
Ketika latihan selesai, Micah mencoba untuk mencari Raven untuk berbicara dengannya. Ia menemukan Raven sedang duduk sendirian di bawah pohon besar di pinggir lapangan.
"Raven, maafkan aku jika aku melakukan sesuatu yang salah. Aku tidak bermaksud menyakiti perasaanmu," ucap Micah dengan lembut.
Raven mengangkat kepalanya dan menatap Micah dengan tatapan tajam. "Aku tidak marah padamu, Micah. Aku hanya merasa kesal dengan diriku sendiri karena tidak bisa mengendalikan emosiku."
Micah merasa lega mendengar penjelasan Raven. Ia mengerti bahwa semua orang pasti pernah mengalami emosi yang sulit dikendalikan. Micah duduk di samping Raven dan berbicara dengannya selama beberapa waktu.
Setelah berbincang-bincang, mereka akhirnya memutuskan untuk memaafkan satu sama lain dan melupakan kejadian yang telah terjadi. Micah merasa senang karena hubungan mereka yang telah pulih kembali.
"Terima kasih sudah mau mendengarkan aku, Micah. Aku merasa lebih baik sekarang," kata Raven sambil tersenyum.
Micah juga tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, Raven. Kita selalu menjadi sahabat yang saling mendukung dan membantu satu sama lain, kan?"
Mereka berdua kemudian berdiri dan berjalan bersama keluar lapangan.
Saat mereka berjalan keluar lapangan, mereka melihat seorang anak kecil yang sedang menangis di depan pintu masuk lapangan. Micah dan Raven mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi.
"Ayahku tidak datang menjemput aku setelah latihan, dan ibuku sedang sibuk bekerja," kata anak kecil itu sambil terus menangis.
Micah dan Raven melihat betapa sedihnya anak kecil itu, lalu mereka memutuskan untuk membantunya. Mereka menawarkan untuk mengantarkan anak kecil itu pulang ke rumahnya.
"Kamu bisa ikut bersama kami, kita akan mengantarmu pulang," kata Micah dengan ramah.
Anak kecil itu tersenyum kecil, merasa lega karena ada yang membantunya. Mereka berjalan ke arah rumah anak kecil tersebut sambil berbincang-bincang. Anak kecil itu merasa senang dan bersyukur karena ada teman-teman baik seperti Micah dan Raven.
Setelah sampai di rumah anak kecil itu, mereka mengecek apakah ada orang dewasa yang ada di rumah. Ternyata ibu anak kecil tersebut sudah pulang dan sangat bersyukur karena Micah dan Raven telah membawa anaknya pulang dengan selamat.
"Terima kasih banyak, Micah dan Raven. Kalian adalah sahabat yang baik dan hati-hati," ucap ibu anak kecil tersebut.
Micah dan Raven merasa senang dapat membantu, dan mereka pun kembali pulang dengan perasaan bahagia. Mereka merasa bahwa dengan melakukan kebaikan kepada orang lain, mereka bisa membuat dunia menjadi lebih baik.
__ADS_1
Namun, mendadak Raven teringat kedua orang tuanya yang telah tiada dan Micah sendiri mulai memikirkan ucapan Moonlight Goddess sebelumnya. "Micah, apakah kau tidak mengingat kedua orang tuamu?"
"Ah ..." Micah tidak mampu berucap apapun, karena saat ini dirinya mulai merasa begitu bimbang.
Ekspresi aneh Micah membuat Raven mengerutkan keningnya. Sesungguhnya apa yang dipikirkan Micah?
"Kau lupa dengan Orang tua mu?"
"Itu ... Oh, ya! Aku ingat. Mana mungkin aku melupakan orang tuaku sendiri! Ha ha ha!"
Terlihat, senyuman dan tawa Micah begitu dibuat-buat, mendadak membuat Raven merasa curiga. Seketika dirinya berharap Micah tidak berfikiran terlalu jauh. 'Apakah Micah mulai curiga dengan identitas dirinya dan keluarganya?' ucapnya di dalam benak.
"Micah, ayo kita pergi ke tempat lainnya yang sedikit menyenangkan."
"Eh?" Micah terkejut, melihat Raven dengan begitu cepatnya meraih tangan Micah dan menariknya. Ini mirip sekali seperti Raven yang dulu!
'Raven terlihat seperti dulu lagi.'
'Aku harus membuat Micah mengalihkan perhatiannya, jangan sampai dirinya terus memikirkan hal itu.'
