
Univir Settlement kembali diserang, namun pelakunya bukan monster, melainkan keluarga Hunter bersama anggota Assasins Creeds.
Keluarga Hunter memang mengincar Pete dan Dia sejak begitu lama. Alasannya? Pete dan Dia telah melenyapkan kepala keluarga beserta ketiga orang penting di saat pertandingan Gladiator setahun yang lalu.
Namun, sebenarnya Xiao Fu sudah menduga ini, sehingga sebelumnya para serigala putih besar dan para Elf berbagai ras datang ke Univir Settlement di waktu yang tepat.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 78. hanya bisa diam....
Pihak Univir semakin bersemangat bertahan karena bala bantuan telah tiba. Pihak musuh berbalik terjepit di dalam pertarungan yang mereka mulai sendiri.
Pete dan Dia tampak menonton dari jendela. Namun, sekali mereka berpandangan, maka mereka akan langsung memalingkan muka. Maklum, mereka sama-sama begitu kesal dengan kejadian yang baru saja menimpa mereka.
Pete menghela nafas pelan. "Apakah ini adil? Mereka bertarung di sana sementara kita terdiam disini."
Dia menatap Pete yang pandangannya terfokus ke depan. "Kau masih dalam fase pemulihan sementara aku tengah mengawasinya!"
Pete berucap serius. "Sepertinya kita memang diincar oleh mereka."
Dia kaget. "Kau tahu siapa pelakunya?"
Pete berbalik menatap Dia, yang membuatnya segera memalingkan muka. "Siapa lagi kalau bukan keluarga Hunter? Kau tidak lupa dengan ancaman mereka setahun yang lalu, bukan?"
Dia teringat ancaman keluarga Hunter yang menyebabkan dirinya hampir diasingkan di kuil kuno yang begitu sepi dan tertutup. "Tch! Keluarga itu!"
Pete menghela nafas."Haahhh, marah tiada gunanya."
Pete kemudian kembali ke tempat tidur, membuat Dia terheran. "Apa yang kau lakukan?"
Pete menoleh ke arah Dia. "Apalagi kalau bukan tidur? Kau pikir aku sedang apa?"
Dia segera memalingkan muka. "Lalu diluar?"
Pete menggunakan kedua telapak tangannya sebagai bantal. "Kau mau keluar? Silahkan saja. Aku dilarang keluar, jadi aku putuskan untuk tidur saja."
"Aku juga sedang mengawasinya, bagaimana aku bisa keluar? Dan apa yang harus aku lakukan?"
"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kau belajar cara memakai celana? Aku dengar-dengar kau masih belum mampu memakainya."
"Kau! Tch, dasar mesum!"
"Aku tidak mesum. Kau saja yang pikiranmu ke sana. Selama ini aku sudah melempar ucapan yang sama beberapa kali. Dan kau baru mengatakan aku mesum? Kenapa tidak dari pertama kali?"
Dia mendadak menampar pipinya sendiri. "Dasar otak! Berhenti berpikiran kesana!"
Pete mencibir, "sepertinya benar ya?"
Dia langsung menyembunyikan mukanya dengan selendang hijau yang begitu lembut sebagai senjata pusaka miliknya. Tentu pipinya merah padam. Tidak tahan dengan pembicaraan yang terus ke arah sana, dirinya mencoba membanting topik. "Haahhh! Jika bukan karena mengawasi dirimu, aku mungkin sudah bergabung dengan mereka."
__ADS_1
Pete melirik Dia yang masih menyembunyikan kedua setengah wajahnya, menyisakan bagian mata sampai ke puncak kepalanya. "Hmm? Kalau begitu, pergilah. Lagipula Xiao Chi juga tengah mengawasiku dari luar pintu."
"Astaga! Insting kak Pete begitu tajam!" ucap Xiao Chi takjub, dari balik pintu.
"Kau, instingmu begitu tajam." Dia menggelengkan kepala.
Pete menatap Chang'e yang tiba-tiba mengerutkan kening. "Hanya kebetulan."
"Xiao Chi, aku serahkan pengawasan Pete kepadamu." Dia segera melompat keluar dari jendela.
Melihatnya, membuat Pete menutup matanya. Dirinya tidak mau ambil pusing dengan apa yang akan terjadi. Toh, dirinya paham Keadaan di luar begitu aman untuknya tidur.
Namun, Pete kembali membuka matanya ketika Dia kembali melompat masuk. "Aku dilarang keluar. Katanya diriku akan mengalami bahaya ketika ada di medan pertempuran. Aku dan kau adalah target mereka. Rupanya ucapanmu benar."
