Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 114


__ADS_3

Masih di masa lalu mereka berempat, Pete mulai dipengaruhi Collete yang memang menjadi sumber kenakalan Pete.


Raven berupaya untuk mengatur tingkah Pete  dengan berupaya mencekoki berbagai nasihat dan larangan. Hal yang sangat tidak Raven duga adalah  Pete sedemikian penurut sehingga mudah diatur.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 114. Dia mampu melihat Chang'e ...


Pete dapat menerima apapun yang diminta Raven, namun juga mudah diajak Collete untuk berbuat berbagai kenakalan. Pendirian Pete sangatlah tidak tetap seperti air, mudah diarahkan sana sini seperti tanah liat.


Pernah kali, Collete menawarkan permainan gila. Mereka ingin bermain acara pernikahan, yang setelah suit, Pete dan Raven yang terpilih melakoni pasangannya sementara yang lainnya melakoni pendeta nya.


Di dalam permainan gila tersebut, Pete dan Raven telah mengucapkan kalimat sumpah  pernikahan  atas nama langit dan bumi, walaupun itu hanya permainan belaka.


Mendadak setelah pengucapan sumpah tersebut, langit langsung menjadi mendung, hujan mulai turun begitu bergerimis tanpa adanya guntur mengguyur mereka, dan  liontin jam merespons tanpa ada yang menyadari.  


Karena mereka berdua telah bersumpah di atas langit dan bumi, dunia pun sudah mengganggap mereka telah menikah. Bahkan, foto mereka berdua di liontin tersebut tidak dapat dilepas sama sekali sampai saat ini.


Dengan  demikian, D unia menganggap Dia bukanlah kekasih pertama Pete, melainkan Raven yang telah diakui oleh dunia. Pete dan Raven seolah-olah menjadi sepasang kekasih saat berjalan bersama jika dilihat dari jauh


Namun, kejadian di waktu itu mengubah segalanya. Sama seperti Raven, Pete sangat menyayangi sahabatnya dan sangat tidak ingin berpisah kapanpun. 


Setelah kejadian tersebut, Pete menjadi paling trauma dan sangat sulit dikendalikan, membuat mereka semua dengan terpaksa membekukan sebagian besar ingatannya dengan bantuan Marjorie.


Berbagai kemampuan Pete juga ikut membeku membuat dirinya menjadi lelaki yang tidak mengingat kemampuannya sama sekali, padahal sebenarnya Pete memilikinya.


Raven pun kembali seperti dulu, merasa dirinyalah sumber penyebab kematian Collete dan Rusk (yang sebenarnya mereka berdua belum mati),  dan Pete menjadi begitu Pendiam.


Pete tidak lagi memiliki kenakalan seperti dulu, yang ada hanyalah pendiam. Raven juga menjauhi dirinya dengan ketakutannya kehilangan Pete yang telah menjadi sahabatnya yang tersisa .


Namun, Pete malah menjadi orang yang paling pertama menolong Raven dalam bantuan bentuk apapun dikala  setiap dirinya dalam kondisi dan situasi yang sangat tidak mendukung.


Jangan lupa saat serangan Racoon, saat itu Raven dengan cepat membawa lari May yang tengah pingsan. Mendadak seekor monster tersebut muncul dan hendak memukulnya.


Namun entah muncul dari asal mana, Pete sudah berada di sisinya, mendorong dirinya agar terlempar ke tempat yang aman sekaligus menggantikan posisinya yang membuat Pete terluka sedemikian parah.


Raven memang begitu menjauhi Pete di depannya. Namun di belakangnya, Raven sebenarnya terus memantau pergerakan Pete. Setelah mulai beranjak remaja, Raven menyadari, bagaimana pun dirinya berusaha menjauhi Pete, lelaki itu tidak akan pernah bisa dirinya jauhi.

__ADS_1


Kembali dari masa lalu, Raven tersenyum. Rupanya dirinya masih dapat mengamankan dirinya, berkat Pete yang mengatakan bahwa itu kepada Dia dan diteruskan kepada masternya.


----


Sementara itu, Dia membawa Pete kemanapun yang dirinya inginkan. Bagaimana pun, mereka berdua akan mulai berpisah dalam waktu yang lama dan Dia merasa dirinya pasti akan merindukan tunangannya itu.


Mengingat kesepakatan yang mereka bertiga buat, membuat Dia menghela nafas pelan. Pete, Raven dan Alice telah menjadi orang yang terpilih untuk menentang langit, sementara dirinya?


 Dirinya merasa begitu beruntung saja telah berhasil memasuki kehidupan Pete dan bahkan memiliki status yang mengikat, yang diakui seluruh keluarga di dunia.


"Kakak pertama, sebenarnya kita hendak kemana?" tanya Pete heran. Sejak tadi dirinya disetel kesana kemari tanpa tujuan yang begitu jelas.


Dia menatap Pete sambil tersenyum. "Kemana pun yang aku inginkan." 


