
"Tunggu dulu. "
Suara itu seolah mendorongnya, Nawang merasa sesak seperti kucing di dalam kardus. Meskipun tidak bergerak seperti boneka kain di kursi, tapi keringat membasahi dahinya yang membuat air terjun di wajah cantiknya.
"Ampuni saya.... jangan bunuh saya. "ucap Nawang tanpa menoleh sama sekali tubuhnya masih memetung di depan pintu keluar.
Tangan sosok itu pun menyentuh pundak Nawang, seketika badannya bergetar seolah kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya.
"Nawang? "suara seseorang yang baru saja menyentuh pundaknya.
Seketika Nawang langsung berbalik badan dan melihat wajah dari sosok itu.
"Jangan mendekat? "teriak Nawang pada pemuda itu.
"Tenang aku tidak akan menyekitimu, aku.. "ucapan laki-laki itu terpotong Nawang sudah keburu pingsan di tempat tersebut.
Sementara itu Oci sudah sampai di rumah sakit terdekat. Ia berteriak-teriak memanggil perawat ataupun dokter untuk menolong putrinya kaysa yang semakin pucat.
"Tolong-tolong selamatkan putriku! "ucap Oci pada para suster yang bertugas, beberapa detik dokter dan para bidan mendekat menolong Oci yang membopong kaysa dengan tubuh luka-luka.
"Bapak tunggu di luar biar putrinya saya periksa dulu. "kata dokter yang ikut menolong sambil menggeledek ranjang kaysa menuju UGD.
"Nak bertahanlah untuk ayah. "gumam Oci kemudian air matanya menetes dalam diam saat melihat putrinya di beri pertolongan para suster dan dokter di dalam ruang UGD.
Dengan tubuh bergetar ia mengambil hpnya di saku dan menelfon abah dan ibunya.
"Assalamualaikum bah."
"Waalaikumsalam nak, tumben nelfon ada perlu apa? "
"Abah bisa datang ke rumah sakit asmara? "ucap Oci dengan suara lirih.
"Siapa yang sakit nak? "tanya abah Oci.
"Kaysa bah. "jawab Oci.
" إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُون."
Tut... tut...tut.. sambungan pun terputus.
Setelah sambungan telepon itu berakhir Oci berjalan mondar-mandir di depan ruang UGD tempat kaysa di periksa.
Pikirannya cemas takut terjadi apa-apa pada anaknya, Oci juga kepikiran gimana nasib istrinya yang berada di tangan Dandi. Kini pikirannya terpecah belah diantara anak dan istrinya.
"Ummi maaf abi belum berhasil menyelamatkan ummi, maaf juga abi terpaksa menandatangani surat cerai yang Dandi suruh, abi hanya tidak ingin kaysa putri kita kenapa-napa. "batin Oci, air matanya pun jatuh dengan derasnya. Dia tidak menyangka akan mengalami ujian yang maha dahsyat beratnya seperti ini. Padahal ia sosok manusia yang baik juga selalu mengingat adanya Allah, dan selalu melaksanakan kewajibannya.
__ADS_1
"Subhanallah....Subhanallah...Subhanallah....."Oci berzikir dalam hati sambil mondar-mandir di depan pintu.
CEKLEK
Beberapa saat kemudian akhirnya pintu itu terbuka, dokter sudah selesai memeriksa kaysa.
"keluarga nona kaysa? "
"Iya dok saya ayahnya, gimana keadaan putri saya dok? "tanya Oci pada dokter tersebut.
"Kondisinya baik-baik saja, dia hanya dehidrasi dan hanya butuh istirahat saja kok. "Jawab Dokter itu.
"Alhamdulillah, makasih dok, boleh saya masuk ke dalam?"
"Iya silahkan pak, saya pergi dulu. "kata sang dokter kemudian meninggalkan ruang kaysa.
Oci tergesa-gesa langsung masuk ke dalam untuk menengok keadaan putrinya.
Di suatu tempat, tepatnya di stasiun kereta mulai ramai oleh penduduk yang menuju ibu kota. Kursi-kursi terisi penuh. Suasana di dalam kereta terlihat sesak, ada yang berdiri, ada yang duduk, ada juga yang tertidur di atas kursi.
GLODAK.. seseorang menjatuhkan kan barangnya sehingga menimbulkan suara gaduh.
Seseorang pun terbangun dari pingsannya akibat suara itu.
"Halo.. sudah bangun, maaf kamu aku ajak naik kereta soalnya aku tidak punya kendaraan pribadi. "seseorang menyapa dan juga berbicara panjang lebar pada Nawang.
"Bagaimana keadaanmu? ."
Nawang langsung bangun, betapa malunya dia ternyata dari tadi kepalanya berada di pangkuan laki-laki misterius itu.
