Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 139


__ADS_3

...Sacred Valley:awal perjalanan kultivator...


...Episode 139. wilayah tanpa aturan ...


 Pete menelusuri seisi rumah tersebut. Mendadak dirinya dikagetkan oleh aura yang cukup mengintimidasi. Pete mengerutkan keningnya, mencoba pergi ke sumber aura tersebut. 


Terlihat diluar, seekor kembang raksasa tengah di depan rumahnya, menunggu dirinya untuk keluar. Astaga, beruntung sekali Pete meliriknya dari jendela. Jika langsung membuka pintu, bisa-bisa dirinya langsung dimangsa oleh monster tersebut.


Pete segera mengeluarkan tombak Pedestal, kemudian segera mengaktifkan kemampuan jiwa Skelefang miliknya. Terdengar suara mengerikan yang justru membuat Monster tersebut malah lari ketakutan. 


Pete menyadari bahwa orang yang membersihkannya pasti sudah pergi karena teror dari makhluk menyebalkan itu.


Pete langsung mengejarnya. Tidak disangka, terdapat beberapa orang yang melakukan pecut kepada mahkluk itu.


"Dasar! Mengurus satu orang saja kau begitu tidak berguna!"


"Biarkan aku menghantam kepalanya."


Pete terbelalak, melihat mereka menghantam kepala monster tersebut hingga pecah berkeping-keping.


"Sial, sudah hampir satu tahun aku membuat jebakan rumah tersebut, bisa-bisanya sekali muncul mangsa, monster ini tidak berguna."


"Jikalau memang begitu, kita harus pergi ke sana untuk menyerangnya."


Pete mengerutkan keningnya, sama sekali tidak mengerti apa yang mereka katakan. Apakah mereka suka berbicara Oposite seperti Sherman dan Sofia?


Pete hanya bisa melewati tempat itu lagi. Tanpa punya waktu untuk beristirahat, astaga. Pete merasa begitu lelah karena perjalanan panjangnya.


Pete sampai di Star Dunes. Teringat bahwa Sakuya pernah kemari dalam perjalanan trip. Mengingat bahwa Sakuya pernah mendapatkan gulungan lukisan di sini, membuat Pete mengerutkan keningnya.


Pete melangkahkan kakinya, pergi ke sana. Terdapat rumah-rumah di sana begitu berjejer disana begitu rapi. Penduduknya juga berkeliaran seperti pada umumnya.


Pete kemudian pergi ke sana dengan bersikap hati-hati. Namun, dirinya dikejutkan dengan seorang gadis yang langsung menepuk pundaknya.


Pete segera menoleh dan mendapati gadis yang tidak asing di mata Pete. "Sakuya Forza? Sedang apa kau di sini?"


Sakuya Forza malah tersenyum. "Tentu saja singgah sejenak disini sebelum melanjutkan perburuan harta karun lagi, ini sudah begitu sore. Terimakasih atas kantong milikmu! Dengan ini, aku tidak perlu khawatir untuk masuk kemari."


Pete terbelalak kaget, segera melihat matahari yang ternyata begitu cepat sekali condong ke barat. "Astaga, cepat sekali!"


'Karena dunia ini terbelah, rotasi siang dan malamnya menjadi tidak stabil. Aku yakin, nanti akan menjadi malam yang begitu panjang,' ungkap Chang'e  melalui koneksi bawah sadar.


Sakuya menggelengkan kepalanya. "Cepat apanya? Kau seolah tidak tahu saja mengenai dunia ini. Durasi waktu  Siang dan malam tidak sama. Terkadang siang lebih lama, terkadang juga malam lebih lama. Bahkan ada kasus siang dan malam terasa terlalu cepat bersamaan. 

__ADS_1


Begitu juga dengan musim. Meskipun waktunya bersamaan, terkadan ada hal lain di luar dugaan. Contohnya saja musim Spring (semi) kali ini siangnya malah terasa seperti seperti musim Summer(panas). Bahkan ada kasus di Rainbow Waterland yang malah turun hujan salju.


Sepertinya kau disesatkan oleh buku pelajaran tang kebanyakan nemang didapat dari teori saja. Beda dengan buku Fiksi yang mengambil kejadian nyata di dunia ini. Oleh karena itulah, mengapa buku Fiksi terkadang lebih dipercaya dari pada buku pelajaran nonfiksi."


Pete mengerutkan keningnya. "Dapat informasi dari mana? Menyesatkan sekali."


Sakuya memutar bola matanya malas. "Terserahmu mau percaya atau tidak!"


Pete melangkahkan kakinya, namun Sakuya segera menghadang jalannya. "Kau sudah pernah masuk wilayah tanpa tahu aturan disini?


"Belum." 


Sakuya menepuk jidat. Kemudian mengambil batu dan melemparkannya ke tanah berjarak 50 meter dari tempatnya berdiri. Seketika hujan panah turun di area tersebut, semua orang yang berpura-pura berkeliaran itu langsung melarikan diri.


Mata Pete membola, sementara Sakuya menatap Pete begitu remeh. "Yakin mau masuk tanpa pemandu agar aman?"


