
Masih di arena, Pete dan Dia terlihat mengadu senjata sebagai serangan terakhir. Melihatnya membuat mata Xiao Fu membola. Pasalnya, Dia yang sudah menggunakan energi penuh jiwa murni dan Selendang pusaka milik Dewi Chang'e pun masih belum cukup menghadapi Pete dengan hanya mengandalkan Tombak tersebut.
Namun, Tubuh Pete ternyata tidak kuat menghadapi reaksi Tombak kaisar, sehingga Pete akhirnya kalah dari peraduan tersebut dengan telak.
...Sacred Valley:titik awal kultivator...
...Episode 83. pertarungan berakhir ...
Pete terpental sembari menyemburkan begitu banyak darah, matanya mulai terpejam dan senjata tombaknya terlepas dari pegangan tangannya, yang entah mengapa membuat Dia begitu puas.
Namun, Dia segera membelit tubuh Pete dengan selendang hijau miliknya dan segera menarik ke pelukannya. "Maafkan aku, adik termuda," ucapnya.
Pete ternyata telah tidak sadarkan diri setelah kekalahannya dalam adu senjata tersebut, sehingga dirinya tidak mampu menjawab. Semuanya segera mendekati mereka berdua.
"Dia, kak Pete baik-baik saja?" tanya Xiao Chi begitu cemas dan kesal. Cemas karena Pete telah terluka dan kesal karena Dia begitu tega melakukannya.
"Adik termuda mengalami luka dalam. Akan tetapi dengan Changseng Jue, seharusnya bukanlah masalah." Dia mengelus kepala Pete, merasa begitu senang karena sejatinya Pete telah berkembang sejauh itu.
Namun ketika melihat tombak tersebut, ekspresi Dia langsung berubah menjadi tersenyum remeh. 'Hehe! Aku kira kau masih bisa terus menempel di pegangan adik termuda-ku sehingga terus membuatku cemburu. Akhirnya aku bisa menyingkirkanmu dari Pete, dan akan aku singkirkan bayanganmu dari hati Pete sedikit demi sedikit.' ucapnya dalam batin.
Dia memang begitu kesal karena Pete menggunakan senjata tersebut yang dirinya kira adalah senjata pemberian Raven yang dirinya anggap saingan terbesarnya untuk mendapatkan hati Pete. Apalagi, mengetahui Raven juga ingin Pete membuka hatinya untuk dirinya juga membuat Dia begitu kesal setengah mati.
Mungkin obsesinya terhadap Pete begitu besar sehingga dirinya ingin menebas siapapun yang ingin menghalanginya dan hendak meraih Pete duluan. Menurutnya, Pete telah menjadi hak miliknya setelah apa yang telah mereka lalui.
Oleh karena itulah, mengapa Dia begitu ingin mematahkan tombak tersebut. Meskipun obsesinya terhadap Pete begitu besar, namun tidak masuk akal jika Dia cemburu hanya karena Pete menggunakan senjata yang dirinya kira pemberian Raven.
----
Kembali ke ruangan perawatan, Kuruna melakukan pengobatan terhadap Pete dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak? Sudah cukup lama dirinya bersusah payah mengobati luka Pete sejak ketika ditemukan di Hutan Oddward. Baru sembuh malah diculik Monster dan berakhir terluka lagi. Tadi pagi sudah sembuh, lah ini baru lima jam, sudah terluka lagi.
Namun sebagai seorang pemimpin Univir, dirinya harus lebih bersabar. Apalagi lima hari lagi, dirinya akan menikahi Zaid, tentu kesabarannya harus berlipat ganda karena istiadat Univir, marah-marah saat lima hari menjelang pernikahan, maka pernikahan tersebut dianggap tidak harmonis dan harus dibatalkan.
__ADS_1
Dirinya sudah menunggu selama empat tahun untuk mendapatkan kesempatan dilamar Zaid, tidak mungkin dirinya melewatkan kesempatan itu hanya karena marah-marah, dirinya gagal menikah dengan Zaid yang selama ini dirinya sukai dan telah diuji tingkahnya.
Jika seandainya dirinya tidak berada di posisi tersebut, pasti telinga Dia sudah panas kena semburan rohani karena sebab utama Pete terluka adalah dirinya.
Sementara itu, Dia sendiri tengah duduk di dekatnya. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika Kuruna benar-benar tidak berada di posisi tersebut.
"Dia Finch, aku tidak mengerti. Mengapa kau melakukan ini kepada Micah?"
"Ah ..." Dia tidak mampu menjawab. Bagaimana pun, dirinya begitu malu untuk menjawab pertanyaan Kuruna
"Apa kau memang berniat menyakiti Pete terus menerus sampai kau mencelakainya hampir tiga kali dalam dua minggu ini? Pertama kau sakiti perasaan Pete hingga dirinya nekat melawan Devil Ghost Tree seorang diri. Kedua, kau malah meninggalkannya begitu saja sehingga diculik oleh Pedestal, padahal kau sudah diminta
untuk menjaga dan mengawasi Pete dari dalam. Dan sekarang kau bahkan melukai Pete sampai seperti ini.
