mandi waktu sudah semakin mepet, dia harus bergerak cepat agar tidak ketinggalan kuliahnya.
Dorongan Pakha tanpa sengaja mengenai ikatan handuk boy.
Tara.... handuk itu pun akhirnya terlepas dari tempatnya.
Tampaklah sebuah burung beserta dua telur yang menggantung di pohon.
Pakha semakin membulatkan matanya melihat tontonan gratis yang tidak pernah ia lihat.
Pakha langsung masuk ke kamar mandi dan menutup pintu dengan keras.
Alhasil kini wajah Pakha persis seperti kepiting rebus, merah merona.
Tak kalah terkejutnya sang pemilik handuk itu, ternyata masih mematung di tempat, matanya melotot lebar dengan wajah merona seperti tomat. Setelah Pakha hilang di balik pintu kamar mandi, Boy langsung meraih handuk yang terongok di lantai dan segera memakai bajunya.
Lima menit kemudian Pakha keluar dari kamar mandi, lengkap dengan pakaian rapi yang melekat di tubuhnya.
Dia langsung mengambil satu lipstik dan satu bedak tak lupa sisirpun di masukan ke dalam tasnya bersama sebuah notebook kecil miliknya. Tak lupa dengan naskah penting yang akan ia presentasikan nanti juga ikut di masukan ke dalam tasnya.
"Sayang kamu sekarang mau kemana?bukankah kamu sedang sakit? "tanya Boy duduk di kursi dekat ranjang Pakha.
"Sayang ayo antarkan aku ke kampus sekarang."kata Pakha lalu menarik Boy keluar.
Akhirnya mobil Boy melaju dengan kecepatan maksimal.
"Sayang bisa lebih cepat sedikit. "kata Pakha gugup.
__ADS_1
"Sabar sayang ini udah kecepatan maksimal, nanti bisa membahayakan pengguna jalan lain. "jawab Boy tak kalah gugupnya.
Sekarang sudah pukul delapan lewat lima belas menit. Di mobil itu dia memoles wajahnya dengan bedak dan memakai lipstik pink di bibir mungilnya.
Setelah merapikan riasan wajahnya yang sederhana itu Pakha kembali melihat ke jam yang melingkar di tangannya.
"Mudah-mudahan hanya sedikit terlambat "doa Pakha dalam hati, sambil memejamkan matanya.
Ya Pakha takut terlambat yang mengakibatkan kemarahan Dosen pembimbingnya yang terkenal cool dan sedikit killer karena ke disiplinannya dan pelit nilai itu.
Pakha membuka matanya ketika mobil Boy berhenti tepat di depan kampusnya.
Pakha langsung membuka pintu mobil dan berlari memasuki kampus tempatnya kuliah, tanpa permisi pada Boy.
Boy menatap Pakha dengan perasaan kwartir .Karena Pakha tak menghiraukan ucapannya sejak tadi.
Pakha melangkah sambil berlari kecil memasuki kampus yang masih ramai dengan mahasiswa yang masuk.
Untung saja Pakha memakai celana panjang, dengan atasan batik sehingga dia dapat berlari dan bergerak dengan bebas.
Akhirnya Pakha sampai di depan ruang kelas Dosen pembimbingnya itu.
Pakha menarik nafasnya dan mengaturnya pelan dan mulai mengetuk pintu.
"Tok ..Tok..Tok."
"Masuk "Ucap suara dari dalam ruangan itu.
"Selamat pagi Pak "Ucap Pakha sambil tersenyum kepada Sang Dosen killer.
"Hm pagi" Jawab Sang Dosen killer pada Pakha tanpa menoleh melihat ke arah Pakha.
Sang Dosen killer sedang mempersiapkan kertas-kertas milik mahasiswa yang sedang bersiap maju presentasi di depannya.
"Apa kau ingin berdiri terus di sana"Seru sang dosen killer sambil memandang Pakha.
Pakha dengan cepat berjalan dan duduk di depan sang dosen killer itu.
Pakha mengeluarkan berkas presentasi miliknya, dari dalam tasnya.
"Pakha sekarang giliranmu untuk maju presentasi."kata sang dosen killer itu sambil membenarkan kaca matanya yang miring.
