
Masih di lokasi tempat permadani pertunangan, Dia tampak gelisah bukan main. Bagaimana pun, ini pertama kalinya dirinya akan dilihat banyak orang dengan riasan yang seperti ini. Memang sih tidak terlihat menor, namun riasan seperti ini terlalu berlebihan, menurutnya.
Padahal dengan riasan standar saja sudah cukup untuk dirinya dengan kecantikan natural. Namun karena statusnya yang merupakan putri dari keluarga bangsawan membuat prang yang merias dirinya melarangnya.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 109. ini mendadak, Alice...
Pete juga sama sekali belum keluar, mungkin dirinya juga dirias habis-habisan, bahkan bisa jadi lebih parah karena mengingat rupa Pete yang sebenarnya begitu pas-pasan. Tiba-tiba Dia mendadak tersenyum mengingat bagaimana kekesalan Pete nantinya, karena lelaki itu sebenarnya sama sekali tidak peduli dengan penampilan dan lebih memilih mengejar waktu.
Di sisi lain, memang yang terjadi kepada Pete persis seperti apa yang Dia pikirkan. Pete benar-benar kesal, namun dirinya sama sekali tidak mampu protes karena orang yang merias dirinya begitu cerewet, bawel, dan menyebalkan melebihi sifat Katie.
"Nih, lihat! Akan aku gunting rambutku agar tidak lagi seperti Genji. Mau cukur biasa atau tentara? Maksudnya yang biasa atau istimewa?"
Pete dongkol bukan main. Namun dirinya bisa apa? "Biasa saja."
"Tidak-Tidak! Kau sama sekali memilih pilihan yang salah! Akan aku cukur dengan istimewa."
Lah? Pete memunculkan urat kepala di keningnya sembari berucap, "lalu untuk apa kau memberikan pilihan kepadaku?"
"Kau sama sekali tidak mengerti! Aku sengaja memilihnya sendiri karena selera kau lebih buruk dan tidak pantas! Jangan lupakan Fakta bahwa yang akan kau pertunangan adalah gadis keluarga bangsawan nomor satu di dunia! Jadi kau harus memunculkan penampilan dirimu yang terbaik!"
Pete kembali menghela nafas pelan. Lagi-lagi dirinya kalah debat. "Iya-iya , cerewet!"
"Menurut sedikit memangnya sulit, ya? Jangan-Jangan kau memang begitu bandel hingga Nona Finch uring-uringan dengan sikapmu?"
"Terserahlah, apa katamu," ucap Pete terakhir yang memilih pasrah saja.
----
"Nona Finch!" panggil seseorang di belakang Dia yang membuat gadis itu menoleh. "Nona Hunter?"
Rawut wajah Alice begitu kesal. "Tidak aku sangka kau begitu tega. Astaga, meskipun aku adalah gadis dari keluarga Hunter yang dibenci seluruh keluarga bangsawan lainnya, tetapi aku adalah sahabatmu dari kecil. Masa kau tidak mau memberitahuku sama sekali soal pertunanganmu?"
"Astaga, Alice. Aku bukannya tidak mau mengatakannya, tetapi-"
__ADS_1
Alice malah memotong ucapan Dia. "Tidak heran jika kau sama sekali tidak ingin Pete dimiliki oleh siapapun selain kau sendiri. Rupanya ... kau akan bertunangan dengannya. Tetapi mengapa kau tidak mau memberitahukanku? Apakah kau membenciku?"
Dia menghela nafas pelan, berupaya mempertahankan kesabarannya. "Alice, bisakah kau mendengarkan penjelasan dahulu? Sebenarnya ini begitu mendadak bahkan aku sendiri juga terkejut."
Mau tidak mau, Dia pun menceritakan apa yang telah terjadi sampai akhirnya Alice yang mendengarnya langsung dengan mudah menebak, "Son Hunter, lelaki itu pelakunya."
Mendengar nama orang itu, sontak membuat Dia terkejut bukan main. "Sialan itu memang memiliki keinginan untuk mendapatkan dirimu, padahal mukanya sendiri sebenarnya minus tujuh belas derajat, berbeda dengan Pete yang selalu kau panggol dengan nama 'adik termuda'. Yah, walaupun begitu jelek, namun masih plus satu persen."
Dia mengerutkan keningnya. Di dalam hatinya juga Dia seperti mengamuk tidak terima tunangannya dinilai serendah itu. "Satuan wajah macam apa itu?"
Alice malah tertawa. "Kenapa? Tidak terima?"
"Tetapi kenapa kau meledek Tunanganku juga? Dan juga, sudah tahu adik termudaku jelek dengan nilai plus satu persen kok bisa kau juga mencintainya?"
Mendadak Alice malah meledek. "Ekhem! Bagaimana rasanya setelah bermain dengan Pete?"
Dia memutar bola matanya malas. Sejenak melupakan bahwa ada maksud dari kata bermain yang diucapkan Alice "Bermain apa? Kami-"
Alice mengangkat alisnya sebelah begitu Dia mendadak terdiam sejenak, mulai mengerti maksud ucapan Sahabatnya itu.