Jika kau membencinya sampai ingin dirinya tidak ada lagi di sisimu, bukan seperti ini caranya. Lebih baik bunuh saja sekalian. Kalau kau tidak punya nyali, biar aku yang membunuhnya tanpa sungkan.
Kebetulan, aku sebenarnya ingin membunuh seseorang karena begitu jengkel," ucap Kuruna, berusaha berucap sedemikian halus dengan senyuman yang dibuat-buat. Padahal di dalam benaknya, emosinya meledak-ledak.
Kuruna menghela nafas pelan. "Sebenarnya mengapa kau melakukan itu? Aku harap kau mengatakan yang sejujurnya."
Dia menunduk. "Sebenarnya aku begitu cemburu dengan Pete. Aku pernah memberikan teratai es untuk dirinya gunakan, namun dirinya tidak pernah menggunakannya, sementara Pete dengan mudahnya menggunakan tombak pemberian Raven.
Itu membuatku begitu kesal karena secara tidak langsung, Pete telah memilih Raven yang jelas-jelas dirinya tidak pernah dipedulikan oleh gadis pendiam tersebut daripada diriku yang telah begitu bersua bersama dalam waktu setahun lamanya.
Oleh karena itulah, aku menyerangnya sedemikian rupa untuk menyingkirkan tombak tersebut dari tangan Pete, bahkan ingin sekali aku mematahkan tombak tersebut menjadi dua."
"Ceritanya kau cemburu?" tanya Kuruna terheran. Dirinya sama sekali tidak menduga dengan alasannya Dia menghajar Pete, hanya karena Pete lebih memilih menggunakan tombak pemberian Raven daripada teratai es pemberian Dia?
"Aku, benar-benar cemburu."
----
__ADS_1
Sementara itu, jiwa Pete tengah melayang di dimensi Changseng Jue miliknya. Tampak juga Dewi Chang'e yang secara mengejutkan seukuran dirinya, berbeda sekali dengan di luar sana yang malah seukuran miniatur boneka kayu kecil.
Mata Pete membola. "Dewi, ukuranmu?"
Chang'e menatap Pete, kemudian melirik tubuhnya. "Kau terkejut karena ukuranku? Tidak perlu heran. Aku memang dapat membuat tubuhku mengecil dan membesar."
Pete hanya mengerutkan alisnya. "Lalu mengapa kau tetap berukuran sekecil itu di luar sana?"
Chang'e bergurau. "Jikalau aku seukuran ini diluar sana, mungkin aku tidak lagi bisa menjadikan bahumu sebagai singgasana tempat duduk milikku."
Pete mengerutkan kening sekaligus alisnya. "Memangnya aku apa? Sebuah tempat duduk?"
"Kalau kau seukuran ini di luar sana, kau mau aku digendong olehmu? Dengan senang hati aku akan seukuran ini di luar sana."
Mata Pete membola dan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. "Tidak-tidak! Lebih baik kau seukuran kecil saja. Kau ingin aku gendong? Apa kata orang nantinya saat melihatku?"
Chang'e tertawa sambil menutup mulutnya. Pete terlalu terlihat begitu lucu. "Pete, aku tidak menyangka pemikiranmu begitu jahil di balik sifat pendiam milikmu, walaupun dirimu begitu Plin-plan dan juga naif."
"Naif?" tanya Pete begitu heran.
"Kau seharusnya begitu tegas, apalagi sebagai lelaki seharusnya kau begitu peka dengan perasaan. Bahkan terhadap kakak pertama, kau terlihat begitu naif.
Terlihat jelas saat kau bertanding dengannya, seharusnya kau mengambil kesempatan emas dalam kesempatan dan menyerang Dia di beberapa kesempatan," jelas Chang'e benar-benar tepat sasaran.
"Itu ..." Pete tidak bisa berucap apapun lagi. Apa yang Dewi Chang'e itu memang benar adanya. Dirinya berfikir bahwa Dia begitu mudah terluka parah karena atribut fisiknya begitu lemah. Berbeda dengan dirinya yang telah begitu kuat. Apalagi Pete memiliki Changseng Jue yang dapat meregenerasi lukanya.
Chang'e terus menyebutkan faktanya dalam pertandingan tadi. "Kau begitu naif sehingga kau tidak pernah serius dalam bertarung sehingga Dia begitu marah kepada dirimu. Akan tetapi sebenarnya Dia murka karena kau menggunakan Tombak untuk menghadapinya."
Pete mengernyit, alisnya berkerut. "Murka karena aku menggunakan Tombak?"
"Aku tidak tahu apa maksudnya. Akan tetapi, sepertinya Dia begitu membenci tombakmu itu. Benar-benar aneh."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...