
Hari sudah mulai gelap, pertanda malam mulai datang. Terdengar suara kicauan burung hantu yang asyik bernyanyi, tanpa peduli apa yang mungkin mereka pikirkan saat mendengar nyanyiannya yang begitu buruk dan menyeramkan.
Terlihat jelas Pete dan Dia tengah berjalan di jalan hendak kembali ke Inn, dengan tangan mereka yang saling bertautan. Mungkin, banyak yang mengira bahwa gadis tersebut bukanlah Nona keluarga Finch karena gadis tersebut sudah terkenal dengan sifat dinginnya yang tidak bisa disentuh.
...Sacred Valley: titik awal kultivator...
...Episode 91. mulai bimbang...
Dia memang seperti itu, namun pengecualian bagi Pete. Pete begitu spesial bagi Dia, bahkan Jack yang diidolakan banyak gadis pun, menurut Dia begitu biasa di matanya.
Dia menatap Pete, sekaligus bertanya, "Adik termuda , menurutmu apa aku juga mendapatkan kesempatan berkelana sepertimu? Sungguh, aku ingin sekali seperti dirimu."
Pete terdiam sejenak, kemudian melirik gadis yang ada bi sampingnya. "Kakak pertama, di luar sana begitu berbahaya. Aku merasa kemungkinannya begitu kecil. Namun sebaiknya kau tanyakan kepada Master."
Dia malah mengerucutkan bibirnya. "Jika kita tanya ke master, yang ada pasti akan dialihkan pembicaraannya. Seolah kau tidak tahu saja soal mastermu itu."
"Lalu apa yang akan kau lakukan saat diperbolehkan berkelana?" tanya Pete balik.
Tujuan? Tidak-tidak. Gadis tersebut tidak pernah memikirkannya. Oleh karena itulah, Dia menjawab ngasal. "Ya, jalan jalan sambil membabat musuh yang menghalangi jalan."
Jawaban Dia itu membuat Pete menghela nafas pelan "Kakak pertama , kau sudah pasti tidak diperbolehkan berkelana jika tujuannya hanya seperti itu. Aku berkelana memang ada tujuannya."
Dia berbalik protes. "Akan tetapi di cerita fiksi, kebanyakan memang begitu."
"Jangan samakan fiksi di fantasimu dengan realita di dunia, kakak tertua," ucap Pete sambil memutar bola matanya begitu malas.
Inilah yang membuat Pete mendengus kesal. Dia selama ini ... maksudnya saat dirinya masih terkurung di dalam kesepian dan sebelum bertemu Pete, telah begitu maniak dengan cerita fiksi di genggamannya, kata ayahnya. Entah berapa cerita fiksi yang dirinya ingat, bahkan sampai saat ini.
Pernah kali dirinya memasuki ruangan Dia di tempat dirinya tidur, itupun diam-diam. Di dalamnya begitu penuh dengan buku-buku fiksi, bahkan yang versi terbaru pun juga ada. Meskipun tujuh puluh persen cerita fiksi tersebut benar adanya, namun menjadi maniak dengan cerita fiksi itu adalah tindakan yang begitu gila. Itu hanyalah fiksi, bukan nyata.
"Kakak pertama, sebaiknya kau kurangi sedikit membaca fiksi. Terkadang jalan ceritanya tidak relevan dengan keadaan yang sebenarnya kita jalani."
Mendengar kata Pete mendadak membuat gadis tersebut malah sewot. "Itu hobiku, jangan kau ganggu! Lagipula maniak fiksi sepertiku lebih baik karena tidak ada yang merugikan siapapun juga daripada dirimu yang selalu bikin ulah melulu yang selalu membuat siapapun uring-uringan menghadapi tingkahmu."
CheckMate! Jawaban Dia begitu menohok membuat Pete terdiam, tidak bisa berkata apapun lagi. Ayolah Pete, sampai kapan kau terus berupaya mengadu nasihat kepada perempuan, sementara itu sudah begitu banyak pakar dan tentor yang mengatakan bahwa perempuan selalu benar?
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba seseorang datang berlari mendekati mereka. Dia dan Pete menoleh dan mendapati bahwa itu adalah May, gadis yang menjadi adiknya Pete sejak kecil, yang dulunya selalu acuh kepada Pete, sampai pada akhirnya dirinya menyadari pentingnya seorang kakak yang keduanya ini dan berbalik berupaya keras untuk meraih kembali Pete agar tidak lagi membenci dirinya.
__ADS_1
Gadis itu tidak datang sendiri, ada Rusk dan setumpuk buku yang ada di tangan May. Pete mengerutkan alisnya, kemudian mendengus ketika mengatahui itu adalah setumpuk buku fiksi, lagi.
Gadis kecil itu terlihat teregah-egah, membuat Dia bertanya-tanya, mengapa May datang sampai berlari seperti itu?
"Kak Dia, Surprise! Aku baru saja membeli buku cerita menarik, yang baru terbit loh! Kita baca bersama-sama, yuk!" ucap May antusias yang membuat Dia full senyum dan Pete full cemberut.