Dia memalingkan kepalanya ke arah lain dan beralasan, "sudah lupa."
" Kau bisa membayangkannya kembali bukan?"
Membayangkannya kembali? Tidak-Tidak! Dia langsung menggelengkan kepalanya, dirinya tidak akan kuat! Pipi gadis ini langsung bersemu merah.
Astaga, mengingat saat kejadian itu Dia sudah mulai pasrah juga dan mirisnya tidak sadar dirinya malah menikmatinya.
"Alice, berhentilah meledekku setelah kau kalah berdebat satu topik denganku!" ucap Dia kesal dengan muka yang sudah bersemu merah maksimal.
Alice memang selalu begitu. Jikalau kalah berdebat, dirinya akan langsung menggunakan jurus meledek untuk membalikkan keadaan. Dulu juga Dia diledek karena tidak mampu memakai Celana.
"Iya, deh. Oh ya, kau setelah acara pertunangan ini selesai, kau tidak akan bermain kembali, kan?" tanya Alice. Ini ledekan lagi!
Dia langsung menutup mukanya. "Cukup! Jangan membuatku malu!"
__ADS_1
Alice masih belum berhenti. "Di tubuhmu saat ini tidak ada isinya, bukan?"
"Tidak mungkin, karena aku sudah meminum obat." Lah, Dia sendiri malah keceplosan.
"Oh, yang aku tahu obat yang kau minum itu biasanya efeknya berlaku selama sehari penuh. Artinya nanti malam, kau akan bermain lagi dengannya tanpa rasa cemas lagi, bukan?" Alice sepertinya sangat berniat meledek Dia habis-habisan.
"Tidak akan! Apakah kau tidak tahu rasanya dimangsa itu sangat menyakitkan? Jangan lupa kalau besok adalah waktunya pertandingan lagi. Masa aku harus absen? Bahkan rasa sakitnya masih terasa ngilu sampai hari ini," ucap Dia kesal.
Alice tiba-tiba menyentuh telinganya sendiri. Sepertinya ada alat pendengar yang terpasang di telinganya. "Sudahlah, seseorang akan datang. Aku harus pergi dahulu."
Dia menghela nafas pelan sambil melihat temannya itu segera menyelinap pergi. Memiliki teman seperti Alice memang harus memiliki kesabaran ekstra. Namun, saat Alice masih di sisinya dahulu, Dia tidak sedingin ini sampai sekarang, walaupun ada pengecualian dengan kehadiran Pete sebagai penggantinya
"Nona, tunanganmu sudah siap. Sebaiknya kau segera pergi ke permadani."
---
Pete menghela nafas pelan, menghitung berapa banyak waktu yang telah terbuang. Bayangkan saja, mandi sepuluh kali sudah menghabiskan waktu sampai hampir dua jam. Ditambah potong rambut plus disemir hitam selama setengah jam. Belum lagi gonta ganti baju selama setengah jam.
Astaga, merias diri saja sampai menghabiskan waktu sampai sebegitunya untuk seorang pria. Namun, satu hal yang Pete tidak sadari. Tingkat ketampanan dirinya yang sesungguhnya akhirnya terlihat begitu jelas.
Sebenarnya Pete begitu tampan melebihi ketampanan kakaknya, namun karena sifatnya yang begitu tidak peduli dengan penampilan, membuatnya terlihat begitu jelek.
Sementara itu, Dia terlihat cantiknya terlalu sempurna dengan riasan yang sebenarnya terlalu menor, malah seolah-olah menyatu sempurna dengan kecantikannya.
Sekarang, mereka akan bersanding di permadani, untuk memasang cincin pertunangan. Namun, mereka sama-sama mengalami demam panggung.
Pete dan Dia muncul bersamaan, mendadak membuat mereka semua membuka mulutnya. Tuan Finch sendiri pun sampai berdiri saking terkagetnya dengan penampilan mereka.
Bukan masalah Dia yang cantiknya terlalu sempurna, melainkan Pete yang tidak lagi seperti berlian terbungkus plastik kusam. Pete terlihat begitu tampan, padahal yang di rias hanyalah potongan dan warna rambut, serta pakaiannya.
Jadi sebenarnya Pete itu sangat tampan? Mendadak para gadis merasa begitu iri terhadap Dia, namun Dia sendiri terlihat begitu cantik seperti seorang dewi. Mereka berdua menjadi terlihat seperti sepasang dewa dan Dewi.
"Tidak kusangka ternyata kalian terlihat begitu serasi seperti sepasang kekasih yang memang ditakdirkan," ucap Tuan Finch sembari meletakkan kotak berisi cincin pertunangannya.
"Putraku, rupanya kau membuka kulitmu sendiri di hari seperti ini. Sempurna," ucap Xiao Fu sambil melakukan hal yang sama.
__ADS_1