
Micah mulai masuk ke rumahnya, mengganti pakaiannya sehingga menjadi seorang Kesatria. Terlihat bahwa Alicia sangat bingung melihatnya, namun dirinya tidak bisa bertanya lebih jauh.
Mendadak pintu rumah Micah terbuka dan terlihat Rusk dan Collete masuk ke rumahnya. "Kalian lupa mengetuk pintu."
"Sudah, kok!"
Mendadak Raven juga masuk ke Rumahnya, membuat Micah mengerutkan keningnya. "Kalian semua sedang apa di sini?"
"Astaga, kau teman masa kecil kami. Masa tidak diperbolehkan untuk bertamu kemari?"
"Boleh, sih. Tetapi kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Ayo duduk! Mau minum teh?"
"Boleh saja, asalkan jangan bercampur Susu."
"Aku mengerti, lagipula mana ada teh bercampur Susu?"
Mendadak Alicia menghalangi jalannya. "Biarkan aku saja yang membuatnya, kak."
Micah terdiam melihatnya, ini adalah pertama kalinya Alicia mulai menghormati tamu yang datang. Sebelumnya, tidak peduli gadis manapun yang bertamu kemari, Alicia langsung cemberut maksimal.
"Micah, kau masih dimusuhi adikmu?"
"Entahlah, aku tidak mau memperpanjang urusan."
"Adik macam apa itu?"
Micah mulai melirik ke arah dapur, kemudian segera mengubah topik. "Sudahlah, kita ke topik lain saja."
"Kalau begitu, mengapa kau tidak menggunakan Pakaian Paladin lagi?"
"Pakaian itu terlumuri oleh darah Demon dan Devil. Mana mungkin aku masih bisa memakainya."
Mendadak Alicia datang dan menuangkan minuman ke gelas masing-masing. "Teh memang paling terbaik untuk diminum."
"Collete, jaga sikapmu."
Micah tertawa, seperti biasanya, Collete selalu bertingkah konyol.
"Kau tidak pernah berubah, Collete."
"Ya, dan Kau dan Raven yang berubah."
Micah mulai tertawa lagi. "Kau tidak terima?"
"Bagaimana aku bisa terima itu? Kau dulu sangat polos, dan Kau juga Raven, dulu nya si paling ramah senyum. Dahulu juga kalian satu paket, sulit dipisahkan sampai disuruh bersumpah atas nama langit dan bumi sebagai kekasih pun kau bersedia tanpa berfikir dua kali."
Raven mendadak memalingkan mukanya, terlihat bahwa pipi Raven bersemu. Dirinya tentu teringat momen itu, yang memang berfikir terlalu dini untuk memagari Micah.
Micah mendadak tertawa. "Rupanya pak Blaise benar, kau adalah pelaku utamanya."
__ADS_1
Raven mendadak menatap Micah dengan ekspresi yang sangat sulit untuk dideskripsikan. Rusk dan Collete mulai merasa Micah begitu berbeda, namun hatinya tetap sama.
"Kau menggunakan pakaian Style Warrior agar tidak seorang pun dapat melihat wajahmu?"
"Dengan kata lain, aku menyembunyikan wajahku karena malu. Ya kali kakakku tampan, ah aku malah macam talas kena injak."
Semuanya, kecuali Raven langsung tertawa karena tahu benar bahwa Micah membual.
"Dasar pembual."
---
Terlihat di malam hari, Micah tengah berdiri menatap langit bertabur bintang sendirian. Dirinya tidak menyangka bahwa semuanya telah kembali seperti dulu. Air matanya mulai mengalir begitu tipis, karena terharu atas apa yang telah dirinya capai pada hari ini.
Mendadak seseorang menyentuh bahunya, membuat Micah menoleh. Beruntung sekali dirinya menggunakan pakaian Warrior yang sampai kepalanya tertutup helm sehingga air matanya tidak terlihat.
"Raven, apa yang kau lakukan di sini?"
"Seperti apa yang kau lakukan di sini, Micah. Aku memang sudah terbiasa melakukan ini."
"Maksudmu begadang menatap langit sampai pagi?"
"Ya. Kau benar. Ada masalah?"
Suasana kembali hening, sampai Raven mulai bersuara, "Aku rasa kau benar-benar bodoh."
"Hah?" Micah terkejut. Ini, apa maksudnya?
"..." Micah terdiam. Tidak tahu harus berucap apa.
Mendadak, Raven memeluk Micah. "Aku tidak bisa mengampuni diriku sendiri jika sampai kau mati."
