
Masih di ruang perawatan, Pete terlihat begitu mendengus mendengar mereka yang tengah membicarakan dirinya.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 76. sifat Kuruna...
Kuruna mendekati Pete dan kemudian memeriksa lukanya. "Hmm? Beberapa jahitan lukanya terlepas?"
Xiao Fu mendengus. "Coba tanya kepada Pete. Apa yang dirinya lakukan di bukit sana?"
Kuruna langsung menatap Pete begitu lekat, membuatnya salah tingkah karena tahu dirinya salah. "Haahhh, tidak heran jika Ibu dan adikmu uring-uringan menghadapi sifatmu."
Kuruna begitu sabar menjahit kembali luka Pete. Namun sebuah ucapan monohoknya. "Aku beruntung belum memiliki putra. Jika aku punya putra yang sifatnya seperti dirimu, mungkin aku sudah menenggelamkannya di kawah Sand Sea."
Pete mendadak berkeringat dingin mendengarnya. "Ide bagus. Nanti akan aku coba," ucap Xiao Fu menyeringai yang semakin membuatnya berkeringat dingin.
"Pfffttt!" Xiao Chi pun berupaya untuk tidak tertawa melihat bagaimana tingkah Pete yang begitu terlihat gemetar karena takut.
"Pete, lain kali jangan kau lakukan lagi. Kasihan ibu dan adikmu uring-uringan menghadapi tingkah kamu!"
"Ya, sekarang kau nasehati langsung menurut, besoknya kumat lagi."
"Lukamu sudah selesai dijahit. Sekarang kau tidak boleh bergerak aktif terlebih dahulu, kira-kira sampai besok siang. Xiao Fu, Xiao Chi. Tolong awasi Pete, okay? Aku pergi dulu."
"Apakah karena Zaid?" tanya Xiao Chi meledek.
Pipi Kuruna mendadak memerah. Dirinya pun segera pergi begitu saja. "Memang, gadis seperti Kuruna jika jatuh cinta memang selalu seperti itu."
----
Evelyn mengangkat gelasnya bersama Collete, Rusk, dan Sofia. "Bersulang."
Mereka tengah minum bersama, di sebuah rumah lain yang rupanya milik Blaise.
"Sungguh Pahit! Aku sangat membencinya. Tambah lagi!" ucap Sofia.
"Sayang sekali, Pete masih di ruang perawatan. Kalau tidak, mungkin Kita bisa berkumpul bersama disini," ucap Collete.
Rusk menggeleng, tidak setuju dengan ucapan istrinya itu. "Aku rasa tidak mungkin. Jika Pete sudah sembuh pun, dirinya tidak akan kemari minum-minum."
__ADS_1
Collete mendelik. "Itu masalah simpel. Sekali aku ajari pasti langsung bisa, kok!"
Evelyn menggelengkan kepala mendengarnya. "Aku rasa semua sifat dan tingkah Pete memang kau yang mengajarinya."
"Kau juga mengajari Pete bertingkah begitu baik. Kau benar-benar pengajar yang baik." Semuanya menoleh ke arah Sofia dengan alisnya berkedut (kejang-kejang) sebelah.
"Sofia berhentilah berucap Oposite (berkebalikannya)!" ucap Evelyn kesal.
Rusk menghela nafas pelan."Sepertinya di rumahmu, hanya dirimu saja yang waras, Evelyn."
"Hey-hey-hey-hey! Kalian minum tanpa mengajakku?"
Semuanya terkaget mendengar ucapan tersebut, kemudian menoleh ke sumber suara dan mendapati Zaid sedang mendekati mereka.
Seolah tidak tahu malu, Zaid meraih gelas dan menuangkan arak. Semuanya malah segera mengikutinya Zaid dengan cara yang sama.
"Bersulang!" ucap mereka bersamaan.
Zaid segera hendak meminumnya, namun sebuah tangan halus nan lembut meraih tangannya dan menghalanginya untuk minum.
Zaid merasa kesal, namun kekesalannya mendadak hilang setelah menoleh ke arah pelakunya. Dirinya tiba-tiba ciut setelah menyadari pelakunya adalah Kuruna yang terlihat tersenyum penuh arti.
Di benaknya Zaid begitu ketakutan. 'Mati aku ....'
"Aku sudah bilang, kurangi minum alkohol! Tadi pagi sudah seenak jidat meneguk sebotol Arak tanpa sepengetahuanku, sekarang kau akan minum lagi? Kau benar-benar harus diberi pelajaran!"
Semuanya terkikis geli melihat penderitaan Zaid di tangan Kuruna. Namun mendadak cekikikan mereka sirna ketika Kuruna menatap tajam mereka semua.
"Kalian semua juga! Sudah berapa kali aku mengingatkan kalian untuk tidak minum alkohol di saat Zaid bersama kalian?"
Zaid merasa sikap Kuruna begitu berubah drastis. Kuruna yang dirinya kenal sebelumnya adalah sosok yang pendiam dan cuek. Namun dirinya menyadari sifat aslinya setelah resmi menjadi kekasihnya.Kuruna ternyata begitu protektif terhadap Zaid, termasuk mengekang kebebasannya minum-minum setelah hasil diagnosa, Zaid bisa mengalami kerusakan tubuh jika terus minum-minum terlalu banyak seperti itu.