Pete menatap Sakuya dari atas sampai ke bawah, membuat Sakuya mengerutkan keningnya. Pete tersenyum, membalikkan tubuh Sakuya dan mendorongnya agar masuk ke sana terlebih dahulu. "Aku rasa kau cocok menjadi pemanduku."


Mereka pun memasuki pasar. "Hampir semua barang disini adalah barang curian. Kau harus tahu bahwa Star Dunes tidak memiliki aturan apapun dan Uang adalah segalanya di sini.


Lihatlah di sana. Rumah tersebut secara mengejutkan berisi perempuan-perempuan bayaran pemuas nafsu. Banyak yang menyebutnya Pelacur.


Di sana juga. Lihatlah, ada Perampok yang tengah merampas harta milik Saudagar yang baru datang," ucap Sakuya sambil menunjuk beberapa orang dan rumah.


Pete menggelengkan kepalanya. "Astaga, jika ada buddhis disini, Pasti tempat ini menjadi tempat terkutuk yang akhirnya menjadi seperti situs arkeologi Kirii."


Pete mengerutkan keningnya. "Apa-apaan itu?"


Sakuya langsung menyeret tangan Pete, pergi ke sebuah restoran. Terlihat berbagai orang rakus tengah menyantap makanannya. Pete terdidik melihatnya.


Namun, Sakuya sepertinya telah terbiasa dengan pemandangan seperti ini. Astaga, benar-benar mencengangkan.


"Pesan dua Sashimi (sushi)," ucap Sakuya sembari menunjukkan angka dua dengan tangannya.


Pete mengerutkan keningnya, dua Sashimi? "Hanya Sashimi?"


Sakuya tersenyum.  "Ya, satu untukmu dan satu untukku. Jika kita membeli makanan seperti sewajarnya, mereka malah akan menargetkan kita. Mereka memang memesan makanan sebanyak itu, agar para perampok mengira uang mereka telah habis."


Pete menghela nafas pelan. "Sepertinya ini pertama kalinya aku makan Sashimi."


Sakuya tersenyum. "Aku sangat menyukai Sashimi. Apalagi Squid Sashimi (Sushi cumi)."


Pete mengerutkan keningnya. "Kau begitu maniak sekali dengan Sashimi."

__ADS_1


Sakuya tersenyum, terlihat begitu manis. "Tentu saja."


Pete memutar bola matanya malas. "Sudahlah."


Pesanan mereka datang. mata Pete membola melihat isi hidangannya. "Astaga, di berikan kepada seekor semut pun rasanya tidak cukup."


Ada dua Sashimi, namun ukurannya sangat kecil. Benar-Benar mengejutkan. "Setidaknya kita makan secara elegan."


Pete bergerutu di dalam hati. 'Elegan kepalamu, sekali kunyah saja sudah habis ini hidangan. Astaga, pelit sekali.'


Pete melirik nota pembayaran dan seketika mata Pete terasa mau copot. Astaga, ini hanya makanan pinggiran, biasanya harganya begitu murah, paling tidak seharga 14G untuk satu Sashimi, itu pun jumlah hidangannya tiga kali lipat daripada ini.


 Lah, disini harganya 120G satu Sashimi dengan porsi sekecil ini? Pantas saja Sakuya hanya memesan segini saja.


----


Pete dan Sakuya akhirnya sampai di sebuah penginapan. Pete mengerutkan keningnya, merasa tidak yakin akan tinggal di sana malam ini. "Kau bilang disini ada banyak ... apa sih namanya tadi?"


Sakuya menjawab, "maksudnya Pelacur? Tenang saja, aku ada di sini. Aku jamin bahwa kau tidak akan diganggu oleh mereka.


Bila bertemu mereka, katakan saja bahwa kau sudah membawa Pelacur pribadi atau semacamnya."


Mata Pete membola. "Pelacur pribadi? Jangan-jangan-"


Sakuya segera memotong, "jangan menuduh sembarangan! Aku juga sebenarnya enggan mengatakan hal itu!"


Pete menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku kira kau adalah salah satu dari mereka."


Satu jitakan mendarat di kepalanya. "Sembarangan sekali kau bicara! Mau aku hajar hingga babak belur?"


Pete terbelalak. Bukankah ini mirip seperti tunangannya?


Sakuya segera menyeret Pete untuk memasuki penginapan tersebut.


"Pesan kamar Satu!" ucap Sakuya pada kasir resepsionis yang pegawainya memang berpasangan.


Pete terbelalak. "Satu?"


"Kebetulan sekali kami memiliki satu kamar yang paling mahal. Mau menyewa selama beberapa jam?"


"Sekarang pukul berapa?" tanya Sakuya yang justru membuat para pegawai disana berdua saling berpandangan.


"Pukul delapan malam." 

__ADS_1


Sakuya berfikir sejenak, kemudian menjawab. "Sepuluh jam saja."


Kedua resepsionis itu saling berpandangan, lagi. "Mau ditambahkan beberapa orang Pelacur atau Gigolo?"


__ADS_2