Satukan Dunia Kembali

Satukan Dunia Kembali
Episode 135


__ADS_3

...Sacred Valley:awal perjalanan kultivator ...


...Episode 135.harapan baru untuk mereka....


 Astaga, sang dewi menggelengkan kepalanya. Pete terlihat begitu Berwibawa dari kelihatannya. Sang Dewi Panen sampai menghela nafasnya. Dirinya mulai tahu alasan Pete memanggil dirinya.


 Dewi Panen tersebun menjentikkan jarinya untuk menunjukkan kuasanya. Mendadak, pohon-pohon yang ada di sekitar yang selama ini mati tersebut, mendadak hidup kembali. Astaga pertumbuhan daunnya secara cepat dan memunculkan buah yang begitu lebat.


Semuanya tertegun, sangat tidak percaya dengan apa yang telah terjadi di sini. Astaga, semua ini terjadi spontan setelah Pete menunjukkan wibawanya.


 "Berterima kasihlah kepada Harvest Goddess yang masih memiliki hati untuk memberkati kalian."


 Mereka semua langsung bersujud, mengungkapkan ucapan terima kasih terhadap Pete beserta Dewi Panen yang berada di samping Pete. Namun tidak seorang pun yang dapat melihat sosok dewi tersebut, kecuali Kimi.


 'Aku rasa mereka semua telah menyadari kesalahan mereka. Meskipun berjuang dengan mengandalkan kemampuan saja itu baik, namun mereka seharusnya tidak melupakan aliran kepercayaannya yang telah melindungi tempat ini," ungkap Karina sekaligus menghela nafasnya.


Kimi bersujud, sembari menangis. Tidak disangka dirinya hampir mengutuk Pete yang ternyata tidak bermain-main dengan ucapannya.


"Mohon ampuni kami, utusan Dewi. Kami mengaku salah, karena termakan omong kosong seseorang pendatang yang akhirnya membuat kami menderita seperti ini," ucap mereka secara serentak.


Pete masih terikat menatap mereka semua begitu tanpa ekspresi. Seolah-olah dirinya masih begitu tidak memaafkannya.


"Sekarang, kalian sudah menyadari kesalahan kalian? Aku harap kalian mengubah kebiasaan kalian, kembali seperti semula," ungkap Pete.


----


Pete tengah berunding dengan Marina, bermaksud meminta saran untuk tindakan selanjutnya.


"Aku rasa mereka harus kembali mengadakan Festival Goddess Spring dan Harvest Festival seperti sebelumnya. Namun, sepertinya itu sulit. 


Masalahnya adalah kuil mereka telah runtuh. Sekarang mereka sama sekali tidak dapat melakukan festival seperti itu lagi. Sayang sekali," ungkap Marina sembari menghela nafasnya pelan.


Pete mengerutkan keningnya. "Jadi aku harus membangun kembali kuil di sini?"


Marina mengangguk. "Ya, kau harus membangun Kuil tersebut, namun kau tidak bisa membangunnya begitu cepat dalam waktu singkat. Jadi kerahkan mereka."


Pete berfikir sejenak, kemudian dirinya mulai mengangguk mengerti. "Akan aku bicarakan kepada Kimi terlebih dahulu."


Pete bangkit, kemudian keluar dari sebuah rumah yang secara dadakan, memang dikhususkan untuk peristirahatan Pete.


Terlihat Kimi yang begitu tersenyum karena situasi kembali seperti dulu, berkat Pete. Dirinya sama sekali tidak menyangka bahwa keberadaan Pete di sini telah mengubah kembali wilayah ini, kembali seperti semula.


Pete menyentuh bahunya, yang mendadak membuatnya terkejut setengah mati. "Panggil kepala desa untuk kemari. Aku akan menunggu di dalam."


Kimi terdiam sejenak, entah kenapa senyumannya meredup. Pete terlihat begitu to the point dalam berucap, astaga. Dirinya mulai merasa begitu sedih, karena mungkin Pete sangat membencinya karena dirinya sempat hampir mengutuk lelaki yang mereka kenal dengan sebutan, utusan Dewa.

__ADS_1


Namun, Kimi harus menemui kepala desa saat ini. Terlihat lelaki tadi di rumah, tengah memasang dupa dan mengaturkan lata-kata pujian di depan patung kecil seperti seorang dewi Panen.


"Ayah, kau dipanggil oleh utusan Dewa."


Lelaki tersebut tertegun, namun dirinya langsung bangkit. "Benarkah? Aku akan segera ke sana."


Lelaki tersebut kemudian keluar dan menemui Pete yang tengah bersila di dalam rumah.


Begitu sampai di lokasi, lelaki tersebut langsung bersujud. "Maaf jika aku membuatmu menunggu lama."


Pete menghela nafas pelan, kemudian menjelaskan maksudnya. Lelaki tersebut menganggukkan kepalanya. "Utusan Dewa tidak perlu merasa khawatir, akan aku kerahkan rakyatku untuk membangunnya kembali di sini."


"Baiklah. Kalau begitu, laksanakan!" perintah Pete.


