
Burung-burung mulai berterbangan di udara. Matahari telah muncul, mulai menyinari seluruh alam semesta. Hari ini sudah begitu pagi, terlihat di Telaga langit tampak mereka semua tengah berbaris.
Sacred Valley:titik awal kultivator
Episode 63. Pete masih hidup
"Kalian semua, master akan pergi dahulu untuk mencari adik termuda yang saat ini tidak diketahui ada dimana. Sebaiknya kalian lanjutkan pelatihan di hari ini. Xiao Chi akan menjadi master sementara kalian mulai dari sekarang sampai aku kembali. Aku harap kalian mengerti."
"Kami mengerti, Master."
"Baiklah, aku akan pergi dahulu. Aku akan kembali dalam beberapa hari lagi. Kalian harus tetap fokus pada latihan, jangan pikirkan hal lain-lain. Kalian mengerti? "
"Mengerti, Master."
"Bagus! Kalian semua, aku pamit. Selamat tinggal semuanya!"
"Selamat jalan, Master dan semoga adik termuda berhasil ditemukan!"
Xiao Fu segera melesat pergi, sementara yang lainnya hanya bisa menatap kepergiannya.
"Aku harap adik termuda kembali," ucap Katie.
"Aku juga. Namun yang tidak aku mengerti, kemana adik termuda sebenarnya? Padahal saat di air terjun, dirinya masih ada di sana," tanya Gina yang berhasil mengundang pertanyaan besar sekaligus penyesalan terbesar di pikiran mereka.
Pertanyaan besar, kemana perginya Pete setelah ditinggalkan. Penyesalan terbesar adalah mereka malah meninggalkan Pete begitu saja sehingga tidak ada yang tahu kemana Pete pergi selanjutnya.
"Sudahlah, kita harus fokus terhadap pelatihan. Aku rasa Master pasti akan menemukannya," ucap Dia yang satu-satunya bersikap cuek terhadap situasi.
"Bisa-bisanya kau tidak merasa cemas, kakak pertama."
"Aku masih merasa kesal dan begitu benci kepadanya. Untuk apa aku memperdulikan dirinya? Walaupun nanti master datang dan akhirnya mengabarkan Pete sudah tiada pun, aku tidak akan peduli!" ungkap Dia yang membuat mereka semua terkejut bukan main.
"Kau benar-benar Dia, kan?" tanya mereka serempak.
"Kalau aku bukan Dia lalu aku siapa?" tanya Dia balik dengan ekspresi yang menunjukkan kekesalan.
"Maksudku, kau tidak peduli lagi dengan Pete, maksudku adik termuda?"
"Buat apa aku peduli dengannya? Walaupun nantinya ada kabar bahwa Pete tiada pun-"
"Kau sebaiknya jaga bicaramu!"
Semua mendadak menoleh ke arah Xiao Chi yang tampak mendekati mereka.
"Dia, mulutmu harus dijaga! Beraninya kau nenyumpahi kakakku tiada, hah?!" tanya Xiao Chi sarkas, namun setitik air mata mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Aku sudah tahu kau membencinya. Namun kau harus tahu aku masih menyayanginya. Jangan sembarangan dalam berucap!"
Dia segera sadar, segera meminta maaf."Maaf, Xiao Chi, aku tidak bermaksud-"
"Jika sampai master datang dan membawakan berita buruk yang seperti kau sumpahkan, aku akan sangat membenci dirimu!" Xiao Chi begitu murka dan juga menangis di dalam waktu yang bersamaan, langsung pergi begitu saja.
"Xiao Chi ..." lirih Dia, merasa bersalah.
-----
Dua minggu telah berlalu, mereka masih setia melakukan pelatihan sekaligus menunggu kabar dari masternya.
Sejak sehari setelah Xiao Chi marah, Dia merasa begitu tertekan. Entah mengapa, dirinya merasa tidak entah di hatinya.
Tidak hanya itu, Dia terus dihantui mimpi buruk. Uniknya mimpi tersebut selalu sama, terlihat keadaan Pete yang tengkurap karena terluka parah sampai bersimbah darah.
"Dia, kau tidak apa-apa?" tanya Xiao Chi terheran. Sudah dua minggu Dia malah terlihat begitu tertekan.
"Kau memikirkan ucapanku waktu itu? Tidak perlu kau pikirkan. Aku hanya emosi saja waktu itu, dan aku yakin kak Pete pasti ditemukan."
