Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 108


__ADS_3

Pete dan Dia pun memasuki area tersebut, dan mata mereka membola. Tentu mereka berdua mengenal betul bentuk dekorasi ini.


Dekorasi untuk orang yang akan dipertunangkan. Pete dan Dia seketika mengerti, Tuan Finch berencana untuk mempertunangkan mereka berdua.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 108. riasan...


Memikirkannya, mendadak membuat gadis itu bersemu merah, tidak menyangka bahwa dirinya akan terikat oleh ikatan pertunangan kepada Pete, sebagai proteksi untuk para pesaing lain agar tidak merebut salah satu dari mereka.


"Pete, apakah yang akan bertunangan saat ini adalah kita?"  yang Dia dengan mimik nada yang justru terdengar begitu ganjil. Apakah Dia begitu menginginkan hal ini.


Mendadak dua pelayan datang dan menyeret keduanya. "Tuan, nona. Mari ikut kami ke meja rias."


Kurt yang berada cukup jauh dari sana terlihat begitu menghela nafas pelan. Merasa dirinya begitu bodoh. Bagaimana tidak? Dirinya sebenarnya memang memiliki perasaan terhadap Dia, namun seiring berjalannya waktu, Dia malah terlihat semakin menjauh dari jangkauan tangannya untuk menggapai, malah dirinya menggapai tangan Gina.


Kurt memang merasa begitu lemas saat melihat Pete telah menyentuh segalanya yang Dia lindungi, dan perjodohan ini, Kurt yakin, itu terjadi karena Pete telah mengambil kesuciannya juga.


Kurt berbalik menatap Gina yang terlihat sedang menatap sekeliling. Dirinya mulai menyadari perasaan gadis itu terhadapnya juga seperti perasaan dirinya kepada Dia. Semakin lama, Gina semakin dekat dengannya. Kurt juga secara tidak sadar telah merasa begitu nyaman dengan Gina.


 Bahkan, saat Gina pernah kali, perasaannya juga mendadak begitu hampa. Oleh karena itulah, Kurt mengambil tindakan di dalam hati, melupakan perasaannya terhadap Dia dan merajut hubungan dengan Gina.


Namun, sepertinya Kurt harus menguji perasaan Gina terlebih dahulu. Jangan sampai Gina hanya menerima hubungannya, bukan karena perasaan cinta, melainkan karena terpaksa.


"Kakak kedua, bagaimana perasaanmu saat ini?" yang Kurt tiba-tiba yang membuat Gina begitu kaget. 


 "Maksud adik keempat?" tanya Gina begitu sopan, karena kesopanannya telah begitu kental di diri Gina sejak kecil saat dirinya masih menjadi pelayan pribadi Nona Finch. 


Kurt malah kelabakan sendiri, kebingungan untuk menjadi apa, sampai sebuah kata melintas di fikirannya "Aku hanya ingin tahu saja."


Gina kembali menatap je depan "Ini adalah perjodohan rekan kita, tentu aku merasa begitu senang."


"Jika kau ada di posisi  mereka, bagaimana perasaanmu?" Kurt mulai melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang membuat Gina menoleh ke arahnya, merasa tidak percaya jika Kurt menanyakan hal seperti itu.


"Aku? Memangnya siapa yang akan bertunangan dengan seorang pembantu sepertiku? Haahhh, itu hanyalah mimpi indah," jawab Gina yang membuat Kurt menghela nafasnya.

__ADS_1


"Bayangkan saja kau tengah bertunangan denganku, uh ... maksudku kau bertunangan dengan orang yang sangat kau cintai, bagaimana perasaanmu?" tanya Kurt sambil merutuki diri sendiri di dalam hati.


'Kau terlalu pede untuk mengatakan bahwa Gina akan membayangkan dirimu yang ada di dalam bayangan kakak kedua.'


Gina menatap Kurt, sembari menjawab singkat sambil mengomeli lelaki tersebut sekaligus di dalam benaknya. "Tentu saja senang."


'Adik keempat, sampai kapan kau mengerti bahwa aku tengah mencintaimu?'


Kurt mengerutkan keningnya, mencoba melemparkan sebuah pertanyaan menjebak. "Siapa lelaki yang ada di dalam bayanganku sampai kau begitu merasa senang?"


Gina mengerutkan keningnya. Ini seperti dejavu baginya. Bagaimana caranya Gina menjawab sekarang, jika lelaki yang dirinya bayangkan bersamanya itu adalah Kurt sendiri?


Kurt sendiri malah terlihat sedang menunggu jawaban darinya. Dan mengapa Kurt mendadak bertanya seperti itu? 


Dengan sedikit keraguan di dalam hatinya, Gina pun menjawab, "aku hanya membayangkannya secara acak."


"Bagaimana mungkin kau memikirkan secara acak sudah membuatmu begitu senang? Dan kenapa kau terlihat begitu ragu? Aku tidak percaya dengan jawabanmu," ucap Kurt yang mendadak kerasukan jiwa peka milik Pete.


