
Para penonton mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan apa yang kelompok Pete rencanakan. Mengapa mereka mengambil posisi seperti itu?
Xiao Fu dan Xiao Chi mencoba menganalisa keadaan di arena. Apa yang akan mereka lakukan, mengingat mereka bergerak mengambil posisi yang begitu aneh.
...Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 113. masa lalu saat pertama kali bertemu ...
Pete terus melangkah kedepan sembari mengeluarkan senjata tombak NeedleSpear Pedestal yang begitu hebat dan mengayunkannya secara elegan, sementara mereka bertiga malah terlihat memasang kuda-kuda bertahan di posisinya.
May berucap, "Jangan-Jangan Pete akan menghadapi mereka berempat secara sendirian?"
Xiao Fu dan Xiao Chi langsung menatap May dengan tatapan tidak percaya. Astaga, formasi macam apa itu?
Pete langsung melesat menyerang Son Hunter dan ketiga rekannya, dengan berani memasuki di tengah-tengah pengepungan yang dilakukan oleh mereka berempat. Dalam pikiran para penonton, Pete begitu bodoh karena asal masuk pertarungan.
Pete tengah terkepung, namun dirinya dengan jurus 'sembilan rumah delapan langkah' malah membuatnya mampu keluar-masuk dari pengepungan begitu mudah.
Bahkan, punggung Pete seolah memiliki mata. Setiap serangan dari belakang dengan mudah Pete ketahui dan langsung mengelak.
Berbagai serangan lawan juga terlalu banyak mengenai angin kosong saking begitu lincah diri Pete bergerak kesana kemari.
Namun, selendang hijau teratai bulan milik Dia meluncur membelit Son Hunter yang kemudian terdengar suara kerotok dan teriakan kesakitan yang sepertinya sepertinya tulang lelaki itu telah patah.
Namun Dia malah mengetatkan belitan selendang hijaunya yang membuat lelaki itu berteriak lebih keras yang kemudian menemui kematiannya.
Dia benar-benar membunuh Son demi menjaga rahasia yang sekeluarga sembunyikan. Rahasia mengenai apa yang telah terjadi sebenarnya sehingga mereka bertunangan secara mendadak.
Semuanya tertegun sejenak.Dia benar-benar sadis dalam membunuh lawannya. Meskipun begitu, Pete malah menghela nafas pelan. Tingkah sadis Dia juga pasti karena inspirasi dari Novel fiksi yang selalu gadis itu baca setiap waktu luang.
Mereka bertiga tertegun sejenak, kemudian malah tetap melanjutkan serangannya. Memangnya Son Hunter itu siapa? Toh, mereka sangat membencinya karena telah bertingkah begitu seenaknya.
__ADS_1
"Adik termuda, kau bisa menghadapinya sendiri, bukan? " tanya Dia.
"Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya. "
Mereka bertiga yang menjadi lawan Pete tengah mengusap keringat di dahinya, merasa begitu kelelahan. Bagaimana pun caranya mereka menyerang Pete, itu sangat percuma.
Sepertinya Pete adalah Initiator berkedok meta Fighting. Oleh karena itulah, mengapa Pete sangat sulit dihadapi.
Namun, mereka masih tidak menyerah. Ini adalah kesempatan emas untuk mengalahkan lelaki yang sudah dikenal di seluruh dunia (Leaf Valley) sebagai pembunuh raja monster.
Meskipun mereka harus babak belur sekalipun, mengalahkannya akan membuat mereka menjadi dikenal sebagai Counter untuk menghadapi Pete.
Sebagai catatan, Setiap orang yang berhasil mengalahkan orang terkenal akan masuk ke dalam sejarah baru. Namun, menghadapi Pete tidaklah mudah! Kelincahan berpindah posisi sambil mengelak sekaligus menyerang sangat menyulitkan mereka.
Namun, dalam posisi mereka yang berdekatan membuat Pete mengayunkan tombaknya dan serangan tersebut mengenai mereka bertiga sekaligus yang akhirnya membuat mereka terpental dan menabrak tembok. Satu serangan, mereka bertiga telah kalah.
Dia menutup matanya sambil menghela nafas pelan. "Seperti biasanya di setiap laga. Sekali adik termuda melihat kesempatan, di sanalah musuh akan terpukul jatuh. Kemampuan mengenali situasi milik adik termuda benar-benar mengagumkan."
Raven tersenyum, tidak menyangka bahwa Pete telah begitu kuat sehingga tiga melawan satu pun masih dapat Pete menangkan. Benar-Benar elite Fighter, pikirnya.
Pete telah menang, menggendong ketiga rekannya yang sejak tadi hanya diam saja menunggu hasil. Namun, ini juga cukup untuk membungkam para pembencinya yang sebelumnya mengatakan bahwa Pete hanya akan menjadi beban.
