
Pete bersama seluruh rekannya tengah berkumpul di sebuah tempat mereka berkumpul seperti kesepakatan, yaitu di tempat yang cukup luas dan aman yang telah disepakati sebelumnya.
Hari sudah malam, namun tempat tersebut begitu terang karena terdapat empat api unggun di sudut dan beberapa obor.
...Sacred Valley:titik awal kultivator...
...Episode 130. acara Dansa di tempat yang disepakati...
Mereka memang membuat kesepakatan untuk mengadakan acara dansa disana, mengingat sebagai hari terakhir mereka berkumpul seperti ini. Masternya telah memasang ancang-ancang untuk melepas Pete besok pagi.
Acara dansa ini juga dihadiri oleh seluruh keluarga Univir juga sebagai acara suka cita karena Kuruna (pemimpin Univir) dan Zaid (ujung tombak pertahanan keluarga Univir) yang sama-sama memiliki peranan penting telah resmi menjadi suami istri.
Kuruna menyenggol Dia, "Pete tengah menunggumu, walaupun ada dua gadis lainnya yang memang akan menjadi kekasihnya. Namun kau berhak menjadi yang pertama untuk berdansa bersamanya"
Dia tersenyum pelan, kemudian segera menyusul Pete yang tengah membakar daging bersama kedua adiknya (Xiao Chi dan May) di api unggun yang terletak di sudut lokasi.
"Padahal mereka masih muda, tidak disangka mereka telah berhubungan melampaui batasnya," ucap Kuruna sembari menghela nafas, kemudian pergi menemui Zaid yang tengah berbincang-bincang dengan Blaise beserta Collete dan Rusk.
Sementara itu, Gina, Katie, Joe, dan Kurt berkumpul, tengah saling mengajak berdansa satu sama lain.
"Kakak kedua, mau berdansa?" tanya Kurt sembari mengulurkan tangannya.
"Lah, aku akan berdansa dengannya, kakak keempat," ucap Katie sedikit protes.
"Adik kelima bersama adik ketiga saja. Maaf, aku akan berdansa dengan adik keempat," ucap Gina sembari mengatupkan kedua tangannya, meminta maaf.
Joe dan Katie saling berpandangan, mendadak terdiam seribu bahasa. Tidak disangka, Gina memilih berdansa dengan Kurt, melawan perasaan bergejolak yang meledak-ledak di hatinya ketika bersama Kurt.
Itu semua demi membuat mereka berdua agar berdansa bersama. Sungguh diluar pemikiran mereka.
Sementara itu, Zaid terlihat tergabung bersama Rusk dan Collete, bersama Blaise, Sherman, Ordorus, Sofia, dan Evelyn.
"Sepertinya acara ini menjadi acara dansa pertama bagi kami," ucap Evelyn sembari tersenyum lebar.
"Kau benar, Evelyn. Ayo Rusk, Ayo kita berdansa!" ucap Collete tersenyum lebar.
Ordorus memutar bola matanya malas. "Kalian berdua ini."
"Ordorus, tunjukkan kemampuan berdansa mu!" ucap Evelyn seraya menarik tangan Ordorus.
Ordorus menatap Evelyn dengan perasaan gugup. "Berdansa?"
__ADS_1
Zaid tertawa. "Hanya berdansa saja, kok! Bukan lagi perang, jangan takut!"
Mendadak Kuruna datang dan menepuk bahu Zaid pelan. Zaid segera menoleh. "Kita dansa bersama, okay!"
Sementara itu, Pete mengangkat daging yang ditusuk dengan bilahan bambu kecil, terlihat matang sempurna. Segera Pete taruh ke dalam baskom, kemudian mengambil daging lainnya dan memanggangnya
Xiao Chi cekikikan melihat May mengangkat dagingnya. Astaga, gosong sebelah. Sementara itu, Pete menghela nafas pelan, melirik hasil daging yang dipanggang Xiao Chi yang rupanya gosong sekali seperti arang.
"Kalian berdua, sebaiknya kalian berhenti memanggang. Lihatlah, kita telah mengosongkan empat tusuk. Kalian bantu saja aku di sini," ucap Pete sedikit bersabar.
Mendadak Dia datang dan langsung menyentuh bahu Pete. "Mau aku bantu?"
Pete mengerutkan keningnya. "Kau bisa memanggang?"
Astaga, Chef terbaik di telaga langit ini diragukan oleh Pete? Dia harus kasih paham dulu, nih! "Kau terlalu meragukanku dalam memasak, ya? Kau kira sate tusuk yang selama ini kau makan di Telaga langit itu buatan siapa?"
Raven dan Alice datang bersamaan ke arah mereka. "Astaga, Pete. Kau memanggang daging sebanyak ini sendirian?" tanya Alice tidak percaya.
Dia malah menjawab begitu kesal. "Tidak perlu heboh begitu. Kemari, bantu kami memanggang daging sebanyak ini!"
Xiao Chi dan May langsung ikut mengambil daging dan ikut membakarnya, lagi. Tetapi kali ini mereka merengek minta bantuan kepada Dia dan Raven.
