
Univir Settlement telah penuh dengan tanda-tanda bekas pertempuran. Tampak jelas beberapa rumah juga telah rusak akibat serangan Pedestal.
Mereka masih tetap berkumpul, namun semangat mereka patah. Senjata mereka pun berjatuhan dan mereka jatuh terlutut karena Pedestal berhasil melilit Pete di ekornya.
Misi mereka untuk melindungi Pete telah gagal. sekarang Pete sudah berhasil ditangannya.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 68. Dimensi rahasia milik pedestal...
"Hahaha! Kau lihat ini? Sudah aku katakan, kalian terlalu bodoh!" cibir Pedestal.
"Lepaskan Pete!" teriak Xiao Chi kesal.
Pedestal tersenyum remeh. "Heh, aku akan melepaskan dirinya di dimensi milikku. Sudahlah, selamat tinggal, manusia bodoh!"
Sang Naga masuk ke portal, kemudian portal tersebut langsung hilang.
Mereka semua benar-benar terpukul. Ada yang menangis, ada yang memukul tanah, dan juga berbagai tindakan yang menggambarkan kekecewaan dan kesedihan mereka.
Sementara itu, Pete telah dibawa ke dimensi rahasia milik Pedestal. Pete dilempar ke sana. Sementara itu, naga itu malah hilang.
Pete mrlihat sekeliling dan mendapati dirinya seolah olah berada di hutan yang tertata rapi. Tidak hanya itu, hampir semua pohon tersebut adalah pohon yang sangat berguna untuk perkembangan seperti buah Tho dan Buah Merah, di sekelilingnya juga terdapat berbagai herbal seperti rumput naga merah, ginseng darah, dan lain sebagainya.
"Jadi ini lokasi Dimensi yang dimaksud di dalam buku? Keren! Bahkan ada begitu banyak herbal disini. Jika aku memakan semuanya disini, sampai aku terbenam di tanah pun tidak akan ada habisnya!"
'Sebaiknya kau pikirkan sesuatu yang dapat kau gunakan untuk menghadapi lawanmu.'
Pete segera menyadari dirinya tengah dikepung oleh beberapa monster tingkat tinggi.
"Apakah ini ujian untuk memilki dimensi seperti ini?" tanya Pete ngawur.
"Entah itu ujian ataupun bukan, tetapi seharusnya kau segera bersiap-siap! Berhenti terpesona begitu!" teriak Chang'e kesal.
Pete segera mengeluarkan tombaknya dan mulai memasang kuda-kuda. Melihatnya, membuat semuanya langsung bergerak menyerang Pete.
Pete berkali-kali melompat mundur karena monster itu terlalu kuat untuk dihadapi secara langsung. Pete harus mengandalkan taktik hit and run!
Pertempuran sengit berjalan begitu lama, namun Pete baru menjatuhkan satu dari beberapa monster tingkat tinggi tersebut.
"Pete, mundur! Kita harus mencari tempat aman untuk Recovery(memulihkan diri)!" perintah Chang'e.
Pete terheran. "Dewi, Kau tahu maksud kata recovery?"
Sang Dewi malah marah. Alasannya karena bukannya mengikuti perintahnya, Pete malah menanyakan pemahamannya. "Kau tidak harus mengatakan hal itu sekarang, sialan. Segera lakukan atau tubuhmu tidak akan kuat!"
"Oke!"
Pete segera bergerak mundur jauh, dan dengan Sutra Qinglian, Pete berhasil kabur dari pertempuran.
"Hufft! Sutra ini benar-benar membantu."
"Jika kau tidak di posisi itu, aku yakin kau tidak akan menggunakannya."
__ADS_1
"Oh, ya. Dewi tahu maksud Recovery?"
"Sialan! Beraninya kau menanyakan tingkat pemahamanku! Tidak bisakah kau bersikap serius?"
"Tidak. Seharusnya kita memiliki waktu untuk bercanda sedikit."
"Sudahlah. Kebetulan, di atas kepalamu ada buah Tho yang sudah matang, ambillah satu dan gigit sedikit demi sedikit."
"Kenapa harus sedikit demi sedikit? Sekalian aja makan sampai habis!"
"Buah tho ini seukuran dua kali ukuran mangga, sepertinya usia buah ini sudah ratusan tahun,dan pastinya energi spiritual buah ini juga sedemikian besar! Memakannya sekaligus? Kau mau perutmu meledak karena energi spiritual yang terkandung di buahnya terlalu besar untuk perutmu?"
"Tidak."
"Kalau begitu gigit saja sedikit demi sedikit. Itu tidak hanya membuat tenagamu pulih, melainkan mampu meningkatkan perkembangan energi spiritual dan tubuh fisikmu! Jadi kau harus memakannya sedikit demi sedikit."
Bukannya nendengarkan, Pete malah memanjat dan memetik semuanya, membuat sebelah alis mata Chang'e kejang-kejang.
"Apa yang kau lakukan, bodoh?"
"Hehehe, dengan buah sebanyak ini, semua kakak seperguruanmu, Adik Xiao Chi, dan Master Xiao Fu pasti juga kebagian!"
