
Masih di rumah Univir tersebut, mereka masih tampak berkumpul.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 65. Transfusi darah....
"Bagaimana dengan keadaan lelaki itu? Aku dengar dirinya sudah siuman, apakah itu benar?" tanya Kuruna kepada Blaise
"Ya, lelaki itu sudah siuman." Bukan Blaise yang menjawab, melainkan Collete.
Mengingat keadaan terakhir Pete saat ditemukan membuat Kuruna menghela nafas begitu pelan. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi kepada lelaki itu. Meskipun begitu, rupanya nama Pete masih belum dicatat oleh Dewa Hades (kematian). Padahal, Pete sudah kehabisan darah."
"Aku tidak tahu pasti mengapa. Ini keajaiban!" ucap Blaise.
Mendengarnya membuat Dia berbisik kepada Xiao Chi. "Adik termuda curang. Dirinya memiliki Changseng Jue yang membuatnya mampu bertahan."
Xiao Chi langsung tertawa kecil di dalam diam. Bagaimana pun, apa yang Dia katakan memang benar.
Changseng Jue adalah pusaka yang paling istimewa. Benda ini memiliki kemampuan yang begitu beragam, seperti menyimpan energi spiritual yang berlebih, memberikan energi spiritual yang dibutuhkan mempengaruhi kecepatan regenerasi luka dan energi, membantu perkembangan di lokasi tiada energi spiritual, mengamankan jiwa tuannya, dan mempertahankan tubuh tuannya di saat kritis.
Karena keistimewaannya, Changseng Jue memiliki nama lain kristal roh darah, yang dapat menutrisi roh (kekuatan spiritual dan jiwa.) dan darah (tubuh fisik). Karena benda ini jugalah yang menjadi penyebab kematian ayah dan ibu Pete di Sacred Land, karena banyak orang sangat menginginkannya.
"Aku akan masuk. Sebaiknya kalian semua menunggu di luar." Kuruna bergerak pergi ke tempat Pete dirawat.
"Aku ikut!" teriak Zaid.
"Kau mau ngapain ikut ke sana, hah?!"
----
Sementara itu, Pete sedang berbaring, namun jiwanya sedang berkomunikasi dengan Sang dewi di alam bawah sadar.
"Apakah aku pantas menjadi seorang kultivator jika terus-menerus tergantung kepada Changseng Jue?"
"Tidak perlu dipikirkan. Itu wajar karenakau berada di situasi sulit dengan perkembangan yang begitu lemah."
"Jadi, aku harus lebih kuat lagi."
"Kau benar. Dengan tekhnik kultivasi rasi bintang Nebula tingkat lanjutan hanya meningkatkan sebagian kecil perkembanganmu. Namun, kau beruntung karena telah menyempurnakan atribut garis darah yang kau miliki."
"Percuma jika aku tidak bisa menggunakannya."
" Tubuhmu tidak kuat, Pete."
"Aku tahu. Aku harus segera meningkatkan fisikku."
"Ya, dan tinggal sedikit lagi kau bisa menggunakannya dengan aman. Tubuhmu sudah hampir mencapai tingkat tulang harimau buas."
"Rupanya aku akan segera mencapai tulang harimau buas? Sayang sekali aku sendiri tidak tahu."
"Ada yang datang. Kau segera sadarlah!"
Tiba-tiba pintu berderit dan terbuka. Tepat pada waktunya, Pete tersadar dari alam bawah sadar nya. Pete kemudian menoleh ke arah pintu dan mendapati Kuruna memasuki kamar Pete dirawat.
"Bagaimana dengan keadaanmu, Pete?"
"Sudah lebih baik dari sebelumnya. Tunggu dulu! Bagaimana kau bisa tahu namaku?"
"Collete yang memberitahuku."
__ADS_1
"Haahhh gadis itu dari dulu tidak pernah berubah."
Kuruna bergerak memeriksa beberapa titik nadi Pete, kemudian mengangguk.
"Kau masih kekurangan darah. Sebaiknya kau beristirahat dahulu sampai aku selesai merawatmu. Jangan kau berdiri dahulu, memang kau masih bisa bangkit dari tempat tidur, akan tetapi kau akan merasakan pusing berkunang-kunang."
"Baik. Aku akan ikut saranmu."
"Kau tahu, aku juga, maksudku semua anggota Univir yang tersisa mengalami nasib yang hampir sama sepertimu. Kau menjadi orang terparah dalam adu nasib dilukai Devil Ghost Tree."
"Jadi-"
"Aku senang karena kau berhasil membunuh Pohon itu, sehingga kami bebas beraktivitas tanpa merasa trauma lagi."
"Ah, aku hanya beruntung membunuhnya."
"Oh, ya. Aku rasa kau memang dilahirkan untuk membasmi raja monster di dunia ini."
"Maksud?"
"Aku tahu, kau telah menghancurkan Skelefang dan Cyclops. Sekarang Devil Ghost Tree pun ikut kau bunuh juga. Aku merasa kau memang dilahirkan untuk membasmi raja monster di dunia ini dan itu adalah buktinya."
'Padahal kau hanya tergantung kepada Changseng Jue.'
"Ah, hahaha!" Pete tertawa, bukan karena ucapan Kuruna. Melainkan cibiran Dewi yang membuatnya begitu ingin untuk tertawa.