Gina membeku, tidak mampu menjawabnya. Dirinya mendadak terlihat kebingungan mencari alasan.


"Katakan saja yang sejujurnya, tidak perlu kau bingung mencari alasan apapun untuk mengelabui diriku," ucap Kurt tiba-tiba yang malah membuat Gina berkeringat dingin.


 Kurt terdiam sejenak. Otaknya memikirkan kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut, sampai akhirnya dirinya memiliki sebuah kalimat, walaupun bukan kalimat menjawab. "Apakah salah jika aku bertanya?"


Katie memutar bola matanya begitu malas. "Kau sih tidak salah dalam bertanya, namun pertanyaanmu begitu berbelit-belit seperti tanaman merambat. Sudah bagus kau mencoba seperti kerasukan sifat Pete yang peka namun menyebalkan. Akan tetapi, itu bukanlah tipemu.


Kakak kedua, sebenarnya kakak keempat menanyakan hal yang berkaitan dengan siapa yang kau sukai saat ini, namun dengan pertanyaan menjebak. Dan kakak keempat juga menanyakan, sebenarnya kau menganggap diri kakak kedua itu sebagai apa? Apakah hanya teman atau lebih."


Astaga Katie, kau membongkarnya! Lihatlah reaksi mereka berdua saat mendengar ucapannya, mata Gina membola dan rawut wajah Kurt begitu pucat.


"Benar kan, kakak keempat?" tanya Katie meledek.


Gina langsung menatap Kurt dengan tatapan meminta penjelasan, padahal Kurt tengah kebingungan untuk menjawab apa sekarang. Satu hal lagi, Kurt bukanlah tipe lelaki pembohong. Hal itulah yang membuatnya semakin sulit untuk menjawab.


Namun, dirinya teringat bahwa sebelumnya saat Pete terpojok seperti dirinya, lelaki yang sering dipanggil adik termuda itu malah pergi meninggalkan mereka sambil menjawab, "aku pergi dulu." Mungkin itu dapat membantu.

__ADS_1


"Adik keempat, apakah apa yang adik kelima katakan itu benar?" tanya Gina mulai menuntut jawaban.


Namun, Kurt telah bertekad untuk tertingkah seperti yang Pete lakukan dahulu. "Aku pergi dulu." Sontak rawut wajah Gina mendadak meredup, sementara Katie tampak begitu kesal. Padahal ini adalah kesempatan untuk Gina agar mengetahui perasaan Kurt terhadap dirinya.


Katie bergerutu. "Sepertinya semua lelaki kalau sudah tidak mampu menjawab, selalu akan pergi begitu saja. Mengikuti tingkah adik termuda, lagi!"


----


Pete harus menutup telinga di ruang riasan. Bagaimana tidak? Orang yang merias dirinya ternyata begitu cerewet mengenai penampilannya. Memang sih penampilannya acakadut karena sangat jarang memperhatikan penampilannya sendiri.


"Astaga, rambutnya kaku begini! Gondrong lagi! Mau terlihat seperti Genji ya? Tahu kan Genji, lelaki gelandangan yang ada di kota kumuh yang sering aku lihat.


Mukamu juga kurang dicuci, apa perlu aku bantu basuh mukamu dengan sikat toilet, saking tebalnya kotoran yang menempel di mukamu.


Pakaianmu,  lagi. Bersih sih bersih, tetapi masa lecet begini? Memangnya baju ini tidak pernah kau terik agar lurus ya?"


Astaga, telinga Pete terasa panas, hendak meledak rasanya. Menurutnya apa untungnya sih penampilan itu?


"Sana mandi dulu lagi! Terutama basuh mukamu tuh! Awas sampai mukamu masih kusam!"


Lah, malah mengancam lagi! Sebenarnya orang ini tukang rias atau orangtuanya? 


"Astaga, mukamu masih kusam! Mandi lagi, sana!"


Pete mulai merasa begitu kesal tingkat dewa. Orang ini siapa sih, bisa-bisanya memerintah dirinya sebegitunya?


Sementara itu, Dia yang terlihat sudah cantik      malah harus menghela nafasnya. Memang dirinya tidak terkena omelan seperti Pete, namun dirinya harus dirias begitu berlebihan. Apalagi, periasnya berkali-kali memintanya mencoba pakaian satu dengan pakaian lainnya.


Astaga, Dia merasa begitu lelah karena harus memakai pakaian seperti ini padahal dirinya belum mahir menggunakan celana. 


"Nona, kenapa memakai celana saja begitu lama sekali?" tanyanya lembut.


Satu jawaban dengan lima kata saja, namun sudah cukup untuk membuat perias itu tertawa. "Aku tidak bisa memakai celana."


"Nona, itu terdengar begitu konyol. Apakah selama di telaga langit, nona selalu memakai rok?"

__ADS_1


Pertanyaan yang ini malah semakin membuat Dia semakin merasa malu. "Aku menggunakan celana, tetapi dibantu oleh Gina."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2