
Masih di arena Gladiator yang telah sepi, tersisa Pete, Dia,Alice, Xiao Fu, dan beberapa rekannya yang baru bergabung. Matahari masih belum tinggi, karena pembagian nomor undiannya lebih cepat selesai daripada kemarin, apalagi jumlah peserta sudah tersisa sebanyak setengah dari kapasitas awalnya.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 103. ketika kedua gadis dingin disatukan menjadi satu tim...
"Master mengetahui hai itu juga?" tanya Dia terheran.
"Mengapa tidak? Keluarga Hunter telah melakukan berbagai tindakan yang sangat buruk, seperti menculik berbagai Cat Elf yang berhasil digagalkan berkat Pete yang bereaksi sangat cepat ditambah para pejuang Sharance.
Pete tidak lupa bukan, mereka hendak menyerobot tanah milik para peri mungil seperti capung yang aku baru tahu bahwa mereka mereka adalah peri ras Faerie?
Tidak hanya itu, mereka juga telah melakukan Genosida(pembantaian) terhadap keluarga Univir demi wilayah dragon Bone sehingga para keluarga Univir tersisa sangat sedikit sekali dan mendirikan tempat naru bernama Univir Settlement.
Dan masih banyak lagi yang mereka perbuat selama ini. Entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya," ucap Xiao Fu sambil menghela nafas pelan.
Namun, mendadak Xiao Fu menatap Alice begitu lekat, yang membuat Alice malah berkeringat dingin. "Kau Putri dari seorang dewi? Kenapa kau memiliki aura dewi Athena?"
Pete mengerutkan keningnya. "Dewi athena? Apakah master pernah melihatnya?"
Mendadak Xiao Fu menatap Pete. "Kau pasti tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tetapi aku memang pernah bertemu dengannya."
Pete mengerutkan keningnya, merasa tidak percaya dengan apa yang masternya ucapkan.
Xiao Fu menghela nafas begitu pelan. Jika sudah begini, pasti tidak akan ada yang percaya kepadanya. "Terserahlah. Tetapi sepertinya kau sendiri sebenarnya sudah mengetahuinya, nona Hunter."
Alice menatap Xiao Fu begitu lekat, mendadak mengajukan pertanyaan yang membuat siapapun terbelalak. "Bagaimana keadaan ibuku saat kau bertemu disana?"
"Nona, kau benar-benar putri dari seorang-" tanya Pete terkejut bukan main, sampai ucapannya terpotong olehnya sendiri.
Dia tidak kalah histeris. "Rupanya apa yang ayahmu katakan dulu itu benar. Kau adalah-"
Namun, dengan cepat Alice membungkam mulut Dia dengan tangannya. "Jangan sebarkan informasi ini kepada siapapun. Kita tidak akan tahu apa akibatnya jika ada yang mendengar."
__ADS_1
"Huft! Beruntunglah aku tidak mengatakannya," ucap Pete sedikit lega.
---
Keesokan harinya, mereka semua tengah duduk di bangku penonton. Secara mengejutkan, berbagai Ras lain juga ikut menonton setelah di pertandingan sebelumnya mereka pada ngotot ingin ikut bergabung untuk menonton. Parahnya, Para peri ras capung, alias Ras Faerie dan Cat Elf ikut serta untuk menonton, bahkan Aerith juga ikut menonton.
Sebelumnya memang tidak pernah terjadi hal yang seperti ini, namun sejak Arena Collossum diambil alih ke keluarga Finch, tumbuh satu aturan bahwa siapapun berhak menonton asalkan tidak melakukan huru-hara dan kekacauan.
Pete berkomentar. "Beruntung para Giant tidak ikut serta. Kalau ikut, bisa roboh Collossum ini."
Komentar Pete membuat semua yang mendengarnya mendadak tertawa. Memang apa yang Pete katakan ada benarnya.
Coba bayangkan, bobot berat para Giant berkisar beberapa puluh Ton! Kalau mereka berjalan, tanah bisa bergetar sejauh lima ratus tujuh puluh sembila meter dari pijakannya. Sementara Collossum ini sudah begitu tua, memang sudah saatnya untuk direnovasi, namun setelah pertandingan Gladiator tahun ini usai.
Bisa dibayangkan bukan jika mereka ikut serta? Satu Giant saja bisa membuat gempa bumi apalagi sedemikian banyak? Kalau Raksasa itu diam saja juga masihlah aman, bagaimana jika mereka malah lompat-lompat seperti para penonton lainnya? Roboh juga bukan?
"Pertandingan kali ini adalah pertandingan dua melawan Dua. Setiap peserta akan mendapatkan lawan dan kawan yang acak, jadi bersiaplah untuk menghadapi kejutan yang akan terjadi di arena.
Dia malah berpamitan kepada Pete sebelum melompat memasuki arena. "Adik termuda, aku ke arena dahulu."
