
...Sacred Valley: awal perjalanan kultivator...
...Episode 136. kuil suci...
Hari sudah menjelang malam, perkerjaan mereka telah selesai. Namun perlu menunggu besok siang agar kuil itu benar-benar kokoh. Terlihat Pete tengah bersandar di pohon, sedang berbicara dengan dewi Panen.
Meskipun para penduduk wilayah ini melihatnya seolah berbicara sendiri, namun dirinya tidak berani mengerutkan alisnya atau bahkan menertawakannya. Alasannya adalah mereka percaya bahwa Pete sebagai utusan Dewa, tentu dapat melihat Dewi panen secara langsung.
Ya, Pete mampu melihat Dewi panen secara langsung, namun Pete bukan Dewa. Persepsi mereka memang setengah benar setengah salah.
Lete berucap, "Aku mengerti, namun ini sudah mendekati Summer, jadi tidak memungkinkan untuk mengadakan Goddess spring Festival."
Marina tersenyum. "Aku tahu itu, namun seharusnya diadakan upacara peresmian terlebih dahulu. Jadi, aku rasa adakan saja Festival Goddess Spring, walaupun terlambat. Di tahun berikutnya, barulah mereka akan mengulangi Festival Goddess Spring di hari ketiga belas sejak musim Spring tiba.
Jangan lupakan bahwa hari ketujuh belas sejak musim autumn, adalah hari Harvest Festival. Mereka harus merayakannya."
"Aku mengerti. Terima kasih atas bantuannya," ucap Pete.
"Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu karena berkatmu membuat bebanku hilang separuh."
Pete kemudian kembali ke tempat mereka berkumpul, kemudian nemberika arahan. Mereka semua pun menunduk hormat, akan mengikuti arahan Pete pada keesokan harinya.
Pete pergi ke lokasi yang ditemukan banyak tanah liat. Terlihat kedua Dewi tersebut mengekori dirinya. "Pete, aku tidak mengerti. Sebenarnya kau itu siapa? Aku merasakan jejak aneh di tubuhmu."
Chang'e menghela nafas pelan. "Semua ini telah direncanakan oleh kaisar langit yang lama. Demi menyelamatkan dunia, beliau mengatur skenario untuk menciptakan orang-orang yang terpilih untuk mengkudeta balik kaisar langit.
Namun, Pete memiliki masa depan yang paling tragis. Bocah ini lahir dari aura-aura sang dewa-dewi yang terpecah, yang akan menjadi target utama lawan. Sementara itu, kekasihnya yang bernama Dia Finch terlahir sebagai jiwa murni, yang sesungguhnya akan mengakhiri Kaisar langit.
Sebagai pengalihan, Pete pasti akan menjadi fokus target. Tidak ada seorangpun yang mampu melindungi dirinya dari serangan kaisar langit, yang artinya hidup Pete menjadi yang paling terancam, namun dirinya harus tetap menjadi yang terdepan."
Marina menutup mulutnya. "Astaga, jadi kau adalah salah satu orang pilihan untuk memberontak?"
Pete terdiam tidak bersuara. Menurutnya, ini tidak adil. Namun, Pete bisa apa? Yang dirinya lakukan sekarang hanyalah berupaya menjadi lebih kuat agar mampu bertarung lebih sengit nantinya.
Marina menghela nafas pelan. "Ternyata hidupmu begitu berat."
"Demi dunia, aku siap dengan apapun yang akan terjadi," Ucap Pete yang membuat mereka berdua tertegun, kemudian saling berpandangan.
"Oh, ya. Sebenarnya tanah liat ini untuk apa?"
Pagi pun tiba, mereka semua sudah bergerak untuk mempersiapkan sesuatu yang berkaitan dengan Goddess Spring Festival. Pete terlihat begitu kurang tidur, tengah menggotong patung Harvest Goddess berukuran besar yang dirinya buat bersama oleh para dewi kemarin malam.
__ADS_1
Mereka semua segera membantu Pete untuk membawa patung tersebut untuk di dirikan di depan kuil untuk sementara sebelum dibawa masuk.
Pete langsung limbung ke tanah, sepertinya sudah begitu kelelahan. Kimi segera menggotong dirinya untuk dibawa ke dalam rumah yang dekat dengan kuil.
Acara pun berlangsung, tanpa Pete sebagai salah satu saksi peresmian. Terlihat Kimi menjadi Pendetanya, karena hanya dirinya lah Biarawati yang tersisa karena yang lainnya telah dikorbankan menjadi santapan Devil Ghost Tree.
Sementara itu, di telaga langit, terlihat Xiao Fu tengah membaca surat yang ditulis oleh Pete, kemudian tersenyum.
"Muridku semuanya, tolong antarkan mereka ke kuil suci. Mereka akan menempati kuil tersebut."
Dia bersama keempat rekannya, membawa mereka ke kuil yang dimaksudkan. Tersisa Xiao Fu dan Xiao Chi. "Tidak aku sangka ternyata Pete begitu mengerti dengan apa yang terjadi dan
masih bisa memikirkan hal seperti ini. Akan tetapi, apa yang Pete lakukan saat ini sudah benar."
