Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 131


__ADS_3

Pete menghela nafas pelan, merasa begitu konyol. Hanya demi mendapatkan air, Kura-Kura ini malah muncul secara mengagetkan dengan mengeluarkan suara mengerikan. Lebih konyol, suaranya yang begitu mengerikan ternyata tidak menyiratkan tantangan, melainkan meminta pertolongan.


Namun, Pete mulai merasakan ada yang aneh. Monster ini adalah makhluk endemik Oddward Valley, hidupnya di lokasi lembab. Jadi bagaimana bisa monster ini muncul di Sol Terano?


Xiao Fu menghela nafas pelan, kemudian segera mengguyur tubuh monster ini dengan air yang sangat banyak. Tunggu, dari mana Xiao Fu memiliki air sebanyak itu?


...Sacred Valley:awal perjalanan kultivator...


...Episode 131. mulai berpetualang ...


Merasa kurang, Kuruna mengeluarkan kristal air, seketika dihancurkan. Mendadak meledakkan air yang lumayan banyak seperti tadi. Namun, Kuruna segera meraba cangkangnya itu, kemudian nenghela nafas Pelan. Sepertinya Kuruna tahu benar mengenai monster itu.


Monster tersebut bersuara mengerikan, namun tujuannya adalah berterimakasih. Xiao Fu segera mengambilnya dan membawanya ke Univir Settlement, kemudian meletakkannya di sebuah danau kecil di sana


"Bagaimana bisa Turtle itu disini?" tanya Pete terheran. 


"Itu adalah seekor Turtle yang menghilang dari perkampungan kami selama beberapa tahun, rupanya monster itu masih hidup, alangkah beruntung." ucap Kuruna sambil menghela nafas.


Semuanya menghela nafasnya karena lokasi menjadi begitu berantakan. Mau tidak mau, mereka harus menghentikan pesta nereka.


---


Keesokan harinya, Pete telah terbangun. Terlihat bahwa Pete tengah bersiap-siap untuk pergi. Dia yang sedang memeluknya yang terakhir kalinya,  dalam hati, dirinya tidak rela jika Pete harus pergi. 


Raven dan Alice juga ikutan memeluknya, membuat Pete merasa sedikit risih. Namun dirinya bisa apa? Pete hanya bisa menghela nafas pelan, kemudian mencium kening mereka satu per satu.  May dan Xiao Chi juga berupaya keras untuk tidak menangis. 


Pete kemudian memilih untuk memeluk mereka berdua. Membuat tangis mereka berdua pecah, kemudian memeluk Pete begitu erat.


Beberapa waktu kemudian, Xiao Fu sendiri pun malah ikut memeluknya sedemikian erat. Bahkan masternya pun juga tidak rela jika Pete pergi.


Pete kemudian melepaskan dirinya, bagaimana masternya terlalu memeluknya demikian erat.


Pete kemudian tersenyum, dan akhirnya melambaikan tangannya. "Semuanya, aku pergi dahulu. Jaga diri kalian baik- baik, okay?"


Dengan berat hati, mereka pun mengangguk. Pete mulai berbalik membelakangi mereka dan mulai bergerak menjauh. 


Sebenarnya di dalam hatinya, dirinya juga tidak rela untuk meninggalkan mereka. Kemudian akhirnya Pete hilang dari pandangan.


Pete mengerutkan keningnya ketika melihat Aurelia tengah berdiri di hadapannya, menghalangi jalannya.


"Apakah kau bisa membantuku?" tanya Aurelia.

__ADS_1


Pete mengerutkan keningnya. "Selama aku bisa, akan aku bantu. Katakan, apa yang terjadi?"


Aurelia menunduk. "Aku mohon, tolonglah kakakku."


"Ada apa dengan Chester?" tanya Pete terhebat.


Aurelia menghela nafasnya. "Intinya, ikut aku ke kuil suci Privera dahulu." 


Aurelia segera pergi, dan Pete mengikuti. Mereka pun mulai memulai perjalanan ke Kuil suci Privera. 


Namun, yang namanya perempuan, tentu saja akan merasakan begitu kelelahan.


 "Apakah masih begitu jauh?" tanya Pete terheran.


"Masih. Aku rasa kita baru bisa sampai di sana dalam waktu satu sampai dua bulan," ucap Aurelia yang membuat mata Pete terbelalak.


Pete segera meraih Aurelia, menggendongnya ala Bridal  Style dan meluncur ke depan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hanya butuh waktu Tiga jam, mereka berhasil meninggalkan Sol Terano.


Aurelia terkejut bukan main, dirinya ingin sekali meronta, namun sepertinya dalam kecepatan yang gila seperti ini, tidak akan mungkin dirinya akan terjatuh dan mengalami luka. Sementara itu, Pete menyentuh dirinya, yang membuatnya merasakan begitu risih.


Pete masih meluncur begitu cepat, melampaui kecepatan angin. Aurelia hanya bisa pasrah saja, bagaimana pun dirinya juga harus menerima kenyataan bahwa dirinya memang membutuhkan bantuan darinya dan itu juga dalam tempo waktu yang tidak lama.


kuil suci Privera yang telah hancur. Pete terbengong melihatnya. Jadi rumor tersebut benar, ya? Kuil ini runtuh bukan karena tidak terawat, melainkan pengikut aliran mereka mulai pergi satu demi satu dan beralih kepercayaan.


