Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 123


__ADS_3

Raven kembali ke tempatnya. Mendadak Dia langsung melompat memasuki arena, padahal juri belum menyebutkan namanya.


Semuanya mengerutkan keningnya. Dia terlalu bersemangat sekali untuk bertarung. Kemudian Collete memasuki arena sebagai lawannya.


Juri pun menepuk jidatnya pelan, padahal para bandar belum menentukan pilihan petarung yang akan dipertaruhkan. Sudahlah, mereka harus menunggu sampai juri memulai pertandingan ini.


...Sacred Valley:titik awal kultivator ...


...Episode 123. Dia vs Collete dan kemunculan Gadis Biarawati...


"Kalian berdua, silahkan berbincang sebentar, sebelum pertandingan akan kami mulai."


Collete terlihat begitu cemberut. Sungguh ingin mencoba kemampuan tunangan Pete yang dikenal begitu hebat.


Dia mulai berbasa-basi. "Aku rasa kau begitu bersemangat sekali." 


Collete malah tersenyum. "Kau juga, apakah kau bersemangat karena tunanganku itu?"


Pete yang melihatnya di arena mengerutkan keningnya, ketika mereka mulai membicarakan soal dirinya.


Raven kembali membalut luka Alice. "Astaga, kau begitu perhatian sekali, Raven."


"Pete, apakah menurutmu aku akan mampu mengalahkanku?" tanya Raven sembari terus melanjutkan kegiatannya.


Pete malah tertawa. "Sangat besar kemungkinan itu. Karena kemampuan Time stop milikmu, aku merasa akan terbantai di arena."


Raven menghela nafas. "Bagaimana jika aku tidak menggunakan Time Stop?"


Pete berfikir sejenak, kemudian menjawab, "ada kemungkinan."


Raven mengerutkan keningnya. Meskipun begitu bandel, namun dirinya masih menganggap dirinya begitu lemah. Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya begitu memikirkan apa yang mungkin dipikirkan Pete.


"Sebaiknya, jangan terlalu merendah." 


Pete malah tertawa kemudian mendadak cemberut. "Aku mengatakan yang sebenarnya, Alice saja dapat mengekspos dua tekhnik pedangmu."


"Perkembangannya memang meningkat melebihi peningkatan, sementara aku ... Sudahlah, aku rasa akan sulit mengalahkanmu."


"Kita lihat saja di arena besok," putus Pete.


Raven menghela nafas pelan. Bisa mengalahkan Pete tanpa Time Stop? Itu sulit. Kelincahannya sangat tinggi, bahkan tragisnya itu adalah Pete sebenarnya memiliki kemampuan Initiator dan Core sekaligus, memiliki ketahanan tubuh layaknya Tank, dan serangan yang sangat mematikan layaknya Assasin.


Pertandingan akan segera dimulai. Para bandar sudah menentukan pilihan mereka. Tinggal menunggu orang lain yang suka berjudi selesai memasang taruhan.


Collete dan Dia masih berbicara begitu banyak mengenai Pete, yang membuat lelaki itu merasa kesal setengah mati. Melihat ekspresi Pete yang begitu gusar membuat Alice tertawa kecil. Namun mendadak melihat para juri mengangguk di luar sana dan kemudian salah satu di antaranya segera ke arena.

__ADS_1


"Pertandingan dimulai!"


Collete yang memiliki Role wizard menghadapi Dia dengan Role magical fighter. Benar-benar cuku tumpang tindih.


'Selendang ular!'


Collete mengayunkan staff, luncurkan serangan sihir menuju Dia yang dengan mudah dihindari. Dia berbalik mengubah selendang hijau teratai bulan, menjadi seperti seekor ular, kemudian meluncur menyerang Collete.


'Dinding pelindung'


Collete menghentakkan tanah, tercipta dinding tanah. Namun, seketika dinding tersebut hancur dan serangannya pun juga mengenai Collete yang membuatnya terpukul mundur. 


Dia menggerakkan tangannya, langsung membelit tubuh Collete. Mendadak tubuh Collete berubah menjadi pasir, membuat Dia tertegun. "Tipuan tubuh tanah?"


'Bola api!'


Sebuah bola api meluncur dari arah lain, Dia langsung menarik ular dan menjadi perisai pertahanan. Bola api mengenai ular itu dan menimbulkan ledakan.


Mendadak seperti sulur, selendang tersebut meluncur hendak membelit Collete. Namun Collete malah memasang formasi segel pertahanan di tanah. 'Segel anti sihir!'


Dia terus menghantam perisai pertahanan Collete yang tercipta, namun kelihatannya sia-sia. Collete akan selalu aman di dalam segel itu dari serangan Dia, kecuali serangan physical jarak dekat.


Dia malah mengeluarkan pisau, kemudian melesat maju menyerang Collete. Semuanya terkaget, tidak disangka ternyata Dia memiliki kemampuan Physical juga. 


Serangan Dia membuat Collete terpaksa melompat keluar dari segel tersebut. "Sungguh sial," gerutunya.


