
Pete begitu menatap Chang'e begitu tajam sembari mengucapkannya kata tersebut, membuat Chang'terdiam. Mengingat dirinya menyebutkan alasannya Chang'e terkurung di dalam kesepian selama beberapa ratus tahun lamanya.
... Sacred Valley:titik awal kultivator ...
...Episode 86. sebuah perasaan ...
"Bagaimana kau bisa mengetahui hal itu? Kau hanya bercanda, bukan?" tanya Chang'e
Pete menghela nafas pelan di bawah sadar nya. "Ceritamu tertulis di buku misterius yang telah kami anggap fiksi. Kau tidak perlu berkelit, karena kau sendiri pernah mengatakan bahwa buku itu milik Yun XiaXoe yang dilempar ke dunia ini. "
Chang'e teringat kesalahan terbesar dirinya adalah melukai perasaan setiap orang yang ditemuinya, juga begitu sombong dan juga keterlaluan. Bahkan yang terparah adalah dirinya begitu egois terhadap Wu Gang. Membuatnya dihukum tidak boleh keluar dari Istana.
Teringat juga bahwa seseorang di antaranya pernah berucap, "akan hamba laporkan kepada kaisar langit mengenai sifat sang Dewi!"
Pada akhirnya, dirinya baru menyatakan kesalahan tersebut. Dirinya mengira bahwa dirinya dihukum karena keluar dari Istana, rupanya karena itu. Dirinya juga mengira bahwa semuanya tidak boleh menjenguknya, rupanya karena mereka begitu membenci dirinya sehingga begitu enggan untuk menjenguknya. Bahkan salah satu barisan mereka ada Wu Gang, kekasihnya sendiri.
Kembali ke cerita. Chang'e telah berhasil dibungkam dengan mudah. Dirinya pun mulai terbang menjauh dari Pete sejauh tiga meter dari posisi awalnya.
"Aku, begitu egois?" tanya Chang'e mulai mengalirkan air matanya, setetes demi setetes.
"..." Pete hanya bisa terdiam. Ingin dirinya raih fisik Dewi Chang'e tersebut, namun dirinya tahu, Chang'e tidak ingin Pete sentuh sementara ini.
Chang'e mulai terisak, hendak menangis. "Pete, aku menganggap kau adalah orang yang begitu naif, tanpa aku sadari bahwa sebenarnya aku adalah dewi yang begitu egois. Aku mohon, jangan ganggu aku untuk sementara ini. Aku membutuhkan ketenangan di Changseng Jue, terlebih dahulu."
Chang'e pun segera masuk ke dalam Changseng Jue, dan berdiam diri tanpa bisa Pete ganggu. Pete pun menghela nafas pelan, merasa bersalah karena telah mengungkapkan kebenarannya.
Pete beralih menatap Dia dan mendadak dirinya memalingkan muka. Dia memang begitu pendiam, dingin, dan protektif terhadap siapapun, kecuali Pete. Siapa sangka saat tidur, dirinya terlihat begitu imut. Bisa-bisa dirinya terkena diabetes, namun tidak mungkin karena penyebab diabetes adalah kandungan Gula, bukan kandungan manisnya sebuah senyuman.
Pete kembali menatap Dia, berupaya untuk tidak merona. Dirinya mulai mengusap rambut kepala gadis tersebut, kemudian beralih dari pipinya sampai bibirnya.
Dia seolah bereaksi menampar tangan Pete begitu lembut, membuat sentuhan Pete segera terlepas dari bibir tersebut.
"Refleksi ketika tidur, ya?"
Pete mulai menutup mata dan mengumpulkan keberanian, kemudian bergerak untuk mencium keningnya.
__ADS_1
Entah mengapa, Dia langsung membuka matanya. Membuat Pete terkejut setengah mati sampai wajahnya begitu pucat.
Dia menyentuh keningnya, mendadak dirinya begitu tersenyum. "Kau tidak perlu begitu. Itu tidak masalah, asalkan kau tidak bertindak lebih jauh lagi. Tetapi, tidak adil jika hanya kau yang bertindak. Aku harus membalasnya, bukan?"
Dia kemudian mengusap kening Pete dan mendadak teringat Raven telah mencium kening tersebut pertama kalinya. Usapan Dia yang begitu lembut mendadak menjadi begitu kasar, membuat Pete segera menepisnya.
Di dalam benaknya, Dia begitu dongkol setengah mati. 'Dasar, kau setelah dicium Raven di keningmu, pasti tidak kau basuh kening, bukan? Sial! Keningmu telah diambil kesuciannya olehnya.'
Dia malah menurunkan ciuman singkat tepat di bibir Pete, yang membuat bocah itu membeku. "Raven telah merenggut keningmu, jadi aku renggut bibirmu. Lain kali, setelah dicium siapapun selain diriku, tolong basuh dengan air bersih untuk menjaga perasaanku."
Pete menyentuh bibirnya sendiri. "Jangan kau basuh itu. Biarkan saja, sebagai tanda bahwa aku telah mengambilnya di sana."
"Ini...."
