Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 120


__ADS_3

Semua orang di tribun terperangah melihatnya, melihat Garius yang terkenal sangat kuat dengan Fisik yang sangat sulit dijatuhkan, malah berhasil dikalahkan dangan cara dijatuhkan seperti itu, walaupun dengan waktu yang sangat lama.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 120. "memang pantas menjadi suami Raven."...


"Pemenangnya, Pete dari telaga langit!"


Para pendukung Pete bersorak, yang kebanyakan dari mereka adalah Perempuan. Dengan teriakan kompak, mereka mengejek pembenci Pete "Bagaimana nih, yang mengatakan Pete pengecut? Emosi kalian  tidak meledak sampai merusak hati, bukan?"


Dia memutar bola matanya begitu malas. Masalahnya adalah mereka bukan bersorak hanya karena Pete  berhasil mengalahkan Garius yang terkenal begitu kuat, walaupun dalam durasi yang menurut Dia  terlalu kurang ajar.


Melainkan karena mereka bersorak juga karena Pete terlihat lebih tampan seperti putra dewa air Poisedon bernama Percy Jackson yang ada di dalam novel kegemarannya, entah itu Fiksi atau fakta.


Di tahun sebelumnya, Pete yang masih muka minus karena tertutup debu,  sampai bersusah payah bertarung mulai dari pagi sampai menjelang sore tanpa henti, bahkan menang terus. Tetapi tidak seorang pun yang memuji bahkan mendukungnya.


Dia juga begitu kesal dengan Pete. Sial, melawan satu orang seperti Garius yang memiliki Speed rendah saja memakan waktu yang begitu lama sekali? Apakah Pete bercanda? 


Lebih enak kelihatannya jika Pete menggunakan senjata pedang misterius miliknya dan mengambil kemampuan Core. Lah ini? Sudah pakai tombak untuk menghadapi pengguna battle hammer, tidak menggunakan jurus sembilan rumah delapan langkah juga.


Malah bertarung dengan gaya pertarungan tangkis, mundur, maju, balik lagi ke tangkis, mundur, maju, begitu-begitu saja selama tiga setengah jam. Pete benar-benar tidak serius dalam menghadapi Garius.


Pete mengulurkan tangannya, membantu Garius berdiri. "Hey, tidak aku sangka kau begitu cepat, lincah dan mampu bertindak begitu tepat sekali, ya!" ucap Garius yang kemudian menatap Raven di tribun. "Memang pantas untuk memiliki istri seperti-, lupakan. Yang terpenting kau mengerti."


Pete mengerutkan keningnya sejenak, merasa bingung karena Garius mendadak memotong ucapannya. Kemudian langsung menoleh ke arah dimana Garius menatap sebelumnya. Terlihat Raven yang ternyata menatap horor.


Pete terkekeh pelan, mulai mengerti maksud dari Garius. Maksudnya pantas menjadi istri adiknya bukan? Astaga! Pete berharap tidak ada lagi penambahan jumlah gadis yang ingin menikah dengannya. Satu gadis seperti Dia saja sudah cukup membuat Pete terkekang, apalagi bertiga seperti saat ini?


"Pertandingan sudah usai, aku akan pergi dahulu. Jaga dirimu baik-baik dan satu hal lagi,-" Garius berbisik kepada Pete. "Berhati-hatilah dengan Raven . Sekali adikku itu marah, kau akan terkena semburan kata pedas dan bahkan berlanjut sampai beberapa hari lamanya."


Pete tertawa konyol. Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan Dia. Raven hanya menasehati panjang lebar, sementara Dia sampai menghajarnya hingga bonyok pada keesokan harinya.


Mendadak Raven berdiri dan berteriak kesal. "Tidakkah kau cukup mengatakan soal adikmu soal aku? Sialan! pergi sana, cari apa yang menjadi incaranmu! Menyebalkan!"


Garius tersenyum. "Contohnya sudah terlihat sekarang. Berhati-hatilah. Hahaha!" ucap Garius yang segera berlari dan mendadak sebuah pisau meluncur ke arah Garius yang dengan mudah Dielakkan. 

__ADS_1


Pete melihat Raven yang terlihat keluar urat kepalanya yang berbentuk perempatan siku. Melihatnya membuat Pete menghela nafas pelan, karena takdir telah memberikan dua gadis, eh maksudnya tiga gadis yang begitu galak di sisinya.


Jangan lupa bahwa Alice juga dikenal pemarah. Itu berarti bahwa sekali Pete bandel, lelaki itu akan menikmati penderitaan tiga kali lipat.


Pete segera lompat ke tribun, kembali ke kursinya. Namun, Dia mencibir nya dengan penilaiannya terhadap gaya pertarungan Pete di arena.


"Sebenarnya aduk termuda sangat bodoh, menggunakan kemampuan yang begitu-begitu saja selama tiga setengah jam yang hampir membuatku mati kebosanan karena tekhnik bodoh seperti itu.


