Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Tulus Apa Adanya


__ADS_3

Kampus, tepat mentari mulai memeluk bumi, udara dingin masih saja membeku , meski kampus sudah mulai ramai orang-orang berlalu-lintas berlari-lari Karna jam sudah menunjukkan pukul 8 tepat. Waktu para mahasiswa mulai menjalankan bimbingan kuliah. Namun wanita cantik dengan rambut hitam yang panjang itu masih saja terpejam. Bukan tidur namun masih pingsan karna terlalu kaget dengan keadaan yang sangat membanting batinnya.


"Gimana ini aku tidak berani membuka mata di depan Boy, "kata hati Pakha.


Sebenarnya dia hanya pura-pura pingsan, karna dia terlalu malu dengan situasi yang tak mampu ia hindari.


"Dok gimana keadaan Pakha, apa demamnya kambuh lagi? kemarin dia beberapa hari mengalami demam. "rasa kwatir Boy yang memuncak.


"Tenang saja mas dia tidak apa-apa mungkin hanya tubuhnya yang masih lemah pasca pemulihan jadi dia pingsan lagi nanti juga sadar dengan sendirinya . "kata dokter sambil tersenyum.


"Alhamdulillah jika Pakha tidak apa-apa. "


Setelah itu dokter UKS kampus meninggalkan mereka berdua sendiri di ruang perawatan tersebut.


Boy masih setia menunggu Pakha sadar yah meskipun harus membatalkan acaranya hari ini. Dia tidak mungkin meninggalkan Pakha sendirian dengan kondisi tidak vit seperti ini.


Boy menunggu Pakha sambil memegang tangannya.


"Sayang tanganmu dingin sekali,"Kata Boy sambil menggosok tangan Pakha dengan tangannya agar menjadi hangat.


Detik sang waktu seperti berjalan lambat sudah hampir setengah jam Pakha belum sadar juga, tapi aslinya sudah sadar dari tadi sih kan dia cuma pura-pura pingsan saja.


"Aduh aku kepengen pipis lagi, kenapa sih Boy tidak keluar dari sini. "kata Pakha dalam hati sambil menahan buang air kecil.


Setelah pukul 08:30 tepat setengah jam saat Pakha pingsan Boy merasa kwatir. Dia pergi keluar UKS untuk memanggil kembali dokter takut jika terjadi apa-apa dengan Pakha.


Setelah Boy keluar di balik pintu dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Pakha membuka matanya kemudian menelisik di sekitar.


Saat di rasa situasi sudah aman dia berjalan mengendap ngendap menuju pintu keluar UKS karna perutnya sudah mules menahan kencing sejak tadi.


Namun ketika ia sudah berhasil meraih pintu keluar dan berhasil membuka pintu, bukan perasaan lega yang ia rasakan namun perasaan malu.


Ternyata bersamaan dia membuka pintu Boy juga menarik handle pintu bersama dokter di belakangnya.


Pakha hanya tersenyum saat menghadapi kondisi di depan matanya sekarang.

__ADS_1


Kebetulan dua kali yang membuatnya menjadi sangat malu.


"Sayang kamu sudah sadar, "kata Boy tak kalah terkejutnya saat berpapasan dengan Pakha.


"Haha iya baru tadi. "kata Pakha salah tingkah.


Akhirnya Boy dan Pakha berada di satu ruangan lagi, karena Boy meminta dokter untuk memeriksa kembali kondisi Pakha setelah sadar untuk memastikan kondisinya benar-benar baik. Setelah dokter mengatakan semua sudah baik, mereka berdua memutuskan untuk keluar dari kampus. Boy ingin mengantar Pakha pulang untuk istirahat kembali dan meminta Pakha untuk ijin kuliah hari ini.


Yah meskipun sebenarnya tubuh Pakha sudah sehat seratus persen, namun keadaan yang tak bisa ia hadapi membuatnya harus pura-pura pingsan.


Kini dalam mobil itu hanya kesunyian dan kecanggungan yang menyeruak. Pakha selalu menghadap samping dan hanya melihat kaca untuk menghindar agar Boy tidak melihat wajah berjerawatnya.


Dan kelakuan Pakha yang aneh itu membuat Boy penasaran, tidak biasanya Pakha hanya diam begini saat bersamanya.


