
Masih di lokasi pertunangan, Pete dan Dia terlihat menggenggam sebuah kotak kecil pemberian orang tuanya masing-masing.
Kelompok Univir Settlement yang dipimpin langsung oleh Collete, mengiringi acara mereka dengan memainkan alat musik, melantunkan lagu instrumental kebahagiaan khas mereka, yang memang menjadi lagu khas yang diakui dunia sebagai sebuah lagu khusus yang wajib dilantunkan dalam acara pernikahan ataupun perjodohan seperti ini.
...Sacred Valley:titik awal kultivator...
...Episode 110. jalannya acara pertunangan...
Dia dan Pete saling menatap satu sama lain. Mereka berdua mulai secara bersama-sama membukanya, mengeluarkan isinya yang berupa cincin pertunangannya, meraih tangan pasangannya, dan memasangkan cincin tersebut.
Para hadirin langsung bertepuk tangan, begitu riuh. Secara resmi, mereka telah terikat sebuah hubungan, dan mengubah status mereka masing-masing. Mendadak bunga bertebaran dari atas, turun yang mewarnai acara mereka.
Raven yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pelan, merasa dirinya harus bersabar. Bagaimana pun, ini adalah pertunangan, belum pernikahan. Oleh karena itulah, Raven harus sedikit menjaga jarak terhadap Pete, sampai mereka telah menikah.
Begitu juga dengan Alice. Namun, dirinya masih bisa tersenyum, karena sahabatnya tengah bahagia.
Mereka pun sama-sama bergumam. "Sekarang hanya masalah waktu saja, setelah mereka menikah, aku baru bisa masuk Ke kehidupan mereka dan pada akhirnya menjadi satu keluarga secara bersamaan."
Dia dan Pete saling menatap satu sama lain, kemudian Pete mencium kening Dia, namun Dia malah membalas dengan mencium bibir Pete begitu singkat. Alasannya simpel, menurut Dia keningnya telah menjadi milik Raven, karena gadis itulah yang mencium kening Pete terlebih dahulu.
Tepuk tangan kembali begitu nyaring. Acara telah mendekati puncaknya, yaitu melemparkan sebuah bucket bunga ke arah hadirin, yang ditujukan untuk mereka yang diperkirakan akan menjadi seorang pasangan, atau orang yang akan menikah berikutnya.
"Adik termuda, kita lemparkan bersama-sama, okay?" tanya Dia yang terlihat senyumnya mengembang. Kentara sekali gadis itu tengah merasa sangat bahagia.
Pete tersenyum, kemudian secara bersamaan mereka menggerakkan tangannya dan bucket bunga tersebut dilempar.
Begitu bunga tersebut terbang, para hadirin akan berebut untuk menangkapnya. Termasuk juga Gina dan Katie, serta Joe. Namun, bunga itu berhasil diraih Gina, yang malah tersandung dan jatuh ke pelukan Kurt.
Mereka tertegun sejenak. Joe dan Katie langsung histeris. "Astaga, kalian berdua memang berjodoh!"
Kurt dan Gina terbelalak, dengan segera mereka memisahkan diri. Gina pun melirik ke bawah, melihat apakah ada sesuatu yang membuatnya tersandung dan tidak ditemukan apapun.
Dia dan Pete melihatnya hanya bisa tersenyum. "Adik termuda, bagaimana pendapatmu mengenai mereka? Apakah kau tidak merasa mereka memang berjodoh?"
Pete tersenyum. "Setelah melihat kenyataan yang terjadi yang memang secara alami, mengapa tidak?"
__ADS_1
----
Acara tersebut telah selesai dan akhirnya Dia melepaskan semua perhiasan menor miliknya. Sungguh, dirinya merasa malu dengan penampilannya yang walaupun begitu sempurna, namun menurutnya terlalu menor.
Sementara Pete seperti biasa tidak terlalu memperhatikan penampilannya, namun apa yang akan dirinya lepas? Sebenarnya Pete hanya dirias sederhana saja, karena tingkat ketampanan Pete sebenarnya begitu besar sehingga orang yang neriasnta tidak memberikan riasan lebih lanjut.
Dia menghela nafas pelan, merasa begitu tertipu dengan penampilan Pete yang sebelumnya. Dirinya kira, Pete tidak setampan itu. Dengan kata lain, muka Pete begitu pas-pasan menurutnya.
Namun, yang terjadi di sana justru seperti bertunangan dengan seorang dewa. Dan bahkan yang membuat Dia lebih Shock adalah, itu penampilan Pete secara alami yang sesungguhnya.
"Adik termuda, bagaimana bisa kau begitu berbeda dengan sebelumnya? Apakah kau berganti kulit?"
Pete mengerutkan keningnya. "Kakak pertama, Apakah kau berfikir bahwa aku adalah seekor ular yang bisa mengganti kulitnya segala?"
Dia menggelengkan kepalanya, "Kau menipuku dengan penampilan jelekmu."
