
Sebuah jendela di penginapan terlihat terbuka. Cahaya matahari mulai masuk untuk mengucapkan selamat pagi. Seekor burung bertengger di sana, tengah berkicau.
Seseorang gadis tengah tertidur di dalam kamar, mendadak membuka mata kemudian langsung melompat turun dari ranjang. "Alright! It's time to matching!"
Gadis itu terlihat begitu semangatnya turun dari tangga, kemudian segera menemukan Pete yang terlihat tengah berbicara dengan Joe dan Kurt. "Alright, Pete! I wanna make you Proud!" ucap nya ngawur.
...Sacred Valley:titik awal kultivator...
...Episode 100: Dia vs Luna...
Pete dan Kurt saling berpandangan, kemudian menghela nafas pelan. "Kalau sudah bersemangat seperti ini, kakak pertama selalu begitu."
Ya, Gadis itu tidak lain adalah Dia. Dirinya memang begitu bersemangat untuk mencoba kemampuannya setelah kemarin dirinya mengonsumsi buah Tho yang membuat kekuatannya meningkat pesat.
"Aku rasa kakak pertama begitu good mood, ya?" tanya Joe.
Pete menggaruk kepalanya. "Entahlah."
Joe dan Kurt mendadak menatap Pete begitu horor. "Kakak pertama adalah gadismu, bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya? Sialan, jangan-jangan kau mendekatinya karena ada maunya, ya?"
Mendengarnya membuat Pete berbalik menatap mereka berdua horor, bahkan muncul sedikit aura negatif bagi siapapun yang melihatnya akan merasa nyalinya begitu ciut. "Sembarangan sekali kalian bicara!"
Sementara itu, Katie dan Gina menghela nafas pelan. Dia, kalau sudah dalam suasana hati yang sangat baik, memang akan selalu begitu bersemangat menjalani harinya. Xiao Fu dan Xiao Chi saling melirik dan akhirnya sebuah senyuman terbit di sudut bibirnya.
----
"Pertandingan berikutnya,nomor 6A2 menghadapi nomor 7Z3! Silahkan memasuki arena!"
May memasuki arena dan berhadapan dengan Stu. Namun sebagai pemilik busur dewa yang sangat ditakuti, Stu langsung mengangkat tangan, pertanda telah menyerah.
"Stu mengakui kekalahan, May lolos ke babak berikutnya! Pertandingan berikutnya atas nomor 1F3 menghadapi 1A5! Silahkan memasuki arena."
Terlihat Jack menghadapi seorang Gladiator dari keluarga Hunter, lagi. "Menyerah atau mati?" usul musuh itu arogan.
Jack mengerutkan keningnya. "Kau terlalu arogan!"
Pertandingan dimulai, namun dengan cepat dimenangkan oleh Jack. "Pemenang, Jack Handerson!"
Mendadak terdengar teriakan histeris dari bangku penonton yang memang kebanyakan adalah Perempuan. Lebih konyol lagi, Katie adalah salah satunya. "Astaga, bisa tuli nih telinga!"
Dia tersenyum melihat Pete menutup telinga mereka. Secara bersamaan, di dalam benaknya berucap, 'para penonton ini memang gila, terlalu memandang fisik seseorang.'
"Pertarungan berikutnya, nomor undian 9T8 menghadapi nomor undian 4D2. Silahkan memasuki arena!"
Alice Hunter telah turun dan berhadapan dengan sesamanya, maksudnya lawannya adalah orang yang dari keluarga yang sama. "Nona, maafkan aku. Tetapi, sepertinya aku memang tidak dapat menahan serangan. Jadi, Pergilah menghadap dewa kematian!"
Alice mengerutkan keningnya, merasa begitu konyol. Mendadak sepuluh Drone mengepung dan menembaki dirinya. Namun, Alice berhasil selamat dengan mysteria pelindung. Drone miliknya digunakan dan menembaki kesepuluh Drone lawan hingga terjatuh.
"Lakukan tugasnya bodoh, jangan mengecewakan aku! Gadis itu harus kau bunuh, apapun caramu. Jika tidak, kursi Shinra akan jatuh ke tangannya," ucap seseorang misterius dari seberang yang berkomunikasi melalui koneksi antar Drone yang terhubung ke alat yang dipasang di telinganya.
Tercium bau konspirasi untuk mendapatkan perusahaan Shinra yang sepertinya tertutup dan tersembunyi. Ini berarti Alice dalam bahaya.
__ADS_1
Namun, pada akhirnya yang terbunuh bukanlah Alice, melainkan musuhnya di arena. "Adik termuda. Kau tahu, Alice bukanlah anak kandung tuan Hunter. Dahulu, Alice ditemukan masih bayi di depan rumah Hunter dalam keadaan dibungkus kapsul emas.
Tuan Hunter pun mengambil dan merawatnya, menganggap Alice adalah putrinya sendiri. Namun, tidak ada yang tahu siapa sebenarnya keluarganya. Yang mereka tahu adalah, sepertinya Alice adalah anak Dewi."