Pete mengerutkan keningnya. "Kakak tertua itu, padahal tengah maju untuk bertanding, bukan mau pergi ke medan perang. Bisa-bisanya berpamitan seperti itu."
Lagi-lagi para lelaki berulah, berteriak-teriak tidak keruan. "Astaga, Para lelaki memang tidak ada yang beres!"
Pete dan Joe mendadak menatap Katie begitu datar. "Kau samakan para lelaki seperti kami dengan kaum hidung belang seperti mereka? Bukankah sebenarnya dirimu sama seperti para gadis lainnya?"
Mendadak nyali Katie ciut. Mereka berdua memang dikenal pendiam. Seperti para lelaki pendiam pada umumnya, sekali dirinya mencibir itu akan terasa berpuluh kali lipat.
Gina berupaya untuk menahan tawanya melihat tingkah mereka, namun si lelaki menyebalkan justru berceloteh "Adik kelima, dirimu kenapa dah? Sudah tahu ada dua Lords disini, bisa-biasanya kau malah berkata seperti itu."
"Kau juga sama, kakak ketiga!" Pfftt, Joe juga terkena getahnya. Membuat Gina tidak bisa menahan dirinya dan akhirnya tertawa.
"Memang enak dicibir seperti itu?" tanya Katie merasa kesal kepada Joe.
__ADS_1
Memang Joe adalah lelaki paling menyebalkan yang mereka berenam miliki. Tidak heran sih, ganti pakaian saja seperti cewek milih-milih baju, keusilannya lebih tinggi daripada Pete. Tidak heran jika tingkahnya membuat siapapun menghela nafas, Pete dan Kurt adalah salah satunya.
Tidak heran jika Joe dan Katie terlihat serasi, sama-sama menyebalkan.
Xiao Chi terlihat begitu terfokus di arena. Rupanya, yang di arena adalah Dia Finch bersama Raven Kane menghadapi Emily Forza bersama Karen Handerson.
Melihat Karen, membuat Pete menghela nafas pelan. Siapa sih yang tidak mengetahui gadis pemabuk seperti Karen? Karena sifat yang suka mabuk-mabukan membuatnya begitu mudah marah, dan kasar kepada siapapun, kecuali orang tuanya.
Pete teringat dirinya pernah dimarahi karena menasehatinya untuk tidak minum lagi. Katanya, "ini hidup saya, jadi suka-suka saya mau apa. Memangnya kau siapa sampai ingin mengatur saya?"
Sejak saat itulah Pete tidak lagi berani untuk menasehatinya. Bahkan Pete langsung menjauh ketika Gadis itu terlihat di matanya. Alasannya simpel, jiwa penceramah Pete selalu timbul apabila bertemu gadis sepertinya.
"Tidak aku sangka, gadis yang aku hindari selama ini ternyata muncul disini. Sial, jiwa penceramahku meronta-ronta!"
Mendadak mereka semua menatap Pete begitu datar. Di dalam hati mereka tengah mengumpat, 'Adik termuda ini memang aneh tingkat dewa. Tidak heran jika tingkahnya seringkali membuat kita semua uring-uringan dibuatnya.'
Dia bersama Raven saling menatap satu sama lain. Kemudian menatap musuh yang ada di depannya. Tidak disangka, kedua gadis Dingin dan pendiam di dalam satu kelompok. Raven adalah gadis terdingin di Sharance dan Dia adalah gadis Dingin di Sol Terano.
Namun, ini bukanlah sebuah masalah, karena mereka tidak lagi saling memandang sebagai saingan, melainkan saling bahu-membahu seperti saudara. Maklumlah, mereka telah bersepakat membagi Pete sama rata, walaupun Dia yang menjadi kekasih pertama.
Mereka pun segera bersiap untuk bertanding. Namun ada perbedaan yang membuat Dewi Chang'e terbelalak. "Kuda-kuda itu? Apakah Raven telah menguasai dasar kitab penyihir?"
Raven mendadak bergerak begitu cepat dan menyerang Emily dengan cepat yang membuat pembantu Sakuya itu kelabakan bukan main. Satu serangan, Emily telah berhasil dikalahkan.
Begitu juga dengan Dia. Gadis itu justru menghajar Karen hingga babak belur tanpa perlawanan. "Lagi-lagi Kakak pertama terlalu barbar."
Pertandingan berakhir dengan cepat, membuat mereka semua bersorak. "Pemenang, Dia Finch Dan Raven Kane."
Raven menatap Dia. "Sepertinya kemenangan kita terasa begitu Hoki."
Dia malah tertawa. "Kau benar. Namun seandainya kita berhadapan dengan adik termuda, maksudnya Pete dengan senjata Tombaknya, sepertinya kita tidak akan mampu berkutik begitu banyak."
Raven malah tersenyum. "Memangnya siapa yang mampu mengalahkan Pete dengan mode Spearman warrior?"
__ADS_1