
Mereka semua saling berpandangan, kemudian menghela nafas pelan. Tidak disangka mereka baru mengetahui hal ini, mirisnya itu terungkap dari Dia yang seharusnya begitu menyayangi Pete dan selalu mengatakan bahwa Pete hanya untuk dirinya.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 118. Garius adalah lawan Pete...
"Jangan terlalu meremehkan kemampuan calon kekasihmu, Pete. Karena apa yang telah kau katakan akan berbalik mengenai dirimu. Boleh saja kau menganalisa apa yang sebenarnya terjadi di arena, namun kau tidak boleh mengatakannya begitu saja," ucap Dia dengan mimik wajah kesal.
"Itu tidak benar, Nona Finch." Mendadak Raven sendiri yang baru saja datang, mengucapkannya. membuat Dia mengerutkan keningnya.
"Pujian dari Pete adalah racun, sementara kritik darinya justru akan membuat siapapun menjadi mengerti mengenai kemampuan masing-masing, tergantung bagaimana kita menilai kritik itu."
Raven Kane menatap Pete. "Bagaimana dengan hasil analisismu terhadap pertandingan tadi? Katakanlah kepadaku."
Dia langsung memalingkan muka, merasa sebal karena Raven malah membela Pete. Membuat Pete yang ada di sampingnya terkekeh pelan.
"Raven, aku tahu kau menggunakan kemampuan time stop. Namun, itu tidak masalah. Hanya saja saat gebrakan pertama kau terlalu menyerang, menggunakan kedua senjatamu sehingga hampir lupa dengan pertahananmu sendiri.
Bagaimana pun, lawan masih memiliki kaki untuk menendangmu yang membuatmu gagal menyerang. Jika tanpa time stop, kau pasti sudah kalah. Begitu saja."
Mata Raven membola, kemudian menghembuskan nafasnya pelan. "Sepertinya kemampuan berfikirku memang harus di asah lagi."
Pete beralih menatap Dia yang terlihat begitu kesal. "Astaga, adik termuda. Kau begitu kesal hanya karena itu?"
Dia tidak menjawab. Tetap pada tingkahnya yang terlihat merajuk. Mendadak Juri menyebutkan namanya yang membuat Dia tanpa berbasa basi langsung melompat turun tanpa berpamitan terlebih dahulu. Memang sih, untuk apa berpamitan segala?
"Adik termuda, kau membuat Dia merasa begitu kesal. Berhati-hatilah karena kau pasti tidak akan mendapatkan jatah malam ini."
Pete mengerutkan keningnya. "Jatah apanya? Jangan mengada-ngada! Meski kami sudah bertunangan, tidak berarti kami akan melakukannya."
__ADS_1
Joe menutup sebelah matanya. "Kau yakin? Beberapa jam sebelum bertunangan saja sudah kau mangsa kekasihmu itu."
Mereka semua mendadak tertawa, sementara mata Pete membola. "Kakak pertama yang memberitahu kami. Jangan khawatir."
Pete menatap Dia yang terlihat ada di arena. Tidak disangka, tunangannya itu melanggar janjinya sendiri. Padahal sebelumnya gadis itu mengancam Pete untuk tidak memberi tahu kepada siapapun. Bisa-bisanya dirinya sendiri yang malah membocorkannya.
"Kakak pertama yang memberitahu kalian?" tanya Pete membeo.
"Ya. Padahal kami hanya begitu iseng menanyakan hubunganmu dengannya dan bagaimana bisa kau bertunangan secara mendadak dengannya. Lah, kakak pertama malah mengatakannya dan dirinya bilang, itu memang hal yang terjadi sebenarnya.
Ekhem! Tidak disangka kau bisa brutal juga. Bahkan gadismu itu mengaku bahwa kau hampir membuatnya tidak mampu untuk berjalan. Beruntung ada obat di meja yang membuatnya mampu bergerak kembali seperti biasa, walaupun rasa sakitnya masih terasa, katanya."
Pete menepuk jidatnya pelan, tidak disangka Dia telah mengungkapkannya semudah itu kepada mereka. Apakah gadisnya itu tidak takut dibuli? Sudahlah, memikirkannya akan membuatnya pusing.
Dia di arena masih terlihat begitu kesal sehingga ketika pertandingan dimulai, Dia langsung mengakhiri pertandingan dengan satu serangan. "Seperti biasanya, Dia terlalu barbar."
Kurt menatap Pete. "Dia mengajarimu cara bertarung dengan meninggalkan rasa naif yang ada pada diri."
Kurt dan Gina saling menatap, kemudian malah terdiam, tidak mampu menjawabnya. Bukannya tidak mampu, melainkan begitu enggan untuk menjawabnya.
"Pemenangnya, Dia Finch!" Semua penonton bersorak begitu senang, melihat Dia yang memang mereka idolakan menang dalam satu gebrakan.