Mata Dia membola, mulai terbaca apa yang Pete pikirkan. Walaupun hasilnya hanya dugaannya saja. "Kau, jangan meminta lebih atau aku akan menghabisi nyawamu di sini dalam waktu sepuluh detik!"
Pete mengerutkan kening. Dugaan Dia ternyata salah. "Aku tidak meminta lebih, hanya saja aku tidak menyangka kau begitu berani mengambil ciuman singkat tepat di bibir. Jika aku menjadi kau, mungkin aku tidak mampu melakukannya."
"Kalau begitu, jangan dibahas!" ucap Dia mendadak malu, kemudian berupaya membanting topik. "Apakah kau tahu apa yang membuatku harus se-protektif ini?"
"Guruku pernah bilang bahwa diriku begitu berharga oleh para kultivator, dan aku diminta untuk se-protektif mungkin terhadap sentuhan lelaki manapun. Guru sendiri tidak mau menyentuhku, bukan aku yang menjaga agar tidak disentuh oleh guru."
"Berharga?" tanya Pete terheran.
Dia mengangguk. "Guruku bilang, aku seberharga tubuh fisik tidak ternoda. Jadi aku diminta merahasiakannya dari siapapun. Namun, setelah semua, aku tidak akan bisa merahasiakannya dari siapapun sehingga aku katanya ini kepadamu agar kau ikut melindungiku dari berbagai lelaki hidung belang yang hendak mengambil keuntungan dariku."
Pete tersenyum miris."Kau tidak memiliki hal berharga seperti itu, Dia. Aku tahu itu dari roh seorang dewi yang ada di Changseng Jue."
"Tetapi, guru bilang-"
"Kau tidak sespesial itu bagi para kultivator biasa. Namun hidupmu memang begitu terancam oleh para Kultivator tingkat yang lebih tinggi yang mampu mengusai ritual pengambilan roh.
Kau tidak memiliki tubuh fisik tidak ternoda, melainkan yang kau punya adalah jiwa murni dari pecahan jiwa para dewa dan dewi. Jadi tidak perlu khawatir terhadap sentuhan apapun, namun tetap berwaspada terhadap orang yang kau temui.
Berbeda dengan tubuh fisik tidak ternoda yang dapat membantu perkembangan pasangan hanya melalui ciuman, jiwa murni milikmu dapat membantu perkembanganku hanya melalui ikatan jiwa yang telah kita kembangkan walaupun tingkat awal dan kecepatannya juga dipengaruhi oleh hati dan perasaanmu terhadapku."
__ADS_1
Mendengar penjelasan Pete membuat Dia terperanjat. "Hah? Berarti selama ini, kau telah aku bantu berkembang?"
Pete mengerutkan kening "Ya. Akan tetapi karena garis darahku saat itu tidak terbentuk, itu sia-sia saja. Sekarang, aku telah membentuk jiwa Skelefang. Jadi bantuan mu begitu berharga."
"Bagaimana dengan tingkat kecepatannya?"
"Hanya sedikit demi sedikit, tergantung perasaanmu dan tingkat ikatan jiwa kita yang baru tingkat awal."
"Lalu, mengapa tidak kita lanjutkan saja perkembangan kita?" tanya Dia begitu antusias yang membuat Mata Pete membola.
"Apakah kau tahu seberapa buruk cara pelatihan tingkat lanjut tersebut?"
"Seburuk apa memangnya? Aku siap asalkan kau tidak tertinggal lagi. Apakah sampai harus menyatukan jiwa? Aku siap!"
Pete menghela nafas pelan, kemudian menyerahkan sebuah gulungan yang tidak biasa pemberian sang dewi. "Cobalah kau baca. Aku yakin kau pasti akan memikirkannya berpuluh kali lipat."
"Tch! Bilang saja kau begitu naif sampai harus menginginkan perkembanganmu begitu murni dari kerja kerasmu sendiri tanpa bantuan dariku." Namun, begitu membuka gulungan dan memperhatikan isinya, Mata Dia membola.
"Sialan, Mataku ternoda!" teriak Dia sambil langsung menghajar Pete bertubi-tubi.
"Aduh! Kakak pertama, itu salahmu! Mengapa kau berbalik menghajarku? Aduh-aduh!"
"Adik termuda mesum, beraninya kau menyimpan kitab seperti itu yang bahkan melihat isinya saja sudah membuatku ingin melemparnya di lautan lepas agar dihancurkan oleh hiu megalodon!"
"Hei, sang Dewi yang memintaku menyimpannya. Aku tidak bisa menolak."
"Alasan klasik yang begitu ampas! Apa susahnya menolaknya? Kau masih punya mulut untuk bicara, bukan? Memangnya mulutmu dijahit oleh dewi itu?"
"Berhentilah menghajarku! Aduh-aduh! Sakit!"
"Aku tidak akan berhenti sampai kau berfikir ribuan kali untuk mengulanginya lagi!"
"Ampun!"
Sementara itu, di luar, mereka semua begitu terganggu tidurnya. Namun bukannya melerai pertengkaran mereka, malah menyumbatkan telinga mereka dengan kapas. "Pasangan seperti mereka begitu merepotkan. Beruntung aku menyiapkan kapas."
__ADS_1