Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 101


__ADS_3

Akhirnya pertandingan babak pertama sudah usai. Dia dan Pete tengah saling membahu untuk mengobati luka dalam yang diderita Luna. Rupanya kemampuan Dia masih terbatas sehingga hanya mampu mengobati sekian persen dari lukanya dari keseluruhan.


 Dia tidak melakukan akupunktur sebelum mengobati Luna adalah salah satu penyebab melambatnya proses pengobatan. 


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 101. terlalu barbar...


Pete menghela nafas pelan. "Kau ini. Memang sih tidak boleh naif, Tetapi kalau brutal harus lihat situasi, kondisi dan siapa lawanmu. Ini sepupumu sendiri, loh! Masa setega itu di arena pertarungan?"


"Mana aku tahu soal itu? Aku kira telah menahan kekuatanku nya sebesar tiga puluh persen sudah cukup untuk menghadapi kakak. Rupanya masih saja begitu berlebihan. Kak Luna, aku minta maaf."


Luna terkekeh pelan melihat mereka berdua yang tengah saling membahu untuk mengobati dirinya. "Akhirnya selesai juga," ucap Pete sembari hendak menyeka keringat di mukanya, namun lebih dulu Dia yang mengambil handuk tersebut untuk menyeka keringatnya. Dan kemudian, Dia menyeka keringat Pete juga. 


"Kalau bermesraan lihat tempat dulu, dong!" ucap Luna mencibir.


Pete langsung menghela nafas pelan, sementara Dia tampak malu sehingga menyembunyikan beberapa bagian wajahnya yang telah bersemu merah.


"Sekarang, kakak tinggal beristirahat selama satu hari dua puluh empat jam, oke! Dengan begitu luka kakak pasti akan sembuh dengan sempurna," ucap Pete 


Luna mengerutkan keningnya. "Kau yakin?"


"Seribu persen yakin!  Adik termuda sudah termasuk alkemis tingkat ketiga. Jadi jangan khawatir!" Bukan Pete yang menjawab, melainkan Dia yang terlihat semangat menggebu-gebu.


Alis Lina berkedut. "Seribu persen? Kau bercanda? Kata seribu persen sama sekali tidak tepat untuk menjadi patokan keyakinan. Paling besar hanya seratus persen. Dan, Alkemis itu apa?"


"Semacam orang yang menguasai farmasi. Seperti medis," jawab Pete.


"Kau menyebutnya Alkemis?" tanya Luna heran.


Mendadak mereka menjawab kompak. "Ya. Tetapi lupakan saja, istilah itu tidak akan berguna untuk apapun."


Luna mengggembungkan pipi yang membuat Dia gemas untuk mencubitnya. Sontak, Luna semakin kesal. "Aku bukanlah balita, Dia! Jangan seenak jidat mencubit pipiku!" 


Pete dan Dia tertawa bersama pada akhirnya. Sungguh, selama ini hanya kehadiran Pete yang mengubah segalanya. Dia dan Luna adalah gadis pendiam pada awalnya, namun bisa-bisanya ikut tertawa konyol di sini, tepat di hadapan Pete.


---


Raven tampak menatap langit. Dirinya terlihat menghela nafas pelan. Memang di tempat itu begitu sempurna untuk melihat bintang dan bulan. 


Dirinya mengingat kemampuannya dan membandingkannya dengan kemampuan Pete yang sudah jelas sekali seperti langit dan bumi. Dirinya menatap bulan yang seolah-olah terlihat wajah Pete di sana di dalam fantasinya.

__ADS_1


"Sepertinya aku masihlah terlalu lemah jika dibandingkan dengan Pete. Aku harus berjuang lebih keras lagi."


Tiba-Tiba seseorang datang di belakangnya dan memanggil namanya "Raven, kau masih disini?" 


Raven menoleh, mendapati Shara yang mendekat ke arahnya. "Hmm?"


Shara menatap Raven nenuh selidik. "Sepertinya ada yang mengganjal di pikiranmu. Ceritakan kepadaku."


 "Tidak ada," ucap Raven berbohong.


Shara menghela nafas. "Kentara sekali kau berbohong, Raven. Ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya membuatmu begitu kepikiran seperti ini?"


Raven menghela nafas pelan. Kalau sudah seperti ini, tidak bisa lagi bagi Raven untuk mengelak.


"Kau benar-benar ingin mengetahuinya?" tanya Raven kembali.


"Tentu!" jawab Shara kembali.


Raven kembali menghadap ke langit. "Kau selalu ingin tahu tentangku."


"...."


"Aku merasa kemampuanku masihlah terlalu lemah jika dibandingkan dengan Pete. Oleh karena itulah, aku akan berlatih lebih keras lagi."


"Tetapi, jika dibandingkan dengan Pete, aku masihlah terlalu lemah. Tidak! Aku akan berlatih lebih keras lagi!"Shara mengerutkan alisnya. "Kau terlalu membandingkan dirimu dengan Pete yang notabene adalah pembunuh Skelefang dan Cyclops seorang diri itu? Kau gila! Memangnya ada berapa banyak orang yang setara dengan Pete di usianya yang seumuran?"


