Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Bertanggung jawab dan persiapan


__ADS_3

Micah mulai melirik Gina yang menatap harimau api itu dengan perasaan kosong, membuat Micah merasa iba. Dirinya melakukan gerakan tangan, memanggil Fifi agar hadir di hadapannya.


Fifi berhasil muncul, namun terlihat jelas tengah merajuk. Itu membuat Micah menghela nafas pelan. Mau tidak mau, Micah harus membuat hati Fifi senang dulu.


"Kau punya seekor Faerie?"


Guru itu bersama Gina mulai menatap Micah dan Fifi. Terlihat jelas Micah mulai membujuk Fifi agar berhenti merajuk, berjanji akan diikutsertakan dalam pertandingan besok.


"Fifi, sayang, bisakah kamu membantu menyembuhkan harimau api ini?" Micah meminta dengan lembut.


Fifi menatap Micah dengan tatapan tajam, seolah olah menyiratkan ucapan, "Aku tidak suka jika kamu mengabaikan diriku, Micah."


Micah tersenyum dan memberi Fifi belaian di kepala, "Maaf, aku tidak bermaksud begitu. Kamu adalah Faerieku yang paling spesial, dan aku butuh bantuanmu untuk menyembuhkan harimau api ini."


Fifi masih merajuk, namun dia mengangguk setuju. Dia mulai menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan harimau api itu. Seiring berjalannya waktu, harimau itu semakin membaik dan akhirnya sembuh sepenuhnya


Fiuh, Akhirnya Fifi luluh juga, kemudian mulai melihat Harimau api itu. Ayah angkat Gina itu mulai melemparkan satu pertanyaan. "Kalau ada Faerie, ini lebih baik lagi. Micah, bagaimana kau bisa memiliki hewan Panggilan seperti Faerie Ini?"


Mendadak Fifi berbalik pada Micah, kemudian mengambil paksa Yaitu Dust di kantongnya, membuat Micah terkaget. Namun dirinya tidak mau ambil pusing.


Gina sendiri mulai berdiri, yang kemudian mulai ditenangkan oleh Micah dengan kata-kata menyenangkan hati. Micah menjamin kesembuhan Harimau api itu jika di atasi langsung oleh Fifi.


Begitu Faerie mulai menggunakan kekuatannya, seketika tubuh Harimau itu mulai bercahaya kehijauan yang kemudian semua luka pada Harimau itu tertutup seluruhnya.


Harimau itu mulai dapat bangun seperti biasa, membuat Gina tidak mampu menahan tangisnya karena terharu. Namun, mulai terdengar langkah kaki yang membuat Micah mulai menatap pintu.


"Aku mohon rahasiakan hal ini."


Pintu terbuka, terlihat Dia Finch langsung masuk ke dalam sana. Terlihat Gina tengah bersama harimau api itu, namun tidak ada Micah dan Fifi.


"Gina, Harimau apimu sudah sembuh total? Luar biasa!"

__ADS_1


Micah dan Fifi sendiri telah berada di luar penginapan itu, langsung berjalan pulang bersama. Kali ini, mereka pulang ke rumah dan tidur bersama di tempat tidur yang telah tersedia. Jangan lupakan bahwa ada dua ranjang di dalam kamarnya.


------


Micah mulai berlatih lagi bersama Fifi, seekor Faerie miliknya. Kali ini, dirinya merasa Dia Finch adalah lawan yang paling berbahaya yang harus dihadapi pada pertandingan besok. Mau tidak mau, Micah harus sudah siap ekstra dalam segi atribut apapun.


Fifi terbang di atas kepala Micah dengan cepat, bergerak lincah mengelilinginya. Micah berusaha untuk mengikuti gerakan Fifi, mengangkat tangan dan berputar-putar dengan gesit.


"Fifi, aku butuh bantuanmu," ucap Micah sambil memandangi Fifi yang terus bergerak cepat. "Aku tahu Dia Finch akan sulit dikalahkan, tapi aku percaya kalian berdua bisa melakukannya."


Fifi membalas dengan terbang lebih dekat ke Micah, memandangi mata pemuda itu dengan lembut. Micah tersenyum kecil, merasakan kehangatan dan kepercayaan yang terpancar dari Fifi.


Mereka terus berlatih bersama, Micah mengeluarkan jurus-jurus terbaiknya sedangkan Fifi mengeluarkan kekuatan magisnya. Bersama-sama, mereka memperkuat kemampuan masing-masing, mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan besar esok hari.