Setelah Raven dan Micah keluar dari lapangan, mereka memutuskan untuk pergi ke bar kecil di dekat sana. Di bar tersebut, mereka memesan minuman dan duduk di salah satu meja. Meskipun awalnya suasana terasa canggung, mereka berhasil memulai obrolan yang menyenangkan.
Namun, tiba-tiba mereka berpapasan dengan Dia Finch, seorang pesaing Raven di pertandingan Colossus tahun lalu yang memang dimenangkan Dia Finch. Raven mencoba untuk melewatinya dengan sinis, tetapi Dia memutuskan untuk berbicara dengannya.
"Malam ini kamu terlihat lelah, Raven. Apakah kamu masih terganggu dengan kekalahanmu di Colossus tahun lalu?" ucap Dia dengan senyum sinis.
Raven merasa tersinggung dengan kata-kata Dia. Namun, ia mencoba untuk tetap tenang dan menjawab dengan sopan, "Tidak ada yang bisa saya lakukan tentang kekalahan di masa lalu. Saya hanya berfokus untuk meningkatkan kemampuan saya saat ini."
Namun, Dia tidak berhenti sampai di situ. Ia terus melemparkan komentar-komentar sinis tentang Raven dan bahkan mengungkit kembali kekalahan Raven di Collossum.
"Hanya butuh satu selendang untuk mengalahkan semua orang hebat Sharance, sungguh memalukan."
__ADS_1
Hal itu membuat Raven semakin marah dan terjadilah perdebatan sengit di antara mereka. Micah mencoba untuk menenangkan situasi, tetapi Dia terus mengeluarkan komentar yang membuat Raven semakin marah. Akhirnya, Raven tidak bisa menahan amarahnya dan melempar gelas kosong ke arah Dia. Beruntung, gelas itu berhasil ditangkap oleh Dia.
"Bermain tangan, Heh?"
"Raven, sebaiknya tahan emosi dirimu. Ini adalah bar, jika ada sesuatu yang menimbulkan kerugian, kita yang harus menanggungnya."
"Kau ... Micah Handerson, pria IQ tinggi namun tidak berguna. Tetapi aku hargai dirimu karena telah membantuku."
Hey, ucapan macam apa itu? Micah mulai tersulut emosi, tidak disangka bahwa Dia Finch yang telah dirinya beri saran untuk berteman malah sesombong ini.
"Hey, apa maksud ucapanmu tadi? Dasar, baru punya lima teman saja sudah membuatmu sombong!"
"Hey, aku hanya memberitahukan kebenarannya. Kau tidak terima kenyataannya, Micah?"
"Tch!" Micah mulai berupaya untuk kembali bersabar, karena dirinya tahu bahwa marah hanya menimbulkan kekacauan saja.
"Aku dengar, kau juga akan ikut bertarung. Jadi, aku rasa kau hanya bisa mengayunkan pedang seperti anak kecil."
Suara tawa berkumandang, memang orang-orang Sol Terano mendominasi meja Bar. Namun satu kalimat dengan pengucapan tegas sudah cukup untuk membuat mereka bungkam.
"Jaga ucapanmu, Gadis manja!"
Mereka mulai menoleh ke sumber suara, mendapati seseorang yang begitu cantik, terlihat anting-antingnya berwarna merah dari batu Ruby, gelang Hijau dari Emerald pada pergelangan tangannya dan cincin ungu dari batu Amnesty pada jarinya. Gadis itu juga tidak sendiri, terdapat dua pengawal yang tengah mengikutinya.
"Alice Hunter!" ucap Dia Finch merasa kesal. Sementara Micah dan Raven mulai saling berpandangan.
"Micah, dan Kau ... adalah Raven kane, bukan? Maafkan kekencangan dati gadis manja yang bahkan tidak mampu menggunakan celana ini."
Micah dan Raven kemudian saling berpandangan. Ketika mereka mulai berdebat sengit, Micah menarik Raven untuk pergi dari bar itu sebelum situasi semakin buruk. Meskipun mereka awalnya bersemangat untuk menikmati malam, kejadian itu membuat mereka merasa sedih dan kecewa.
"Maafkan aku, Micah. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi," ucap Raven dengan nada sedih.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Raven. Kamu tidak salah dalam situasi ini. Dia yang benar-benar mengganggumu. Tidak, Dia menggangguku juga," jawab Micah dengan lembut.
Mereka berdua kemudian berjalan kembali ke rumah dengan hati yang berat. Kegembiraan mereka tadi malam sudah hilang dan digantikan dengan perasaan yang berbeda.