Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 69


__ADS_3

Masih di Univir Settlement, mereka semua masih larut di dalam obrolan. Mereka semua menghela nafas begitu berat.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 69. kau pikir aku egois?...


"Ya, kau benar."


"Akan tetapi mereka adalah monster tingkat Raja, sementara Pedestal ada di tingkat Imperial, setara tingkat Tyran!"


Xiao Chi berbisik kepada Xiao Fu. "Apakah Pete mampu mengalahkannya kali ini?"


Xiao Fu membalas bisikan Xiao Chi. "Hmm, ada kemungkinan. Bagaimana pun juga, Pete masih memiliki Changseng Jue yang dapat diandalkan untuk menyerap energi spiritual Pedestal."


"Hey-hey-hey-hey! Jangan pikirkan apakah Pete mampu mengalahkan mereka atau tidak. Pikirkan bagaimana cara kita membantunya!" teriak Zaid yang begitu kesal karena mereka malah membahas kemungkinan Pete mampu mengalahkan Pedestal.


Xiao Fu menghela nafas pelan. "Kita tidak bisa membantu dirinya begitu banyak. Lagipula jikalau kita mampu memiliki kemampuan pergi ke dimensi lain, aku rasa itu juga mustahil. Kita sama sekali tidak tahu dimana koordinat dimensinya."


Xiao Chi membenarkan ucapan ibunya. "Ya, memang begitu sulit untuk membantunya, apalagi menyelamatkannya."


"Yah, soal koordinat dimensinya, itu mudah saja. Aku tahu dimana koordinat dimensinya, karena aku satu-satunya korbannya yang berhasil selamat. Namun apakah ada di antara kalian yang telah menguasai portal dimensi?" ucap Kuruna yang membuat mereka semua menoleh ke arahnya.


Xiao Fu segera berdiri. "Sungguh? Kalau begitu, bagus! Beri aku waktu."


Semuanya terkejut mendengarnya.


"Kau bisa membuka portal?" tanya Kuruna terkejut setengah mati.


"Sebaiknya kau tidak perlu bertanya sedemikian banyak. Ikutlah kemari, bantu aku untuk menyusun formasi. Semakin cepat,  semakin baik." 


"Master, kami ikut!"


"Aku tidak mungkin tidak ikut membantu, bukan?"


"Hey-hey-hey-hey! Mengapa kami tidak diperbolehkan ikut? Apakah portal yang kau buat memiliki batas untuk jumlah orang yang  masuk?"


"Tidak. Hanya saja, apa yang akan kau kontribusikan dalam menyusun formasi Dimensi?" tanya Xiao Chi.


Zaid menggaruk kepala yang tidak gatal. "Apa itu formasi Dimensi?"


"Formasi dimensi saja kau tidak tahu, Zaid! Lebih baik kau diam bersamaku disini. Kau hanya menjadi ekor Kakakku saja."


"Memang kau juga tahu apa itu Formasi dimensi,Ordorus?"


"Tidak. Aku rasa kau memiliki kualifikasi untuk berkontribusi. Jadi biarkan dirinya ikut serta," ucap Xiao Fu.


Zaid merasa begitu bangga. "Hehehe, Zaid selalu punya kualifikasi untuk Kuruna tersayang."


"Kau! Awas saja sampai kau menyentuh kakakku sedikit saja! Akan aku beri perhitungan denganmu."

__ADS_1


----


Sementara itu, di sebuah dimensi tempat Pete berada, tampak Pete dengan sekuat tenaga menyerang para monster itu sedemikian rupa, kemudian mundur ketika energi miliknya terkuras banyak. Kemudian mencuri buah dan herbal untuk dimakan untuk memulihkan energi dan juga disimpan di cincin dimensi miliknya.


Pete telah melakukannya selama seminggu Penuh. Namun taktik yang dilakukan Pete begitu berguna. Satu per satu musuh berhasil di kalahkan. Jumlah musuh semakin sedikit.


"Huffft! Beruntung aku melawannya dengan cara ini. Kalau tidak, aku pasti sudah terbunuh duluan."


Chang'e melihat sekeliling."Ya, dan Pedestal juga masih tetap memilih bersembunyi. Aku tidak tahu tujuannya apa." 


"Jangan pikirkan itu. Sekarang, pikirkan bagaimana caranya untuk mengalahkannya apabila muncul. Monster ini setingkat petarung Tyran!"


Pete terus melawan Mereka semua dengan tekhnik hit and run. Usaha Pete membuahkan hasil. Setidaknya puluhan monster terbunuh karena Pete.


Pete segera mundur dan kabur lagi. Monster sulit mengejarnya karena Pete saat ini menggunakan sutra Qinglian membalut seluruh tubuhnya sehingga sama sekali tidak terlihat. (Jangan lupakan sutra Qinlian memberikan efek infisibility/hide yang berarti dapat menghilang.


Chang'e memuji Pete. "Kau sudah mencapai kemajuan besar. Kali ini kau sama sekali tidak tergantung kepada Changseng Jue."


Pete mendengus, menganggap ucapan Chang'e adalah ejekan. "Dewi, Kau tidak perlu mengejekku karena aku memang tidak menggunakan Changseng Jue, namun aku menggunakan Sutra Qinlian. Sama saja tergantung kepada pusaka."


