Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 85


__ADS_3

Di Univir Settlement, mereka tampak tengah membangun kembali rumah yang telah dihancurkan. Dengan kekuatan yang dimiliki keluarga Evelyn ditambah bantuan dari keluarga Univir, para Elf berbagai ras, dan bantuan para Serigala putih, rumah berhasil dibangun kembali satu per satu dalam waktu singkat.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 85. Perasaan yang telah diketahui....


"Semuanya, mari kita beristirahat dahulu. Ini sudah waktunya untuk break time." Collete terlihat begitu bersemangat membawakan makanan


"Tidak perlu. Tinggal sedikit lagi, rumah yang terakhir ini akan terbangun sempurna. Jangan lupa lima hari lagi,  kak Kuruna akan segera menikah disini!" ucap Ordorus. Hatinya merasa begitu bahagia karena kakaknya akan segera menikah.


"Ordorus, kau begitu senang karena Kakakmu akan menikah. Seolah-olah dirimu yang akan menikah," ucap Rusk.


"Kebahagiaannya adalah kebahagiaannya juga," balasnya sehingga membuat mereka semua mendelik tajam


"Maksudnya kebahagiaan kita! Hehehe."


"Kau ini." Evelyn mengelap keringat Ordorus yang menimbulkan berbagai ledekan. "Evelyn, pinta Ordorus untuk melamarku segera. Kita bisa mengadakan pernikahannya dalam hari yang sama."


"Kalian semua, jangan membuatku malu!" teriak Evelyn sambil menyembunyikan mukanya di handuk yang dirinya bawa.


"Hahaha!" tawa mereka mengudara.


Sementara itu, kembali di dalam ruangan perawatan. Dia masih setia mengelus kepala Pete yang masih belum siuman. Kuruna mendekatinya dan menyentuh pundaknya pelan, membuat Dia terperanjat kaget dan segera menoleh.


"Ada apa, kak Kuruna?"


Kuruna tersenyum. Dirinya mendadak terlihat malu-malu kucing. "Aku ingin mengucapkan sesuatu kepadamu. Kau tahu, lima hari lagi aku akan menikah. Aku harap, kalian berdua menghadiri pestanya."


Dia ikut tersenyum. "Tentu saja kami berdua juga akan datang."


Kuruna mulai tersenyum misterius. "Hanya berdua?"


Dia mengerutkan alisnya melihat senyum aneh dari Kuruna. "Tidak hanya berdua, teman-teman ku juga akan datang,  kok!"


Kuruna mulai bertingkah seolah dirinya sedang menghilangkan serak di tenggorokannya. "Ekhem! Kenapa tidak sekalian saja kau dilamar oleh Pete? Kan pernikahannya bisa bersamaan dengan pernikahanku."

__ADS_1


Muka Dia mendadak mulai panas. Dirinya pun mulai mengibaskan tangannya, mencoba membanting topik. "Kak, cuacanya panas sekali, ya? Padahal masih musim Spring (semi)."


Kuruna mengerutkan kening, namun sebuah ledekan dirinya lontarkan. "Tidak, kok! Itu hanya karena pipimu memerah. Kau pasti begitu malu dengan ucapanku tadi. Ekhem! Kebetulan aku sudah membicarakannya dengan Mastermu, loh! Katanya dirinya mau menikahkanmu dengan Pete."


"Kakak! Jangan membuatku begitu malu!"


Kuruna mulai berucap dusta sedikit untuk menggoda Dia."Ekhem! Katanya kau akan dinikahkan dengan Pete dengan waktu yang sudah ditetapkan, loh!"


"Kapan, kak?" tanya Dia mendadak antusias sebentar dan membuat dirinya begitu keceplosan berucap.


Dia segera menutup mulutnya, dirinya menyadari Kuruna berbohong untuk mengelabuhinya dan sialnya dirinya termakan umpan. "Pffffttttt! Ketahuan kau memikirkannya, Dia! Kalau begitu, minta Pete untuk segera melamar dirimu."


"Kak Kuruna! Berani kau mengelabuiku, aku kebiri kau!" teriak Dia begitu kesal sekaligus malu, kemudian bergegas mengejar Kuruna yang telah berlari keluar lebih dulu. "Jangan lari, kak Kuruna. Kau harus aku cabik-cabik!"


Kuruna tertawa. "Kemarilah,  calon istri Pete kecil. Tangkap aku!"


"Calon istri kepalamu! Jangan lari, kau!"


Xiao Fu yang masih di dalam ruangan perawatan terlihat menghela nafas pelan, kemudian mengelus kepala Pete dan mencium keningnya. "Tidurlah dengan tenang, Putraku."


  Apakah kau bangga, sampai menangis terharu? Memang seharusnya begitu. Putramu, maksudku putra kita sudah begitu kuat, berani, perkasa, dan sedah mulai dewasa."


Xiao Fu kemudian mengelus kepala Pete terus menerus sampai pada akhirnya, Dia kembali dengan rawut sajak kesal dicampur merona.


 Xiao Fu ingin ikut meledeknya, namun diurungkan. "Ada apa, sampai mukamu memerah begitu padam seperti itu?"


