
Aurelia terlihat begitu menghayati ucapan dari Pete yang menceritakan segalanya yang dirinya tahu dan pahami soal kejadian kudeta di langit yang tidak dijelaskan di fiksi manapun.
Aurelia mendadak berdiri. Dirinya tahu, Pete tidak berbohong dalam menceritakannya. Biarawati tersebut mulai pergi ke sebuah danau di hadapannya.
...Sacred Valley: awal perjalanan kultivator....
...Episode 132. menghadapi Aquaticus ...
'
"Besok pagi, kita harus berada di pulau sana. Kau akan tahu lebih banyak nantinya, soal misteri Privera yang sesungguhnya," ucapnya serius.
"Oh, itu berarti aku hanya perlu tidur saja malam ini." Pete menghela nafas kemudian berbaring. Tidak berselang lama, dirinya tertidur pulas. Aurelia memutar bola matanya begitu malas. Pete tidur seperti orang mati, hampir tidak bernafas.
Alasannya adalah Jiwa Pete tengah berada di dalam Changseng Jue, karena Chang'e menarik jiwanya secara paksa.
"Apa yang kau katakan tadi, bodoh! Beruntunglah karena biarawati itu tidak mengatakan apapun yang menyiratkan kutukan untukmu."
"Aku tidak tahu banyak mengenai biarawati, jadi mana aku tahu soal itu?"
Aurelia mencoba memeriksa denyut nadi di tangannya, namun segera matanya membola. Jiwa Pete melemah? Aurelia langsung menembakkan energi Buddhis miliknya untuk memperkuat kembali jiwanya yang begitu lemah.
Namun, apa daya? Energi itu malah diserap oleh Changseng Jue. "Ini bukan karena kutukan, bukan? Padahal aku belum mengatakan apa-apa."
Chang'e terkaget karena energi Buddhis tiba-tiba masuk ke dalam dimensi tersebut, membuatnya harus mengembalikan jiwa Pete, kembali ke tubuhnya.
Mendadak jiwanya di tubuh Pete menguat kembali namun tidak stabil, membuat Aurelia menghela nafas lega. Namun dirinya begitu bingung, sebenarnya apa yang terjadi tadi?
"Sudahlah, Pete memang unik. Mungkin hanya sesuatu yang bersifat kebetulan saja."
Keesokan harinya, Pete diguyur air dingin yang membuat dirinya segera terbangun. Terlihat Aurelia tampak kesal. Astaga, cara membangunkan yang begitu luar biasa sekali.
"Ada apa?" tanya Pete terheran, walaupun di dalam hatinya sedikit dongkol.
"Matahari akan segera terbit, kita harus pergi ke sana. Sebelum matahari mulai muncul, kita harus segera sampai disana, jika tidak-"
Aurelia kembali dikagetkan dengan tingkah Pete yang dengan cepat meraih tubuhnya. Dan di punggung Pete telah ada sayap semuanya, langsung terbang ke pulau itu begitu cepat dan sampai dalam waktu yang tidak begitu lama, hanya setengah menit.
Terdapat pintu gerbang di sebuah dinding yang terbuka, Aurelia segera meminta Pete untuk masuk, dan Pete menurutinya.
Di dalam ternyata terdapat sebuah dimensi aneh. "Ini, dimensi apa lagi?" tanya Pete terheran.
"Kita telah berada di dimensi Dragon Cave. Kau pasti pernah mendengarnya, bukan?" tanya Aurelia.
__ADS_1
Pete mengerutkan keningnya, sama sekali tidak mengetahui hal ini. "Kenapa aku baru mendengarnya?"
Aurelia yang masih digendong Pete malah memutar bola matanya malas. "Kau tidak mengetahuinya? Padahal salah satu buku Fiksi menyinggungnya."
Pete langsung menatap Aurelia kesal. "Jangan samakan aku dengan kakak seperguruanku yang tertua. Aku bukanlah maniak Fiksi seperti dirinya."
Aurelia terdiam sejenak, mulai merasa janggal. Bagaimana bisa Pete tahu segalanya jika ternyata Pete sangat membenci buku Fiksi?
"Lanjutkan perjalanan, maju sejauh tiga puluh kilometer ke depan, belok kiri ke kiri sejauh Tujuh belas kilometer. Sampai kita menemukan Goa lagi," ucap Aurelia memberikan perintah.
"Lalu kau tidak akan turun?" tanya Pete yang malah membuat keluar urat kepala Aurelia.
"Jangan banyak tanya! Ikuti perintahnya, itu saja."
Tidak butuh waktu lama bagi Pete untuk tiba di depan sebuah Goa yang di maksud. Terlihat Aurelia menghela nafasnya, kemudian turun dari gendongan Pete.
Segera Biarawati tersebut masuk, sambil menarik tangan Pete untuk ikut ke dalam. Ternyata, terdapat Chester, kakaknya dalam kondisi terkurung semacam kekuatan seperti Genta.
"Kakak!" Kata Aurelia sembari pergi mendekatinya. Mendadak seekor Naga terlihat menghalangi dirinya.