Aurelia menghela nafas pelan,. Sampai kapan dirinya harus digendong seperti ini?  "Pete, turun kan aku. Kau harus tahu bahwa aku tidak boleh kau sentuh seperti ini."


Pete menatap Aurelia sejenak, kemudian baru tersadar, kemudian segera melepaskan Aurelia hingga jatuh terjengkang.


Aurelia mendadak merasa begitu kesal. "Sialan, jangan menjatuhkanku seperti ini. Sakit tahu!"


Pete melirik sekeliling. "Sebenarnya, pertolongan apa yang ingin kau butuhkan?"


Aurelia menghela nafasnya, kemudian terduduk. "Kita beristirahat dahulu disini. Akan aku beritahukan secara detail."


Aurelia menghela nafasnya, mulai menceritakan sesuatu yang membuatnya terperangah sejenak.


"Dahulu, kami berjumlah begitu banyak, penganut aliran buddhis dan Tao sekaligus, menghormati sebuah patung sang dewi panen yang ada di sini. 


Namun, satu persatu dari kami meninggalkan ajaran dan akhirnya, kuil ini seperti berkabung dan runtuh, seperti yang kau lihat saat ini."


"Lalu, kau ingin aku membangunnya kembali?"

__ADS_1


Aurelia menguap, kemudian malah tertidur pulas. "Lah, malah tidur. Sudahlah, aku harus mencari sesuatu yang bisa dimakan."


'Untuk menghormati mereka,  sebaiknya kau tidak memburu hewan, melainkan memetik buah. Toleransi itu penting," ungkap Chang'e.


Pete menghela nafas pelan, kemudian menurutinya. Pada akhirnya, hari pun mulai begitu gelap, Pete menghidupkan api unggun dan Aurelia seperti menatap api itu dengan perasaan kosong.


Dirinya sama sekali tidak tahu, apa yang telah terjadi kepada Aurelia dan Chester, tetapi sepertinya mereka memang membutuhkan bantuan darinya, walaupun tidak tahu bantuan apa yang mereka butuhkan. Satu hal lagi, dimana Chester?


"Aurelia, dimana Kakakmu?"


Tidak dijawab.


Pete mengerutkan keningnya, kemudian menghela nafas pelan. "Sudahlah."


Pete menyodorkan apel apel di pipinya, membuat biarawati itu terkejut dan tersadar dari lamunannya. Kemudian menerima buah itu, namun mendadak dirinya lebih kaget lagi. "Ini? Kau tahu dari mana bahwa aku vegetarian?"


"Bukankah penganut aliran buddhis biasanya adalah Vegetarian?" tanya Pete terheran.


Aurelia terdiam sejenak,  Kemudian menghela nafas pelan. Pete rupanya tahu banyak tentang alirannya. "Apakah kau penganut ajaran Buddhis juga?"


Pete menggelengkan kepalanya. "Tidak."


"Apakah kau Atheis? Maksudku percaya adanya para dewa?" tanya Aurelia lagi.


Tidak percaya adanya para dewa? Itu bercanda, ya? Chang'e yang saat ini duduk di bahunya saja adalah Dewa, mana mungkin dirinya tidak mempercayainya? "Aku bukan Atheis."


Aurelia merasa ada yang janggal dengan ekspresi Pete, kemudian melemparkan pertanyaan. "Dewa apa saja yang kau tahu? Aku harap kau tidak hanya menyebutkan dewa Buddhis dan Dewi panen saja."


Alis Pete mengkerut. "Kau terlalu meremehkanku. Sepasang dewa-dewi pedang bernama Wufeng dan Qinglian, Tiga Dewa penguasa tiga kehidupan Leaf Valley bernama Zeus, Poisedon, dan Hades, Dewi bulan bernama Chang'e, Dewa sihir bernama Aiolos."


Namun Pete masih belum berhenti berucap, mulai dari dewa A sampai dewa Z disebutkan. "Bagaimana, pemahamanku begitu luas, bukan?"


Namun Aurelia malah tersenyum remeh. "Kau tahu dari Fiksi bukan?"


Pete memutar bola matanya begitu malas. Tentu saja jawabannya adalah Salah. Pete mengetahuinya langsung dari sumbernya, yaitu dewi yang menjadi korban terakhir Kaisar langit yang baru.


"Hahaha, aku bahkan mengetahui lebih banyak hal. Buku Fiksi? Tcih, aku tidak menyukai buku itu. Aku bahkan tahu lebih banyak daripada buku Fiksi, termasuk pembuat buku misterius di dunia ini, dan kejadian kudeta kaisar langit secara rinci," ucap Pete sombong.


'Dasar sombong! Kalau bukan karena aku yang memberitahu dirimu, kau tidak akan mungkin tahu soal itu! Juga, kau bahkan bersikap sombong pada biarawati. Berhati-hatilah, jangan sampai kau dikutuk!" ucap Chang'e kesal.


Aurelia menghela nafas. "Sebaiknya kau tidak begitu sombong."

__ADS_1


__ADS_2