Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Gagal Move On


__ADS_3

Sore ini Pakha sudah di perboleh kan pulang oleh Dokter.


Ia juga sudah di buatkan resep obat yang akan ia gunakan untuk rawat jalan saat di rumah. Kak Nawang kaget saat menebus resep Dokter biasanya obatnya cuma sedikit tapi entah kenapa obat yang ia bawa malah lebih banyak dari biasanya. Kak Nawang sempat curiga namun ia berusaha berpikiran positif. Saat Pakha sampai di kosannya, kak Nawang dan Boy hanya singgah sebentar kemudian mereka berdua mutuskan untuk pulang karna Pakha sudah merasa baik-baik saja. Setelah Kak Nawang dan Boy pulang Pakha langsung istirahat di kamar karna sebenarnya tubuhnya masih lemah dan tidak baik-baik saja. Ia terpaksa menyembunyikan penyakitnya dari semua orang agar mereka tidak kwatir dengannya. Mungkin itu pilihan terbaik agar tidak selalu menyusahkan orang lain.


"Assalamualaikum. "suara salam yang terdengar di depan kosan Pakha.


"Waalaikumslm, silahkan masuk ."jawab Pakha dari dalam kamar.


Ternyata Jidan yang datang, ia langsung menghampiri Pakha yang membaringkan tubuhnya di atas ranjang kosannya dan menaruh sekeranjang buah-buahan yang ia bawa beserta sebuah proposal yang di taruh di sembarang tempat.


"Tumben ke sini Jid? "tanya Pakha.


"Hehehe iya soalnya tadi ada janjian sama ketua rohis dan sekalian mampir ke sini untuk jenguk kamu. "jawab Jidan sambil tersenyum.


Ketika Pakha ingin berdiri dari posisi tidurnya tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas di atas meja dan malah menumpahi buku proposal Jidan yang di taruh di meja yang sama sehingga dalam sekejab proposal itu menjadi basah kuyup dan sebagian ada yang robek karena basah. Pakha kaget dan meminta maaf karna tangannya tidak sengaja menyenggol gelas yang penuh air hingga merusak proposal Jidan.


"Tidak apa-apa kok yang penting kamu tidak terluka, aku masih bisa mengetik ulang proposal itu"jawab Jidan.


Di sela percakapannya dengan Pakha tiba-tiba hp Jidan berbunyi dan ia langsung mengangkat telefon itu. Jidan berjalan sedikit menjauh dari Pakha namun Pakha masih tetap bisa mendengar percakapan Jidan.


"Maaf aku belum menyelesaikan proposal itu, besok pagi akan aku usahakan selesai dan langsung aku serahkan. "kata Jidan saat menjawab telefon itu.


Pakha merasa bersalah karna dirinya Jidan tidak bisa mengumpulkan proposal untuk persiapan lomba rohis sesuai waktu yang di janjikan. Setelah Jidan selesai bicara dengan seseorang lewat telepon tadi, ia kembali menemani Pakha.

__ADS_1


"Pakha aku pulang sekarang ya, soalnya ingin mengetik ulang proposal itu karna besok harus saya kasih ke ketua rohis untuk persiapan lomba maulud nabi."ucap Jidan berpamitan pada Pakha.


"Jid aku benar-benar minta maaf ya gara-gara aku, kamu harus mengetik ulang proposal itu, bagaimana kalau aku bantu ketik biar cepat selesai. Kalau bekerja dua orang kan lebih cepat."kata Pakha menawarkan dirinya untuk membantu Jidan.


"Tidak usah, kamu kan baru pulang dari rumah sakit pasti butuh banyak istirahat, kamu cepat sehat saja itu sudah membantuku. "ucap Jidan kemudian melanjutkan kata-katanya dalam hati.


"Karna kamu wanita yang paling aku sayang dan selamanya tidak akan pernah aku lupakan."


"Jidan kamu baik banget sih, maaf selama ini aku hanya menjadi sahabatmu yang menyusahkan. "kata Pakha terharu atas jawaban Jidan.


"Iya cepat sembuh ya. "Ucap Jidan sambil mengelus pucuk kepala Pakha.