Padahal Garius sebenarnya dengan cepat dapat dikalahkan dengan mudah, mengingat kemampuan Garius hanya menang keseimbangan tubuh dan kekuatan saja dengan kecepatan yang sangat rendah. Lah, adik termuda malah melawak."


"Melawak?" tanya Pete yang mulai merasa kesal.


"Pete, aku juga merasa demikian," ucap Raven yang membuat Pete terbengong.


"Aku juga. Apakah kau lupa dengan tekhnik ayunan tombak sambil berpindah tempat itu?" Alice juga ikutan?


Pete menghela nafas pelan. "Jika tidak demikian, aku pasti akan dituduh mengonsumsi Opium. Raven saja dituduh mengonsumsi Drankust."


Dia malah memutar bola matanya malas. "Paling baru tuduhan, lalu ke laboratorium juga tidak sampai satu jam keluar hasilnya."


Mendadak Dia melotot ke arah Gina. Ini bukan Gina yang dulunya selalu merawat Dia seperti majikan. Memang saat itu mereka adalah babu dan majikan. 


Sekarang, Gina dan Dia menjadi adik-kakak, ditambah terkontaminasi pikiran ternoda milik Joe dan Katie. Jadi dengan bebas, Gina dapat meledek Dia tanpa harus takut dipecat.


Kurt juga ikutan meledek. "Seharusnya kau cepat menyelesaikan pertandinganmu, adik termuda. Tunanganku ini juga membutuhkan belaian darimu."


"Diam!" teriak Dia begitu kesal.


 Tawa mereka mengudara. Membuat mereka semua di trobun melirik mereka sejenak. 


---


Malam harinya, Raven dan Dia terlihat membongkar isi sebuah lemari berisi tumpukan buku, sementara Alice melakukan kontak dengan Drone yang memantau keadaan di perpustakaan Collossum. Ini gila, mengingat mereka membongkar isi lemari sampai berantakan.


Memang terdapat berbagai buku di rak, namun buku-buku yang begitu spesifik memang disimpan di Lemari terkunci. Namun Alice adalah ahli membobol kunci lemari.

__ADS_1


Pete telah mengatakan apa yang telah dirinya alami setelah memegang liontin jam tersebut. 


Alice melirik Raven. "Raven, kau menemukan sesuatu? Kita harus cepat sebelum pengawas datang."


Raven melihat isi buku satu persatu. "Aku masih mencarinya, harap bersabar. Aku yakin buku tentang Fleeting time ada di sini."


"Sial, buku itu letaknya dimana sih?" tanya Dia mulai merasa kesal.


Tidak disangka, Raven menemukan buku berlukiskan liontin jam yang sama dengan apa yang Raven miliki. Ini dia yang Raven cari. 


"Aku menemukannya. Ayo kita pergi!" ucap Raven yang segera menarik tangan Dia.


"Kalian berdua, segeralah pergi. Ada dua penjaga tengah datang ke arah kita."


Sementara itu, Pete tengah mondar-mandir tidak jelas di depan pintu gerbang sebuah penginapan. Dirinya tidak mengetahui dengan apa yang akan mereka perbuat, sehingga Pete sendiri dilarang keras untuk ikut.


Terlihat Raven, Alice, dan Dia berjalan bergandengan dari kejauhan, terlihat begitu cantik. Namun Pete justru merasa begitu kesal. Sebenarnya apa yang mereka perbuat di perpustakaan Collossum?


"Kalian sebenarnya sedang apa sih? Sial, aku sampai cemas menunggu kalian disini," ucap Pete begitu kesal.


"Kau mencemaskan kami?" tanya Mereka serempak dengan mata berbinar, membuat Pete memutar bola matanya malas. Pertama kali Pete mencemaskan mereka bertiga sekaligus.


"Lalu aku mencemaskan siapa lagi? Dan buku apa itu?" tanya Pete sambil menunjuk buku di tangan Raven.


"Bukan apa-apa, kok!" ucap Raven gelagapan, membuat Pete merasa curiga.


Melihat tingkah Raven membuat Dia malah memutar bola matanya malas. Dengan segera, Dia mengambil buku itu dan malah menunjukkannya, sambil tersenyum. "Buku fiksi. Mau baca?"


Pete membeku di tempat. Meraka bertiga pergi ke perpustakaan Collossum sampai melarang dirinya ikut, rupanya hanya demi mengambil buku fiksi


Raven menatap Pete yang terlihat membeku, membuatnya kebingungan. "Ada apa, Pete?"


"Kalian bertiga pergi ke perpustakaan Collossum sampai melarangnya ikut, hanya demi buku fiksi yang belum tentu benar ini?" tanya Pete membeo


Dia malah meraih tangan Pete, berharap Pete akan segera menghentakkan tangannya dan akhirnya pergi. "Iya. Ayo baca bersama kami! Seru loh!"

__ADS_1


Pete segera menghentakkan tangannya, sesuai dengan keinginan Dia. "Tidak. Aku mau tidur."


__ADS_2