Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 95


__ADS_3

...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 95. kode pertarungan ...


Pete akhirnya membuka mata ketika cahaya matahari mulai menyusup ke dalam rumah tersebut. Dirinya terdiam sejenak, mengingat apa yang terjadi kemarin. 


Semburan serbuk obat tidur kemarin benar-benar berefek sangat kuat. Sialan, berbeda dengan obat bius yang membuatnya pingsan, obat tidur ini merangsang seseorang untuk tertidur terlelap. Pete menghela nafas pelan, merasa dirinya kurang berwaspada melawan orang misterius kemarin.


Namun, dirinya mulai merasa begitu janggal. Ketika dirinya menoleh ke kiri, Pete menemukan Dia di sisinya. "Kakak pertama disini?"


Pete mendadak teringat sosok misterius kemarin itu seorang perempuan yang terlihat begitu buram dan tidak jelas karena kantuknya menyerang saat itu. Dirinya mulai menduga bahwa gadis misterius tersebut adalah Dia. Namun, teringat jurus pedangnya tida mirip sama sekali membuat Pete menghela nafas pelan.


 Satu hal lagi, rambut gadis misterius itu dikucir dua. Bukan terurai seperti Dia. Pakaiannya juga berwarna hitam yang mendominasi, yang warna hitam adalah warna yang sangat Dia benci. Terakhir Pete tidak merasakan koneksi jiwa dengan gadis misterius itu. 


Namun, Pete mulai menyadari ada seseorang lagi di kanannya. Ketika menoleh ke kanan, alangkah terkejutnya Pete melihat gadis lain juga tidur bersamanya.


"Gadis ini? Apakah Nona Hunter?"


Pete mengucek matanya dan mencoba melihat kembali lebih jelas. Namun, seberapa kali pun Pete mengucek matanya, tetap saja yang dilihatnya adalah  nona Hunter yang pernah bersinggungan dengannya setahun yang lalu. Namun bagaimana bisa gadis ini tidur bersamanya juga?


 flashback!


Dia mulai menguap, tanda mulai terserang kantuk. Begitu juga dengan Alice. Kedua nona ini benar-benar ingin tertidur, namun hanya ada satu ranjang besar dan Pete tengah tertidur di sana.


Dia malah langsung naik ke ranjang tersebut, membuat mata Alice membola. "Dia, apa yang kau pikirkan? Lelaki dan perempuan tidak boleh-"


Dia langsung memotong ucapan Alice, sekaligus tersenyum penuh arti. "Aku dan adik termuda sudah terbiasa tidur bersama. Lelaki dan perempuan tidak boleh bersentuhan? Itu hanya berlaku untuk Lelaki/perempuan hidung belang dan cabul. Pete sebenarnya begitu polos, jangan khawatir karena Pete tidak akan memangsamu."


Alice menatap Dia begitu lekat, melihat apakah sahabat masa kecilnya itu bercanda atau serius. Namun meskipun terlihat begitu tersenyum, kelihatannya gadis tersebut tidak bercanda sedikitpun.


"Kau sungguh konyol. Aku mengatakan yang sejujurnya, tidak perlu kau meragukannya. Jadi, mari kita tidur disini, bersama-sama."

__ADS_1


Mata Alice membola dan pipinya mendadak bersemu merah. "Ini ... Tidak! Aku tidak akan tidur bersamanya! Jika ada yang tahu aku tidur bersama lelaki itu, mau ditaruh dimana mukaku nantinya di hadapan keluargaku?"


"Lalu kau akan tidur di lantai?" tanya Dia sambil mengedutkan alisnya. "Dengan senang hati kau akan terinjak-injak oleh Kami, hehehe."


Back to Story.


Mata Pete semakin membola ketika saat dirinya menoleh ke kiri, Dia telah menatapnya. Astaga, apa yang harus Pete katakan sekarang?


Dia terlihat tersenyum, kemudian memeluk Pete sembari berucap, "Adik termuda, apakah kau pernah berfikir memiliki istri lebih dari satu? Jika iya, aku menyarankan nona Hunter untuk menjadi istri keduamu."


Secara reflek, Pete berucap,  "Hah?" dengan cukup keras yang membuat Gadis di sebelah kanannya terbangun. "Kau keberatan, adik termuda?"


Pete menggeleng. "Kakak pertama, ini terlalu dini untuk mengatakannya. Bahkan soal pernikahan saja aku tidak memikirkannya, apalagi memiliki istri kedua? Lagipula-"


Dia malah berucap penuh penekanan. "Kalau begitu, kita menikah saja lebih cepat! Lihatlah Collete dan Rusk saja umurnya setara denganmu sudah menikah, masa kita tidak?"


Pete terdiam sejenak, tampak berfikir. "Kau fikir pernikahan itu gampang? Setelah menikah, kita akan menanggung beban dan tanggung jawab yang harus kita hadapi secara dewasa. Aku sama sekali tidak siap, bebanku  sendiri saja begitu berat apalagi beban keluarga?"