Pete menghela nafas pelan. "Aku tidak menipu dirimu, aku sendiri tidak tahu bahwa penampilanku seperti ini. Mungkin karena aku tidak memperdulikan penampilannya sendiri."
Dia mengerutkan keningnya, malah berucap tanpa berfikir. "Kalau tahu begitu, aku akan memandikanmu juga."
Mata Dia membola, teringat bahwa ucapannya itu terlalu memalukan. Namun, dirinya masih bisa berdalih, "kau sendiri mengapa tidak memperhatikan penampilanmu sendiri? Tidak heran jika kau terlihat acakadut selama ini."
Pete malah tidak terima. "Acakadut apanya? Aku merasa aman-aman saja dengan penampilanku yang sebelumnya. Lihatlah sekarang, aku merasa banyak mata menatapku terus."
Dia memutar bola matanya malas. "Lalu kau akan bertunangan dengan diriku yang notabene adalah putri satu-satunya keluarga bangsawan nomor satu di dunia dengan penampilan acakadut seperti itu? Yang ada malah tercoreng nama besar keluargaku!"
Pete malah berucap seenaknya"Siapa suruh kau menyukaiku?"
Urat kepala Dia keluar. "Adik termuda, kau yang telah menyentuh segalanya yang aku lindungi, bahkan sampai kesucianku kau renggut! Apa kau tidak merasa begitu bersalah karena melakukannya Episode terhadap gadis Protektif sepertiku?"
"Bersalah sih bersalah, tetapi-"
"Adik termuda, seharusnya kau beruntung karena aku menyukaimu," ucap Dia yang begitu kesal tingkat dewa.
"Beruntung? Beruntung diatur sana sini, salah sedikit diomelin, sekali melarang menggunakan jurus mata setajam silet, dan sekali aku melanggar langsung terkena cubitam maut,, apakah itu maksudmu?" tanya Pete sambil mengerutkan keningnya
__ADS_1
Mendengarnya membuat Dia naik Pitan, langsung menjewer telinga Pete."Sialan! Kau telah mengambil sedikit demi sedikit jiwa murniku! Bukankah itu adalah keberuntungan?"
Pete langsung meringis kesakitan. "Aduh, Sakit!"
Namun Dia masih tidak melepaskan jewerannya, malah memperkuat serangannya. "Bilang sekali lagi, soal keberuntungan yang kau sebutkan itu."
Pete semakin meringis, rasa sakitnya berlipat ganda. "Ampun-ampun!"
Dia menghembuskan nafasnya kasar, melepaskan jewerannya. Terlihat telinga Pete begitu memerah yang membuatnya mengelus telinganya yang sakitnya masih terasa. Pete juga menghela nafas, merasa kalah debat. "Haahhh, aku kalah debat lagi."
Dia memutar bola matanya malas. "Siapa suruh berdebat denganku? Sudah tahu aku begitu galak, masih saja kau mencari masalah denganku."
'Sudah aku bilang, perempuan itu selalu benar. Sampai kapan kau tidak bisa menerima kenyataan itu?' tanya Chang'e yang sedari tadi menikmati drama yang terjadi.
Pete langsung berbaring di kasur. "Berisik! Sudahlah, aku malu beristirahat dahulu."
Dia mengerutkan keningnya, mendadak menjewer telinga Pete yang lagi satunya. Membuat Pete terbelalak dan langsung meringis lagi. "Kau tidak mandi dulu, adik termuda?"
"Kakak pertama, tadi aku sudah mandi berpuluh kali sampai lelah rasanya. Masa sekarang harus mandi lagi?" Pete merajuk.
Dia langsung menatap Pete begitu tajam. "Mau mandi, atau aku jewer hingga telingamu ini Putus?"
Mata Pete membola. Dengan cepat, Pete menepis jeweran Dia, bangkit berdiri dan lari ke kamar mandi.
Dia menghela nafas pelan, kepalanya terasa uring-uringan. "Sialan, bagaimana bisa aku menyukai lelaki yang bandel tingkat dewa sepertinya?"
Pete terlihat berpura-pura tidur, sementara Dia tengah memeluknya begitu erat. Pete berbalik, memastikan tunangannya itu tertidur. Kemudian bangkit berdiri dan mulai pergi sedikit jauh. Dirinya mulai mengambil sikap bersila, hendak berkultivasi di malam hari ini.
Tetapi, mendadak sebuah jeweran yang kali ini sedikit lebih lembut, mengenai dirinya. "Kau ingin berkultivasi di malam ini? Tidak! Kau harus kembali ke tempat tidur!"
Pete merasa semakin kesal. Secara historis, Pete tidak pernah luput dari pengawasan gadis yang saat ini menjadi tunangannya, sejak dirinya kembali berhubungan baik dengan Dia.
Pete terpaksa menurut. Melawan hanya akan membuat dirinya tersiksa. "Bagus, jadi penurut lebih baik. Sekarang, tidur!"
__ADS_1