Tidak membutuhkan waktu lama, mereka selesai memanggang. Bau harum daging tersebut menyebar, mengundang selera makan bagi siapapun yang mencium baunya. Yah, mereka pun segera mengumpulkan seluruh daging di baskom, kemudian kembali ke tengah lokasi.
Pete segera menaruh daging panggang di depan, mendadak mereka bergerak kompak mengambil makanan tersebut. Sial, mereka hampir menghabiskan daging yang baru saja dihidangkan.
"Selamat makan!" teriak mereka semua sembari mengangkat arak (kecuali Pete mengangkat air putih, yang memang sangat membenci arak.)
Kuruna segera mencicipi sambal, namun mendadak perutnya langsung mual. Dirinya mulai hampir muntah, segera pergi dari sana sejenak.
"Astaga, aku lupa mengatakannya. Kak Kuruna sedang hamil!" teriak Dia histeris.
Zaid yang baru saja minum, mendadak menyemburkan seluruh arak di mulutnya, tepat mengenai muka Ordorus. Zaid segera pergi ke arah Kuruna yang sedang muntah, sementara Ordorus merasa mata. Evelyn segera mengusap muka Ordorus hingga bersih.
Pete justru menatap Dia, berharap tidak terjadi sesuatu. Terlihat Dia masih belum makan apapun.
"Kak Kuruna hamil?" tanya Evelyn kaget.
Ordorus menatap Dia tidak percaya. "Jangan mengada-ngada!"
Pete mengerutkan keningnya, mendadak Xiao Chi mencolek dirinya. "Kau tidak membuat Tunanganmu hamil bukan?"
__ADS_1
Pete kembali melihat ke arah Dia yang ternyata telah bangkit dan pergi ke arah Kuruna. Pete segera berdiri dan mengekori dari belakang.
"Dia, kau tidak apa-apa, bukan?" tanya Pete yang sukses membuat Dia dan Zaid terbengong.
"Maksudnya, kau tidak merasa mual atau semacamnya, bukan?" tanya Pete lebih spesifik.
Mata Dia membola, kemudian segera memalingkan wajahnya, kembali mengurut leher Kuruna.
"Maksudnya tadi apa? Kau dan Dia sudah-"
Pete langsung membungkam mulut Zaid. "Jangan beritahukan kepada siapapun."
Pesta pun mulai dilanjutkan, namun Kuruna hanya memakan daging tanpa sambal, karena mendadak Kuruna ngidam daging panggang.
Dia menatap Pete begitu lekat dan tajam. Tentu saja karena Pete kelelahan mengatakannya. Sudah jelas-jelas dirinya meminum obat pengaman, bagaimana mungkin dirinya bisa hamil?
Akhirnya mereka pun selesai makan-makan dan berlanjut ke acara inti, yaitu dansa.
Pete berdansa dengan Dia, membuat Raven dan Alice cemburu. Gina bersama Kurt juga berdansa, melawan perasaan bergejolak yang meledak-ledak di hati mereka. Lah, Katie dan Joe malah berdansa begitu lancar, seolah-olah sudah terlatih.
Pete merasa seperti terbang di awan saat berdansa dengan Dia. Sampai-sampai dirinya lupa bahwa ada banyak pasang mata yang melihatnya. Astaga, dansa mereka seperti mendekati sempurna.
Raven dan Alice menghela nafas, karena terlambat mengajak Pete untuk berdansa. Sekarang mereka berdua hanya bisa diam dan menonton saja.
Mendadak mereka semua terhenti ketika terdengar suara mengerikan yang menghampiri. Mereka langsung berwaspada. Tiba-tiba, angin berhembus begitu kencang, meniup api unggun hingga mati.
Tidak di sangka, tanah meledak. Muncul seekor kura-kura berukuran besar melebihi ukuran manusia hadapannya. Teriakannya begitu mengerikan, semuanya pun merasa ketakutan mendengarnya.
'Auranya ini? Pete, Dia! Amankan semua orang.' perintah Chang'e.
"Kakak pertama, kau evakuasi mereka, biar aku yang menahannya," ucap Pete sembari menggunakan kemampuan Jiwa Skelefang miliknya, segera mengubah dirinya menjadi seekor naga.
"Berhati-hatilah!" ucap Dia.
Pete mengendalikan Naga tersebut, agar mengaum. Tidak disangka, suaranya juga mengerikan.
Namun, mendadak Kuruna berteriak, "berhenti sejenak!"
Dilihat dari keadaannya, monster Epical ini sepertinya menghindari manusia, tidak seperti monster lainnya. Kuruna menduga bahwa monster ini sebenarnya membutuhkan bantuan.
Monster tersebut mendadak mendekati Kuruna, namun Pete langsung menghadang. Kuruna terkejut sejenak, namun dirinya menyadari bahwa dirinya menggenggam sebuah tabung bambu berisi air.
__ADS_1
Segera Kuruna menyadari bahwa Kura-kura ini membutuhkan air.'