
Pete memetik sebuah alat musik kecapi yang terdengar begitu menyiratkan perasaan sedih. Di lubuk hatinya Pete membenarkan ucapan Dia saat Pete sarkas terakhir kali.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 62. perdebatan dan pertarungan singkat ...
Tangannya terus menari-nari memetik senar, memainkan melodi sedih khas lagu bangsa Univir yang telah punah.
"Aku memang tidak berperasaan, ya? Bisa-bisanya aku berucap demikian."
'Kau tidak sepenuhnya salah, Pete. Secara permasalahan, Dia lah yang pantas disalahkan. Kau sudah mengunci pintu kamarmu, namun Dia malah membuka, masuk, dan akhirnya memelukmu. Soal kissmark tipis itu hanya karena kau memang dalam posisi terlelap, mencium leher Dia begitu tipis.
Namun secara perasaan, jelas kau salah. Walaupun kau berada di pihak yang benar, seharusnya kau tidak berucap sedemikian sarkas hingga melukai perasaan Dia saat dirinya menceritakannya sedemikian jujur."
"Haahhh."
"Sebaiknya kau meminta maaf kepadanya. Kau memang berada di pihak yang benar, namun kau juga salah karena menyakiti perasaannya. Jadi meminta maaf adalah hal terbaik untukmu. Aku tahu, Dia membencimu, namun aku yakin Dia akan memaafkanmu, setidaknya kau telah meminta maaf kepadanya."
Sementara itu, di sebuah air terjun jauh dari telaga langit, Dia menangis sesegukan. Muncul semua adik seperguruan (minus Pete) menyusul nya.
"Kakak tertua?" tanya mereka bersamaan
"Hiks-hiks!" tangis Dia memilukan hati.
Gina mendekati Dia, menariknya ke pelukannya. "Sudahlah, kakak pertama. Kau tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan, okay? Kau masih punya kami."
Tangis Dia malah semakin keras. "Aku tahu aku salah! Akan tetapi adik termuda terlalu kejam!"
Kurt mengusap air mata yang juga ikut turun membasahi pipinya karena merasakan betapa pilu tangisan Dia. "Kakak tertua. Aku mengerti mengapa kau menangis seperti ini, akan tetapi seperti yang dikatakan kakak kedua, alangkah baiknya untuk tidak terlarut di dalam kesedihan."
"Kami masih ada disini, kakak tertua."
"Kalian?"
Joe berucap, "memang secara permasalahan, kau yang salah. Akan tetapi, seharusnya Pete tidak mengatakan hal sinis ketika kau berkata jujur."
"Aku tidak menyalahkan mu, Kakak tertua. Cintamu terhadapnya memang begitu nyata. Aku juga akan melakukan hal yang sama jika aku berada di dalam posisiku." Joe mengangguk setuju dengan Ucapan Katie.
"Hanya saja, kalian berdua terlalu frontal untuk bertengkar. Aku tidak mengerti mengapa hal seperti ini terjadi, dan seharusnya kalian berdua sama-sama meminta maaf."
Di tempat yang tidak begitu jauh, terlih Pete yang tiba di sana tampak begitu teriris hatinya
"Dia menangis juga karena kau, Pete. Jadi minta maaf kepadanya. Bila perlu, tenangkan dirinya."
__ADS_1
Pete pun mendekat ke lokasi dan ketika mereka semua melihat Pete, mereka mendadak saling lirik dan membuka jalan, lalu segera menjauh dari hadapan mereka dengan maksud melihat dari kejauhan.
Pete mulai mendekati Dia dan hendak menyentuh bahunya, namun Pete urungkan. Teringat perkataan Dia yang sudah menutup akses untuknya.
Pete menghela nafas pelan, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menyapa Dia.
"Pete menyebalkan, kau bajingan! Dasar hidung belang, percuma Aku membuka akses untukmu!" teriak Dia kecewa.
"Kau benar, kakak pertama. Aku memang menyebalkan," ucap Pete dari belakang yang membuat Dia terkejut setengah mati dan segera menoleh ke belakang.
"Kau! Mau apa kau kesini, hah?"
"Aku mengerti kau marah kepadaku. Aku tahu, aku salah. Jadi aku meminta maaf kepadamu?"
"Meminta maaf? Semudah itukah kau meminta maaf kepadaku? Tidak tahukah dirimu, betapa sakit hatiku karenanya dan sekarang kau mengucapkan permintaan maaf?"
"Aku tahu perasaanmu."
Tangan Dia kembali menampar Pete. "Kau bajingan! Tahu apa kau soal perasaanku, hah?!"
"Aku memang tahu itu. Oleh karena itu, aku datang untuk meminta maaf kepadamu."
"Kau pikir aku dapat memaafkan dirimu semudah itu? Huh! Jangan berharap, Pete! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, apapun yang terjadi!"