"Si bodoh ini. Padahal jika mampu mengalahkan
Pedestal, kau akan mewarisi dimensi ini dan kau tidak perlu lagi seperti ini."
Pete mengernyit. "Kau pikir setelah Pedestal terbunuh, Dimensi ini masih aman? Pikirkan ledakan area ketika Pedestal terbunuh!"
"Tch! Kau terlalu berfikiran begitu tinggi. Mari kita lihat seberapa luas area ledakan Pedestal."
"Heh, siapa takut! Kalau aku benar, kau harus menuruti perintahku tanpa membantah sedikitpun!" "
"Oke, jika aku benar. Ekhem-ekhem!"
Perasaan Sang Dewi Chang'e mulai terasa tidak enak.
"Kau bisa memilih hukumannya. Mau dicangkul dengan Rusty Hoe, atau dipali dengan Battle Hammer?"
Chang'e melotot. "Kau!"
"Ini taruhan, kalau gak suka ataupun berani lebih baik mundur. Begitu saja kok repot?"
Chang'e tampak begitu kesal. Hukuman macam apa itu?
"Oke-oke. Tapi sebagai tambahan, jika kau benar, aku akan bersujud dan memanggilku dewa. Tetapi jika kau salah, akan aku cambuk dengan cambuk petir."
Pete tidak menggubris, malah asyik memetik Buah Merah. "Buah Merah ini juga aku ambil, hehehe."
"Walaupun buah itu tahan lama, aku tidak yakin kau dapat menghabiskannya sendiri selama tiga tahun."
"Aku sudah bilang, aku akan membagikannya kepada semuanya juga."
Chang'e menghela nafas pelan. "Kau ini perhatian sekali kepada mereka, termasuk Dia."
__ADS_1
Pete segera menunduk."Bagaimana pun, aku merasa bersalah kepadanya. Bahkan dirinya tidak akan pernah memaafkanmu."
"Lalu bagaimana jika dirinya menolak pemberian darimu?"
"Itulah yang aku pikirkan."
Chang'e merasa bersalah. Tidak seharusnya dirinya menyuruh Pete untuk mencium Dia di waktu mereka sedang melakukan candaan itu. Sekarang, hubungan mereka begitu buruk, bahkan lebih buruk.
Pete kehilangan sebagian besar sinar mentari keceriaan di dirinya. Candaannya pun kali ini terasa hambar, tidak seperti dulu.
Chang'e hanya bisa menatap Pete yang tengah membabat herbal yang tumbuh di sekelilingnya, kemudian menyimpannya di dalam dimensi. Dirinya tidak mampu untuk meminta maaf, karena dirinya takut dibenci oleh Pete.
"Pete, kita bergerak lagi besok. Kita sudah menghabiskan waktu selama sehari."
-----
Sementara itu di Univir Settlement, mereka semua tengah terduduk di sebuah meja yang terdapat berbagai makanan yang tersaji. Namun tidak ada satu pun yang mau meraih makanan tersebut.
Mereka semua menghela nafas begitu berat, mengingat bagaimana mereka hanya bisa melihat Pete dibawa oleh Pedestal.
"Kita gagal."
"Haahhh. Ya, kita telah gagal."
"Katie, dimana Dia?"
"Kakak tertua tidak mau keluar dari kamar itu, Master."
"Sudah aku duga dirinya yang paling terpukul."
Di kamar tempat Pete dirawat sebelumnya, tampak Dia yang terbaring dengan mata yang begitu sembab. Yah, dirinya pasti menangisi kepergian Pete, sampai akhirnya tertidur di dalam kesedihan yang begitu mendalam.
"Aku mengerti. Mengapa tidak hanya Pete yang diincar?" tanya Sherman.
"Haahhh, padahal kita semua tengah bersedih, bisa-bisanya ayah masih berucap Oposite," gerutu Evelyn.
"Tidak. Ayah seharusnya tidak berkata demikian saat kita sedang kesenangan seperti ini," ucap Sofia membenarkan ucapan Kakaknya.
"Kau juga sama, Sofia."
"Sebenarnya, mengapa Pedestal mengincar putraku? Padahal, bisa saja mengincarku yang lebih kuat, bukan?"
"Sebenarnya, Pedestal memang mengincar Pete sejak lama. Mungkin itu karena dirinya membunuh Skelefang, Cyclops, dan Detil Ghost Tree. Hal seperti itu memang memancing Pedestal untuk mengincarnya. Sebenarnya, hampir semua korbannya adalah orang lemah yang memiliki pencapaian diluar kemampuannya," jawab Kuruna.
"Berarti, monster tersebut memang berniat membunuh orang yang begitu berpotensi. Seperti ungkapan seorang jenius akan mati muda."
"Aku harap, Adik termuda masih mampu menghadapi Pedestal seorang diri."
"Itu mustahil, kakak kedua."
"Tidak ada yang mustahil, adik ketiga. Lihatlah Skelefang, Pete mampu menghancurkannya seorang diri. Begitu juga Cyclops! Dibunuh dengan jurus pedang semesta, dan terakhir Devil Ghost Tree."
Mereka terdiam mendengarnya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...