
Terlihat gadis itu gusar bukan main, memberitahukan apa yang telah terjadi di sini memang sangatlah sulit. Namun, dirinya nerasa Pendatang baru ini memang wajib tahu dengan apa yang terjadi disini
Dirinya kemudian celingak-celinguk melihat di sekitar, lalu meraih tangan Pete dan menariknya agar masuk ke dalam. Tidak lupa dikunci juga pintu tersebut.
...Sacred Valley:awal perjalanan kultivator ...
...Episode 134. lokasi lain yang aneh...
"Aku biarkan kau masuk ke sini sekali saja. Tetapi, kau hanya bisa berbicara dengan pelan saja. Aku akan menceritakan dengan detail, aku tidak akan mengulanginya dua kali. Jadi dengarkan baik-baik.
Dahulu wilayah ini tidak seburuk ini. Tumbuhan disini dapat hidup tanpa ditanam sekalipun. Kehidupan kami begitu sejahtera.
Tidak berselang lama, kami menjadi penganut aliran buddhis kuil suci Privera, bahkan mengirimkan berbagai pemuda-pemudi untuk menjadi murid disana. Kau tahu, aku adalah salah satunya. Tradisi ini terus berkembang dari tahun ke tahun, sampai seseorang merusaknya. Orang tersebut menyebarkan desas desus bahwa kami terlalu menyembah berhala, membuat kami termakan ucapannya.
Satu per satu dari kami mulai meninggalkan ajaran Buddhis, dan tidak berselang lama kemudian, kami mengalami prahara begitu besar seperti ini. Pohon di sini mendadak mengalami kematian misterius, tersisa sebuah pohon aneh yang mampu memberikan kami makanan, namun dengan tumbal sebagai makanannya.
Oleh karena itulah, satu persatu dari kami harus ditumbalkan kepada pohon tersebut. Jika ada pendatang baru, maka orang itu harus menjadi tumbalnya.
Dan besok, aku akan menjadi tumbal selanjutnya," ucapnya begitu jelas, membuat Pete terkejut setengah mati.
"Mengapa kau tidak meninggalkan tempat ini?" tanya Pete.
"Ini adalah tempat tinggal kami, jadi kami tidak akan pernah meninggalkannya," jawab gadis tersebut.
Pete berfikir sejenak, namun dirinya dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Gadis tersebut langsung panik dan meminta Pete untuk segera bersembunyi.
Pete langsung bersembunyi di dapur, mengikuti saran dari gadis tersebut.
Terlihat seorang paruh baya yang tengah menatap gadis itu. "Maaf, mulai besok kau harus menjadi tumbal. Ini demi penduduk di sini."
Pete menghela nafas pelan, kemudian segera berunding dengan Chang'e. "Pohon itu, apakah sang dewi tahu mengenai pohon yang dimaksudkan?"
Chang'e menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu, tetapi sepertinya dewi panen tahu. Kita harus memanggilnya."
Pete menghela nafas pelan, kemudian hendak menepuk punggungnya. Naas, tiba-tiba dirinya disekap oleh beberapa orang dan mengikat dirinya.
Terlihat gadis tersebut juga ikut diikat, membuat Pete mengerutkan keningnya.
"Dasar bodoh! Berani sekali menyembunyikan pendatang baru disini! Kau tahu, kau bisa selamat dari tumbal dengan menyerahkannya pada kami. Sepertinya kami harus nenumbalkan kalian berdua sekaligus, agar pohon tersebut memberikan lebih banyak makanan," ucap lelaki tersebut.
__ADS_1
Mata Pete membola, melihat gadis tersebut penuh dengan lebam. Dirinya langsung ingin berontak, namun Chang'e segera memperingatkannya.
"Jangan berontak dahulu, kita harus lihat pohon itu seperti apa, lalu barulah kita berontak dan habisi pohon tersebut terlebih dahulu."
Gadis tersebut menunduk. "Maafkan aku, karena gagal mengamankan dirimu."
Pete menghela nafas pelan. Tidak seharusnya gadis tersebut meminta maaf kepadanya.
----
Pete dan gadis tersebut dibawa ke sebuah kurungan. Sepertinya kurungan ini memang digunakan untuk menangkap pendatang baru ataupun orang yang hendak ditumbalkan.
Gadis tersebut tampak bersedih. "Sepertinya hidupku akan berakhir di sini."
Pete menghela nafas pelan "Sudahlah, jangan bersedih. Dan siapa namamu?"
Gadis itu hanya menjawab pendek. "Kimi."
Pete bingung. "Kimi?"
Gadis itu melirik Pete. "Itu adalah namaku."
Gadis itu mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu?"
Pete malah tetap tersenyum. "Nanti saja kau akan tahu."
Pete segera mengeluarkan salep dan mulai mengoleskannya kepada gadis itu yang malah tidak memberikan perlawanan sama sekali.
"Kita lihat saja besok,Bagaimana rupa makhluk itu dan bagaimana seekor Naga membunuhnya."