Dia langsung berucap begitu penuh perasaan jengkel setengah mati. "Kak Kuruna tidak hanya meledekku, juga memancing orang lain untuk ikut-ikutan meledek diriku. Sialan, aku benar-benar terpancing oleh jebakannya."


Xiao Fu langsung menutup mulutnya, ingin sekali dirinya tertawa. "Itu karena kau terlalu cepat berucap sebelum berfikir. Jadi wajar."


"Master tidak meledekku juga, bukan?" tanya Dia begitu berharap, jawabannya tidak.


Tawa Xiao Fu yang selama ini dirinya tahan akhirnya meledak. "Jika aku meledekku, bisa-bisa aku harus berlari karena takut kau kebiri. Aku tahu siapa kau dan apa yang kau lakukan di dalam berbagai kondisi. Lagipula, aku sudah mengetahui perasaanmu sejak awal.


Aku rasa kau begitu berharga dalam hidup Pete, dengan bukti dirinya selalu penurut, entah apa yang sebenarnya kau lakukan dan katakan kepada dirinya sehingga Pete malah seperti itu.

__ADS_1


Kau tahu, kau berhasil memasuki hati Pete. Maksudnya, kau berhasil membuat Pete menyadari perasaannya terhadapmu tidak sebatas teman biasa. Jadi aku ucapkan selamat untukmu."


Mata Dia membola. "Aku, berhasil? Jadi selama ini Pete, maksudku adik termuda sudah-"


Xiao Fu menghela nafas. "Pete sebenarnya memiliki perasaan kepada dirimu, hanya saja perasaannya terhadap Raven juga masih ada. Jadi kau harus ... sudahlah. Pete akan pergi dari Telaga langit sehingga tidak memungkinkan untukmu agar terus berjuang menyingkirkan perasaannya terhadap Raven."


Mendengar kata Raven, justru ingin membuat Dia begitu cemburu. "Aku tidak akan membiarkannya mengambil adik termuda dariku. Setelah semua, Pete hanya milikku!"


Xiao Fu menghela nafas pelan, teringat nasihat Kuruna. 'Beritahu muridmu bahwa terlalu terobsesi itu tidak baik. Aku merasa jika terus seperti ini, hubungan mereka berdua hanyalah di angan angan.'  


Xiao Fu segera menasehati, "Dia, terlalu terobsesi itu tidak baik. Jangan terlalu memikirkannya dan lebih baik kau percaya bahwa Pete akan tetap untuk dirimu. Semakin kau terlihat terobsesi, maka semakin kau terlihat posesif dan semakin buruk untuk hubunganku dengannya."


Dia terdiam. "Aku, tidak boleh terobsesi dengannya?"


Xiao Fu segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi keluar. "Kau ingin dengannya itu boleh. Akan tetapi jangan sampai hubungan kalian berdua kandas begitu saja hanya karena obsesi. Di suatu saat nanti, Kau akan mengerti."


Dia terdiam, kemudian menatap Pete begitu lekat. "Aku posesif kepadanya? Itu ... master benar. Aku tidak bisa mengekangnya sejauh itu dan aku hanya bisa berharap, perasaannya terhadapku tidak berubah."


-----


Malam telah semakin larut. Ketika Pete mulai membuka matanya, yang pertama Pete sadari adalah Dia tengah tidur terlelap di sisinya.


'Kalian berdua ini memang tidak tahu waktu dan tempat.' 


Pete melirik Chang'e yang terlihat begitu kesal. Dirinya mulai melakukan pembicaraan dari alam bawah sadar. "Kau tahu, hubungan seperti itu lebih jauh dari kata sahabat. Kau memang memiliki perasaan kepada dirinya, kan? Kenapa tidak sekalian kau lamar saja, Pete? Kasihan kakak pertamamu terlalu lama menunggu."


Pete menghela nafas pelan. "Meskipun aku punya perasaan kepada dirinya, namun aku rasa sebaiknya aku tunda dahulu untuk melamar dirinya. Aku dan Kakak tertua masih belia. Lagipula aku sendiri tidak tahu di suatu saat aku masih hidup atau sudah mati setelah menjalani hidup seperti ini."


Chang'e memutar bola matanya malas. "Alasan klasik. Justru karena itulah kau harus segera menikah dengannya."


Pete menatap Chang'e dengan tatapan ingin meminta penjelasan. "Ini hidupku. Lagipula kau pikir aku tidak tahu kalau tujuan aslimu adalah melakukan tekhnik kultivasi rasi bintang Nebula secara berpasangan tingkat lanjutan?"


Chang'e menghela nafas. "Kau harus tahu betapa beruntungnya dirimu memiliki gadis berjiwa murni sebagai partnermu. Jadi, mengapa kau sia-siakan?"


Pete justru berucap begitu kesal. "Itulah yang tidak aku sukai darimu. Kau terlalu egois sampai memanfaatkan apapun demi kepentinganmu. Tidak heran jika kau begitu kesepian di Istana Guanshan." Sebuah ucapan terlontar tepat sasaran, membuat Chang'e terdiam tidak dapat berkata apapun lagi.

__ADS_1


__ADS_2