
Arena Collossum kembali sepi setelah mereka semua bubar dari sana. Mereka semua telah pergi berpencar kembali. Alice telah memisahkan diri dari rombongan Telaga langit yang berjalan beriringan. Matahari sudah begitu tinggi, cahayanya terik menyinari.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 96. serangan di restoran ...
"Master, aku tidak mengerti. Mengapa nomornya berupa kode? Apakah ada alasannya?" tanya Dia terheran.
"Dia, ayahmu menyusun rancangan untuk menghindari otak atik kecurangan yang keluarga Hunter buat di dalam pertandingan ini karena mereka melakukannya untuk membunuhmu dan Pete," jelas Xiao Fu.
Kurt berkata, "kemarin kalian berdua dari mana saja? Beruntung kalian tidak kembali. Jika kalian kembali maka sudah pasti mereka akan langsung menargetkan diri kalian."
Pete dan Dia saling melirik, mendadak tersenyum kikuk. Membuat mereka semua mengerutkan dahi. Tiba-tiba Joe berucap, "jangan-jangan kalian berdua sudah-"
Pete dan Dia mendadak saling menggoyangkan kedua tangannya di depan dada dan berucap serentak. "Tidak-Tidak! Tidak terjadi apa-apa kemarin, sungguh!"
Xiao Fu dan Xiao Chi saling menatap, kemudian berucap, "mencurigakan."
Xiao Fu segera memeriksa tangan mereka berdua, mengetes energi Qi milik mereka untuk memastikan apakah mereka berdua masih murni, atau tidak.
Xiao Fu menghela nafas lega. "Mereka masih suci."
Dia malah menatap Pete sembari berucap, "jika tidak suci lagi, salahkan Pete yang memangsaku kemarin malam."
Mata Xiao Fu membola. Meskipun mereka berdua masih memiliki energi yang murni, namun ucapan Dia membuat dirinya dan Pete segera disidang. "Aku hanya bercanda."
May dan Raven datang bersama Sakuya, Pia, Shara, dan Jack, bergabung dalam rombongan tersebut.
Xiao Chi dan Dia mendadak cemberut melihat mereka berdua. "Kak Pete, boleh bergabung tidak?"
Pete terkekeh pelan melihat ekspresi mereka berdua. Ralat, mereka berempat. Masalahnya adalah Dia begitu tidak menyukai Raven dan Xiao Chi juga tidak menyukai May. Sekarang Pete berada di jalan buntu, entah apa yang harus Pete jawab kali ini.
"Boleh saja." Bukan Pete yang menjawab, melainkan Xiao Fu yang sempat melirik Pete yang terlihat begitu kebingungan.
__ADS_1
'Tidak heran jika kak Jack selalu uring-uringan bila sudah bertemu perempuan. Ternyata seperti ini? Perempuan itu benar-benar merepotkan,' ucap Pete di dalam benaknya.
Mereka pun telah sampai di restoran, memang mereka hendak makan siang. Merada ada yang janggal, Pete kembali terdiam sejenak, diam-diam menoleh ke belakang. Tampak Alice yang mengikuti mereka bersama kedua orangnya yang membuat keningnya berkerut.
Tiba-tiba sebuah kepalan kertas menimpuk kepalanya, ketika Pete membukanya dan setelah membacanya, pemuda itu tersenyum tipis.
"Berhati-Hatilah di dalam Restoran,karena restoran ini dikuasai keluarga Hunter. Perhatikan makanannya, jangan sampai merasa ada yang janggal namun tetap kau makan. Keluarga Hunter pasti akan melakukan apapun untuk mendapatkan kalian berdua, meracuni adalah salah satunya."
Pete menggulung kembali surat itu dan tiba-tiba ada tangan lain yang memegang surat tersebut. "Sejak dulu, sahabatku itu selalu begitu."
Pete mengerutkan dahinya, tidak menyangka Dia juga ada bersamanya. Ketika mereka berdua masuk kedalam, mendadak beberapa pasang mata diam-diam menatapnya tajam. "Seperti yang telah direncanakan."
Pete bergabung bersama rombongan dan duduk di sebuah bangku. Sebuah pelayan datang dan membawakan hidangan. Dengan bersiap, May hendak mengambil sendok makan sebelum tingkahnya dihentikan oleh Xiao Chi.
Pete mengambil garpu dan menusukkan steak, kemudian memeriksa dengan teliti. "Tidak perlu kau lihat, adik termuda. Aku tahu ada racun di kandungan daging tersebut."
Xiao Fu mengerutkan alisnya, merasa mereka memang hendak diracuni dengan sengaja. "Mengapa mereka hendak meracuni kita?"
Pete menatap Dia, dengan sorot mata memintanya menjelaskan. "Master, restoran ini dikuasai keluarga Hunter."