"Oh?"
Dia langsung berbaring di sebelah Pete, yang membuat Pete terbelalak. "Apa yang kau lakukan?"
Dia menjawab begitu pendek. "Tidur."
"Kenapa tidur di sini?" tanya Pete heran.
"Tidak ada ranjang lain disini."
"Kenapa tidak di kursi atau sofa saja?"
"Tidak nyaman."
Dia mendelik. "Kita sudah terbiasa tidur seperti ini bukan? Kenapa kau baru keberatan?"
"Aku masih sakit. Masih dalam tahap pemulihan."
"Toh hanya luka jahitan, terlepas pun tidak akan membuat dirimu mati."
Pete bungkam. Dengan pelan, Pete menghela nafas. Kemudian, Pete langsung memeluk Dia yang kemudian malah protes tidak terima.
"Dasar hidung belang! Jangan memeluk diriku!"
"Kita sudah terbiasa seperti ini saat tidur bersama, bukan? Mengapa kau baru protes?"
"Pertama, itu karena kita bukan di Telaga langit. Bagaimana pun keadaan bisa memburuk pasca apa yang terjadi tadi.
Kedua, aku tidak ingin kau menyentuh diriku lagi!"
"...."
Lagi-lagi Pete bungkam. Yang hanya bisa Pete lakukan hanya menghela nafas pelan.
'Perempuan selalu benar, Pete. Seharusnya kau berhati-hati.'
__ADS_1
Pete mengerutkan kening kemudian berkomunikasi dengan Chang'e melalui alam bawah sadar. 'Bukankah kau juga perempuan?'
'Ya. Kau benar. Oh, ya. Insting Kau begitu tajam.'
'Tidak setajam itu, kok. Aku hanya menduga dari rawut wajah mu dan ke mana kau menatap.'
'Jangan berbohong. Aku bahkan tahu kau menyadari akan terjadi penembakan sebelum aku melihat ke jendela.'
'Sepertinya, bertarung melawan Pedestal telah meningkatkan kemampuan instingku. Akan tetapi, sebenarnya aku ada di tingkatan mana? Aku sampai tidak mengetahui tingkat kemampuanku.'
Chang'e melirik Dia. 'Kau sudah setingkat Dia, lebih rendah sedikit.'
Pete merasa kecewa. 'Aku masih belum bisa melampauinya ya?'
Chang'e menghela nafas pelan. 'Dia memiliki atribut Qi yang begitu istimewa.'
Pete mencoba menunjukkan kemampuannya 'Bukankah aku juga punya garis darah jiwa Skelefang?'
'Ya! Kau punya itu, tetapi Dia memiliki atribut jiwa murni. Sepertinya jiwa Dia adalah kumpulan jiwa para dewa dewi yang berkonstelasi menjadi satu. Atribut garis darahmu tidak ada apa-apanya baginya,' jelas Chang'e
'Rupanya begitu? Pantas saja!'
Chang'e menatap Pete begitu lekat. 'Kau adalah adalah sosok yang paling beruntung, diperhatikan olehnya.'
'Alasannya?'
Chang'e lagsung bertingkah seperti seorang guru. 'Kau akan tahu nanti. Berbeda dengan tubuh fisik tanpa noda, jiwa murni miliknya dapat membantu siapa pun berkembang lebih cepat. Oleh karena itulah, mengapa kau dapat mempelajari tekhnik kultivasi rasi bintang Nebula berpasangan dengannya begitu cepat.'
"Apa keuntungannya?"
"Cobalah untuk memeluknya sekali lagi. Kemudian, cobalah menutup mata, menyelam ke dalam hubungan ikatan jiwa. Kau akan merasakan bagaimana terhubung jiwamu dengannya."
Pete segera menolak. 'Tidak-tidak! Aku bukan lelaki Hidung belang.'
"Terserah dirimu. Itu hanya saran."
'Oh ya! Aku sama sekali tidak mengerti dengan selendang hijau yang begitu lembut milik Dia. Sebenarnya senjata apa itu? Mengapa pedang misterius milikku juga tidak mampu melawannya?"
Chang'e terdiam sejenak. "Itu adalah selendang hijau teratai ular yang sesungguhnya peninggalan diriku.'
'Senjata kelas Dewa?'
'Benar.'
Pete bertanya, "setingkat tombak milikku?"
"Tidak. tombaknya lebih kuat!"
Pete melirik ke arah Dia yang seperti tengah tertidur. Secara iseng, Pete langsung memeluk Dia.
__ADS_1
"Kau! Singkirkan tanganmu!"