"Tetapi kau mau atau tidak?" tanya Dia, masih memeluk Pete erat.


Dia melepaskan pelukannya. "Kau tahu, Alice dulunya adalah sahabatku. Dirinya juga mencintai dirimu, bahkan rela untuk menjadi yang kedua. Aku rasa merelakannya hanya untuk menjadi yang kedua, rasanya tidak ada ruginya. Jadi aku berharap kau akan menerimanya."


Pete segera memasang muka kesal. "Kenapa mendadak para gadis menginginkanku, bahkan ingin menjadi yang kedua? Padahal Raven pun juga mengatakan hal yang sama."


Mata Dia membola. "Hah? Apa itu benar?"


Pete memutar bola matanya begitu malas, sangat enggan untuk meladeni pembicaraan itu. "Bisakah kita mengesampingkan dahulu soal itu? Sebenarnya apa yang terjadi di saat aku berhasil dilumpuhkan oleh orang asing itu?"


Dia menghela nafas pelan. "Meliriklah ke kanan dan tanyakan kepadanya, apa yang nona Hunter lakukan setelah menyerang dan membiusmu dengan serbuk obat tidur konsentrasi tinggi. Beruntunglah tidak ada yang hilang di dirimu."


----

__ADS_1


Pete bersama Dia dan Alice kembali ke Collossum, dimana pertandingan Gladiator dimulai hari ini. Sudah banyak yang hadir di arena tersebut dan ada beberapa yang begitu hebat dan terkenal, tampak tengah berbaris hendak mengambil nomor kode undian pertarungan. 


Pete mendapat kode 7F3, Dia mendapatkan kode 5S1, Alice mendapatkan 9T8, dan yang lainnya mendapatkan kode serupa yang membuat Pete mengerutkan keningnya. Kode macam apa ini?


Dia melirik Pete yang terlihat begitu kebingungan. "Kode ini menggantikan nomor urutan di tahun-tahun sebelumnya, dan kode seperti ini akan dipilih secara acak, sehingga tidak ada yang tahu siapa lawan yang persis untuk menghindari kecurangan."


 Pete terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis. "Ini konyol," ucapnya.


"Semuanya, untuk pertarungan besok adalah pertarungan satu melawan satu. Bagi yang mendapatkan nomor kode 5S4, 7W1, 4E4, 7F3, (berbagai nomor lainnya disebut) bersiaplah untuk babak pembuka. Sementara nomor yang tidak disebutkan, akan bertanding sehari setelahnya."


Alice menatap Pete dan menghela nafas pelan. "Padahal aku ingin kembali bersua denganmu. Sepertinya tidak bisa untuk saat ini, ya?"


Pete tersenyum. "Kalau begitu, jangan sampai kalah, oke!"


Alice ikut tersenyum, namun senyumnya mendadak hilang ketika Dia berucap, "Jangan sampai kau bertemu aku dahulu karena aku tidak akan membiarkanmu menang dengan mudah."


Alis Alice berkedut, merasa bahwa bertemu Dia di arena sama dengan melawan raja monster.  Masalahnya, Dia terkenal begitu hebat dan menduduki peringkat pertama sebagai murid terkuat di Telaga langit, di atas Pete yang terkenal sebagai king monster Killer.


"Dia terlalu tega!" cibirnya, mengundang tawa pada Pete dan Dia. "Kalau tidak tega, bukan Dia namanya!"


Tawa Dia sirna dan berganti tatapan tajam setajam silet dengan urat(perempatan siku) di kepalanya muncul, pertanda gadis itu marah. Merasa akan menghadapi bahaya membuat Pete segera berucap, "lupakan!"


Keempat saudara seperguruannya datang dan menunjukkan kode undiannya. "Kami semua bertanding dua hari lagi. Bagaimana dengan kalian?"


Pete menoleh dan menunjukkan kode undiannya. "Hanya aku yang bertanding besok. Jadi mulai hari ini aku harus standby mulai nanti malam."


"Lah, kakak pertama tidak mendapatkan nomor kode undian yang akan bertanding besok?" tanya Katie heran.


Dia menunjukkan kode undiannya. "Tidak. Aku akan bertanding dua hari lagi. Aku harap lawan kalian bukan aku atau sesama kita. Dengan begitu kita pasti akan berkesempatan melaju ke babak berikutnya bersama-sama."


"Jika lawanku adalah kakak pertama, sudah pasti aku menyerah, kalau tidak ya pasti akan dikalahkan. Adik termuda saja yang memiliki kemampuan yang begitu hebat dan terkenal dalam menghabisi Skelefang saja bisa dikalahkan dengan telak, apalagi kami!" ucap Gina sambil tersenyum.

__ADS_1


"Adik termuda dengan senjata tombaknya lebih berbahaya! Kita keroyok empat lawan satu pun masih saja kita yang kalah. Padahal sudah diserang dalam bentuk formasi," ucap Katie.


"Beruntunglah adik termuda bertarungnya besok. Jadi tidak perlu dikhawatirkan!" Ucap Joe dan Kurt bersamaan.


__ADS_2