Pete mengerutkan dahi. "Anak dewi?"
"Itu baru dugaan," jawab Dia sambil menghela nafasnya pelan.
"Pemenang, Alice Hunter! Berikutnya atas nomor undian 5S1, menghadapi 7X7. Silahkan memasuki arena!"
Dia tersenyum. "Adik termuda, aku turun dahulu. Perhatikan baik-baik caraku menyerang yang tidak begitu Naif."
Pete memutar bola matanya malas. Dirinya tahu tengah diledek karena kemarin seharusnya Pete sudah menang terlebih dahulu, jika dirinya tidak begitu Naif dalam meluncurkan serangan.
Mendadak jeritan histeris terdengar, kali ini para lelaki yang berulah. Dia memutar bola matanya malas, menganggap siapapun yang menjerit itu adalah lelaki hidung belang.
"Nona Finch, kalahkan lawanmu!"
"Nona, sebuah cincin berlian ini sudah bersiap untuk kau miliki jika mampu mengalahkannya!"
"Wow, nona!Aku siap menikah denganmu!"
"Tcih, benar-benar memandang fisik dan hidung belang!" gerutunya.
Pete yang melihatnya dari sana terlihat begitu tersenyum konyol melihat ekspresi Dia yang begitu kesal. "Setelah semua, mana mungkin Kakak pertama melirik lelaki lain?"
Namun, tidak disangka. Lawannya kali ini adalah sepupunya sendiri, Luna.
"Kak Luna?" tanya Dia terkaget.
"Hahaha, bersiap untuk bertarung?" tanya Dia sambil memasang kuda-kuda.
"Mengapa tidak?" Tanya Luna.
Dia Finch
Type: Qi kultivator
Spiritual: alam bawaan tingkah puncak.
Physical: tulang serigala hitam
Qi Power:Bottom Strong (kuat kelas bawah)
Spirit: jiwa murni (meningkatkan segala atribut.)
Weapon: selendang teratai hijau dewi bulan.
Rank: pendekar Raja.
__ADS_1
Luna Fisher
Type: Thunder Swordsman (Paladin)
Role:Magical Fighter.
Skill: Core, by one Fighter.
Weapon: ThunderSwords (tipe longswords, berelemen petir)
Rank:Legendary I
"Pertarungan, Dimulai!"
Dia langsung menggerakkan selendang hijau, menjadikannya wujud ular dan menyerang Luna. Keahlian Core adalah kelincahannya, karena itulah mengapa Luna dapat menghindarinya dengan mudah.
"Sambaran ular!"
Masih dalam wujud ular, mendadak menyerang dengan kecepatan berlebih. Membuat Luna terpaksa menangkis dengan pedangnya.
Terdengar suara senjata yang begitu nyaring, membuat mereka semua menonton dengan tegang. Termasuk Pete sendiri.
Dia segera menyerang dengan brutal, membuat Luna kelabakan menangkis serangan dari Dia.
"Serangan Petir"
Luna mendadak melesatkan petir yang menghancurkan wujud ular pada seberangnya dan sukses mengenai Dia. Beruntung, gadis itu telah melindungi dirinya dengan energi spiritual miliknya.
"menyerang bagai guntur!"
Dia kembali mengayunkan selendangnya , mendadak selendang tersebut menyambar Luna dengan cepat dan dengan kekuatan besar. Membuat Luna terpental dan menabrak tembok.
Pete tampak menggelengkan kepalanya melihat apa yang terjadi di arena. Dia terlalu barbar terhadap lawannya, padahal itu adalah sepupunya sendiri.
Luna menderita kerusakan pada organ tubuhnya sehingga tidak mampu berdiri, hanya jatuh terduduk. Dia langsung mendekati Luna sekaligus meminta maaf. Jangan lupa, Luna juga dipaksa minum pil teratai matahari dan langsung menggunakan energi miliknya untuk mempercepat penyembuhan.
Luna merasa minder. "Dia, aku tidak menyangka perkembanganmu setinggi ini. Aku merasa kau menyentuh Rank Mytical. Bahkan kemampuan medismu begitu baik."
Dia tersipu. "Kakak terlalu memuji. Aku hanya nomor dua, sementara adik termudaku lah yang paling kuat di antara kami."
"Maksudnya, lelakimu itu? Tidak heran jika kalian berdua sama-sama kuat. Rupanya-" ucap Luna sengaja digantung.
Mendadak Dia langsung menggelengkan kepalanya dengan pipinya mendadak bersemu merah. "Tidak! Ini tidak seperti apa yang kau pikirkan!"
Luna mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya dirinya sendiri pikirkan? "Kau tahu apa yang aku pikirkan? Tetapi saai ini aku tidak memikirkan apapun."
Dia langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, ya? Aku kira-"
__ADS_1
Luna mendadak tersenyum jahil. "Rupanya begitu? Kau begitu memikirkannya, ya? Ekhem! Adikku ini rupanya sudah begitu dewasa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...