May tanpa basa basi, langsung
melepaskan anak panah dengan cepat, membunuh musuh dalam tempo cepat. Begitu juga dengan yang lainnya. Restoran tersebut mulai terdengar bunyi berkerotokan, pertanda bangunan ini hendak roboh.
Dengan cepat, mereka segera keluar dari Restoran begitu cepat dan tepat saat mereka semua telah keluar, bangunan itu segera roboh.
Xiao Chi mengerutkan keningnya, sebelumnya mereka merobohkan Miyako Inn. Sekarang Restorannya dirobohkan. Benar-benar sepadan.
Pete terdiam sejenak, kemudian melirik Dia kembali. Dia yang tahu dilirik pun mendadak memalingkan wajahnya. Joe yang sempat melihatnya segera berceletuk. "Sudahlah, aku tahu gadismu cantik. Tetapi tidak perlu dilirik seperti itu juga. Malu kan gadismu jadinya."
"Apaan sih?" tanya Pete kesal. Semuanya mendadak tersenyum miring melihatnya.
__ADS_1
----
Tidak terasa, matahari telah tenggelam, digantikan dengan kemunculan bulan. Pete terlihat di puncak sebuah bukit dan Dia, Alice dan Raven juga ada di sana. Mereka bertiga tengah mengerutkan keningnya karena mereka bertiga diminta pergi kemari bersamaan.
"Pete, mengapa kau memintaku kemari?" tanya Alice terheran.
"Aku hanya ingin tahu, sebenarnya apa yang kalian pikirkan sampai menginginkanku? Bukankah kakak Jack lebih baik dariku?" tanya Pete menginterogasi.
"Aku, apakah kau lupa saat kejadian di Sol Terano waktu itu? Ya, memang kau menyelamatkan Sakuya dan Pia, namun kepandaianmu membuatku tertarik kepadamu. Aku pikir kau memang begitu pintar, namun mendengar kau adalah orang yang tidak mampu bertarung membuatku merasa kecewa.
Akan tetapi, setelah apa yang terjadi, aku mulai mencoba mencari tahu penyebabnya sampai pada akhirnya kau dikabarkan hilang dan tidak ada yang bisa menemukannya. Namun, aku sama sekali tidak menduga itu adalah dirimu."
"Pete, kau mungkin lupa. Bukankah saat kita masih kecil, aku sudah mengatakan bahwa aku akan menjadi kekasihmu? Dan jangan lupa kita pernah bersumpah di Entrance," ucap Raven yang sukses membuat Dia dan Alice Shock!
Entrance adalah lokasi dimana orang Sharance dan Privera melakukan pernikahan. Jadi mereka sudah ....
"Maksudnya saat kita bermain berpura-pura melakukan pernikahan tersebut waktu masih kecil itu?" tanya Pete heran.
"Tetapi apa kau tidak sadar, saat itu kita berucapnya atas nama bumi dan langit. Yang telah membuat orang tua kita pun pada akhirnya memarahi kita. Dan apa kau tidak ingat sehari setelahnya mereka berkumpul mendadak karena membicarakan apa? Mereka membicarakan perjodohan, Pete."
"Adik termuda, apakah itu benar?" tanya Dia dengan air mata yang mulai menetes satu persatu. Pete ingin meraihnya, namun dirinya mendadak kehilangan keberanian untuk melakukannya.
Namun, justru Raven yang meraihnya. "Meskipun begitu, karena kami berucap dengan main-main, sumpah itu adalah sebuah bencana untuk keluarga kami sehingga orang tua kami terbunuh dalam pertempuran."
Dia melepaskan pelukannya dan menatap Raven yang malah lebih dulu terisak. "Aku pun memikirkan ulang sampai saat ini dan aku pun memilih untuk bersedia menikah dengannya untuk menepati janjiku. Namun, aku merasa dirimu lebih pantas untuk menjadi yang pertama. Oleh karena itulah aku memilih untuk menjadi yang kedua."
Dia menutup mata, kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat Pete begitu kaget. "Kalau begitu, menikahlah dengan Pete. Setelah ini, aku akan merelakannya."
Raven mendadak memegang kedua tangannya sembari berucap, "tidak, Nona Finch. Setelah semua, aku hanya ingin menjadi yang kedua saja. Aku justru mengharapkanmu untuk menjadi istri pertamanya yang akan mengarahkan Pete agar tidak salah jalan lagi, mengingat Pete begitu Polos, keras kepala, dan jahil luar biasa. Jadi, kau lah yang pantas."
"Tetapi janjimu-"
"Aku memang tidak suka ingkar janji, namun janjiku adalah menikahinya, tidak peduli menjadi yang keberapa. Itu tidak melanggar sama sekali."
__ADS_1
Tangis Dia pecah, kemudian segera memeluk Raven erat. Benar-benar mengharukan untuk dilihat. Alice sendiri malah ikut berpelukan bersama mereka yang membuat Pete tersenyum, karena masalah telah diatasi, meskipun tidak seberapa.