Sebelumnya, Zaid bisa dengan bebas minum arak sebanyak satu gentong besar dari tanah liat selama sehari. Bahkan ada kemungkinan lebih. Semenjak kehadiran Kuruna, dirinya sama sekali dilarang minum, lebih dari setengah botol.
Ordorus sebenarnya tidak mengerti mengapa Kuruna dengan mudah menerima lamaran Zaid selepas mereka kembali. Sesungguhnya Ordorus tidak rela kakaknya akan segera menikah dengan lelaki pemabuk dan suka berkata kasar seperti Zaid, sebab lelaki pemabuk umumnya suka sekali main tangan terhadapnya perempuan.
Ya, Ordorus tidak rela kakaknya akan disakiti oleh Zaid di suatu saat nanti. Namun yang Ordorus lihat justru berbeda dari apa yang umumnya terjadi. Zaid yang terkenal dengan sifat kasar berbicara dan pemabuk berat justru terlihat begitu ciut setiap Kuruna menunjukkan sikap lain yang mengejutkan siapapun.
Bukan Zaid yang terlihat main tangan menyakiti Kuruna, justru Kuruna lah yang selalu menghajar Zaid setiap kali cowok pemabuk itu berulah. Bahkan umur hidup Zaid pun seperti ditentukan langsung oleh Kuruna. Seketika, Ordorus harus mengubah haluan tentang pemahamannya.
__ADS_1
Sebelumnya dirinya memahami bahwa lelaki pemabuk itu adalah orang brengsek yang harus para perempuan jauhi. Sekarang, dirinya harus mempercayai bahwa Selembutnya hati perempuan, namun Perempuan itu bisa menjadi segalak singa.
Sebelumnya dirinya begitu benci dengan Zaid. Namun, sekarang dirinya malah merasa kasihan. Ingin rasanya mengejek, "kemanakah nyalimu saat bersua dengan kakakku, Zaid?"
Zaid terkekeh pelan. "Segelas saja."
"Segelas, katamu? Lalu kau nambah segelas demi segelas, begitu?" tanya Kuruna kesal.
Zaid memelas. "Ayolah, masa aku dilarang minum?"
"Dasar bodoh! Kau tidak lupa kan hasil diagnosa tiga hari yang lalu selepas kau kembali?" tanya Kuruna mengingatkannya.
Zaid malah berucap ngawur. "Ya, kalau aku mati sih udah takdir. Lagipula mati setelah menenggak tujuh belas gentong, bagiku adalah kehormatan."
Mendengarnya, membuat Kuruna naik Pitan! Jewerannya malah terasa sakit mencapai dua kali lipat dari sebelumnya "Lalu, kau akan meninggalkanku untuk selamanya, begitu? Lalu untuk apa kau melamarku, sialan! Kau ingin mati? Cih, dalam mimpimu! Ikut aku ke tempat biasa tempat aku menghajar kau sebagai hukumannya!"
"Ampun, Kuruna! Aku janji tidak akan mengulanginya lagi."
Zaid diseret ke tempat yang disebutkan. Mereka semua menatap Zaid penuh perasaan kasihan karena sudah dipastikan Zaid akan dihajar hingga babak belur lagi seperti sebelumnya.
Evelyn berucap tidak percaya. "Tidak aku sangka ternyata kak Kuruna begitu menyeramkan."
"Itulah yang dimaksud diam-diam ular hijau. Kelihatannya pendiam, namun begitu menyeramkan."
----
Dia tampak merenungkan dirinya di tempat yang saat itu sedang sepi. Namun, lokasinya masih di dalam lingkungan Univir Settlement.
Dirinya teringat, bagaimana Pete menyentuh tubuhnya secara lancang dalam upaya pengobatan yang dilakukannya. Meskipun saat itu, Dia terbaring dengan mata tertutup, namun sebenarnya dia tidak tertidur.
Berlanjut dengan Pete yang secara berani menggenggam tangannya, membawa dirinya keluar rumah dan memperkenalkan berbagai kehidupan luar membuat dirinya telah keluar dari labirin perasaan kesepian yang selama ini mengurungnya.
Begitu juga saat dirinya terpuruk setelah kepergian Suhu-nya. Pete memeluknya, sekaligus menasehati dirinya, menjadi sandaran untuknya agar bangkit.
Di saat menghadapi kepala keluarga Hunter, Pete dan Dia begitu bahu-membahu melawannya.
Dan masih banyak lagi yang telah dirinya lalui bersama Pete.
Dirinya juga mengingat fakta bahwa Pete berkali-kali melakukan sesuatu untuk dirinya, termasuk di saat yang begitu genting sekalipun, seperti upaya penodaan yang berhasil digagalkan, namun dirinya sama sekali tidak bisa membalas kebaikannya di saat Pete berada di dalam bahaya besar, seperti Devil Ghost Tree, dan juga Pedestal
__ADS_1
..."Sepertinya, akulah yang egois."...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...