
Keira Finch menggeliat di ranjang sebelahnya, merasa tidak nyaman dengan situasi sekarang. Meskipun Keira Finch begitu terhormat sampai punya assisten maupun pengawal pribadi, dirinya seringkali teledor karena beberapa hal.
Demi menjenguk Micah secara cepat dan terlihat lebih mandiri, Keira Finch langsung kabur dari rumah tanpa membawa uang yang cukup untuk menginap. Mau tidak mau, sekarang dirinya harus tidur di ranjang sebelah pada kamar Micah.
Memang, ranjang ini begitu nyaman untuk ditempati, namun masalahnya adalah, ini terasa seperti pasangan suami istri khas wilayah Sharance. Keira Finch tidak nyaman dengan perasaannya yang timbul saat tidur di sana.
Micah sendiri juga tidak tertidur karena tengah memikirkan sesuatu. Mendadak lelaki itu melirik Keira Finch yang sama-sama belum tertidur, kemudian berucap, "Raven dan adikku Alicia sudah pernah tidur di sana. Jangan begitu gugup."
Keira Finch langsung menatap Micah yang tengah melirik dirinya. Micah terlihat begitu polos saat muka nya disinari cahaya bulan. "Kau tidak tidur, Micah?"
Mendadak Micah memutus kontak pandangan matanya, langsung menghadap ke atas. "Yah, aku tidak bisa tidur karena teringat sesuatu."
Mendadak Keira Finch menghela nafas pelan. "Soal tekhnik yang dikatakan oleh Moonlight Goddess? Jangan kau pikirkan itu. Aku pasti akan membantu kau."
Micah menggelengkan kepala, kemudian melirik Keira Finch sembari berucap, "Soal, siapa aku sebenarnya."
Keira Finch terbelalak, tidak menyangka bahwa Micah mulai meragukan asal usul dirinya yang disembunyikan oleh kedua saudaranya. Tidak, seluruh keluarga Handerson di luar Sharance juga merahasiakan ini.
Teringat ucapan Jack kepada Raven yang sempat dirinya dengar secara diam-diam. "Semakin hari, semakin besar rasa curiga Micah terhadap asal usulnya. Jika aku beritahu sekarang juga sudah terlambat, Adikku itu pasti akan sangat marah dan kemudian meninggalkan rumah. Tidak, maksudku meninggalkan Sharance demi mencari tahu dimana asal usul Micah yang sebenarnya. Jika saat itu terjadi, Micah pasti tidak akan pernah untuk kembali."
Keira Finch mulai merasakan apa yang dikatakan Jack memang akan menjadi kenyataan dan dirinya juga tidak bisa menerima hal seperti itu. Mau tidak mau, Keira Finch harus merahasiakannya juga.
Keira Finch merasakan tekanan yang begitu besar di dadanya, ia tahu bahwa dirinya harus segera mengambil tindakan untuk membantu Micah merasa tenang dan percaya diri. Keira Finch mencoba untuk tersenyum lembut pada Micah, mencoba menenangkan hatinya yang sedang gelisah.
__ADS_1
"Dengarkan, Micah," ujarnya pelan. "Aku tahu ini bukanlah hal yang mudah untuk dipikirkan, namun aku ingin kau tahu bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu di sampingmu. Kau adalah temanku, dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Micah menatap Keira Finch dengan penuh perhatian, lalu mulai tersenyum kecil. "Terima kasih, nona Finch," katanya. "Aku merasa lega bisa berbicara denganmu."
Mendadak Keira Finch menghela nafasnya, "aku sudah membuktikan diri untuk datang kemari tanpa pengawal sampai lupa membawa bekal. Namun kau masih menganggapku nona manja?"
"Minimal kau sudah bisa memakai celana secara mandiri
Keira Finch tersenyum lebar mendengar celaan Micah. "Tentu saja, aku selalu bisa mandiri. Kau benar-benar mesum sampai mengungkit soal celana," jawabnya sambil membalas ejekan Micah dengan senyuman.
Mereka berdua akhirnya tertawa bersama, membuat suasana kamar menjadi lebih cerah. Micah merasa lega bisa berbicara dengan Keira Finch tentang perasaannya, dan Keira Finch merasa senang bisa membuat Micah tersenyum.