Setelah berlatih sekitar dua jam, Micah dan Fifi beristirahat sejenak di tepi lapangan latihan. Micah meraih botol air dari tasnya dan meminumnya dengan cepat, merasakan rasa segar yang mengalir ke tenggorokannya.


"Fifi, kau sungguh hebat," puji Micah sambil mengelus kepala Faerie-nya. "Aku benar-benar beruntung memiliki teman seperjuangan sepertimu."


"Mari kita kalahkan Dia Finch besok!" seru Micah dengan semangat, sambil memeluk Fifi erat-erat.


Fifi sendiri mulai membeku, karena pertama kali merasakan bagaimana rasanya dipeluk oleh manusia seperti Micah. Namun, tanpa sadar Fifi membalas pelukannya.


---


Malam hari telah tiba. Secara mengejutkan, Raven KaneĀ  berada di dalam kamarnya membuat Micah Shock.


"Apa yang kau lakukan disini, Raven?" tanya Micah sambil menatap ke arah Raven.


Dengan wajah serius, Raven duduk di kursi di depan meja Micah dan menatapnya tajam.


"Saya mendengar rumor bahwa Dia Finch berniat untuk menyakiti kamu besok," kata Raven dengan nada serius.

__ADS_1


Micah merasa sedikit tertekan mendengar pernyataan itu. Ia tahu bahwa Dia Finch adalah lawan yang sulit untuk dihadapi, namun ia tidak percaya bahwa Dia Finch akan berniat menyakiti dirinya secara serius.


"Aku rasa rumor itu tidak benar, Raven. Saya sudah bertanding dengan Dia Finch beberapa kali dan dia selalu menjadi lawan yang sportif," ujar Micah dengan suara lirih.


"Kamu yakin? Aku mendengar bahwa Dia Finch bahkan telah melakukan latihan khusus untuk mengalahkanmu," balas Raven dengan suara tegas.


Micah memikirkan kembali semua latihan yang telah dilakukannya bersama Fifi untuk pertandingan besok. Ia tahu bahwa persiapan yang baik adalah kunci kemenangan, namun ia tidak ingin terlalu khawatir dan menganggap enteng lawannya.


"Tidak. Aku yakin bahwa aku akan baik-baik saja," ucap Micah, namun tidak berani menatap ke arah Raven.


"Lalu, mengapa kau tidak menatapku?" tanya Raven menyudutkan Micah.


Micah akhirnya menghela nafasnya. Sepertinya sangat sulit untuk menyembunyikan kekhawatirannya kepada Raven, namun Micah mulai menatap gadis berambut merah itu.


"Kamu tahu, Raven, aku tidak terlalu peduli dengan siapa lawan yang aku hadapi besok. Yang penting bagiku adalah aku sudah melakukan yang terbaik untuk mempersiapkan diri. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja, walaupun kalah sekalipun. Aku juga dengar kau akan menghadapi lawanmu yang lumayan kuat. Aku harap kau juga berhati-hati," ucap Micah kepada Raven.


Mendadak Raven menundukkan kepalanya, kemudian berucap sangat lirih. "Micah masih sama seperti dulu yang aku kenal."


"...."


Micah mulai mengerutkan keningnya, karena Raven berucap dengan tidak jelas di telinganya.


"Kalau begitu, aku harap kau tidak seperti yang dirumorkan sampai patah tulang, atau-"


Mendadak Micah mendekati Raven dan menyentuh bahunya. "Fifi akan ikut bertarung bersamaku pada pertandingan kali ini. Seharusnya itu sudah cukup untuk tidak terlalu khawatir. Ini sudah begitu larut malam, sebaiknya kau istirahatlah dan jangan terlalu memikirkannya terus."


Raven menatap Micah dengan tatapan yang penuh perhatian. "Baiklah. Semoga pertandingan besok berjalan dengan lancar bagi kita semua. Tetapi, brthati-hatilah." ucap Raven sambil tersenyum kecil.


Micah juga tersenyum lega. Ia merasa lega bahwa Raven akhirnya dapat menerima keadaan dan memahami bahwa ia akan melakukan yang terbaik pada pertandingan besok.


"Ya, semoga berhasil untuk kita semua," ucap Micah sambil menepuk-nepuk bahu Raven.

__ADS_1


Setelah itu, Raven berjalan pergi dari kamar Micah, sementara Micah kembali duduk dan memikirkan persiapan yang harus dilakukannya untuk pertandingan besok. Ia merasa sedikit lega setelah berbicara dengan Raven, namun tetap tidak bisa sepenuhnya meredakan kekhawatirannya.


__ADS_2