Pakha berjalan pelan menuju ke depan untuk presentasi.
Ketika dia tiba di depan hal tak terduga terjadi padanya, tanpa sengaja kakinya tersandung meja presentasi, alhasil kertas di tangannya terbang berhamburan dan kini dirinya juga jatuh tersungkur di hadapan para mahasiswa dan dosen killer itu.
Habis sudah riwayatnya, kini bahan presentasi itu sudah tidak urut lagi dan pada akhirnya dia harus menunda presentasinya minggu depan. Sakit tak seberapa tapi malunya seumur hidup.
Setelah jam matkul selesai Pakha keluar dengan wajah kecewa dan lesu.
Tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga sedikit pun karna ia tadi sudah melewatkan sarapan paginya.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuhnya terhuyung ke belakang, hampir saja terjatuh untungnya ada sebuah tangan yang menyelamatkannya.
Pakha pun tak harus mencium lantai di pagi buta semua itu berkat bantuan malaikatnya yah siapa lagi kalau bukan jidan.
"Pakha kamu tidak apa-apa? "tanya jidan sambil menuntun Pakha ke tempat duduk.
"Iya aku tidak apa-apa jid, makasih ya kamu sudah menolongku. "kata Pakha.
"Iya sudah menjadi kewajibanku untuk menolong sahabatku. "jawab jidan.
Pakha tersenyum mendengar jawaban jidan.
Kruk. Cacing di dalam perut Pakha berbunyi minta makan.
"Hehe maaf jid,"kata Pakha malu.
"Bagaimana kalau kita ngobrol di kantin sambil mengisi perut. "kata jidan memberi solusi.
"Baiklah".
Mereka berdua berjalan menuju kantin di kampus untuk berbincang-bincang sambil makan.
Sementara itu di sebuah kompleks seorang laki-laki turun dari mobilnya di samping halaman rumah Nawang.
Beberapa saat Nawang beserta Oci keluar dari rumah dengan pakaian rapi.
Nawang terkejut melihat ke arah Dandi yang sedang berdiri dan tersenyum padanya.
" Dandi arya dwi"ucap Oci menyebut nama Dandi sambil menatap Dandi.
"Oci kan"ucap Dandi mengenali Oci.
"Apa kabar Bro,sudah lama kita tidak bertemu"ucap Oci sambil bersalaman hangat dengan Dandi.
"Baik , gak ku sangka kita bisa bertemu disini"ucap Dandi sambil melirik Nawang yang terlihat bengong melihat Oci dan Dandi yang terlihat Akrab.
Nawang menatap suaminya dan Dandi bergantian, kepalanya tiba-tiba saja menjadi pusing.
Karena ternyata dua orang laki-laki yang berada di hadapannya sekarang ini, saling mengenal.
Nawang gak tahu bagaimana menghadapi situasi yang sedang di hadapinya sekarang ini, kini kepalanya pusing dan terhuyung ke depan.
Dandi yang dari tadi melirik ke arah Nawang dengan sigap meraih tubuh Nawang dan memeluk tubuh Nawang yang lemas tak bertenaga itu kedalam dekapannya.
Oci membulatkan matanya melihat hal itu di depan matanya, dan langsung meraih tubuh istrinya dari pelukan Dandi.
"Dandi terima kasih kamu sudah menolong Nawang, tapi kamu tidak berhak berperilaku kurang ajar seperti itu terhadap istriku."Kata Oci marah kemudian memapah tubuh Nawang dan kembali masuk ke dalam rumah.
Sementara itu Dandi merasa puas dengan kejadian luar biasa yang baru ia alami. Akhirnya ia bisa memeluk wanita pujaan hatinya meskipun secara tidak sengaja seperti itu.
"Nawang tunggu sebentar lagi kamu akan benar-benar berada di pelukan ku. "kata Dandi menyeringai kemudian dia pergi dari tempat Nawang.
__ADS_1
Hal nekat apa yang akan di lakukan dandi untuk merebut Nawang dari sisi Oci?akankah nawang mau kembali lagi ke cinta pertamanya dulu dan meninggalkan oci?? temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.