
...Sacred Valley:awal perjalanan kultivator ...
...Episode 137. situs arkeolog Kirii...
Malam hari pun tiba, Acara pun juga susah selesai. Pete tengah mempersiapkan diri karena Besok, dirinya akan segera pergi. Terlihat Marina tengah berbincang dengan Chang'e sembari melirik Pete sesekali.
Kimi masuk, membawakan air dalam ember kecil. Pete berbalik badan dan mulai kebingungan. Air sebanyak itu untuk apa?
Kimi langsung tersenyum, kemudian menarik kursi. "Duduklah disini, utusan."
Pete menghela nafas. "Aku bukanlah utusan."
Kimi tersenyum, langsung menarik tangan Pete dan memaksa untuk duduk di kursi. Kemudian kedua kaki Pete dimasukkan ke dalam ember berisi air. Astaga, Kimi mencuci kakinya?
"Kimi, apa maksudnya dengan ini?" tanya Pete terheran. Dirinya merasa kakinya seperti dicengkeram erat oleh air tersebut sehingga kesulitan untuk melepaskan diri. Apakah air ini bukan air biasa?
"Ini adalah sebuah kebiasaan kami untuk menghormati orang yang berjasa di wilayah Kirii ini," ungkap Kimi yang membuat Pete mengerutkan keningnya.
"Air apa ini? Aku merasa-"
"Hanya air biasa, namun ember ini memiliki segel pengunci. Sebenarnya aku hendak bermaksud mencuci kakimu dengan ember biasa, namun sepertinya kau pasti akan menolak. Jadi, aku menggunakan ini untuk membuatmu tidak bisa berontak," ucap Kimi.
Pete menggelengkan kepalanya. "Astaga, kau benar-benar pemaksa sekali."
Kimi berdiri, kemudian pergi keluar. "Aku keluar dahulu sebentar. Tidak akan lama."
Marina mendekati Pete, sembari tersenyum. "Ini adalah pelayanan mereka yang berkembang menjadi sebuah kebiasaan sejak tiga ratus tahun yang lalu. Dilayani oleh biarawati juga akan memberikan dampak positif untukmu."
"Dewi, bagaimana dengan kakiku yang tidak bisa aku angkat ini?" tanya Pete.
"Tunggu saja sampai biarawati selesai mencuci kakimu. Setelah itu, kau akan terbebas."
Kimi masuk kembali dan tengah membawa botol aneh. Isinya pun dituangkan ke air, menimbulkan sensasi panas yang begitu hangat.
"Sudah selesai. Sekarang, angkat kakimu. Ikuti aku. Ada sebuah situs Kirii di jaman dahulu yang bisa kau lihat disini. Namun pertebal iman mu, oke."
Pete mengerutkan keningnya, kemudian mengangkat kakinya. Ternyata bisa? Sesuai dengan kata Harvest Goddess.
Pete kemudian mengikuti Kimi, keluar dari rumah mengikuti kemana Kimi pergi. Sampailah di sebuah tempat yang terlihat seperti kota. Namun, Leaf Valley masih belum mengenal struktur pemerintahan, nama tempat saja masih menggunakan sebutan wilayah. Jadi, mana mungkin mereka mengenali sebutan kota?
__ADS_1
Mereka memasuki kota itu. "Kau tahu, ini adalah sebuah wilayah yang dulunya tergabung dengan Kirii sampai lima ratus tahun sebelum jaman sekarang, harus ditinggalkan. Rumor mengatakan, peradaban disini lebih maju daripada saat ini."
Kimi menunjuk sebuah sendal yang uniknya dari kaca. "Lihatlah ini, ada Sandal kaca. Di jaman sekarang, masih bertebaran sendal jerami. Itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa peradaban di sini lebih maju."
"Lihat juga di sana!" Kimi menunjukkan benda lainnya. "Sebuah perahu?"
Kimi menggelengkan kepalanya. "Perahu terbang. Cikal bakal terbentuk pesawat kecil di masa sekarang."
Kimi kemudian melanjutkan perjalanan. "Ikuti aku."
Mata Pete membola ketika melihat rumah-rumah bertingkat yang tingginya melebihi tinggi pohon besar, berjejer rapi. "Astaga, rumah ini tinggi sekali!"
"Ini belum seberapa. Mari kita melihat ke sana."
Astaga, terdapat banyak sekali semacam bilik rumah (seperti ruko) pada dinding tebing. Apakah para pemiliknya tidak takut jika longsor? "Ini adalah lokasi pasar. Bagaimana menurutmu?"
"Begitu luar biasa. Rumah setinggi langit, sendal kaca, perahu terbang dan bahkan Pasar di dinding batu. Tetapi, mengapa sekarang tempat ini menjadi tempat yang begitu terbengkalai seperti ini?" tanya Pete.
Kimi menarik tangan Pete, membawanya ke aula. "Jawabannya ada di sini."
Mata Pete membola. Terlihat begitu banyak patung yang terlihat seolah-olah sedang pesta maksiat sampai bahkan sampai ada yang terlihat sesama jenis pula, memenuhi aula yang begitu luas. Benar-benar tidak layak dilihat.
