Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Malu Kucing


__ADS_3

Seorang laki-laki berpakaian rapi keluar dari sebuah mobil varian Mercedes Benz termewah yang hanya dimiliki oleh sangat sedikit orang, yaitu Mercedes Benz S600 Maybach. Laki-laki itu tak lain adalah Boy pengusaha yang sudah sukses di usia muda.



Varian Mercedes Benz S600 ini sama persis seperti yang dipakai oleh pangeran Arab Saudi, Raja Salman Abdulaziz Al Saud.


Saking mewah dan mahalnya mobil ini, konon hanya ada 10 orang Indonesia yang memilikinya!


Kini kedua mata Boy sibuk memperhatikan pintu kosan yang masih tertutup rapat , ia tidak pernah membiarkan satu detik terlewat dari pandangannya dan mata laki-laki itu adalah hitam yang tidak pernah bisa menembus melalui tipe mata berwarna coklat seperti milik Pakha.


Ketika Pintu kosan di buka, ternyata laki-laki yang selalu berlari-lari di pikiran Pakha sudah berada di depan pintu.


Pakha membeku. Ketika wajah Boy hanya berjarak beberapa senti dari wajah Pakha. Pakha ingin berteriak tapi untungnya bibirnya kelu. Alih-alih dia mematung seperti patung-patung lilin di Madame Tussaud. Hanya saja kebanyakan patung-patung itu tersenyum dan berpose dengan pose terbaik mereka, Pakha hanya menampakkan mulut menganga yang lebarnya seperti pulau jawa di sertai tetesan air liurnya saat melihat penampilan Boy bak seorang pangeran.


"Sayang sudah siap belum? "tanya Boy sambil menutup mulut Pakha yang menganga.


"Susudah. "jawab gagap Pakha.


Entah mengapa semenjak kejadian handuk melorot itu dirinya menjadi canggung jika melihat Boy.


Otaknya tidak bisa di ajak kompromi, selalu saja membayangkan lekukan tubuh beserta terong panjang milik Boy. .


"Pakha apa yang kamu pikirkan, sadar oy. "dalam hati Pakha berkata.


"Ayo berangkat. "kata Boy meraih tangan Pakha untuk di gandeng seperti biasa.


Namun Pakha menepis tangan Boy dan berjalan lebih dulu di depan Boy.


Boy kaget melihat sikap Pakha yang tidak seperti biasanya.


"Sayang tunggu aku....."teriak Boy sambil mengejar langkah Pakha yang semakin cepat.


Pakha sampai lebih dulu di mobil Boy dia sekarang duduk di belakang kemudi.


"Sayang mengapa duduk di belakang, duduklah di sini di samping ku. "kata Boy sambil menunjuk kursi kosong di sampingnya.


"Aku lagi pengin duduk di belakang Sa eh Boy. "jawab Pakha. Dia tadi ingin memanggil Boy dengan sebutan sayang tapi entah mengapa rasa-rasanya ia terlalu malu mengatakan nya. Dari dulu bahkan ia tidak pernah malu dengan panggilan sayang seperti itu.


Tanpa aba-aba Boy menarik handel pintu dan langsung duduk di samping Pakha tanpa jarak satu senti pun, kini paha Boy bersenggolan dengan paha Pakha. Lantas semakin cemas Pakha sekarang, hatinya seperti ingin lari meninggalkan tubuhnya, detak jantungnya begitu cepat sampai-sampai seperti speaker masjid suara detakannya.


"Boy apa yang kamu lakukan sekarang, terus siapa yang akan memegang kemudi mobil ini? "tanya Pakha dengan wajah serius .


Boy mengambil benda pipih di kantong kemudian menelfon seseorang.

__ADS_1


"Pak tolong setirkan mobilku, badanku agak capek dan malas menyetir. Nanti aku kirimkan alamatnya di wa ya pak. "kata Boy kemudian mematikan panggilan telefon nya.


Pakha merasa gusar dengan kelakuan Boy yang kekanak-kanakan. Ia kemudian turun dari mobil dan berganti tempat duduk sekarang ia duduk di kursi depan. Boy tersenyum melihat kekasihnya memonyongkan bibir sambil mengomel.


"Gak bisa apa tidak merepotkan orang lain seperti itu, kekanakan sekali, apa semua laki-laki semenyebalkan be...."omelan Pakha berhenti setelah bibirnya tiba-tiba bersentuhan dengan benda kenyal milik Boy.


Apakah itu?? Hah benar itu adalah ciuman kedua mereka setelah kejadian tidak sengaja di tangga sekolah waktu itu sehingga membuat ciuman pertamanya hilang. Namun kali ini berbeda ciuman itu mempunyai status lebih yaitu sebagai Pacar Boy.


Satu menit, dua menit bahkan sampai lima menit mereka menempelkan benda kenyal itu. Entah apa saja yang mereka lakukan aku tidak tau.


"Bobboy cucukup. "kata Pakha sambil mendorong tubuh Boy.


Akhirnya Boy melepaskan ciuman panas itu.


Kini wajah Pakha sudah belepotan lipstik pinknya. Dan semua itu berkat kelakuan Boy. Kini rasa canggung yang Pakha rasakan hilang begitu saja, aktivitas itu membawa perubahan baru di dalam hati pakha seperti ada kupu-kupu terbang yang meliuk-liuk indah.


Perjalanan menuju kampus itu sekarang berubah menjadi berwarna, kesunyian seketika berubah menjadi canda tawa yang menghiasi perjalanan mereka berdua.


Di satu sisi laki-laki perisor (perebut istri orang) tak kehabisan akal untuk meyakinkan Nawang kembali ke pelukannya.