Tanpa sengaja tatapan mereka berdua bertemu dan menimbulkan sebuah kemistri.


Jidan langsung menarik tangannya dari kepala Pakha karna saat ini jantungnya berpacu dengan cepat.


Seketika suasana yang tadinya biasa saja berubah menjadi kecanggungan yang menyeruak ke mana-mana.


"Aku pamit sekarang ya. "kata Jidan namun langkahnya terhenti ketika tangan Pakha memegang tangannya.


"Jidan tunggu... aku akan tetap membantumu meskipun kamu menolak tawaranku. "ucap Pakha sambil menatap mata Jidan.


"Bagaimana aku bisa lepas dari perasaanku kalau kamu terus seperti ini. "batin Jidan sambil menatap mata Pakha yang menengadah ke arahnya.

__ADS_1


"Ba.. baiklah kalau kamu maksa. "jawab Jidan gugup pipinya pun tak mampu membohongi perasaannya. Kini pipi Jidan persis seperti kepiting rebus yang siap di santap.


Jidan dan Pakha sibuk mengetik dengan leptop masing-masing, mereka duduk berhadapan di atas karpet dan hanya di pisahkan sebuah meja kecil di depan mereka berdua.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, tempat masih di kosan Pakha, proposal itu sudah hampir selesai di ketik dan Pakha sudah terlelap di depan layar laptop yang masih menyala. Jidan tersenyum melihat Pakha tertidur di atas meja, Jidan mendekatkan wajahnya dan ikut menempelkan wajahnya ke meja tepat di depan wajah Pakha yang terlelap.


"Maaf aku masih belum bisa move on. "batin Jidan sambil menepikan rambut Pakha yang menutupi wajah cantiknya.


Kini wajah Jidan dan Pakha hanya berjarak lima senti, Jidan bersyukur bisa menatap Pakha dari dekat seperti ini. Mungkin ini adalah hari yang sangat berkesan untuk Jidan, tidak apa dia merasa capek karna harus kembali mengetik proposal sebanyak 150 lembar tapi akibat proposal itu, ia punya banyak waktu untuk bersama Pakha. Jidan sangat berterima kasih pada takdir karna sudah mempertemukan Pakha kembali ke dalam hidupnya. Meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan, Jidan tidak mempermasalahkan hal itu. Biarkan hatinya sendiri yang menentukan apakah ia akan membuka hatinya kembali atau masih tetap stay dengan Pakha.


Sudah lima belas menit Jidan menatap wajah Pakha dari dekat, ia pun tidak bosan dengan hal itu. Mungkin ini kesempatan terakhir ia bisa sedekat ini dengan Pakha sebelum seutuhnya menjadi milik orang lain.


Tanpa Jidan sadari Pakha malah membuka matanya dan posisi Jidan tidak berubah sama sekali, wajahnya masih berjarak lima senti dari wajah Pakha.


Jidan melotot kaget karna Pakha tiba-tiba membuka matanya. Jidan menjadi gelagapan dan seketika langsung memundurkan wajahnya yang sangat dekat itu.


"Sorry aku ketiduran, "kata Pakha kemudian mengusap air liurnya.


"**.. tidak apa-apa. "ucap Jidan gugup kemudian berbalik badan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Jidan menjadi salah tingkah sendiri padahal Pakha bersikap biasa saja. Jidan merasa ada yang tidak beres saat Pakha hanya diam saja tanpa menjawab perkataannya.Ternyata benar Pakha kembali terlelap di atas meja. Jidan merasa menjadi orang bodoh sedunia, ternyata dari tadi ia hanya berbicara pada angin malam. Kemudian Jidan beranjak dari duduknya menuju ke belakang, ternyata Jidan mengambil selimut Pakha dan menaruhnya di tubuh kecil Pakha.


"Good night sayang. "bisik Jidan saat menyelimuti tubuh Pakha.

__ADS_1


Kemudian Jidan kembali berkutik dengan laptopnya untuk menyelesaikan proposalnya.


Sekian dulu ya.....nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.


__ADS_2