
Di ruang makan, mereka semua terlihat begitu saling melirik satu sama lain. Alasannya? Selepas tadi pagi, Pete tidak henti-hentinya menatap Dia begitu heran.
Kuruna dan Xiao Fu hanya terdiam melihat tingkah mereka berdua yang begitu aneh. Merasa seperti ada yang salah pada mereka berdua.
Mereka tidak bertingkah lebih jauh bukan? Namun, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan mereka berdua telah berhubungan sejauh itu.
Sacred Valley:titik awal kultivator
Episode 81. Mengadu kekuatan?
Dia berbalik menatap Pete sembari mengerutkan kening. "Apa ada yang salah padaku, adik termuda?"
Pete terperanjat sejenak, kemudian menggelengkan kepala. "Tidak."
Namun, Pete malah melakukan telepati kepada Dia melalui koneksi istimewa mereka.
'Kakak pertama, kau benar-benar melakukannya?'
'Ya. Aku melakukannya. Kau keberatan? Bukankah kita telah melakukannya saat masih di Telaga langit?'
'Mengapa ekspresinya seperti itu tadi pagi?'
'Lalu, aku harus marah? Kalau kepergok mau bilang apa lagi?"
'Tetapi-'
'Adik termuda, jangan berpikir terlalu rumit.'
'Kau menjadi begitu aneh.'
'Yang terpenting kau menyadari rasanya hidup tanpaku di sisimu.'
Tiba-tiba Pete tersedak. Xiao Fu dan Xiao Chi menatap Pete begitu heran. Bahkan separah itu Pete tersedak sampai-sampai Dia ikut serta mengurut leher Pete.
Collete segera bertingkah. "Ekhem-ekhem! Bisa kan kau melihat tempat? Ada banyak yang belum memiliki pasangan disini."
Pete segera minum air untuk menghilangkan tersedaknya. Kemudian beralih menatap Dia cengo.
"Mengapa? Ucapanku benar, bukan?"
"Sudahlah!"
"Kalian berdua sebenarnya kenapa?" tanya Kuruna heran. Padahal mereka tidak saling berucap, bagaimana bisa Dia berucap demikian?
Mereka berucap bersamaan."Tidak apa-apa."
Xiao Fu mendengus pelan. "Maklumi saja, mereka berdua memang seperti itu. Tidak perlu dipedulikan."
"Nanti kita jadi bertarung?" tanya Pete.
__ADS_1
Dia tersenyum. "Tentu saja. Tinggal masalah arena saja."
Pete kembali mengejek. "Apakah kau sudah bersiap untuk kalah?"
"Aku kalah? Kalau mengadu kepandaian sih jelas aku yang kalah. Namun kita bertarung mengadu kekuatan, bukan? Mana mungkin aku kalah?"
Xiao Fu terbelalak! Tentunya dirinya mengetahui tingkat kekuatan Pete dan Dia seperti langit dan bumi. Sangat beda sekali jauhnya.
"Kalian berdua yakin?" Sebagai Masternya, tentu Xiao Fu ragu dengan mereka berdua. Dirinya begitu yakin, Pete akan dikalahkan dalam adu kekuatan dan pada akhirnya terluka lagi. Bukankah Pete baru sembuh?
"Yakin." Pete mengangguk tanda dirinya begitu yakin. Xiao Fu mendengus pelan karena percuma menasehati Pete, karena bocah itu begitu keras kepala.
"Mengapa kau berfikir aku akan kalah, adik termuda?"
"Entahlah," jawab Pete yang membuat siapapun menggelengkan kepala.
"Haahhh, aku harap kalian tidak bertempur begitu serius, mengingat luka Pete baru saja sembuh."
"Luka kecil ini tidak bisa menghentikan diriku."
"Pete!" Xiao Fu jengah dengan keras kepala Pete.
----
Arena telah siap di sebuah tempat di Univir Settlement. Terlihat Dia di seberang kiri berhadapan dengan Pete di seberang kanan.
Dia malah menatap Pete begitu tajam, dirinya sama sekali tidak mengetahui senjata tersebut, mengira itu adalahpemberian Raven. "Aku harap kau tidak main-main denganku, adik termuda."
"Aku berharap, kau berhati-hati karena tombak ini bukanlah tombak biasa."
"Sungguh? Aku harap kau tidak membual!" Dia malah terlihat begitu emosi.
"Kalian berdua!" Xiao Fu mulai berteriak karena panik, Dia terlihat begitu emosi. Berarti akan ada ketegangan luar biasa di pertarungan kali ini.
Hanya Pete yang tahu asal mula senjata tersebut, sementara yang lain mengira senjata tersebut pemberian Raven saat merayakan ulang tahun Pete. Mengingat Pete terlihat begitu mendewasakan senjata tersebut telah membuat Dia marah. Dirinya begitu cemburu dengan Raven.
"Kemarilah!" teriak Dia.