"Kau mungkin tidak percaya, namun aku juga. Setiap orang memang dibekali pilihan takdir mereka masing-masing. Sudahlah. Aku akan keluar dahulu, mencari pendonor untukmu."
"Ummm ... siapa namamu? Uh ... maksudku, bagaimana caraku memanggilmu?"
"Kau aneh, Pete. Akan tetapi kau juga begitu sopan. Panggil saja aku Kuruna. Senang bertemu denganmu."
Kuruna berdiri dan mulai bergerak menjauh. "Sudah menjadi tugas semua orang untuk menyelamatkan nyawa orang baik sepertimu."
Kuruna kemudian keluar dari tempat itu dan menemui mereka semua yang menunggu kabar Pete darinya.
"Paman Blaise, apakah kau menemukan pendonor untuk Pete? Kita masih membutuhkan sebanyak 200 ml lagi," tanya Kuruna.
"Gadis itu, golongan darahnya begitu cocok dengan darah Pete!" ucap Rusk menunjuk Dia.
"Tidak-tidak! Aku rasa gadis itu tidak pantas!" kata Collete masih tetap dalam pendiriannya.
"Kau!" teriak Dia mulai lagi emosi.
"Kalian berdua, hentikan!" teriak Kuruna menengahi.
"Oh, Pete membutuhkan pendonor lagi? Apa jenis golongan darahnya?" tanya Evelyn.
"Antigen A , Antibodi B, Sistem Rh min..." ucap Rusk yang menyebutkan seluruh kualifikasi darah Pete, sampai ke gen milik Pete juga disebutkan.
Kuruna menghela nafas pelan. "Darah itu memang tipe langka. Saat ini sangat sulit menemukan darah tipe seperti itu. Lagipula tidak bisa sembarangan dalam melakukan transfusi."
"Oh, golongan darah ini tidak mirip dengan Sofia. Mengapa harus dengan Sofia saja?" tanya pria paruh baya gendut tersebut.
"Tidak. Aku rasa begitu buruk untuk melakukan transfusi darah. Aku tidak siap," ucap gadis ungu yang bernama Sofia sambil tersenyum.
"Berhentilah berkata Oposite (kebalikannya), kalian berdua!"
"Sofia, golongan darahmu begitu cocok dengan golongan darah Pete?" tanya Kuruna.
__ADS_1
Sofia tersenyum sambil berucap, "tidak."
"Aku mengerti."
"Kak Kuruna, maaf karena Sofia begitu berucap Oposite."
"Tidak perlu dikhawatirkan. Aku paham dengannya. Dan kau, ikut aku."
Semuanya terkejut karena Kuruna langsung menyeret Dia ke dalam ruangan tempat Pete dirawat. Bahkan Collete pun mengamuk ingin mengajar muka Dia sehingga Rusk susah payah menenangkannya.
"Jika kau berani menyentuh Pete sedikit saja, aku akan membuat tubuhku tercincang habis!" ancam Collete yang membuat Dia menatapnya.
Walaupun dirinya dalam keadaan diseret, Dia masih mampu mengulurkan lidah, mengejek Collete sehingga membuat Collete semakin mengamuk.
----
Dia memasuki ruangan dimana Pete dirawat. Pete juga menoleh ke arahnya. Mereka tidak menyangka ternyata takdir kembali mepertemukan mereka.
"..." Mereka berdua terdiam, tidak ada yang mau menyapa duluan.
Kuruna segera melakukan transfusi. Melihat bagaimana Pete dan Dia masih tampak memalingkan muka adalah pertanda hubungan mereka berdua masih belum membaik.
"Argh!"
Dia dan Pete mendadak meringis ketika tangan mereka tiba-tiba dilukai dan dimasuki selang. kemudian Darah Dia mulai mengalir melalui selang tersebut menuju Pete. Benar-benar cara transfusi darah yang ekstrim.
" Kalian berdua, bertahanlah. Ini tidak akan begitu lama."
Dirasa cukup, Selang dicabut. Luka mereka berdua juga dibalut dan buruknya, hanya ada satu ranjang disana sehingga Dia dibaringkan di ranjang yang sama.Bahkan Dirinya tepat samping Pete.
"Sayang sekali, fasilitas kami hanya segini. Semoga kalian memahaminya. Namun, kalian tidak boleh ada yang bergerak terlebih dahulu. Jangan bertindak macam-macam dan tetaplah di posisi seperti itu."
"Kami mengerti."
"Bagus kalau kau mau mengerti."
Kuruna berdiri dan mulai meracik obat. Sementara itu, Pete dan Dia saling memandang satu sama lain. Namun mereka malah saling memalingkan muka.
Mereka pun tiba-tiba saling menyapa. "Pete/Dia."
"Ada yang ingin kau katakan, kakak pertama?"
"Lupakan saja."
"Hah?"
"Mengapa kau memanggilku, adik termuda.?"
"Apakah kau yakin, aku tidak akan pernah mendapatkan maaf darimu?"
"Seharusnya kau sudah tahu."
"Sekali lagi aku ucapkan padamu. Maafkan aku karena telah menyakitimu."
"Kau seharusnya tahu apa jawabannya."
"..." Pete bungkam dibuatnya. Kemudian Pete menghela nafas pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1