
Di saat seperti ini, Raven malah menitipkan kalung liontin jam tersebut kepada Pete yang membuatnya mengerutkan keningnya.
Meskipun Pete tidak tahu kemampuan liontin ini, namun dirinya merasa benda ini begitu berharga. Raven menitipkannya begitu saja?
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 117. Raven vs Sakuya ...
Mendadak Pete merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Kekuatan miliknya terserap sedikit dan mulai membuat Pete merasa ada yang aneh. "Ini ilusi?" tanya Pete terheran.
Terlihat sebuah jam yang begitu besar tengah berdentang sedemikian keras. Mendadak ada kekuatan lain yang memasuki sekujur tubuh Pete tanpa hambatan sama sekali. Kekuatan tersebut seperti mengalir sendiri begitu saja di tubuh Pete tanpa ada penolakan dari kekuatan garis darahnya.
"Adik termuda, kau kenapa?" tanya Dia terheran. Tadi Pete terlihat begitu menatap liontin jam tersebut dengan pikiran kosong yang membuat Dia mulai merasa ada yang aneh pada Pete.
Pete tersentak, kemudian segera meliriknya. "Ah, tidak apa-apa."
"Adik termuda, kau telah berbohong beberapa kali kepadaku. Sekarang, kau ingin berbohong lagi?" tanya Dia yang menatap Pete dengan sorot mata yang begitu tajam.
Pete segera mengibaskan kedua tangannya. "Tidak-tidak. Begini saja, akan aku ceritakan nanti malam."
Dia menghela nafas pelan. "Aku harap kau tidak akan berpura-pura lupa atau mengulurkan waktu lagi untuk menjelaskan apa yang telah terjadi. Jika tidak, jangan salahkan aku jika bertindak kasar."
Pete meneguk ludah. Dirinya jelas tahu, jika Dia mengancam seperti itu. Jika dirinya masih membandel, besok pagi Pete akan menderita luka bonyok di muka.
"Raven Kane, Sakuya Forza. Pertandingan akan segera dimulai! Harap kalian bersiap sedia!"
Mereka berdua tidak ada yang bersuara, malah memasang kuda-kuda. Senjata mereka pun juga telah siap di tangan mereka masing-masing. Raven masih menggunakan Steel Katana (jenis senjata double blade tanpa elemen.) sebagai senjatanya, sementara Sakuya menggunakan Claymore (jenis senjata longsword tanpa elemen.
Secara kemampuan, Sakuya dan Raven memiliki potensi yang sama untuk meraih kemenangan. Hanya tinggal cara mereka menggunakan kemampuan mereka untuk mengadu kepandaiannya saja.
Lagipula, mereka sama-sama dikenal sebagai Gladiator yang memiliki kemampuan fisik yang begitu unik tanpa memiliki sihir, ditambah berkemampuan Core, yang berarti memiliki durability yang rendah. Maksudnya mereka memiliki kemampuan bertahan yang sangatlah rendah, namun kemampuan serangan begitu tinggi.
__ADS_1
Tentu akan lebih menarik untuk ditonton daripada menonton pertandingan Initiator melawan Initiator yang hanya akan terlihat seperti mengadu mekanik saja yang membuang waktu.
"Pertandingan dimulai!"
Raven dan Sakuya langsung melesat ke depan, terlihat saling menikam. Mendadak, Sakuya berjumpalitan di udara dan posisinya langsung berubah menjadi posisi yang sangat menguntungkannya untuk menikam.
Raven terkaget, namun dirinya mampu menghindari serangan. Kemudian malah berbalik menyerang tiba-tiba yang hampir membuat Sakuya terbunuh di tempat seandainya putri dari keluarga Forza itu tidak menggunakan pedangnya untuk menangkis serangan Raven.
Namun, Raven masih memiliki satu pedang lagi untuk menyerang Sakuya ke target yang lain, yang membuat Sakuya terkesiap.
Sakuya bertindak begitu tepat! Segera menendang Raven hingga terpental sedikit yang membuat serangan Raven gagal. Semua yang telah terjadi berlangsung begitu cepat dan di duel udara juga.
Raven memang hebat dalam menggunakan kemampuan serangan double blade yang tiada tandingannya di Sharance, namun lawannya adalah seorang yang memiliki pengalaman tempur yang lebih luas karena dirinya adalah pemburu harta karun di lokasi berbahaya yang hampir penuh dengan monster.
Sakuya segera melesat begitu cepat, hendak menyerang Raven yang posisi kuda-kudanya masih belum stabil. Namun, lagi-lagi terjadi keanehan yang hanya Pete yang dapat melihatnya.
Raven mampu menghindari serangannya, padahal kuda-kuda Raven saat itu sangat tidak stabil. Jika Pete sendiri di posisi Raven, dirinya tidak yakin seratus persen mampu mengelak dari serangan itu dalam situasi begitu. "Bagaimana bisa Raven menghindari serangannya?" tanya Pete terheran.
