
Hari masih belum malam, terbukti matahari masih condong ke barat dan jika dilihat dari mata, tampak masih secondong lima belas derajat. Ini berarti sekarang masihlah pukul setengah enam sore.
Pete mengerutkan keningnya. Mereka bertiga membawanya ke puncak Bukit tandus ini? Sepertinya memang ada yang hendak Mereka bertiga bicarakan dan Pete merasa ini begitu penting.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 105. sebuah ramalan ...
...'...
"Ada apa hingga kalian membawaku ke tempat ini?" tanya Pete terheran.
Mereka justru tidak menjawab, malah maju sebanyak delapan langkah kedepan hingga membelakangi Pete. Mereka tengah menatap ke barat, tempat matahari akan terbenam.
Pete mengerutkan keningnya, merasa begitu aneh dengan tingkah mereka bertiga. Namun, dirinya juga terpaksa untuk diam. Di dalam benak, Pete merasakan ada yang begitu penting untuk mereka ucapkan, namun sepertinya mereka membutuhkan waktu untuk mengungkapkannya.
Pete kemudian memilih untuk mensejajarkan dirinya dengan mereka bertiga dan menatap arah yang sama. 'Mungkin aku harus menunggu untuk mereka agar memulai berbicara.'
Matahari pun akhirnya terbenam. Berarti sudah tepat pukul enam. Berarti sudah selama setengah jam Pete menunggu mereka untuk berbicara.
Dia terlihat menghela nafas pelan, kemudian menatap Pete. "Adik termuda, bagaimana bisa kau ditakdirkan untuk menemui kematian pada akhirnya, tanpa ada yang bisa menghentikannya?" tanya Dia yang mendadak membuat Pete merasa begitu Pilu.
Namun, Pete berpura-pura tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
Raven mendadak mengalirkan air matanya. "Seperti yang kau katakan, kau akan mati muda. Ternyata memang dalam ramalanmu tertulis seperti itu. Semakin cepat kau menikah, justru semakin cepat kau meninggal."
Mata Pete membola, namun dirinya menatap ke barat kembali, tidak bisa menjawab.
Alice pun juga ikut bersedih. "Kami bertiga sama sekali tidak ditakdirkan untuk mampu untuk menghalangi kematianmu. Walaupun kami mati demi melindungi dirimu, itu tidak berguna karena kau juga pasti akan terbunuh pada akhirnya juga."
Pete menghela nafas pelan. "Rupanya kalian mendengarkan ramalan yang akan terjadi pada para peramal, ya?"
Dirinya pun tahu soal itu, karena sudah banyak para peramal yang mengatakan hal seperti itu tanpa Pete minta. Nasib seluruh dunia ada di tangannya. Jika dirinya tidak bertindak melawan langit, maka sudah dipastikan dunia ini akan semakin tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Dengan beban berat seperti itu, sudah dapat dipastikan bahwa Pete akan menghadapi bahaya tingkat tinggi yang sangat mengancam dirinya. Oleh karena itulah, Pete harus mengumpulkan kelompok dari seorang yang memiliki takdir yang sama.
May, adik dari Jack itu sendiri sebenarnya menanggung beban yang sama. Hanya saja, karena dirinya masih kecil membuat orang yang membimbingnya tidak tega untuk mengatakannya.
"Aku memang dilahirkan untuk menantang langit, membangun ulang dunia ini agar bersih dari aturan rimba yang keterlaluan. Jadi, ramalan kematianku memang wajar.
Namun, memangnya mereka sebenarnya siapa? Takdir kematianku ada di tanganku sendiri, sementara ramalan itu hanyalah prediksi. Jika aku berjuang mencoret takdirku sendiri, tidak mustahil bahwa ramalan seperti itu akan berubah.
Kau ingat saat aku pernah diramalkan bahwa aku akan mati di umur yang masih belia. Namun, realitanya? Aku hampir di ambang kematian oleh Devil Ghost Tree, begitu juga saat aku tercebur ke Sand Sea, Sampai saat aku terhantam serangan maut dari Racoon. Dan sekarang, aku masih hidup sampai saat ini.
Bukannya aku tidak mempercayai ramalan mereka, namun ramalan mereka hanya prediksi, akurasi tidak akan sampai seratus persen. Meskipun begitu, aku harus berjaga-jaga."
Dia menggelengkan kepala, tidak percaya dengan apa yang Pete ucapkan di akhir kalimat. "Lalu, kau tidak akan menikah begitu saja?"
Pete menatap Dia. "Hanya berjaga-jaga. Kau harus tahu, begitu kita menikah aura kita akan mulai muncul sehingga terdeteksi oleh kaisar langit yang kemudian akan melenyapkan kita. Jangan lupa, dirimu sendiri siapa dan aku sendiri juga siapa."