Raven menghela nafas pelan. "Nona Finch bisa."


Shara masih bisa berucap untuk membalas. "Gadis itu memang satu ajaran dengan Pete di Telaga langit. Jadi jangan heran."


Raven menghela nafas pelan. Kalau Shara sudah berucap, pasti akan sulit untuknya berkata lagi. "Terserahlah."


Shara menghela nafas pelan. "Ambisius boleh, namun jangan sampai berlebihan."


Raven menghela nafas pelan kembali. "Huft!"


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang. "Kenapa tidak belajar bersamaku saja?"


Raven dan Shara menoleh ke belakang dan mendapati May yang tengah berjalan ke arahnya. "Kau ingin mengajari Raven?"


May tersenyum. "Bukan aku sih, tetapi seorang jiwa di senjata ini. Kebetulan kau ingin mempelajari mengenai Sihir, bukan? Ayo kita berlatih bersama-sama!"

__ADS_1


---


Pete tengah mengonsumsi herbal yang dirinya dapatkan di Dimensi Pedestal, bersama Dewi Chang'e yang juga melakukan hal yang sama, bedanya dewi ini memakan herbal yang menjadi haknya.


Kemudian,  Pete bersila untuk menyerap manfaat dari herbal tersebut. Mendadak, mulut Pete mengeluarkan uap putih, pertanda telah berhasil menyerap keseluruhan manfaatnya.


Secara tiba-tiba, Dia memasuki kamarnya tanpa permisi. Pete menghela nafas pelan, merasa Dia telah masuk secara seenaknya. Namun, Saat ini Dia masih berstatus sebagai pengawas tingkahnya. Jadi tidak mengherankan jika bertindak seperti itu. Jika sopan, mungkin ada yang berhasil Pete sembunyikan sebelum diketahui.


"Ada apa?" tanya Pete terheran.


Dia malah mengerutkan keningnya. "Memangnya tidak boleh? Jangan lupakan hak yang diberikan Master kepadaku terhadap dirimu."


Pete mendengus kesal. "Kalau seperti ini terus sih, aku tidak akan memiliki privasi lagi."


Dia malah berucap, "salahmu sendiri. Kenapa harus keras kepala? Kenapa jahil begitu luar biasa?"


Pete mengerutkan alisnya. "Apa hubungannya?"


Dia langsung melotot ke arah Pete. "Memangnya Mastermu tidak uring-uringan menghadapi tingkahmu? Aku saja tidak jarang merasa uring-uringan juga atas tingkahmu, sampai-sampai aku harus melakukan pengawasan ekstra sampai tidur bersama sampai menjadi sebuah kebiasaan."


Pete menghela nafas kembali. 'Sabar!' ucap Chang'e sambil cekikikan melalui koneksi mereka.


Ya! Seperti yang dikatakan Dewi Chang'e, Pete memang harus bersabar.


Selama ini, Pete telah kehilangan privasinya sendiri  sehingga membuat dirinya merasa begitu terkekang. "Aku benar-benar kehilangan privasi."


Dia menghela nafas pelan. "Tidak perlu menggerutu seperti itu. Minggir sedikit, aku mau tidur."


"Dia, aku tidak mengerti satu hal. Mengapa Aku mendadak dikejar seperti ini? Padahal dulu saat aku masih lemah, tidak seorang pun yang melirikku."


Dia menghela nafas pelan. "Jika kau tidak berguna, keuntungannya apa bagi mereka? Kau harus tahu, selain Goodlooking, perempuan juga melihat kemampuan seseorang sebagai patokan."


Pete mengerutkan alisnya. "Tetapi aku seharusnya tidak sampai dikejar para nona juga. Memang sih pengecualian untukmu. Lah, lalu Nona Hunter dan Nona Fisher? Mengapa mereka mengejar? Padahal aku tidak goodlooking amat, lihat tuh kakakku jack, lebih tampan seratus kali lipat dibandingkan aku. Seharusnya mereka mengejarnya, bukan mengejarku."


Dia mendadak tertawa, membuat Pete terheran. "Mengapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"


"Bagaimana bisa aku tidak tertawa? Apakah dilarang? Apa kau lupa apa yang Alice katakan waktu itu? Gadis itu sudah mengincarmu sejak masih begitu lama. Masa kau lupa?" ucap Dia sambil tersenyum  "Sementara Lia? Aku tidak tahu."


"Tetapi, masa harus aku yang mereka incar?" tanya Pete terheran.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja kau telah terkenal."

__ADS_1


"Iya, deh!" ucap Pete sambil mulai berulah. Dirinya mulai bergerak memeluk Dua begitu erat. Membuat Gadis itu kembali bersemu merah.


"Ini adalah kebersamaan yang terakhir kalinya bagi kita!" ucap Pete menutup obrolan mereka.


__ADS_2