Chang'e tertawa. "Bisa-bisanya pujianku kau anggap ejekan."


"Aku tahu benar siapa dirimu dan bagaimana sifatmu!"


"Ayolah, apa aku seburuk itu sampai kau memiliki persepsi buruk tentangku? Aku seorang Dewi loh!"


"Itu tidak mengubah fakta bahwa selama ini kau selalu mengejekku dengan berbagai kedok."


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan."


"Haahhh, kau ini ...."


Pete masih terus membabat herbal dan memetik buah sampai tidak tersisa di dalam satu pohon.


"Rakus!" ejek Chang'e.


"Terserah," balas Pete yang begitu kesal.


Chang'e  menghela nafas pelan. Bisa-bisanya Pete kesal hanya karena dipuji. Chang'e pun berupaya mengubah topik.


"Oh, ya. Kau bilang monster Pedestal tersebut bila terbunuh, akan menimbulkan kerusakan area yang begitu luas. Memangnya kau tahu darimana?"


"Sebuah buku."


"Bagaimana penulisnya bisa tahu? Apakah Pedestal pernah terbunuh sehingga mengetahui ability Pedestal?"


"Mana aku tahu! Memangnya aku penulisnya?"


"Kau mempercayai sebuah buku yang tidak memiliki kepastian terhadap kebenaran informasinya? Kau bercanda?"

__ADS_1


"Buku itu memang misterius. Tidak ada yang tahu siapa yang membuatnya. Kalau tahu pasti banyak yang akan mencarinya dan menanyakannya."


"Heh, semakin meragukan saja buku itu. Aku rasa kau harus bersiap-siap terkena cambuk petir. Tetapi karena aku terlalu baik, aku beri kau kesempatan untuk mundur."


"Bilang saja dirimu takut bertaruh denganku. Aku tahu Cambuk petir menyakitkan, lalu memangnya kenapa? Heh! Jangankan cambuk petir, gada bumi pun aku tidak takut!"


"Cih, ketika akan aku pukul saja, kau pasti sudah lari terbirit-birit atau tidak kau akan memohon ampun kepadaku. Aku yakin!"


"Heh! Dalam mimpimu!"


Chang'e mulai merasa khawatir. "Pete, kau yakin?"


"Yakin sekali." Pete mengangguk mantap.


"Lalu, kau yakin akan selamat darinya?"


Pete menghela nafas pelan. "Aku harap bisa. Aku juga khawatir kau juga akan terkena imbasnya, Dewi."


Dewi Chang'e mulai merasa bersalah. "Sial sekali. Aku terlalu mendorongku begitu jauh tanpa menyadari Pedestal adalah monster tingkat setingkat iblis level enam. Maafkan aku, Pete."


Pete menghela nafas pelan. Terlihat jelas  ketabahan Pete. "Tidak perlu meminta maaf, aku tidak akan mengambil hati."


"Pete, tekadmu begitu kuat. Aku salut kepadamu. Akan tetapi, aku mohon. Jika saat itu terjadi, ledakkan saja kalung Changseng Jue milikmu. Aku yakin ledakan Changseng Jue akan mengamankan seluruh tubuhmu dari ledakannya," pinta Chang'e. Dirinya bertekad mati saja demi hidup Pete.


Pete menatap Chang'e dengan matanya yang membola. "Baiklah, sesuai pintamu. Akan tetapi bukankah seluruh tubuhku akan aman sementara dirimu akan lenyap, ya?"


"Aku bersedia berkorban untuk nyawa dan hidupmu, Pete. Jadi lakukanlah tanpa ragu!" ucap Chang'e meyakinkan Pete.


Pete tersenyum."Sesuai pintamu, aku akan melakukannya. Namun di dalam mimpimu saja." 


"Hah?" Chang'e terbelalak.


"Kau pikir aku tipe orang egois? Aku tahu kemungkinan kita selamat begitu kecil. Namun, aku tidak akan mengorbankan dirimu!"


"Tetapi kau akan-"


"Jika kau mati, aku pun mati. Tidak ada yang boleh mengorbankan diri di pertarungan kali ini. Jika kita hidup, hiduplah bersama. Jika kita mati, matilah bersama!" kata Pete berapi-api.


"Pete-"


Pete langsung menatap tajam Chang'e yang begitu mungil, membuatnya terdiam. Kemudian memberi isyarat untuk lebih baik diam. "Sudahlah, aku tidak ingin berdebat lagi."


---


Sementara itu, terlihat Zaid yang tampak begitu kelelahan sedang terbaring di tanah. Sementara itu, Xiao Fu tampak menghitung jumlah beberapa batu ore yang didapatkan Zaid selama seminggu ini.


Xiao Fu melotot ketika setelah menghitung jumlah Ruby, ternyata masih kurang. "Kita masih kekurangan Ruby lagi, Zaid. Ayo semangat kumpulkan lagi! Kita telah menghabiskan waktu kita selama seminggu. Kita harus menyelesaikan pembuatan formasi Dimensi ini. Kalau tidak, kita tidak akan sempat menyelamatkan nyawa Pete."


Zaid menggerutu pelan. Dirinya mulai merasa menyesal karena ikut serta membantu Kuruna. Sekarang dirinya merasa begitu lelah.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2