"Buku Fiksi, lagi" ujar Pete begitu kesal.
"Nona Finch, aku pinjam lelakimu ini, ya. Sebentar saja." ucap Rusk.
Dia mengayunkan tangannya tanda memperbolehkan. "Bawa aja seharian, tidak apa-apa. Daripada nantinya Pete akan berulah di saat aku sedang terfokus membaca buku ini."
"Hey, aku bukan barang!" ucap Pete kesal, namun tidak digubris oleh Dia dan malah menyeret May dan pergi begitu saja.
Pete menghela nafas pelan. "Dasar maniak fiksi."
Rusk berupaya menahan tawa sembari berucap, "Pete, ikut aku. Seseorang telah menunggumu."
"Hah?"
Kemudian, beberapa pasang mata terlihat mengintai dirinya, namun Raven sendiri sudah mengetahuinya. Sementara itu, di bawah bukit, Rusk telah datang bersama Pete.
"Pete, aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Orang yang menunggu dirimu ada diatas sana. Jadi, temuilah orang itu."
Pete mengangguk, kemudian mulai menaiki bukit tersebut yang tandus, namun di puncak terlihat ada cahaya dan kepulan asap yang tipis.
Raven mengangkat kepalanya dan mulai berdiri, begitu Pete telah sampai di puncak. "Raven?"
Raven tersenyum tipis. "Hai."
Pete mulai melangkahkan kaki mendekati Raven. "Ada apa sampai memintaku kemari?"
"Aku memintamu untuk disini sebentar saja, ada yang ingin aku tanyakan dan ungkapkan."
Pete mengerutkan keningnya, cukup aneh menurutnya.
__ADS_1
Raven menatap Pete begitu lekat. "Sejauh mana hubunganmu dengan nona Finch, Pete?"
Mata Pete membola, dirinya mulai merasa sulit untuk berbicara. Masalahnya dirinya sendiri tidak tahu hubungannya dengan Dia sudah sejauh mana.
Setelah berfikir sejenak , Pete menjawab dengan ragu-ragu. "Hanya teman, mungkin."
"Mungkin?" tanya Raven yang membuat Pete sulit untuk menjelaskan.
Namun, melihat rawut wajah Pete yang kebingungan membuat gadis terdingin Di Leaf Valley tersebut mengangguk "Aku mengerti."
Pete terdiam sejenak, kemudian bertanya balik karena ucapan Raven begitu mengundang tanda tanya di benaknya. "Kau mengerti?"
Raven menghela nafas pelan. "Status hubunganmu sebatas teman, namun apa yang telah kalian lakukan sudah begitu jauh. Maksudku, katakanlah kalian telah berhubungan tanpa status, seperti di fiksi dikatakan teman tetapi mesra."
Pete terdiam kembali, tidak mampu berkata apapun.
"Melihat situasi, tidak ada harapan untukku untuk memenangkan hatimu dari nona Finch. Jadi, aku memutuskan untuk mundur, Pete. Aku mundur dari perebutan hatimu," ucap Raven dengan mata yang mulai meneteskan air mata yang membuat mata Pete membola.
Raven mulai menangis sesegukan, kemudian mulai memeluk Pete dan akhirnya menangis di dadanya. Hati Pete mencelos, karena pada dasarnya lelaki ini memang tidak tahan dengan suara tangisan perempuan.
Pete kemudian membalas pelukannya, membiarkan gadis itu menangis di pelukan dalam waktu yang begitu lama, kemudian barulah Pete menenangkan dirinya.
"Pete, meskipun aku mundur dari perebutan hatimu dari sainganku, namun aku masih memiliki kesempatan untuk menjadi gadis keduamu, bukan?"
Pete kembali terdiam, dirinya begitu sulit untuk menjawab pertanyaan gadis tersebut. Namun pada akhirnya, Pete hanya bisa menjawab, "akan aku pertimbangkan."
Mata Raven mulai terlihat sayu. "Aku mengerti. Akan aku tunggu kabar selanjutnya darimu. Dan terima kasih atas kejutannya darimu, Pete."
Pete mengerutkan alisnya. "Kejutan?"
Raven tersenyum, baru kali ini gadis tersebut terlihat tersenyum. "Soal Collete dan Rusk. Kehadiran mereka membuatku mulai merasa begitu bahagia, sedikit."
Pete juga ikut tersenyum, mengingat dirinya juga merasa senang karena kedua sahabatnya rupanya masih hidup dan bahkan telah menikah.
Raven kemudian memandangi bulan sembari berucap, "seandainya hubungan kita seperti mereka, tetapi sepertinya tidak memungkinkan."
Pete menghela nafas pelan, kemudian berucap begitu mengejutkannya. "Yah, ada kemungkinan juga aku akan mati muda."
__ADS_1
Mata Raven mulai beralih menatap Pete lekat. Pete mulai menghela nafas karena tatapan Raven bermakna menuntut penjelasannya.