Pete menghela nafas begitu pelan. Jikalau sudah seperti ini, maka sudah begitu sulit untuknya untuk melepaskan diri.


Dia benar-benar membawa Pete kemana pun yang dirinya inginkan, bermaksud menghabiskan waktunya untuk menikmati kebersamaan dengan Pete.


Akhirnya mereka terhenti di sebuah bukit tandus tempat mereka bertiga bersepakat sebelumnya. Dia menatap Pete begitu lekat, mengelus pipinya dengan kedua tangannya, kemudian memeluknya begitu erat.


"Apakah ada sesuatu yang ingin kau ucapkan?" tanya Pete.


Dia segera melepaskan diri dari pelukannya, kemudian menatap Pete begitu lekat. "Permintaanku hanya satu, tolong jaga perasaanmu untukku dan kedua calon kekasihmu yang lainnya."


Di dalam benaknya, Pete menghela nafas pelan, merasa membawa mereka bertiga untuk dipertemukan adalah sebuah keputusan yang berakhir dengan begitu buruk. Memiliki seorang saja sudah membuat Pete merasa terkekang, apalagi tiga?


"Jangan khawatir, aku pasti akan selalu menjaga perasaanku untukmu."


"Untukku saja?" tanya Dia yang membuat Pete memutar bola matanya begitu malas. Dirinya benar-benar merasa begitu konyol. "Jangan melupakan perasaan mereka juga. Terutama istri masa kecilmu itu." 


Pete terbelalak mendengarnya. Istri masa kecil? "Itu hanyalah main-main. Jangan dibawa serius."


Dia menghela nafas pelan. Sepertinya Pete sebenarnya tidak begitu setuju dengan apa yang mereka bertiga sepakati, karena itu diluar pendapat Pete juga.


"Terserahlah. Tetapi, kau harus menuruti keinginanku."


Pete langsung membanting topik."kakak pertama, aku tidak mengerti. Sebenarnya, mengapa kita begitu dilahirkan dengan cara yang berbeda?"

__ADS_1


 Dia mengerutkan keningnya. "Maksudnya?"


Pete menghela nafas pelan, kemudian nenatap Dia. Kau tahu, sebenarnya kau berasal dari kondensasi potongan jiwa para dewa dewi yang terpecah sedemikian kecil, sementara auranya terlepas dan malah dibawa olehku. 


Jika kita menikah, secara langsung atau tidak langsung, aura ini akan menyatu denganmu dan membuat kaisar langit mengetahui keberadaan kita. Apakah ini kebetulan?"


"Tetapi kai telah memangsaku sebelumnya, mengapa auranya tidak langsung berpindah?"


"Itu karena jiwamu sendiri yang menolaknya. Selama kita belum memiliki status kekasih yang telah diakui langit dan bumi, jiwamu akan menolak apapun yang datang kepadamu, termasuk aura ini."


Dia mengerutkan keningnya, jiwanya sendiri memiliki perasaan? "Kau sendiri tahu dari mana?"


'Dari aku.'


Dia mendadak terbelalak, kemudian segera mengucek matanya. Mendadak seorang jiwa kecil seukuran boneka yang keluar dari Changseng Jue yang kemudian hinggap dan terduduk di bahu Pete.


Seketika dirinya teringat cerita fiksi  yang dirinya baca, menceritakan Guanshan dan sang dewi bulan yang kesepian. "Apakah kau dewi bulan?"


Pete ikut terbelalak mendengar apa yang gadis itu katakan. "Kau dapat melihatnya?"


"Aku Chang'e, sang dewi dari istana Guanshan. Kau dapat melihatku karena kau dan Dia telah terhubung begitu kuat saat ini."


"Jadi, adik termuda begitu berpengetahuan hanya karena ini?" tanya Dia yang mulai menatap Pete dengan sorot mata yang begitu mengejek.


Pete mulai memutar bola matanya malas, merasa Dia telah memandang dirinya sedemikian rendah. Chang'e pun tertawa, merasa mereka berdua akan berdebat kembali.


Dia langsung meledek. "Aku kira, adik termuda memang pintar seperti orang berpengetahuan. Rupa hanya orang bodoh yang memiliki seorang guru berpengalaman di belakangnya."


Pete merasa tidak terima."Itu tidak benar! Aku memang sedikit pintar, bahkan aku memahami tekhnik Gladiator sebelum roh ini hadir di tubuhku."


"Lalu aku harus percaya bahwa saat masih di dalam kandungan Ibu mu, kau sudah bisa mengeja kata, baru lahir sudah bisa membaca dan akhirnya kau menjadi lelaki paling jenius yang pernah ada?" tanya Dia yang masih teringat apa yang pernah Pete katakan.


Namun, Pete malah berpura-pura lupa. "Perasaan, aku tidak pernah mengatakan itu. Kau jangan mengada-ngada!"


Pada akhinya, Mereka memang kembali berdebat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2