Nawang terdiam mematung di tempat duduknya, pikirannya sedang mencerna kesadaran.
"Kereta?".
Nawang kaget ternyata oh ternyata dari tadi ia berada dalam kereta yang sedang melaju kencang, di sampingnya juga ada seseorang yang sangat asing tapi entah kenapa orang itu peduli pada Nawang.
Kling.. kling... tempat pemberhentian pertama. Stasiun menaikkan dan menurunkan penumpang. Nawang berdiri dari duduknya berniat untuk turun namun tangan pemuda itu memegang erat tangannya.
"Jangan turun."
"Lepaskan tanganmu."Nawang membentak pemuda itu.
"Maaf...kita berhenti di pemberhentian selanjutnya."ucap pemuda itu memberi tahu dan melepaskan tangannya dari tangan Nawang.
Nawang mengangguk, segera duduk kembali. Entah mengapa ia malah menuruti perkataan pemuda yang tidak di kenalnya itu. Nawang duduk dengan anteng sambil memperhatikan kereta yang melaju namun pikirannya berkelana.
__ADS_1
"Oh benar tadi aku ingin kabur dari Dandi, tapi kok sekarang malah di dalam kereta. "batin Nawang heran.
Pemuda itu tersenyum saat memperhatikan ekspresi wajah Nawang yang tiba-tiba berubah.
"Jangan bingung, tadi kamu pingsan dan aku ingin menolongmu, sekarang kita menuju ke rumahku tepatnya penginapanku karna aku juga tidak punya rumah. "
"Apa yang akan kamu lakukan padaku? "kata Nawang panik ia takut jika di lecehkan sama seperti perlakuan Dandi terhadapnya.
"Santay saja... aku orang baik kok.. aku tidak akan macam-macam padamu. "jawab pemuda itu kemudian memejamkan matanya dan bersandar dikursi kereta yang sedang melaju dengan kencang.
"Benar. Tidak semua orang jahat seperti Dandi. "batin Nawang.
"Maaf aku selalu berpikiran buruk padamu, padahal kamu sudah menolongku. "
'Terima kasih sudah menolongku saat aku tidak punya tujuan untuk pulang, aku tidak punya muka untuk menghadap mas Oci lagi, aku telah memberikan kesucianku kepada orang lain, aku perempuan hina. 'Suara hati Nawang.
"Hemm.. "pemuda itu hanya menggeram saat menjawab perkataan Nawang, jawaban itu menunjukkan bahwa ia sedang mengantuk.
"Siapa namamu, anak muda? "Nawang bertanya pada pemuda yang hampir tertidur di bangku kereta itu.
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan Nawang, ia malah tersenyum.
Lucu sekali. Bagaimana rumusnya Nawang memanggilnya 'anak muda' seolah dia lebih tua di banding pemuda itu. Bukankah Nawang masih terlihat lebih muda di bandingkan dirinya?
"Nawang kamu berisik sekali, aku hanya ingin memejamkan mata sebentar."jawab pemuda itu kemudian membuka matanya. Pemuda itu membenarkan duduknya dan menaruh tas ranselnya dalam pangkuannya.
Nawang merasa bersalah dia pun meminta maaf kembali, dan mengurungkan niatnya untuk bertanya nama pemuda itu.
Beberapa saat pemuda itu membuka suaranya kembali.
"Namaku Raihan, tapi kamu bisa memanggilku rai, sepertinya kamu benar-benar lupa padaku. "
"Hah.. "Nawang hanya melongo tidak tau apa maksud perkataan pemuda tadi.
"Kita pernah satu ruangan saat kuliah dulu. "kata Rai kembali membuka mulutnya, tiba-tiba ia berdiri tepat di depan Nawang yang terduduk, Rai kembali bersuara lagi, kini wajahnya tepat di depan wajah Nawang.
"Lama tidak bertemu Nawang. "
Hembusan nafas Rai semerbak mengenai wajah Nawang yang memerah.
Rai kemudian kembali di tempat duduknya seperti tidak terjadi apa-apa.
Namun Nawang sekarang tidak baik-baik saja, entah kenapa hatinya deg degan melihat wajah pemuda itu sedekat tadi.
"Siapa pemuda itu? barusan dia tau namaku? "Batin Nawang bertanya-tanya sendiri.
__ADS_1
Ting.. pemberhentian kedua telah sampai, Rai menarik tangan Nawang yang masih bengong di bangku kereta. Nawang kaget dan berjalan mengikuti punggung Rai, pemuda yang baru ia kenal sepuluh menit yang lalu.
Wah.. siapa sih Rai? Dan bagaimana kelanjutan rumah tangga Nawang saat ini? temukan jawabannya di episode selanjutnya. semangat membaca.