Pete yang melihatnya mulai mencerna situasi yang terjadi di sini. "Ayah, sampai kapan mengurung Kakakku disini?" tanya Aurelia sembari menangis tersendu.
Mata Pete membola, Aurelia memanggil naga itu dengan sebutan ayah? "Putriku, kau harus tahu betapa besarnya dosa yang telah dilakukannya."
Pete maju, mencoba menengahi. "Maaf jika aku ikut campur, akan tetapi sebaiknya-"
"Bocah Atheis seperti dirimu tidak berhak bicara di sini! Dan pula siapa kau dan berani sekali kau masuk kemari bersama Putriku!"
Pete merasa gusar, namun Aurelia menyahut, "Pete datang kemari bersamaku, ayah. Dirinya itu adalah temanku."
Naga tersebut mendengus, "berani sekali kau membawa lelaki ini masuk ke mari. Kah harus dihukum!"
Mendadak Aurelia juga terkurung di kurungan Genta itu. Pete merasa begitu gusar bukan main, melihat Aurelia tengah mengetuk-ngetuk kurungan tersebut.
"Kau mengurung Putrimu sendiri semudah itu? Tidak punya perasaan sama sekali!" ucap Pete mencibir.
"Enyahlah kau dari sini!"
Pete menatap Aurelia yang tengah melakukan hal yang sama. "Lepaskan dahulu mereka berdua, baru aku akan pergi."
Naga tersebut mengangguk mengerti, mendadak menciptakan kurungan yang sangat luas, mengurung mereka berdua.
"Sepertinya aku harus memberitahukan, bagaimana rasanya terbunuh oleh kekuatan Buddhis! Aku, Aquaticus akan membunuhmu!"
__ADS_1
Mata Pete membola, tidak menyangka bahwa dirinya telah memprovokasi Naga tersebut. Namun Pete mulai bersiap, kekuatan jiwa Skelefang dikerahkan, dan Pedang misterius juga digunakan.
Pete langsung membiarkan dirinya terbalut aura pembunuh yang kental, bermaksud memaksimalkan kemampuan serangannya. Kemudian maju duluan menyerang.
Naga tersebut malah menciptakan topan yang membuat Pete terperangkap dalam pusaran topan. Mendadak sebuah semburan dilepaskan, namun Pete menggunakan kekuatannya untuk menciptakan pelindung.
"Tidak aku sangka, rupanya kau begitu kuat juga."
Kekuatan tersebut kembali membentuk kerucut untuk menyerang balik. Tidak disangka, pelindung pada Naga tersebut terlalu kuat.
Pete mengumpulkan energi di Pedang, kemudian melesatkannnya ke Naga tersebut. Tetap saja, Efeknya tidak ada.
'Pete, gunakan tombak Pedestal, dan aku akan memberikan tambahan energi Surgawi untuk menghadapinya.'
Pete mengangguk tanda mengerti. Kemudian senjata tombak kaisar dikeluarkan dan kekuatan Surgawi langsung menyelimuti.
Naga tersebut mendadak tertegun sejenak. Pete kemudian malah bersatu dengan kekuatannya dan menjadi seekor Naga.
Tombak tersebut mendadak memperkuat Naga ini dan ditambah kekuatan Surgawi, Naga semu ini menjadi seperti naga kaisar.
Pete benar-benar menjadi Naga kaisar, kemudian menyerang Naga Aquaticus. Perbedaan kekuatannya menjadi semakin kecil.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Naga tersebut mulai merasa begitu kesulitan saat beradu dengan Pete dalam mode Naga kaisar.
Pete tidak menjawab,melainkan langsung membuka mulutnya, mulai mengumpulkan energi di mulut dan akhirnya menyemburkan tembakan kuat yang bahkan membuat Naga tersebut langsung menghilang, bukan terbunuh melainkan melarikan diri.
Pete kemudian melakukan hal yang sama ke arah kurungan berwujud Genta tersebut, membuat mereka berdua bebas dari kurungan tersebut.
Aurelia dan Chester langsung saling berpelukan satu sama lain, saling merasa begitu rindu. Pete segera mengubah mode menjadi sediakala.
'Cobalah kau lihatlah di sana, aku merasa Patung itu terlihat Familiar.'
Pete segera mendekati Patung yang terlihat berbagai sisinya lecet. 'Patung ini adalah sang dewi Panen yang dibekukan oleh Kaisar langit. Sekarang, cobalah keluarkan cermin segi enam Hunyuan milikmu."
Pete masih menuruti, mendadak cermin tersebut menembakkan cahayanya menyinari Patung tersebut yang kemudian malah hancur.
Chester langsung mendekati Pete, seketika langsung Shock. Aurelia juga tidak kalah Shock. "Pete, mengapa kau menghancurkan patungnya?"
"Tidak. Kalian jangan memarahi utusan Dewa." Mendadak, Naga itu kembali.
"Ada apa lagi hingga kau datang lagi kemari?" kata Pete gusar.
Aurelia malah ikut nerasa gusar."Pete, jaga ucapanmu! Kau-"
__ADS_1
"Jangan mengutuk utusan Dewa, putriku. Berbahaya"