
Pete kembali merasakan keanehan. Dirinya kembali berada di dimensi yang lagi-lagi begitu berbeda. Tampak sebuah gulungan yang begitu besar sedang terpampang di depannya.
Entah siapa yang membaca gulungan tersebut, tiba-tiba saja terdengar suaranya, tanpa ada wujud orang yang membacanya.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 74. Kau masih memiliki diriku....
"Siapa kau? Keluar!" teriak Pete kesal karena Pemilik suara tersebut enggan menunjukkan diri.
"Aku tidak akan mengatakan yang kedua kalinya. Jadi dengarkan baik-baik! Aku juga tidak akan menjawab pertanyaanku. Jadi jika ada pertanyaan, silahkan dijawab sendiri."
"Keluarlah, sialan!"
"Pada jaman dahulu sebelum dunia dibelah, tombak ini milik kaisar langit pertama. Namun disaat terjadi kudeta, tombak ini jatuh ke tanganku."
Pete terbelalak. "Jadi kau Paus?"
"Akan tetapi, aku sendiri kemudian dikudeta oleh Thanos, yang mengakibatkan kematianku."
Pete mengernyit. "Kau mengapa curhat kepadaku? Dan sebenarnya siapa Thanos?"
Alih alih menjawab, suara itu malah melanjutkan ucapannya.
"Demi menemukan pengganti, aku sengaja melakukan konstelasi antara roh tombak dengan naga bodoh, berharap penggantinya adalah seseorang yang pintar."
Pete kesal. "Jawab dulu pertanyaanku, sialan!"
"Aku pun menamakan naga itu Pedestal. Jika naga itu berhasil dikalahkan, maka dirinya lah yang berhak atas kepemilikan Tombak Dewa ini."
"Haahhh, kau tidak mau menjawab pertanyaanku?"
Pemilik suara terus mengucapkan sesuatu yang tertulis di gulungan tersebut. Ya, semua yang suara misterius itu katakan juga tertulis di gulungan tersebut.
"Sekarang apakah kau menemukan pertanyaan seperti bagaimana dunia dulu, siapa kaisar langit, siapa Thanos, kau harus mencari jawabannya sendiri. Lagipula aku hanyalah arwah Yinling yang sama sekali tidak memiliki kesadaran, sehingga yang aku ucapkan semua sudah disetting sejak lama."
Pete terdiam. Dirinya merasa telah berucap begitu konyol dan menanyakan pertanyaan yang tidak akan mungkin bisa dijawabnya.
Tiba-tiba, Dimensi tersebut memudar, kemudian muncul sinar yang begitu menyilaukan. Ketika Pete mulai membuka matanya kembali, dirinya terkejut. Itu mimpi lagi?
"Aku kira tombakmu adalah milik Paus, ternyata adalah milik kaisar langit pertama."
Pete menoleh dan mendapati Chang'e menatapnya.
__ADS_1
"Aku mengira kau adalah jiwa para dewa yang terpecah, namun rupanya bukan."
"Apa maksudmu, Dewi ?"
"Tidak hanya dirimu, aku pun juga masuk ke dimensi kekuatan tombak tersebut."
Pete mengernyit. "Jadi, itu bukan mimpi?"
"Sama sekali bukan."
"Sudah berapa lama aku di dimensi itu?"
Chang'e malah mengerutkan kening. "Kamu saja? Tidak-tidak. Kau seharusnya mengatakan kita, bukan aku. Kau harus tahu, aku juga ada disana tanpa kau sadari."
"Oke-oke! Lalu sudah berapa lama kita di dimensi itu?"
"Aku sendiri ikut ke dimensi itu, jadi mana saya tahu, kok tanya saya?"
Pete mulai merasa kesal. Dalam benaknya Pete berucap, 'menyabit kepala seorang dewi menyebalkan, dosanya sebesar apa, ya?'
Namun Pete teringat kembali taruhannya sewaktu di dimensi tempat Pedestal, yang membuatnya mulai tersenyum misterius.
Chang'e mendadak merasakan ada yang janggal dengan senyuman Pete. Dirinya kembali mengingat senyuman Pete yang seperti itu pasti ada maksudnya.
"Apa yang kau lakukan, Pete? Aku bukan boneka!" ucap Chang'e mengingat Pete pernah memainkan tubuh fisiknya seperti boneka di dimensi Pedestal waktu itu.
"Ukuran tubuhmu mulai semakin besar saja, Dewi," ucap Pete berbasa-basi.
Chang'e mulai berkeringat dingin. "Apa yang kau pikirkan, Pete?"
