Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Fakta di depan mata


__ADS_3

Micah dan Raven telah kembali ke masanya saat ini. Namun, dahi Micah mengkerut, karena tidak menyangka bahwa mereka kembali dengan posisi terakhir di Flower Field.


Raven masih tetap melihat bunga-bunga yang tidak lagi bermekaran karena bukan lagi waktunya untuk mekar. Micah menatap Raven begitu intens.


"Raven, mengapa kita langsung tiba di Flower Fields?"


"Karena aku menginginkannya."


"Hah?" Micah malah terlihat semakin bingung.


Raven membalikkan badannya menatap Micah, kemudian mendekatinya. Kini, Micah sedikit lebih tinggi daripada Raven, padahal sembilan tahun yang lalu, Micah jauh lebih pendek daripada Raven. Dirinya juga sadar, ternyata Micah telah berkembang begitu jauh sekali.


Namun, mendadak Raven kembali membalikkan badannya, langsung menghadap membelakangi Micah kemudian menjauhinya lagi.


"Setelah semua yang kau lihat, apakah kau mengerti mengapa aku membencimu?"


Micah mulai berfikir, namun tidak bisa. "Maaf, aku sama sekali tidak mengerti dengan hal itu."


Raven melirik Micah sekilas, kemudian menjawab, "bodoh."


"Apa ada yang Salah?"


Raven membalikkan tubuhnya, sehingga kembali berhadapan dengan Micah. "Kau sebenarnya sama saja dengan kakakmu. Mungkin aku harus beritahu alasannya sendiri."


"Mau bagaimana lagi, dari semua gadis yang aku pahami perasaannya, hanya kau yang terasa begitu rumit."


"Baiklah, akan aku beritahu. Aku membencimu, karena kau adalah sahabat masa kecilku yang tersisa."


"Maksudmu, kau ingin aku mati juga seperti mereka?"


Mendadak Raven menatap Micah dengan muka marah


"Jika sampai kau mati terlebih dahulu sebelum diriku, aku akan datang sendiri menyusul dirimu untuk memberinya pelajaran!"


Micah mulai mengerutkan keningnya, merasa dirinya serba salah.

__ADS_1


"Kau harus tahu bahwa sebagai Time Jacker, aku dapat mengetahui masa depanku. Aku tahu, bahwa aku adalah penyebab utama kematian Collete dan Rusk. Jadi-"


Micah mulai memotong pembicaraan Raven yang sama sekali. "Jangan membual, Raven. Seharusnya kau harus memperhatikan dengan siapa yang hendak kau bohongi. Time Jacker hanyalah kekuatan untuk pergi ke masa lalu dan setiap time Jacker minimal memiliki kemampuan di luar nalar dan hanya dapat dilakukan sekali dalam sepuluh tahun. Kalau tidak salah tebak, kau pasti mengetahuinya dengan ramalan, bukan?"


Raven mendadak menatap Micah dengan bingung. "Bagaimana kau bisa tahu soal itu?"


Micah menunjuk dahinya. "Jangan lupakan kemampuanku."


"Jadi, kau harus menjauh dariku, Micah. Sampai pada waktunya tiba di suatu saat nanti."


"Aku tidak bisa menjauhimu, Raven. Kau adalah ke- ... Maksudku kau adalah sahabat masa kecilku satu-satunya."


"Karena itulah kita harus menjauh, Micah. Jangan khawatir, ini hanyalah sementara sampai pada waktunya untuk mengatakan hal yang sama seperti yang kita ucapkan pada tujuh tahun yang lalu di sini."


Micah membeku mendengarnya. "Walaupun begitu, tidak seharusnya kita saling menjauh, bukan?"


Raven bersikukuh pada pendapatnya. "Lalu kau akan terus bersamaku hingga pada akhirnya mati seperti kedua sahabat kita? Aku mohon, menjauhkan dariku, Micah."


Micah mulai memberikan argumennya, namun mendadak Moonlight Goddess muncul kembali tepat di hadapan Micah. "Sudahlah, Micah. Kau harus menghargai keputusan ini."


Micah mulai pergi dengan langkah gonta, meninggalkan Raven yang mendadak meneteskan air matanya. "Maaf, Micah. Semua ini karena aku tidak mau kau terseret pada takdir kelamku yang kemudian membuatmu pergi dariku selama-lamanya," ucapnya lirih.


Micah sempat terhenti saat mendengarnya. Bocah yang setahun lebih muda dari pada Raven itu menghela nafasnya, mulai meredakan kekesalannya di hatinya.