Dandi berpura-pura berkunjung ke rumah Oci dengan alasan memberi undangan ulang tahunnya yang akan di laksanakan minggu depan.


Ia juga tak lupa membawa buah tangan kesukaan Nawang, martabak manis dengan banyak kacang di dalamnya.


"Permisi, ada orang tidak. "kata Dandi sambil mengetok pintu rumah Oci.


Pas banget ternyata yang membuka pintu adalah Nawang sendiri, kemudian di susul Oci dari belakang.


"Ummi siapa tamu itu? "tanya Oci kemudian datang menghampiri Nawang yang masih terdiam mematung di depan pintu.


Kini wajah Oci terlihat kesal setelah mengetahui bahwa tamunya adalah Dandi anak dari rekan kerja di perusahaan tempatnya bekerja.


"Ngapain kamu kemari. "kata Oci dengan sewot nya.


"Tenang dulu bro, masa tamu gak di persilahkan masuk. "ledek Dandi matanya sambil berkedip ke arah Nawang.


Nawang risih melihat kelakuan Dandi yang jelas-jelas sedang menggoda dirinya.


"bi ummi ke belakang dulu ya. "kata Nawang beralasan untuk menghindari Dandi.


"Iya. "jawab Oci.


"Ayo masuk, bagaimanapun kamu juga tamu. "kata Oci mempersilakan Dandi masuk.

__ADS_1


Dandi langsung nyelonong masuk ke rumah Oci, dan berjalan mendahului Oci.


Sekarang Dandi dan Oci duduk saling berhadapan. Kini mata mereka saling beradu tatap seakan-akan siap untuk bertarung saat itu juga.


"Mana minumannya, "kata dandi matanya sambil mengamati rumah Oci.


"Maaf gula kami sudah habis tidak bisa menyuguhkan kopi. "kata Oci berbohong.


Dia sangat tidak suka tamu belagu tanpa sopan santun seperti Dandi. Sebenarnya gula dan kopinya masih banyak namun ia tak rela memberi kan minuman untuk tamu kurang ajar seperti dandi.


"Air putih juga bisa. "kata Dandi lagi.


"Maaf juga air kami sedang habis dan belum sempat beli. "jawab ketus Oci.


"Kasihan sekali Nawang harus tinggal bersama pemuda miskin seperti dirimu, air saja tak punya terus apa yang kamu banggakan untuk membahagiakan Nawang, aku lebih pantas bersanding dengannya karna aku bisa memberi semua yang ia suka. "kata Dandi dengan sombong nya seolah baru saja menembakkan pistol ke arah Oci langsung pas kena hati.


Nawang yang diam-diam mengintip membicaraan mereka berdua, tersedak air saat mendengar perkataan Dandi. Yah pas saja waktu dandi berkata seperti itu Nawang sedang meminum jus mangganya.


"Aku memang orang miskin tapi aku tidak miskin sopan santun sepertimu, dan Nawang istriku mau menerima segala kekurangan yang ada padaku, aku akan berusaha menjadi laki-laki yang bisa membahagiakan dirinya. Bahagia itu di ciptakan bukan di cari "Sanggah Oci langsung membungkam mulut Dandi.


"Huh kita lihat saja nanti, ini kartu undangan ulang tahun ku kasih kepada Nawang, "kata Dandi kemudian nyelonong pergi begitu saja tanpa pamit.


Oci langsung merobek habis undangan Dandi yang tergeletak di atas meja, kini hati Oci terasa panas seperti tersambar api. Perkataan Dandi barusan membuat jiwanya ingin meledak-ledak.


"Astagfirullah sabar Oci ini ujian. "kata Oci sambil mengelus dadanya yang terasa panas.


Ia kemudian berjalan ke belakang menyusul istrinya yang dari tadi tidak keluar-keluar sambil menenteng martabak pemberian Dandi, maksud hati ingin membuang tapi membuang rezeki itu dosa, lagi pula itu makanan kesukaan istrinya.


Nawang kaget langsung berlari ke dapur ketika melihat Oci berjalan menuju tempat dirinya mengintip, ia takut jika ketahuan menguping pembicaraan mereka berdua. Nawang langsung mengambil gelas kotor dan mencucinya untuk mengelabui Oci.


"Ummi lagi sibuk apa?sini abi bantu. "kata Oci kemudian ikut mengambil piring kotor dan membantu Nawang.


"Bi udah biar ummi cuci sendiri, kasihan tamu abi sendirian di sana. "kata Nawang pura-pura tidak tau jika Dandi sudah pergi.


"Tamu abi udah pergi kok, abi bantu ya. "kata Oci sambil membantu Nawang.


"Baiklah. "jawab Nawang.


Kini mereka berdua sedang sibuk mencuci piring kotor yang menumpuk seperti gunung.


Oci sudah biasa membantu pekerjaan Nawang saat ia pulang kerja jika dirinya tidak terlalu lelah.


Islam merupakan agama yang lengkap hingga mengajarkan bagaimana pembagian tugas suami dan istri ketika di rumah. Sebagian suami beranggapan tugas rumah tangga ialah kewajiban istri. Padahal suami dianjurkan membantu istri menunaikan tugas tersebut.

__ADS_1


Mengutip kisah Siti Aisyah yang menceritakan Rasulullah ketika di rumah adalah orang yang suka membantu pekerjaan istrinya. Sehingga dapat dimaknai bahwa Rasulullah menyontohkan membantu istri agar menjadi sunnah untuk umatnya. Begitu juga dengan Oci dia berusaha menjadi suami terbaik buat Nawang karna ia sangat mencintai istrinya. Meskipun pertemuan nya dengan Nawang tergolong singkat, seiring waktu berjalan cintanya semakin tumbuh.


Cukup dulu yups, nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.


__ADS_2