Lelaki tersebut menganggukkan kepalanya,  Kemudian segera pergi, tersisa Kimi yang malah bersujud di bersujud di kaki Pete, membuat dirinya merasa heran. 


"Maafkan aku jika aku ucapanku kemarin malam begitu menyakiti perasaan utusan," ujarnya sembari menangis.


"Apa yang kau lakukan? Segera berdiri!" ucap Pete, namun rupanya gadis tersebut masih kekeuh untuk tetap bersujud.


"Aku mohon, maafkanlah aku. Aku bersedia melakukan apapun untuk membuatmu memaafkanku." 


Pete menghela nafas pelan, padahal diri berusaha bersikap sok berwibawa, tidak disangka memberikan efek seperti ini.


Kimi mulai meneteskan air matanya, kemudian segera menangis lagi. Astaga, gadis ini memang merepotkan.


----


Pete tengah menatap mereka semua yang terlihat begitu bersemangat untuk kerja keras membangun kuil di dalam wilayah ini.


'Astaga, ini benar-benar membuatku begitu senang. Akhirnya, aku dapat mengunjungi mereka dan memberkati panen mereka. Haahhh, tidak disangka kau telah bertindak begitu murni tanpa paksaan dari siapapun. Benar-Benar seperti utusan Dewi.'


"Dewi, kau tidak perlu memujiku. Aku hanya melakukan hal yang seharusnya di lakukan."


Marina pun menghela nafas. Dirinya sudah menduga hal itu.


Kepala desa tersebut langsung mendekati Pete dan menunduk hormat. "Kuil ini telah 25% rampung. Namun, ini sudah begitu terik. Jadi kami memohon untuk memberikan kami waktu beristirahat, selama satu jam untuk makan siang."


"Tidak perlu memohon kepadaku. Lakukan saja sesuai dengan kemampuan kalian. Jika merasa lapar, jangan menunda untuk beristirahat. Kita masih punya waktu ke depan."


Pete segera pergi ke tempat yang tidak begitu ramai, kemudian bersandar di sana. Mendadak tangannya di ketukkan pada pohon dan sebuah Apel langsung jatuh ke tangannya.


"Aku merasa mereka benar-benar begitutulus membangunnya. Tidak disangka perasaan mereka begitu murni," ungkap Marina sembari tersenyum.


"Aku harap tidak lagi ada kejadian semacam ini," ucap Pete sembari menghela nafas pelan.

__ADS_1


"Sepertinya gadismu tengah mengintai dirimu," ucap Marina sembari menatap sebuah semak-semak.


"Gadisku ada di telaga langit, tidak mungkin mencintaiku di sini. Lagipula aku masih merasakan bahwa dirinya masih disana saat ini," ungkap Pete.


Marina mengangguk mengerti. "Yah, aku tahu soal itu, walaupun aku tidak tahu siapa gadismu itu, sih. Tetapi aku pasti akan tahu nantinya."


Mendadak dewi Chang'e keluar dari Changseng Jue, langsung duduk di bahu kiri Pete.


"Ah, dewi bulan. Senang bertemu denganmu." ungkap Marina.


"Ya, kita baru bisa bertemu kembali setelah puluhan ribu tahun lamanya. Astaga, begitu lama," ucap Chang'e sembari tersenyum.


"Ya. Sudah cukup lama."


Chang'e  menatap semak-semak di sana. "Aku harap kau tidak menambah selir lagi. Kasihan yang lainnya tidak mendapatkan pasangan."


Pete memutar bola matanya malas. "Apakah aku mengejarnya? Kan tidak? Masalahnya adalah mereka yang mengejarku."


"Mereka mengejarmu karena ada alasan. kau telah bertindak terlalu jauh dalam memberikan perhatian untuk ukuran gadis Protektif seperti Dia Finch. 


Kau juga memiliki hubungan yang telah diakui oleh langit dan bumi sebagai sepasang kekasih sejak kalian masih kecil,  padahal dirimu dengannya belum meresmikan pernikahan.


Kalau Alice, itu juga salahmu. Siapa suruh kau terlihat begitu menarik di matanya?" jelas Chang'e yang membuat Pete menghela nafas.


"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi."


"Jadi kekasihmu ada tiga?" tanya Marina."Rakus sekali."


"Bukan tiga, melainkan empat," ucap Chang'e yang membuat Pete menatapnya. "Jangan mengada-ngada. Aku hanya-"


Chang'e menunjukkan dirinya sendiri. "Kau melupakan aku."


Mata Pete membola, bahkan Marina begitu histeris. "Bahkan dewi bulan pun kau embat?" tanyanya.


Chang'e malah tidak berhenti berucap. "Jangan lupakan dua adikmu juga mencintaimu."


"Kau Sistercon juga?" tanya Marina yang membuat Pete menghela nafas pelan.


"Tetapi aku hanya mengakui, aku hanya punya tiga-"


 "Bukan tiga, melainkan empat. Jangan lupakan aku."


"Kau punya Wu Gang!" Ucap Pete kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2