"Hmm, dewi tidak pura-pura lupa kan, tentang taruhan kita?" tanya Pete langsung ke intinya.
Mata Chang'e membola, mengingat hukuman konyol yang Pete pertaruhkan.
"Ah, hahaha! Mana mungkin aku lupa. Oh ya, aku akan memanggilku dewa deh mulai sekarang."
"Tidak perlu sih. Itu hanya hukuman tambahan, dan karena aku berbaik hati, itu tidak akan aku bebankan. Akan tetapi, kita ke hukuman intinya. Mau aku cangkul dengan Rusty Hoe, atau aku lalu dengan Battle Hammer?"
"Dewa Pete, bukankah itu terlalu kejam untuk seorang dewi manis seperti aku?" bujuk Chang'e konyol.
"Taruhan tetaplah taruhan. Siapa suruh bertaruh kepadaku?"
"Ayolah Dewa Pete, kalau kau mengiklaskannya, aku akan mendewakan dirimu seumur hidup."
__ADS_1
Pete berfikir sejenak. "Tidak ada negosiasi loh!"
Chang'e kesal. "Dasar kejam! Apakah kau tahu seberapa besar dosanya jika menyakitiku?"
"Tetapi ini taruhan. Seharusnya kau protes dulu sebelum menyetujuinya tadi. Hehehe, bagaimana kalau aku pilih kan hukumannya?" ucap Pete membela diri.
"Kau kejam!"
Pete tidak bisa tahan dengan sikap Chang'e yang begitu lucu saat ngambek. Ingin sekali dirinya mencubit pipinya itu. Pada akhirnya Pete mulai tertawa konyol.
"Kau kan dewi? Bukankah rasanya tidak terlalu menyakitkan dicangkul pakai Rusty Hoe?"
"Tidak sakit? Tetapi itu memalukan! Bagaimana jika para dewa lain tahu, mau dibawa ke mana mukaku saat aku bertemu mereka? Kau begitu kejam sampai melukai perasaan gadis lembut sepertiku."
"Gadis lembut? Kamu? Ukuranmu saja lebih kecil dari bayi manusia, bagaimana bisa kau mengatakan dirimu seorang gadis? Dan juga kau berkali-kali mengataiku, memukulku, dan bahkan menjahili diriku. Apakah itu disebut lembut? Belajar di mana, adik?" tanya Pete mengejek.
"Adik, kepalamu! Umurku bahkan ratusan kali lipat dibandingkan dirimu. Jangan kau membuatku tidak akan pernah memaafkan dirimu karena melukai martabatku sebagai seorang dewi bulan dulunya."
Pete tersenyum. "Ya, deh! Taruhannya kita batalkan saja."
"Kau benar. Sebaiknya taruhannya dibatalkan ..." Dewi Chang'e tiba-tiba tersadar yang kemudian terbelalak mendengarnya. "Kau membatalkannya begitu saja?"
"Untuk apa kita meneruskannya? Lupakan saja."
"Oh? Kalau begitu terima kasih!"
Pete kemudian melepas Dewi Chang'e yang sebelimnya dirinya pegang seperti boneka, kemudian menatap jendela. Aura kesedihan mulai terasa di wajah Pete.
Chang'e menepuk jidat, tidak dia sangka dirinya kembali mengungkit hubungan Pete dengan Dia yang begitu buruk.
Di dalam benak, Dewi Chang'e mengumpat, 'sialan! Kau benar-benar dewi yang begitu bodoh! Padahal tadi Pete sudah terlihat begitu tersenyum, bisa-biasanya dirimu merusaknya.'
"Pete?"
Pete menoleh ke arah Chang'e yang berdiri tepat di atas kepalanya, lebih tepatnya di hadapannya. Ingat, Pete masih harus berbaring. "Aku mengerti, apa yang kau rasakan sekarang, namun aku masih ada disini untukmu. Curahkan perasaanmu kepadaku, Pete. Bebanmu, tidak akan mampu kau tahan sendirian dalam waktu yang lama."
"Haaahhh, sepertinya memang sulit untuk menyembunyikan sesuatu darimu. Sepertinya aku sudah tidak memiliki privasi lagi."
"Aku siap untuk menjadi temanmu dalam membagi masalahmu. Kau harus tahu aku siap untuk menjadi bagian dari hidupmu seperti Dia. Bahkan aku bersedia menjadi pengganti dirinya untukmu. Menjadi kekasihmu pun, aku bersedia"
"Kalau begitu, terima kasih atas semuanya."
"Dengan syarat, kau harus kembali seperti dulu lagi, yang penuh dengan aura kebahagiaan."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...