Kimi melotot, tidak percaya dengan apa yang Pete ucapkan. "Kau tidak berbohong, bukan? Apakah itu naga milikmu? Aku mohon, jangan biarkan Naga tersebut membunuh Pohon yang menjadi harapan kami untuk hidup. Aku bersedia meminta mereka membebaskanmu jika kau bersedia."
Pete menghela nafas pelan. "Apakah kau tidak percaya dengan keberadaan sang dewi Panen? Katanya dirimu pernah ikut aliran Buddhis kuil suci Privera?"
Kimi menundukkan kepalanya. "Aku masih percaya, tetapi aku tidak ingin semua penduduk di sini mati kelaparan. Lagipula, sang dewi juga tidak kunjung memberikan bantuan."
Pete menghela nafas pelan. "Jikalau begitu, biarkan seekor Naga membunuh Pohon tersebut terlebih dahulu. Aku dapat memanggil sang dewi Panen."
Kimi menatap Pete tajam. "Kau jangan bercanda! Sekali lagi kau berucap omong kosong, akan aku kutuk kau!"
__ADS_1
Pete menghela nafas pelan. Astaga, apakah seluruh biarawati suka mengutuk orang?
Pete memilih diam saja, namun rencana tetap berjalan. Mendadak kepala Kini jatuh ke bahunya yang rupanya gadis itu telah tertidur.
----
Keesokan harinya, Pete dan Kini digiring ke lokasi pohon tersebut tumbuh. Begitu sampai di lokasi, Mata Pete membola. Rupanya pohon itu adalah Devil Ghost Tree?
Mata Pete langsung berkilat marah. Tentunya Pete memiliki kebencian yang mendalam terhadap pohon tersebut. Dirinya masih tidak lupa dengan kejadian sembilan tahun yang lalu. "Rupanya pohon sialan ini masih hidup? Pantas saja tempat ini menjadi gersang!"
Pete langsung menghentakkan tangannya, membuat dirinya langsung terlepas dari ikatan. Semuanya terkejut bukan main karena satu tumbalnya lepas.
Mendadak Pete langsung terbang, dan kekuatan gelap nan pekat segera keluar dari tubuhnya disertai dengan suara mengerikan ala Skelefang.
Pete menjadi seekor ular Naga hitam yang sebenarnya masih semu. Naga tersebut langsung menyerang Devil Ghost Tree secara beringas.
Pete menyerang dengan menggerakkan Naga tersebut sehingga menggigit Pohon tersebut. Mendadak Sulur pohon tersebut membelit dan mengikatnya.
Pete tersenyum remeh di dalam sosok Naga tersebut, mendadak energi Jiwa pohon tersebut tersedot olehnya.
Jangan lupa bahwa Pete menghubungkan kekuatannya dengan Changseng Jue juga. Pohon tersebut mulai meronta, namun sia-sia saja. Siapa suruh mengikatnya?
Pohon tersebut langsung melemah karena medium penyerapan energi yang dilakukan oleh Changseng Jue lebih besar daripada pedang Misterius. Pete langsung melepaskan dirinya dengan mudah, kemudian membuka mulut, mengumpulkan energi dari sekitar dan bersiap menembak pohon tersebut dengan energi tersebut.
Kini gadis yang bernama Kimi tersebut mengerti maksud dari Pete kemarin. Ternyata Naga yang dimaksudkan adalah dirinya sendiri? Astaga, Kimi mengira bahwa Pete kemarin itu hanya bercanda.
"Berhenti! Jangan bunuh makhluk tersebut!" teriak Kimi, namun terlambat. Pete telah menembakkan "Serangan Api Draconian" dari mulutnya. Begitu mengenai Pohon tersebut, langsung hangus tanpa kehidupan lagi.
Naga tersebut langsung pecah, kembali menjadi kekuatan tidak berbentuk yang masuk kembali ke tubuh Pete. Dengan segera Pete menepuk punggungnya, memanggil dewi Panen.
Pete telah menghancurkan harapan hidup Kimi beserta penduduk disini. Astaga, mereka langsung jatuh terduduk. Namun, mereka akan segera tahu bahwa Pete memberikan harapan hidup yang baru.
"Kita telah berakhir," ucap lelaki itu tidak mampu lagi untuk berkata.
Pete masih melayang di udara, kemudian menatap di sekitar. "Apa yang telah kau lakukan? Kau telah membinasakan hidup kami melalui siksaan kelaparan!"
Pete menatap mereka semua. "Kau yakin bahwa pohon itu adalah harapan hidup kalian? Apakah kalian semua tidak sadar dengan kesalahan kalian?
Kalian telah meninggalkan ajaran Buddhis yang telah melindungi tempat ini, membuat tempat ini tidak lagi memiliki terlindungi.
__ADS_1
Pohon itu telah kalian biarkan tumbuh, menghisap seluruh kehidupan tumbuhan di sini sehingga mati secara mendadak. Menganggapnya harapan hidup kalian? Astaga, apa yang kalian pikirkan?"