Pete langsung menatap Kimi."Di sini memang begitu maju, orang-orang disini pun semuanya begitu kaya. Namun mereka semua memiliki akhlak yang super minim. Mereka begitu pelit terhadap para pengemis dan muridnya, mereka suka sekali memperkosa siapapun. Bahkan para pendatang juga menjadi korban, tidak peduli itu lelaki ataupun perempuan
Mereka tengah berpesta seperti ini, tepat di saat para biksu, pendeta tao, juga Biarawan/wati kemari. Mereka dikutuk olehnya, menjadi patung yang seperti kau lihat saat ini.
Oleh karena itulah, mengapa seluruh dunia sangat melarang adanya kemaksiatan. Mereka yang melakukan hubungan suami istri harus langsung mengikatkan hubungan, bahkan jika hamil harus menikah."
Pete menganggukkan kepala, mulai mengerti mengapa ada aturan seperti itu. "Ayo kita segera kembali. Semakin lama kau disini, semakin buruk di mata buddhis."
Sejenak, Pete mulai mengerutkan keningnya, menyadari sesuatu. "Hey, untuk apa kau menunjukkan situs ini kepadaku?"
Kimi menatap Pete begitu datar. "Seharusnya kau beruntung karena datang kemari. Sesungguhnya, tidak seorangpun yang boleh masuk ke tempat ini, kecuali para buddhis sepertiku. Itu pun terbatas dengan waktu juga.
Kau juga salah satu orang yang begitu istimewa karena hubungan yang tidak biasa antara dirimu dengan sang Dewi. Setidaknya kau paham mengapa ada aturan semacam ini. Lagipula, pengetahuan sekecil apapun pasti akan berguna di suatu saat nanti."
---
Keesokan paginya, Pete telah berdiri di depan gerbang, sementara itu para penduduk begitu banyak hadir untuk mengucapkan selamat jalan. Pete memang telah menyelesaikan masalah pertamanya di Sini. Jadi melanjutkan perjalanan adalah hal yang memang harus Pete lakukan untuk menorehkan pencapaian kembali.
__ADS_1
Kimi melambaikan tangannya, membuat Pete terkekeh. "Selamat jalan, utusan!"
Pete akhirnya melangkahkan kaki meninggalkan tempat tersebut. Saatnya untuk Pete melanjutkan petualangan lagi.
Pete berjalan bersama dengan Chang'e yang setia bersamanya di bahunya. Marina juga sudah pergi.
"Bagaimana menurutmu mengenai Harvest Goddess?" tanya Chang'e.
"Maksud dewi?" tanya Pete balik.
"Sudahlah, aku rasa kau memang tidak akan pernah bisa mengerti," ucap Chang'e kesal.
Pete hanya menghela nafas pelan, kemudian tidak bertanya lebih lanjut lagi. Mendadak dirinya mendengar suara kekasihnya. Mata Pete membola, mulai celingak-celinguk melihat sesuatu.
Sampai akhirnya, dirinya menyadari bahwa panggilan tersebut karena Dia menghubungi dirinya dari alam bawah sadar.
"Ada apa, kakak pertama?"
"Bagaimana keadaanmu disana? Baik-baik saja, bukan?" tanya Dia
"Tentu saja. Bukankah aku kuat?" tanya Pete sedikit sombong.
Dia menjadi begitu dongkol bukan main. Astaga, benar-benar tipikal Pete, suka jahil, bandel, Nakal, usil, dan segala macam lah. "Kau tidak pernah berubah, Adik termuda."
Pete tertawa konyol. Dirinya tahu benar bahwa dari nada suaranya, Sepertinya tunangannya itu begitu dongkol karena ucapannya.
"Mengapa kau bisa bertemu Aurelia?" tanya Dia, tidak lagi mampu menahan rasa heran sekaligus cemburunya.
Pete menceritakan kembali soal pertemuannya dengan Aurelia, mengatasi Aquaticus, pergi ke Kirii, mengatasi Devil Ghost Tree, membangun kuil, sampai kunjungan ke situs arkeolog Kirii. Mendengarnya membuat Dia menghela nafas pelan.
"Rupanya begitu, tidak disangka bukan hanya aku, Raven, dan Alice saja, juga May dan Xiao Chi, rupanya biarawati pun kau embat."
"Embat apanya? Jangan berfikiran aneh-aneh!"
"Yah, mau saja aku tidak berfikiran aneh-aneh, tetapi mengingat kau di luar sana sendirian tanpa pengawasan, bagaimana mungkin aku tidak bisa berfikiran aneh-aneh? Lagipula, Aurelia mengatakan bahwa kau telah menyentuhnya sebegitu jauh."
Pete memutar bola matanya malas. "Aku hanya meraihnya saja, agar aku dapat pergi ke tujuan dengan cepat. Jangan salahkan aku, salahkanlah Aurelia. Mengapa jalannya lambat sekali seperti keong?"
Mata Dia ikut berputar. Pete memang pandai mencari alasan. Namun, Dia juga percaya dengan apa yang Pete katakan. Tipikal Pete lainnya adalah tepat waktu. Tentunya dirinya sangat membenci yang namanya jam karet.'
__ADS_1