"Bagaimana kau bisa memiliki kecurigaan seperti itu kepada dirimu sendiri dan keluarga Handerson seperti itu? Padahal tiada bukti?"
"Hati kecilku merasa seperti ada yang disembunyikan. Aku merasa seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku, tentang siapa aku sebenarnya."
Micah menggelengkan kepalanya, "Aku sudah mencoba, namun mereka selalu mengalihkan topik dan tidak memberikan jawaban yang jelas."
"Aku tahu bahwa kau sedang mencari tahu asal-usulmu, namun aku harap kau tidak terlalu memaksakan diri untuk menemukan jawabannya."
Micah menatap Keira Finch dengan heran. "Mengapa demikian?"
"Kau selalu berpikir bahwa kau bukan bagian dari keluarga ini, namun kau salah. Keluarga Handerson adalah keluargamu, dan kita semua mencintaimu apa adanya," jelas Keira Finch dengan tulus.
__ADS_1
Micah merasa hangat di hatinya mendengar ucapan itu. Dia menyadari bahwa selama ini, dia terlalu fokus pada asal-usulnya yang belum terungkap, sehingga dia lupa bahwa Bagaimana pun juga dia juga memiliki keluarga yang mencintainya.
"Makasih, Finch," ucap Micah dengan tulus. "Kau selalu bisa membuatku merasa lebih baik."
Keira Finch tersenyum lebar. "Itu karena aku adalah temanmu, Micah. Ekhem, maksudku calon kekasih."
Micah mengerutkan keningnya. "Calon kekasih? Aku?"
Mendadak Keira Finch menatap Micah sambil berucap, "jika bukan kau, lalu siapa lagi? Siapa suruh kau telah menyentuh dan bahkan sampai memelukku?"
"Aku hanya tersandung. Itu kecelakaan. Lagipula, aku masih muda, jangan terlalu berfikir jauh seperti kakakku yang bucinnya sampai menempel di ubun-ubun. Di sisi lain, aku rasa, semakin banyak orang yang mulai dekat denganku, bahkan tidak hanya kau, Alice hunter pun juga mulai mengincar. Aku tidak bisa memilih karena tidak mau menyakiti siapapun. Apa mungkin aku nikahi saka semuanya? Ha ha ha!"
Mereka berdua lalu terdiam sejenak, menyadari bahwa mereka harus segera tidur agar bisa bangun segar keesokan harinya. Namun, pikiran mereka masih dipenuhi dengan perasaan khawatir dan kegelisahan.
Keira Finch menutup matanya, mencoba untuk tidur, tetapi pikirannya masih terus berputar. Dia berharap bisa menemukan cara untuk membantu Micah menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya tanpa harus menimbulkan masalah yang lebih besar.
Setelah beberapa saat, Keira Finch akhirnya tertidur dengan tenang, namun perasaan gelisah dan ketakutan masih terus menghantuinya dalam mimpi-mimpinya.
Malam telah berlalu, Micah mulai terbangun dan mendapati Keira Finch telah tidak ada di kamarnya. Hanya ditemukan sepucuk surat di sana.
"Micah, maafkan aku karena pergi tanpa pamit. Aku harus pulang, takut ayahku merasa cemas. Jangan marah, okay? Soal paman Yang maupun kak Chester, aku pasti akan menemui nya langsung untuk meminta petunjuk. Jadi, jangan marah sedikitpun."
Micah menghela nafas pelan kemudian mulai bertanya pada dirinya sendiri. "Buat apa aku marah? Aku justru merasa senang karena kau telah pergi sebelum dipergoki kak Jack atau adik Alicia."
__ADS_1
Mendadak Micah mulai bangkit dan mulai berjalan ke luar kamar karena terdengar suara pertengkaran di ruang tamu. Begitu keluar, suara itu terdengar semakin jelas. Micah melihat jam Pasir yang takaran yang dihasilkan telah menunjukkan pukul empat pagi.
Micah mulai berdiri di depan pintu ke ruang tamu, mendengarkan sesuatu yang membuat Micah merasa Shock. "Ini ... mereka bercanda, bukan?"