Pete segera meluncur menyerang Dia, sementara Dia menggerakkan selendang hijau panjang miliknya untuk merampas tombak tersebut. Namun, alih-alih mengamankan, Pete malah membiarkan selendang hijau panjang tersebut melilit tombaknya.
Begitu terlilit, Pete justru memutar tombaknya yang bermaksud menggulung Selendang tersebut, kemudian menariknya yang membuat Dia terkejut.
Dia pun tidak menyangka Pete akan bertindak sejauh itu. Kemudian dirinya mencoba menarik selendang hijau panjang miliknya, terjadi adegan tarik tambang.
Pete tersenyum misterius, yang membuat mata Dia membola, kemudian segera melepaskan ikatan dan menarik kembali selendang hijau panjang miliknya. Ternyata Tombak tersebut hebatnya bukan main, pikirnya.
Biasanya, setelah terlilit selendang hijau panjang miliknya, sudah dipastikan senjata tersebut terampas, sekuat apapun lawan mencoba menahannya. Namun kali ini justru yang terjadi adalah kebalikannya. Jika Dia tidak melepaskan ikatan Selendangnya, sudah dipastikan Pete berhasil menarik dirinya kedepannya.
'Tikaman seribu tombak naga.'
__ADS_1
Pete sudah sampai di dekat Dia dan mulai menusukkan tombaknya kedepan dengan cepat. Beruntunglah Dia berhasil melompat mundur tepat sebelum Pete menghujani tusukan.
'Mengikat lawan!'
Dia langsung menggerakkan selendang hijau untuk membelit seluruh tubuh Pete, yang membuat lelaki tersebut segera melompat ke atas dan mengayunkan tombaknya ke depan, seperti melakukan jurus Pedang semesta.
'Tikaman tombak mendominasi!'
Energi tombak melesat dan menimbulkan ledakan yang begitu besar. Semuanya terkaget melihatnya.
"Aku tidak menyangka kau hanya meledakkan tanah. Jika kau mengarahkannya kepada diriku, sudah dipastikan aku mati. Kau benar, tombakmu begitu hebat." Dia rupanya masih berdiri di tempatnya, tepat si depan lubang ledakan tombak yang Pete buat. Namun, ekspresinya terlihat begitu kesal.
"Kau telah kalah." Pete merasa begitu senang dengan apa yang Dia katakan barusan, namun melihat ekspresi gadis yang setahun lebih tua itu membuat rasa senangnya menghilang.
"Masih belum." Dia malah menggunakan kekuatan penuh yang mengalir di sekujur tubuhnya.
'Energi jiwa murni? Rupanya Dia telah terampil menggunakannya?'
"Meskipun kau begitu kuat, namun itu hanyalah karena senjatamu, bukan? Akan aku tunjukkan perbedaan kita, Pete. Aku masih memiliki energi Qi yang begitu besar untuk menggandakan serangan. Dan kau hanya mengandalkan Changseng Jue dan tombak pemberian Raven, bukan? Kau bukanlah apa-apa jika aku patahkan tombakmu itu."
Pete terdiam, batinnya tergores. Entah mengapa dirinya mulai emosi mendengarnya. Seng dewi yang tersembunyi di tubuh Pete pun merasakan hal yang sama.
"Kemarilah!" teriak Dia dan bersiap.
Xiao Fu mendengus pelan. "Ucapan Dia benar. Alasan Pete berani mengadu kekuatan, karena Changseng Jue."
Xiao Chi langsung menatap ibunya begitu tajam, yang membuatnya bingung. "Mengapa kau tidak terima, Xiao Chi?"
Xiao Chi tidak menjawab, melainkan menunjukkan kalung Changseng Jue milik Pete di tangannya. Xiao Fu mendengus pelan sejenak, namun tiba-tiba matanya membola karena terkaget. Jadi, Pete tidak menggunakan pengaman jiwanya? "Kak Pete yang memintaku membawanya.
Xiao Fu segera berteriak untuk menghentikan Pertarungan. Akan tetapi, ketegangan terlalu tinggi di arena.
"Kenapa diam? Kau takut?" tanya Dia begitu sinis.
"Aku tahu kau tidak akan berani mengadu kekuatan tanpa Changseng Jue di lehermu yang terus meregenerasi energi Qi milikmu. Aku benar?"
"Kalian berdua, hentikan! Kak Pete tidak menggunakan Changseng Jue!" Dia terperanjat kaget dan menatap Xiao Chi yang ternyata membawa benda yang dirinya sebutkan.
"Dia, aku tahu diriku lebih lemah darimu, namun kau pikir aku hanya mengandalkan Changseng Jue untuk menghadapi dirimu? Kau salah besar!"
Pete tiba-tiba terselimuti kekuatan aneh, dan tiba-tiba kekuatan tersebut bersuara mengerikan seperti suara Skelefang. Semuanya terkesiap melihatnya.
"Kau bilang dirimu menggunakan energi Qi milikmu untuk menggandakan seranganmu, bukan? Kalau begitu, aku juga melakukan hal yang sama."
'Jiwa Skelefang!'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1