"Aku harap begitu," ucap Dia begitu pelan.
Xiao Chi menepuk bahu Dia sembari berucap, "rileks, Dia."
Tiba-Tiba Xiao Fu datang, yang membuat semuanya segera mendekatinya.
Namun, bukan Pete yang Xiao Fu bawa, melainkan pakaian yang telah sobek milik Pete dan pedangnya yang sebelumnya menancap di Devil Ghost Tree.
Semuanya mendadak merasa begitu tidak enak. Bahkan Xiao Chi sendiri mulai meneteskan air mata.
Xiao Fu mengusap air matanya pelan. "Kalian ikutlah aku."
Mereka pun mengikuti Xiao Fu pergi, sampai di tempat yang tanahnya terlapis darah
kering. Ada juga beberapa sobekan pakaian Pete lainnya dan terakhir ada Bangkai Devil Ghost Tree.
"Ini? Tidak mungkin kan?"
Tangis Xiao Fu pecah. Semuanya mendadak ikut merasakan sedih. Ketika mereka melihat lebih jelas, ada jejak kaki yang mirip dengan monster.
Mereka mulai menyadari maksud Xiao Fu, mulai menangis.
Bahkan Dia menyesali ucapannya waktu itu.
"Tidak mungkin! Aku yakin kak Pete masih hidup! Aku percaya kak Pete masih hidup! Aku tidak percaya ini adalah Pete!" teriak Xiao Chi kalap, sangat tidak menerima kenyataan yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Aku benar-benar bodoh, bagaimana bisa aku menyumpahi nya? Sekarang ini benar-benar terjadi. Aku benar-benar bodoh!"
Semuanya menangis tersedu selama setengah menit, setelah itu kesedihan mereka mendadak dibuyarkan oleh Dia yang merasa koneksi mereka terhubung kembali.
"Koneksi ini? Master, semuanya. Aku merasakan koneksinya. Pete masih hidup!"
Mereka mulai merasakan ada harapan, segera mendesak Dia untuk mencari Pete.
"Kalau begitu, kau bisa menemukan kak Pete dengan koneksimu bukan? Kita harus menemuinya dan meminta penjelasan kepadanya! Ayo, Dia. Kita cari Pete."
------
Sementara itu, Pete membuka matanya. Dirinya mulai terbangun. Namun pandangannya masih begitu buram.
"Kalau tidak bisa terbangun, kau tidak perlu bangun. Sebaiknya kau beristirahat, mengingat kau baru pulih."
"Itu benar. Ini, cobalah! Aku sudah menyiapkan bubur untukmu. Aku yakin kau pasti menyukainya. Soalnya masakanku begitu enak, bahkan isteriku ini seringkali memuji ku."
Pete menatap mereka berdua lekat-lekat. Ketika matanya sudah dapat melihat jelas, Pete begitu terkejut.
"Kenapa kau terkejut hanya karena melihat kami?"
Pete berfikir sejenak, kemudian bertanya, "apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Entahlah. Menurutmu apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Pete mengernyit. Mengapa mereka malah bertanya balik?
"Kalian mirip dengan sahabatku yang sudah meninggal sembilan tahun yang lalu."
" Mirip bukan berarti sama."
Pete terdiam. Mereka tampak begitu mirip,bahkan tingkah mereka juga sama. Pete menjadi begitu curiga.
Pete mencicipi bubur buatan seorang lelaki yang seumuran dengannya. Mata Pete membola, merasakan masakan yang tidak jauh berbeda dengan masakan yang Rusk buat.
"Sebaiknya kau beristirahat. Lukamu masih belum sembuh apalagi kau masih butuh transfusi darah."
Mereka pun pergi meninggalkan Pete sendirian. Pete mulai menatap langit-langit kamar dan kemudianmelihat sekeliling. Pete menyadari, dirinya merasa berada di Sol terano. Alasannya simpel, ini adalah gaya rumah Sol terano
"Sebenarnya siapa mereka? Mengapa mereka begitu mirip dengan Collete Rusk?"
'Daripada memikirkan itu, lebih baik kau tidur. Lukamu masih belum sempurna, bahkan kau masih dikatakan kekurangan darah.'
"Tetapi, dewi-"
__ADS_1
"Aku perintahkan kau untuk tidur! Jangan membantah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...