Mata Dia meredup. Tentu saja, perkataan Pete benar. Dirinya adalah gadis yang jiwanya berasaldari jiwa para dewa dan Dewi yang terpecah, sementara Pete adalah lelaki yang memiliki aura lain yang dapat dikenali sebagai orang pilihan para pemberontak kaisar langit.
Dia pun menangis mendengarnya kemudian memeluk Pete begitu erat, mengingat hubungan mereka rupanya tidak akan sampai di pelaminan. Raven dan Alice pun ikut memeluk Pete, memperkuat perasaan mereka satu sama lain, didalam kesedihan mereka.
"Sudahlah, jangan terlalu banyak untuk menangis. Lagipula masih banyak hal yang harus aku lakukan. Dan apakah kalian tahu, May adalah orang yang senasib denganku."
Keesokan harinya, mereka kembali berbaris dengan nomor yang baru. Namun, kali ini hanya tersisa sedikit orang yang lolos dan pertandingan pun akhirnya dilakukan dengan sistem empat lawan empat, meniadakan sistem tiga melawan tiga karena sudah tidak efektif lagi untuk jumlah peserta yang sangat tipis, tidak sesuai harapan sehingga memperngaruhi agenda.
Nomor format F16? Sepertinya memang diformat sedemikian rupa. Pete menghela nafas pelan melihatnya.
Ini adalah format pertandingan yang berbeda dari tahun sebelumnya yang dulunya bebas, mau bergabung bisa , mau tidak ikut juga terserah. Namun sekarang seperti format olimpiade yang digelar antar sekolah untuk menguji kemampuan murid-muridnya.
Biasanya pertandingan Gladiator hanya membutuhkan waktu sehari untuk selesai. Namun ini sudah memakan waktu selama hampir seminggu.
"Format pertandingan yang aneh, ya! Bahkan yang lebih aneh lagi jumlah peserta hampir tiga kali lebih banyak dari setahun yang lalu, namun hanya segini yang tersisa," ucap Dia.
__ADS_1
Pete hanya tersenyum tipis mendengar apa yang gadis di sampingnya ucapkan. "Namun setidaknya pertandingan berjalan sedikit adil. Benar bukan, Kakak pertama?"
"Adil? Kau bercanda? Hasil undian yang teracak membuat yang lemah malah bertemu yang kuat," ucap Pete sambil menggelengkankepalanya.
Dia berucap pasrah. "Iya, deh."
"Semuanya, pertandingan akan digelar esok. Jadi bersiaplah untuk menghadapi kejutan yang akan tersaji di arena."
Tidak lama kemudian, mereka bubar. Berlanjut ke restoran yang seperti biasanya, kalau sudah musim pertandingan sudah pasti akan terlalu ramai.
Pete dan kelima rekannya tengah menunggu pesanan, sambil berbincang-bincang. "Adik termuda, bagaimana kau bisa mempelajari tekhnik lagu Univir? Lagu itu tidak bisa dimainkan secara sembarangan. Seolah-olah terasa begitu ada perasaan entah apa yang membuat lagu itu dapat menggetarkan jiwa."
Pete tersenyum. "Itu karena kau harus memainkannya dengan penuh perasaan, tidak bisa asal main dimainkan begitu saja. Kalau di dunia kultivator, itu dinamakan kekuatan Dao.
Dulu, aku mempelajarinya dari Collete. Namun sampai sekarang, ajarannya sudah seperti di luar kepala."
Dia menghela nafas pelan, merasa tidak menyukai obrolan semacam ini karena membuat Pete membicarakan gadis lain di depannya.
Namun, Pete masih tidak berhenti menjelaskan. "Dao yang tercipta akan membuat siapapun akan merasakan getaran pada jiwanya."
Dia malah menutup obrolan mereka dengan mengatakan, "pesanan akan segera tiba. Jangan berisik."
Mereka semua pun mendadak mengerutkan keningnya. Merasa Dia begitu aneh saat ini. Apakah gadis itu tengah PMS lagi? Atau-
Keempat rekannya (Gina, Katie, Joe, dan Kurt) tiba-tiba saling berpandangan, kemudian saling menghela nafas pelan. Namun memang benar bahwa pesanan telah tiba.
Namun, sebelum memakannya, Pete mulai curiga terhadap hidangannya, merasa ada yang aneh pada hidangan tersebut, membuat Pete bergerak membolak-balikkan makanan tersebut yang membuat kelima rekannya mengerutkan keningnya, namun sesaat mereka mulai berwaspada.
"Bau kayu manis pada teh? Aneh sekali."
"Daging nya juga aneh baunya. Tidak seperti biasanya."
'Pete, hidangan ini mengandung obat tidur yang akut dan khusus makanan milikmu dan Dia, juga mengandung Racun yang sangat cepat bekerja,' peringat Dewi Chang'e.
__ADS_1