"Sayang. "panggil Boy sambil menatap Pakha.


"Ada apa?"jawab Pakha tanpa memalingkan pandangannya masih sama yaitu di samping kaca mobil.


Entah mengapa Boy merasa ada keanehan Pakha dengan dirinya. Di setengah perjalanan dia menepikan mobilnya dan berhenti di pinggir jalan.


"Gak mau, kenapa kita berhenti Boy. "kata Pakha.


"Tolong tatap mataku sebentar. "kata Boy memohon.


Namun tidak ada respon apapun yang Pakha berikan. Dia masih sama tidak mau menengok dirinya dan hanya menjawab omongan Boy tanpa melihat wajahnya.


Hal itu membuat Boy geram karna dari tadi Pakha tidak melihat wajahnya.


Tanpa basa-basi tangan Boy langsung menarik tubuh Pakha di pelukannya. Sontak hal itu membuat sang punya tubuh kaget dengan mulut menganga lebar.


"Pakha maafkan aku jika aku salah, tolong jangan seperti ini, aku tak sanggup bila kamu membenciku meskipun hanya beberapa detik. "kata Boy lirih sambil memeluk Pakha. Tanpa Pakha sadari pundaknya menjadi basah terkena air mata Boy.


Hal itu membuat Pakha luluh, kasihan dengan Boy yang menangis gara-gara sikap konyolnya. Pakha tidak ingin membuat Boy sedih seperti ini. Kemudian Pakha melepaskan pelukan Boy pada dirinya dan menatap mata Boy yang basah dengan air mata.


"Sayang maafkan atas kelakuanku tadi sehingga membuatmu sedih, Pakha janji tidak akan seperti itu lagi. "kata Pakha sambil menatap mata Boy.

__ADS_1


Boy kemudian kembali memeluk tubuh Pakha. Dia sangat senang jika sekarang Pakha tidak membencinya lagi.


Setelah itu Boy kembali melanjutkan perjalanannya, dengan terus terusan menatap wajah Pakha. Sehingga Pakha menjadi salah tingkah akibat Boy terus menatap dirinya.


"Sayang jangan terus menatapku seperti ini, fokus menyetir dong, "omel Pakha karna wajahnya sekarang sudah memerah seperti tomat.


"Masa aku gak boleh menatap pacarku sendiri, "kata Boy sambil tersenyum.


Hal itu semakin membuat Pakha malu.


Selang beberapa menit akhirnya mereka sampai juga di depan kosan Pakha.


Boy mengantar Pakha sampai di depan pintu kosan.


"Sayang ini ada selep untuk mengempeskan jerawat di wajahmu. "kata Boy sambil menyodorkan salep kecil berwarna putih.


Hal itu membuat Pakha malu sekaligus terharu dengan perhatian Boy, hal kecil seperti ini Boy masih saja memerhatikan dirinya.


"Sayang makasih ya. "kata Pakha sambil tersenyum senang.


"Yaudah aku pamit dulu ya, sana masuk langsung istirahat. "kata Boy.


Pakha hanya mengangguk mendengar perkataan Boy.


Namun saat Boy ingin melangkah tiba-tiba hpnya berbunyi, Boy mengangkat dulu panggilan telfon itu di depan Pakha.


"Iya cantik tunggu mas dulu ya, emmuach. "kata Boy di ujung telfonnya.


Pakha tidak mendengar semua obrolan yang Boy bicarakan namun ia sangat jelas mendengar obrolan terakhir Boy dan mendengar Boy memberi ciuman di akhir telfonnya.


"Sayang aku pamit dulu ya, soalnya ada urusan mendadak,"kata Boy sambil melambaikan tangan ke arah Pakha. Kemudian melajukan mobilnya meninggalkan halaman kosan Pakha dan hilang di keramain jalanan.


Pakha kemudian masuk ke dalam dan melemparkan tas ranselnya dengan sembarangan. Entah mengapa hatinya sangat kesal mendengar semua obrolan terakhir Boy di ujung teleponnya tadi. Sekarang hatinya seperti mendidih ingin meluap-luap karna cemburu.


Cukup dulu ya, kira-kira siapa sih yang Boy cium di telepon itu??? jangan-jangan Boy selingkuh? nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2