Xiao Chi tersenyum. "Begitulah, kak Pete."
Pete mulai membuka matanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah Kimi dengan pakaian khas biarawati, tengah tersenyum kepadanya.
Pete mengerutkan keningnya. "Aku rasa kau begitu senang dengan statusmu sebagai biarawati."
Kimi tersenyum. "Tentu saja."
Pete tertawa konyol. "Kau menjadi begitu mirip dengan kekasihku, Dia Finch."
Mendadak Kimi sedikit membeku mendengarnya. "Kau adalah utusan Dewa, bagaimana bisa kau memiliki seorang kekasih dari keluarga terpandang yang sebenarnya sangat tabu untuk ukuran seorang utusan sepertimu?"
Pete menghela nafas pelan. "Aku bukanlah seorang utusan Dewa. Aku hanya manusia biasa, yang memiliki kemampuan atribut pembawaan seperti ini."
Kali ini Kimi terdiam, tidak mampu berkata. "Aku tahu, ini sulit untuk kau percaya."
"Tetapi bagaimana bisa kau mampu mendatangkan Harvest Goddess kemari?" tanya Kimi, tidak mampu menyembunyikan perasaan bingung di benaknya.
"Ceritanya panjang." Pete menjelaskan secara panjang lebar mengenai kejadian di dragon Cave.
Kimi menggelengkan kepalanya. "Tidak aku sangka, kau benar-benar manusia istimewa."
Kimi segera memberikan sesuatu. "Sebuah Genta?"
Kimi menunduk. "Hanya ini yang aku punya, jadi aku harap kau mau menerimanya."
Pete menyentuh Genta tersebut, mendadak dirinya seolah-olah tersengat listrik. Kekuatan pembawaannya rupanya merespon aura Genta tersebut. Pete kembali menyentuhnya, mendadak tubuhnya seperti teraliri kekuatan yang begitu netral. Pete melirik Kimi yang tengah menatapnya bingung.
__ADS_1
Pete akhirnya mampu memegang Genta tersebut. "Astaga, Genta yang sangat hebat."
Kimi tersenyum, dirinya merasa bahwa Pete telah menerima hadiah darinya.
Pete kemudian beralih meraih tangannya, yang membuat dirinya terkaget setengah mati dan langsung kebingungan hendak melakukan apa.
Pete menembakkan energi Jiwa miliknya ke tangan tersebut, memperkuat jiwa milik Kimi. "Tidak adil jika hanya kau yang memberikan hadiah."
Nafas Kimi sedikit tercekat, namun sejenak normal kembali. "Terima kasih banyak."
Aurelia masih memikirkan tentang Pete. Sejenak menatap Dia yang dirinya ketahui sebagai kekasih dari Pete.
"Menurutmu, Pete itu seperti apa?" tanya Aurelia.
Dia terkejut, tidak menyangka bahwa Aurelia akan menanyakan kekasihnya itu. "Pete itu begitu naif, juga suka bandel yang keterlaluan. Namun dirinya mudah sekali menurut. Mengapa kau menanyakan hal itu?"
Aurelia menghela nafasnya. "Aku tidak mengerti lagi dengan kalian. Kau tahu, kita satu takdir. Takdir kita adalah mengkudeta kembali kaisar langit."
Dia menatap Aurelia. "Lalu?"
Aurelia menghela nafasnya. "Kau sama sekali tidak memikirkan apa yang mungkin akan terjadi pada Pete yang mengambil peran sebagai pengalihan?"
Dia menundukkan kepalanya. "Aku harap Pete masih hidup sampai pada akhirnya. Bagaimana pun, aku dan Pete adalah satu jiwa yang terbelah. Jika salah satu dari kami binasa, maka yang satunya lagi akan terasa begitu hampa."
Aurelia menghela nafasnya. "Aku mengerti. Namun menempatkan diri terlalu dekat dengan Pete hanya akan membuatmu dalam kesulitan sendiri. Jika kau binasa, hancurkan harapan kaisar langit."
Dia menghela nafas pelan. "Aku tahu."
Chester menepuk bahu adik angkatnya ini. "Segalanya bisa saja terjadi, adikku. Mari, bantu kakak bersih-bersih."
Kembali di lokasi Pete saat ini. Pete berada di depan kuil tersebut. Ternyata Acara belum dimulai juga tanpa kehadirannya sebagai saksi.
Pete tengah bersin. "Siapa yang telah membicarakanku?"
Kimi membunyikan Genta yang lainnya. Memulai upacara peresmian dengan format Perayaan hari Harvest Goddess Festival. Tentu diadakan tarian dewi.
Sampai akhirnya, upacara tersebut selesai. Kemudian Patung dewi itu digotong beramai-ramai, dibawa ke dalam. Atas saran Pete, Patung tersebut diletakkan di tempat yang begitu baik dilihat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
'
__ADS_1