Dia langsung melompat kembali ke posisinya. Langsung duduk begitu saja, mengabaikan Pete begitu saja.
Pete menyenggol Dia yang membuat gadis itu terlihat begitu kesal. Namun, kelihatannya Pete juga begitu kesal. Mendadak, melalui alam bawah sadar mereka yang memang telah menguat, Pete mempertanyakan soal privasi mereka yang telah Dia bocorkan.
Rasa kesal Dia langsung luntur, menyadari dirinya telah mengancam untuk tidak membocorkan privasi kepada siapapun, namun dirinya sendiri malah membocorkannya. Tidak adil, menurut Pete.
Rawut muka Dia mulai meredup. Kepala gadis itu pun menunduk, merasa bersalah. Namun, itu sudah berlalu. Dan Nasi juga sudah menjadi bubur, tidak ada gunanya untuk marah. Pete menariknya ke bahunya dan mengusap kepalanya pelan, bermaksud untuk memenangkannya.
__ADS_1
'Sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu'
Mendadak Juri menyebutkan nama Pete, sementara mereka berdua malah tenggelam di dalam kebersamaan, yang membuat semua rekannya memutar bola matanya begitu malas. Dasar, bermesraan tidak tahu tempat dan waktu. Mereka pun meneriakkan nama Pete yang membuat nya berdua terkaget.
Segera Pete melompat turun ke arena, sementara Dia meronta karena dirinya mulai diledek habis-habisan. Di tangannya, terdapat kalung Changseng Jue yang Pete titipkan kepadanya. Juga liontin jam milik Raven yang sebelumnya dititipkan kepadanya.
Lawan Pete kali ini adalah Garius, kakak Raven yang juga memiliki kemampuan tempur yang tidak sempit karena keberaniannya pergi ke daerah berbahaya hanya demi mendapatkan batu mineral Ore langka.
Ore adalah sebutan untuk sebuah batu mineral besar yang terdiri dari berbagai jenis mineral yang membeku menjadi satu. Konon, Ore terbentuk secara misterius, tidak ada yang tahu bagaimana Ore bisa terbentuk. Bahkan Ore dapat mengalami pertumbuhan seperti tanaman.
Pembentukan dan perkembangan Ore memakan waktu lebih dari puluhan bahkan ratusan tahun. Namun, ukuran Ore begitu cepat membesar. Awal kemunculannya, ukurannya sama dengan ukuran buah melon dewasa, namun begitu melewati minimal sepuluh tahun saja, ukurannya berubah bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat dari ukuran sebelumnya.
Bisa dibayangkan jika sampai Ore tersebut berumur seratus tahun, ukurannya bisa mencapai lebih dari seukuran raksasa sekalipun. Dan apabila melewati umur seribu, Ore akan berubah menjadi batu Orb yang begitu misterius.
Ore ada dua jenis, yang biasa dan yang langka. Ore langka sangat diperebutkan para pandai besi untuk membuat senjata yang sangat kuat dan bernilai jual tinggi.
Kembali ke cerita. Pete menghela nafas pelan, kemudian segera bersiap-siap. Garius malah tertawa, kemudian malah memberikan penawaran konyol.
"Aku dengar kau mengalahkan raja monsterseperti Skelefang dan Cyclops. Itu berarti kau sudah pasti pernah berkeliling. Jika kau memberikan satu lokasi keberadaan Ore langka, aku akan langsung menyerah."
Pete menghela nafas pelan. Dirinya sama sekali tidak tahu bentuk Ore langka. Memang dirinya tahu betul bentuk Ore, namun dirinya sama sekali tidak tahu perbedaan bentuk Ore biasa dengan Ore langka.
Raven memutar bola matanya begitu malas. Kakaknya itu begitu maniak dengan perburuan Ore, apalagi Ore langka bahkan Orb. Garius memang bukanlah seorang Pandai besi, melainkan pemburu batu mineral yang hasil buruannya dijual ke pandai besi.
"Maaf, aku tidak tahu. Maksudku, aku sama sekali tidak tahu bentuk Ore langka, akan tetapi aku hanya bisa mengatakan bahwa setahun yang lalu, di sebelah barat tepatnya sejauh tiga belas kilometer dari sini, aku sempat melihat beberapa Ore aneh yang cukup panas di dalam goa dan terdapat magma mengalir.
Juga di Vale, sejauh Empat kilometer ke kiri dari perbatasan Vale dan Privera terdapat sebuah Goa. Saat kecil, aku pernah ke sana bersama Collete dan sempat melihat Batu Ore yang terlihat begitu beku."
Mata Garius langsung membinar, namun mendadak beberapa penonton langsung melesat meninggalkan Collossum, membuat Garius menepuk jidatnya pelan. Seharusnya Pete tidak mengatakannya sekarang, mengingat begitu banyak pesaingnya di sini. Astaga, ini benar-benar bodoh.
__ADS_1
Dia sontak berdiri dan berteriak, "apa yang kau katakan, adik termuda?"