Dia begitu cerdas juga. Collete mendadak mengumpulkan energi dan melepaskan bola petir yang bergerak maju hendak mengenai Dia. Dia malah melakukan pertahanan, menciptakan 'spiral pertahanan' yang kemudian beradu dengan bola petir tersebut.


Mendadak timbul cahaya menyilaukan yang membuat orang-orang di tribun sama sekali tidak mampu melihat ke dalam arena.


Mendadak terdengar suara ledakan, kemudian cahaya tersebut langsung lenyap. Terlihat mereka berdua baik-baik saja.


'Serangan Topan!'


Collete mengayunkan stafnya kembali. Mendadak tubuh Dia terseret, mendadak tercipta angin topan. Dia berada di tengah tengah, berusaha mempertahankan keseimbangannya.


'Api lautan'


Collete tersenyum, langsung menembakkan api yang membuat Pete segera berdiri. Mendadak angin topan tersebut dipecahkan, yang rupanya Dia masih baik-baik saja yang membuat Pete menghela nafas lega, kemudian duduk kembali ke kursinya.


'Hujan Es!'


Collete mengangkat staff di udara, mendadak turun bola es yang hendak menghantam Dia. Seolah tidak terhenti, Collete terus menciptakan hujan bola es, Dia segera melindungi dirinya sendiri dengan perisai spiral yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Sial, aku hampir kehabisan energi, sementara Dia masih tidak menderita luka sedikitpun,"ucap Collete begitu kesal.

__ADS_1


Mendadak Dia langsung hilang, membuat Collete terkaget, mendadak sebuah pesaing ditodongkan  ke lehernya dari belakang. 


"Pemenangnya, Dia Finch!"


Mendadak terdengar suara ocarina yang membuat mereka semua malah terbuai. Namun suara tersebut terdengar dari gunung.


'Pete, sadarlah! Kau terpikat kekuatan Dao dari energi buddhis.'


Pete terperanjat mendengarnya. Chang'e berhasil menyadarkan Pete dari jeratan Dao dari melodi Ocarina.  "Apakah ada orang yang memiliki kemampuan Buddhis? Astaga, tidak aku sangka ternyata ada di sini juga."


Chang'e menatap ke luar. "Sepertinya pemilik lagu seruling ini memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Coba kita cek, siapa yang meniup seruling ini."


Pete mengerutkan keningnya. "Seruling? Itu suara Ocarina."


Chang'e mendadak merasa kesal. "Sialan! Mau Ocarina, mau Seruling, terdengar sama saja! Ayo kita lihat sebelum orang itu pergi!"


Pete diam-diam melesat menghilang dari tribun tanpa ada yang mengetahuinya.


 


Terlihat seorang berambut merah dengan pakaian biara berwarna hitam, yang berarti gadis itu adalah biarawati kuil suci dari privera tengah meniup Ocarina, melodinya mengandung Dao yang kuat.


Pete akhirnya sampai di sana. Melihat perempuan ini membuat dirinya teringat masa lalu. Pete dan gadis ini pernah bertemu sekali, namun Pete tidak terlalu memiliki pertemuan yang begitu baik. 


Alasannya adalah dahulu Pete yang saat itu merasa tertekan sangat sensitif terhadap ejekan dari siapapun. Gadis merah ini memang pernah datang kepadanya, mengatakan bahwa dirinya begitu menyedihkan.


Pete marah dan memaki gadis itu karena sangat kesal. Seluruh unek-uneknya dikeluarkan yang selama ini dirinya simpan. Namun gadis itu malah tersenyum, malah berucap, "katakanlah segalanya sampai kau merasa baikan."


Pete mulai merasa begitu menyesal. Hanya maaf yang bisa dirinya katakan.


Gadis itu malah tersenyum. "Sebaiknya kau menceritakan segala masalahmu, entah kepada siapapun. Bahkan kepada rumputpun, karena bisa saja mereka memahamimu."


Mengingatnya langsung membuat Pete tahu bahwa gadis ini adalah-


"Aurelia? Sedang apa kau di sini?"


Tiupan Ocarina terhenti, sejenak melirik ke belakang. "Bagaimana kau tahu namaku? Padahal tidak banyak yang mengetahui soal namaku, dan mereka hanya menyebutku musisi misterius."


"Kau melupakan pertemuan di 3 tahun yang lalu?" tanya Pete sembari terheran.


Aurelia berfikir sejenak, kemudian menggelengkan kepala. "Aku rasa tidak pernah bertemu denganmu sebelumnya, sungguh."


Pete membuka mulutnya, merasa begitu mustahil. "Apa kau terkena amnesia atau semacamnya?"


'Dasar bodoh! Lain kali kau harus membawa kaca rias untuk melihat dirimu sendiri. Wajahmu dulu dan sekarang terlihat berbeda.'

__ADS_1


Pete menepuk jidatnya. "Tetapi kau pasti mengingat seseorang bernama Pete Handerson, bukan?"


 


__ADS_2