Dia hanya menatap sinis ketika Pete terduduk karena ucapannya. Air matanya mulai mengalir sedikit demi sedikit
"Agar kau tahu seberapa menyakitkannya rasa sakit yang aku rasakan."
Dia langsung meninggalkan Pete sendirian di air terjun tersebut. Bahkan menoleh ke belakang pun, Dia tidak melakukannya. Semua temannya pun mengikuti Dia dan benar-benar meninggalkan Pete sendirian.
------
Hari sudah malam, hujan masih belum reda. Di telaga langit, terlihat mereka semua sedang makan malam, namun minus Pete yang sedari tadi tidak kembali. Xiao Fu dan Xiao Chi menjadi cemas, begitu juga dengan kakak seperguruannya minus Dia.
Dia memasang rawut wajah tidak peduli ketika Gina menanyakan soal Pete.
"Adik termuda mengapa belum juga kembali?"
Xiao Fu menghela nafas pelan. Dirinya enggan menjawab karena tidak tahu kemana Pete sebenarnya. Begitu juga dengan Xiao Chi.
Angin terhembus sedikit kencang memasuki ruangan tersebut. Namun, tiba-tiba terdengar benda terjatuh dan pecah.
Mereka semua menoleh dan mendapati sebuah lukisan yang terbuat di papan kaca yang selama ini Xiao Chi lukis dengan susah payah sampai memeras otak, telah hancur berkeping-keping.
__ADS_1
Gelas di tangan Dia pun ikut terjatuh, merasakan koneksinya terputus.
"Pete, ini tidak mungkin bukan?" tanyaXiao Fu.
"Koneksi milik adik termuda, terputus?"
Semua mendadak melihat kearah Dia. "Tidak mungkin! Kak Pete sudah-"
"Tenangkan dirimu, Xiao Chi! Aku yakin Pete dalam keadaan baik-baik saja. Tidak mungkin Pete terbunuh secepat itu! Aku rasa dirinya mungkin pergi ke dimensi lain. Aku yakin!" ucap Xiao Fu mencoba menenangkan diri Xiao Chi dan dirinya sendiri.
Sementara itu, apa yang sebenarnya terjadi?
Masih di bukit Oddward, Pete tampak bersandar di sebuah pohon biasa. Pete sangat mengenali tempat tersebut karena tempat itulah lokasi kedua sahabat masa kecilnya kehilangan nyawanya.
Pete begitu bersedih terhadap apa yang telah dikatakan Dia. Sang Dewi terus menerus menguburnya, mengatakan bahwa Pete tidak salah.
Namun, tanah retak, cukup jauh dari posisi Pete, membuat siapapun menoleh. Mendadak sebuah Pohon tumbuh dengan cepat yang membuat Pete terbelalak.
"Pohon itu? Pete, apa-"
"Pohon itu memang Devil Ghost Tree. Tidak aku sangka rupanya Pohon ini muncul disini, kebetulan aku ingin membalas dendam atas kematian Collete dan Rusk," ucap Pete yang rawut wajahnya mulai serius.
Pete segera mengeluarkan pedang misterius dan sebelum Dewi Chang'e melarang, Pete sudah melesat maju.
Sulur-sulur menyerangnya, namun dengan mudah Pete hindari. Tahu-tahu, Pete telah menebas akar-akarnya sehingga pohon tersebut tidak bisa lari lagi.
Pertempuran sengit! Pohon itu kemudian berhasil meraih tubuh Pete dan hendak menyerap energi kehidupan miliknya.
"Pohon rendahan, kau ingin menyerap energi kehidupan milik Pete? Huh! Itu mustahil!"
Justru energi spiritual Pohon tersebut malah mengalir ke tubuh Pete, lebih tepatnya ke Changseng Jue miliknya.
Sulur tersebut mulai melepaskan diri Pete, kemudian dengan cepat, hendak menusuk sekujur tubuh Pete, namun Pete berhasil menghindari delapan puluh persen serangan sulur tersebut. Meskipun begitu, Pete tetap dapat dikatakan terluka parah. Bahkan pakaian nya telah robek semua.
Pete segera meluncur ke depan dan menikam batang kayu tersebut. Seketika energi spiritual Pohon tersebut kembali terserap. Pohon itu berupaya mengikat tubuh Pete dan menariknya dari tubuhnya, namun Pete seperti menempel di batok kayu yang tidak lain adalah tubuhnya.
Di bawah hujan deras, terdapat banyak sekalipun genangan darah. Semua darah itu berasal dari Pete. Tubuh Pete melemah dan akhirnya terjatuh.
Pete mengeluarkan pil teratai matahari yang sebelumnya Xiao Fu berikan kepadanya, kemudian mengkonsumsinya sebelum dirinya akhirnya pingsan karena kehabisan darah.
Di saat kritis, terdapat tiga orang yang datang, satu perempuan muda seumurannya, satu laki-laki muda yang juga seumurannya, dan lagi satu adalah pria paruh baya. Mereka membawa Pete entah kemana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1