"Oke, aku mengerti. Namun, sebaiknya dengarkan ucapanku, Raven. Takdir itu, sesungguhnya tindakan kita yang menulisnya sendiri. Kita hanya dihadapkan oleh situasi yang kau sebut takdir, dan tindakan kita lah yang menulisnya. Jika kita memiliki tekad, Takdir pun akan mengangkat tangannya."


 


Micah mulai melesat begitu cepatnya terbang dengan pedangnya. Katakanlah kemampuan berselancar di udara. Terlihat bahwa Faerie terlihat menempel di dada bidang Micah yang tertutup pakaian, tengah tertiup angin yang lumayan kencang. Namun, Faerie tidak sekalipun menunjukkan perasaan kesal, melainkan menunjukkan perasaan antusias.


Micah segera turun ke lokasi terakhir kalinya dan pergi ke sebuah lembah. Di sana lah, lokasi kekuasaan para Faerie. Micah memang datang ke sana untuk melepaskannya dan membawanya kembali ke habitat aslinya.


"Kembali lah ke tempat asalmu, Fifi. Aku tidak bisa memgantarmu lebih jauh lagi."


Faerie yang Micah panggil Fifi itu mulai terbang memasuki lembah tersebut, meninggalkan Micah yang melambaikan tangannya, mengucapkan selamat perpisahan. Namun, karena saking senangnya sampai tidak menoleh ke belakang.

__ADS_1


Mendadak terdengar suara dua orang yang begitu mencurigakan, membuat Micah segera meninggalkan lokasi tersebut, serta mencari lokasi kedua orang tersebut. Mereka berdua ditemukan, namun Micah sama sekali tidak bisa mempercayainya.


"Ini ... apakah hanya Mimpi?"


Micah mulai mengikuti kedua orang tersebut yang terlihat pakaiannya begitu ala kadarnya saja, sampai pada akhirnya mereka sampai di goa.


"Seperti biasa, ikan bakar dengan minumnya air perasan buah anggur."


"Yah, seperti biasa. Tetapi sungguh beruntung karena tidak ada susu."


"Kau begitu benci sekali dengan susu."


"Kakak, aku penderita laktosa intolern."


"Kakak tahu, Collete."


Mereka berdua, masih hidup. Micah tidak kuasa untuk meneteskan air matanya, mendadak perasaan rindu menyerangnya. Terlihat jelas bahwa hidup mereka begitu menyedihkan untuk dilihat, makan pun hanya seadanya saja.


Micah mulai mengusap air matanya yang mengalir di pipinya, mulai berniat kembali untuk memberitahu Raven soal ini. Namun begitu dirinya berbalik, tidak disangka bahwa beberapa ekor Faerie tampak berbaris di depannya.


Secara mengejutkan, dirinya baru sadar bahwa mereka menjerat Micah dengan akhirnya, kemudian dibawa masuk ke dalam lembah. Micah kemudian ditempatkan di meja unik dengan penuh makanan, yang membuat Micah mengerutkan keningnya.


Satu hal yang tidak akan mungkin dapat dipercaya, yang bahkan Micah tidak akan mengetahuinya, Seekor Faerie tadi yang Micah panggil Fifi ternyata adalah anak dari pemimpin Faerie. Kali ini, Micah terjebak oleh pesta mereka. Akan sangat sulit untuk pergi dari sana.


"Ada apa ini?"


Mendadak Fifi datang dan mulai berucap hanya dengan suara Fu dan Fi. Namun, Micah mulai mengerti dengan gerakan tangannya yang memperagakan dan juga ekspresi mereka. "Kau adalah putri pemimpin Faerie ini?"


Micah langsung merasa tidak enak. Sebelumnya, dirinya berfikir untuk segera lari jika Faerie ini memang berniat untuk melakukan sesuatu yang buruk terhadap dirinya, namun mengetahui segalanya membuat Micah mulai mengerti bahwa Faerie itu tidak menyeramkan dari kelihatannya.


Setelah semuanya selesai, Micah mengusap pipi Fifi tersebut dengan lembut, berupaya untuk meminta agar Faerie ini tidak mengikutinya, namun Faerie ini sangat sulit untuk diberitahu. Selalu ingin ikut ke mana pun Micah pergi.


"Baiklah, tetapi sebaiknya tanya dahulu kepada orang tuamu dahulu. Setelah itu, baru kau bisa ikut denganku."


Faerie tersebut rupanya mendapatkan izin, yang membuat Micah menghela nafasnya pelan, kemudian pergi bersama Fifi setelah berpamitan pada para Faerie lainya dari lembah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2