Raven melancarkan serangan lagi yang membuat Sakuya berupaya menghindari serangan. Namun, naas. Sakuya tertipu dengan serangan Raven yang sebenarnya sengaja mengubah posisi pertahanan Sakuya sehingga memudahkannya untuk menyerang bagian yang dirinya targetkan sebenarnya.
Sakuya terluka, dirinya sedikit tertegun sejenak yang kemudian menghela nafas pelan. Dirinya mengangkat kedua tangannya, Memutuskan untuk menyerah.
Pete masih mencoba menganalisa apa yang sebenarnya terjadi di arena. Para penonton pun juga merasa ada yang aneh dan janggal. Raven masih dapat menghindari serangan yang sebenarnya tidak bisa orang lain hindari, walaupun orang dengan kecepatan cahaya sekalipun juga tidak mampu menghindari serangannya.
Tiba-Tiba, Para juri mengatakan hal yang mengejutkan. "Pemenang di pertandingan kali ini akan di tentukan setelah klarifikasi. Raven Kane diduga melakukan kecurangan dengan penggunaan obat Drankust."
Raven terbengong mendengarnya. Meskipun dirinya memang telah melakukan hal yang membuat keanehan di arena, tidak disangka malah terkena tuduhan penggunaan obat terlarang.
Drankust adalah obat terlarang yang dapat meningkatkan kecepatan dan fokus secara instan. Namun, penggunaan obat Drankust juga secara bersamaan dapat merusak tubuh, yang baru dapat diketahui setelah efek tersebut habis.
Drankust juga dapat menyebabkan kecanduan, oleh karena itulah obat itu sangat dilarang keras untuk digunakan sama sekali. Namun pengguna Drankust sangat mudah diketahui menggunakannya setelah pengujian di laboratorium
__ADS_1
Raven Kane langsung dibawa ke laboratorium pemeriksaan untuk menguji adanya Drankust atau tidak. Bagaimana pun juga, kentara sekali Raven mendadak terlalu lincah sampai serangan sejenis apapun tidak mampu melukainya sedikit pun, sehingga muncul dugaan penggunaan obat terlarang tersebut.
Namun, hanya Pete yang dapat melihat dengan jelas, keanehan yang terjadi sebenarnya adalah pergerakan Raven terlihat terpotong-potong(seperti skip beberapa adegan) Teringat dirinya saat diserang oleh Cylops, yang kejadiannya hampir sama.
Dia menggeleng kepalanya pelan, tidak percaya dengan apa yang mereka tuduhkan kepada Raven. Gina langsung menatap Pete, melemparkan sebuah pertanyaan.
"Adik termuda, apakah Raven sebenarnya menggunakan obat terlarang atau memang memiliki keahlian?"
Namun, malah Dia yang menjawab. "Tidak mungkin Raven menggunakan obat terlarang."
Pete menghela nafas pelan, merasa analisisnya meragukan. "Aku rasa, itu terjadi karena Raven dapat melakukan time stop."
Rekannya mendadak menatap Pete dengan perasaan terheran. "Time Stop?"
'Apakah hanya aku yang melihat pergerakan Raven begitu terpotong-potong?' tanya Pete terheran di dalam benaknya.
Mendadak juri memutuskan, "tuduhan penggunaan obat Drankust tidak terbukti! Pemenang pertandingan kali ini adalah, Raven Kane."
Dia menghembuskan nafasnya begitu lega. Akhirnya hasil lab sesuai dengan keinginannya. Raven Kane memang dikenal begitu membenci obat tersebut.
"Akhirnya apa yang diriku pikirkan itu benar. Sepertinya, Raven akan menjadi orang yang paling terhebat di pertandingan kali ini."
Pete tidak bersuara mendengar ucapan Dia kali ini. Mendadak dirinya melirik liontin jam tersebut dan baru dirinya sadari bahwa liontin tersebut ternyata telah bereaksi. "Rupanya begitu."
Mendadak rekannya menatap Pete, merasakan bahwa lelaki itu telah memiliki analisa yang begitu tepat terhadap Raven yang justru membuat Dia merasa begitu kesal.
"Pete, bisakah kau tidak terlalu nencari-cari kesalahan dalam usahanya dalam bertempur? Sialan, Raven itu calon kekasihmu juga bersama Alice juga. Mengapa kau tidak pernah memuji mereka?" tanya Dia blak-blakan yang membuat rekan mereka terbelalak.
"Kakak pertama, maksudmu tadi-" tanya Gina, mendadak lidahnya terasa keluar untuk melanjutkan ucapannya.
"Kami bertiga memang bersepakat untuk membaginya sama rata yang artinya kami bertiga akan menjadi kekasih Pete di masa depan"
__ADS_1