Terdengar suara teriakan fans Pete dadakan yang mengagungkan dirinya, membuat Pete memutar bola matanya malas. Dirinya tidak menyukai pujian seperti itu karena menurutnya, Pujian adalah racun.
Seperti biasa, setiap ada lelaki hebat di arena pertarungan, ditambah dengan muka plus delapan puluh persen, sudah pasti akan langsung mendapatkan penggemar.
Di tahun sebelumnya Dirinya memiliki Fans, walaupun semuanya adalah para bocah seumuran Monica.
Mereka pun keluar dari arena, mengingat pertandingan mereka adalah laga yang terakhir di babak kali ini. Semuanya pun juga sudah mulai bubarkan diri.
Terlihat Raven bersama May tampak berbicara begitu serius dengan Xiao Fu, kemudian mendadak mereka malah berlutut yang membuat Pete terheran.
__ADS_1
Dirinya mulai melangkahkan kaki hendak mendekati mereka mereka. Namun entah muncul dari mana, tiba-tiba Dia telah ada di sisinya dan menyeret Pete untuk menjauh.
"Sebagai muridku, kalian berdua tidak perlu menunduk. Mulai hari ini, kalian berdua akan menjadi bagian dari kelompok Telaga langit dan kalian tidak akan diperkenankan untuk keluar masuk dari perbatasan tanpa sepengetahuanku, apalagi jika tanpa alasan.
Aku harap kalian tidak melanggar apapun aturan yang berlaku di telaga langit. Jangan membuat kepalaku semakin uring-uringan seperti Pete, okay?"
May mendadak terkekeh, mengingat bagaimana curahan hati Dia kepada dirinya mengenai bagaimana sulitnya mengatur tingkah Pete yang begitu bandel seperti dahulu.
Sementara itu, Raven menggelengkan kepala. Dirinya tidak habis berfikir mengenai Pete yang kembali seperti dulu, ibarat 'kembali ke setelan pabrik.'
Flashback
Saat pertama kalinya mereka bertemu, Pete adalah lelaki pertama yang sangat lancang meraih tangannya, membawanya memasuki hubungan persahabatan dengan Collete dan Rusk.
Selain begitu lancang, dirinya juga pemaksa. Pernah kali, Raven terlihat di ayunan sendirian, tengah memikirkan maksud dari ucapan orang yang tidak dirinya kenal. Namun, lelaki nakal itu dengan tingkah konyolnya mengajaknya untuk bermain bersama.
Padahal, sudah jelas-jelas Raven menggelengkan kepala sebagai penolakan, Pete malah meraih tangannya dan hendak menariknya. Raven langsung menghentak tangan Pete begitu kasar, namun Pete malah meraih tubuhnya dan membawanya ke hadapan sahabatnya. Sejak saat itulah, hubungan persahabatan mereka terjalin sedikit demi sedikit.
Semuanya telah mengubah sifat Raven hampir setengah bagian. Raven menjadi begitu mudah terbuka terhadap masalah yang telah terjadi menimpanya, kecuali yang Raven pikirkan sebelumnya karena terlarut dalam obrolan panjang mereka membuat Raven selalu melupakannya setiap kali mereka saling melemparkan topik yang dibahas.
Namun, Raven malah memasang foto Pete bersamanya yang telah seseorang lukis untuknya dalam ukuran begitu kecil agar muat di liontin tersebut, bermaksud mencoba mencari tahu apa akibatnya.
Namun, secara mengejutkan, Raven seolah-oleh melihat masa depan, dan kemudian apa yang dilihat sebelumnya benar-benar terjadi seminggu kemudian.
Sifat asli Pete telah timbul, sebagai sifat naif yang begitu keterlaluan. Pete malah menolong Seekor ular berbisa yang terjepit batu, mengakibatkan dirinya terpatuk dan pada akhirnya Pete koma sampai hampir meninggal.
Keesokan harinya, ketika ular itu kembali ditemukan dan Raven sendiri sudah membawa kayu pendek hendak memukuli ular itu sampai mati, namun lagi-lagi Pete menahan dirinya agar tidak melakukannya, malah berteriak-teriak agar ular itu lari.
Raven begitu kesal dengan apa yang telah Pete lakukan, menggagalkan niatnya untuk membunuh ular itu yang hampir membunuh sahabat bodohnya ini.
Namun, Pete malah memberikan wejangan bla-bla-bla yang dirinya sendiri malah tidak tahu dari mana sumber ucapannya.
__ADS_1
Pete juga mudah terkena pengaruh buruk. Perlahan sifat bandelnya timbul yang membuat orang tuanya meminta Raven untuk terus memantau tingkah Pete yang tidak dapat terkendali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...