"Aku baik-baik sana, Raven. Mengapa kau mulai bertingkah seperti ini? Maksudku, sudahlah. Intinya, kau jangan menangis, Raven."
Micah melepaslan pelukan Raven, mulai menghapus air matanya yang mengalir. "Jangan menangis. Kau adalah gadis kuat.
Micah mulai memeluknya, yang secara mengejutkan bahwa Raven membalasnya. Sungguh hal yang sangat sulit diduga, selama ini Raven masih terus saja memperhatikan Micah. Padahal mereka tidak begitu dekat seperti dulu lagi.
---
Keesokan harinya, Micah mulai merasa dirinya seperti pelayan rumahan. Bagaimana tidak, saat ini dirinya harus pergi ke pasar untuk berbelanja sesuatu, yang seharusnya dilakukan oleh Alicia. Namun, salahkanlah kak Jack yang merusak mood baik Alicia yang dengan seenak jidat pergi bersama Shara.
Micah mulai mengambil sayuran, dirinya mulai memilih-milih sayur yang bagus. "Micah, kau berbelanja lagi?"
Penjual tersebut terlihat begitu senang, karena kali ini yang berbelanja adalah Micah. Lelaki ini memang kalau berbelanja tidak pernah mau buang-buang waktu, sehingga pembayaran lancar, berbeda dengan Alicia yang suka sekali menawar harga.
Mendadak saat mengambil logam, tangannya malah menangkap seorang gadis, memuat Micah dan gadis itu menoleh. Micah segera melepaskan pegangannya. Gadis itu tersenyum, lalu mengambil lobak itu tanpa halangan.
"Kau berbelanja juga? Sangat jarang sekali ada lelaki pergi ke pasar."
__ADS_1
"Yah, begitulah."
Micah mulai pergi ke tempat lain setelah membayar. Namun, dari kelihatannya gadis itu terus mengikuti Micah. "Hey, mengapa kau mengikutiku?"
"Aku bukanlah orang di sini, jadi aku tidak tahu lokasi dimana tempat membeli bahan pokok."
"Kalau begitu, mari kita berjalan bersama."
Mereka pun mulai berbelanja Pasar sampai pada akhirnya pulang pun beriringan. "Perkenalkan, namaku Gina, pelayan pribadi Nona Finch."
Micah mulai berfikir, "Nona Finch? Sepertinya aku pernah dengar namanya."
"Nona Finch memang dikenal sebagai gadis yang menjadi pemenang lomba di tahun lalu."
"Oh, yang katanya hanya bersenjatakan selendang itu?"
"Ya." Gina mengangguk.
"Aku adalah Micah Handerson, adik dari Jack Handerson."
Mereka pun saling menceritakan mengenai kehidupan mereka masing-masing sampai pada akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan. "Micah, senang bertemu dan berbicara denganmu."
"Gina, Siapa dia?"
Mendadak seseorang memanggilnya yang membuat Gina menoleh. "Katie, Joe, dan ... Kurt."
Micah mulai mengerutkan keningnya, melihat ekspresi malu-malu Gina terhadap Kurt.
"Aku adalah Micah Handerson."
"Oh, dari adik Jack yang tahun lalu dikalahkan pada pertandingan perempat final."
Mendadak, seseorang gadis lain langsung datang dengan ekspresi kesal. "Gina, kenapa kau begitu lama sekali? Cepat buatkan aku Curry Udon!"
"Dia Finch, kau jangan keterlaluan kepada pelayan pribadimu!"
Micah langsung mengusap matanya, merasa ada yang salah pada penglihatannya. Bagaimana bisa gadis itu bisa memancarkan energi Bulan juga? Jangan-jangan gadis itu adalah orangnya?
'Micah, kau benar. Gadis itu adalah orangnya!'
Sementara itu, mulai terjadi pertengkaran. "Gina adalah pelayanku, jadi aku berhak untuk mengaturnya, Katie."
"Tetapi kau terlalu membuatnya begitu kelelahan. Biarkan Gina memiliki sedikit waktu untuk bersantai."
"Kurt, kau jangan ikut campur!"
"Hey, kakakku benar. Kau terlalu memaksa Gina agar bekerja terlalu keras."
"Joe, Kau! Gina, aku membencimu!"
__ADS_1
Dia Finch langsung berlari meninggalkan Penginapan yang membuat Gina panik. "Oh, tidak. Apa yang harus aku lakukan?"
---