
Akhirnya, acara yang memakan waktu sampai 37 hari ini telah berakhir, tepat pada tanggal 'Fall 47th'. Setelah acara Pertandingan Collossum berakhir, mereka semua telah bersiap untuk kembali.
Micah dan Raven menyambut kepergian teman-teman mereka dari pintu gerbang wilayah Sharance. Mereka merasa sedih dan tidak rela untuk berpisah, tetapi mereka harus menerimanya. Sakuya dan Pia juga tergabung dengan rombongan mereka.
"Astaga, Micah. Jangan lupa kirimkan surat pada kami, ya. Aku pasti akan menunggunya," ucap Sakuya dengan sedih.
"Aish! Kau ini begitu aneh, Sakuya. Kita pasti bertemu lagi pada tahun depan," jawab Micah.
"Tahun depan itu sangat lama, Micah. Huhuhu, aku rindu!" ucapnya juga, bahkan sampai memeluk Micah. Namun mendadak aura mengerikan begitu terasa secara bersamaan dari arah yang berbeda. Pia tergidik ngeri karena mendapati aura itu dari Dia Finch dan Raven Kane yang menatap mereka begitu horor.
"Jangan lupa kirim pesan setiap musim, ya!" ucap Sakuya sambil berhenti memeluk Micah tanpa memperdulikan tatapan tajam dari kedua gadis yang telah merencanakan untuk saling berebut hari Micah itu.
"Micah, kau hanya mengirimkan surat hanya untuknya? Lalu untuk kami?" tanya Dia Finch, merasa muak dengan tingkah Sakuya yang memang dikenal sangat menyebalkan.
Micah hanya bisa menghela nafasnya. Dalam hatinya Micah merasa begitu tertekan. 'Begini amat jadi lelaki yang ditargetkan dua orang.'
__ADS_1
Mendadak, Tellah dan Sun Tian menyentuh masing masing bahunya. "Belajarlah dengan baik seperti ucapanmu. Kami menunggu kabar perkembangan dirimu dari sana. Awas saja jika rupanya kau bernalas-malasan."
Micah malah tertawa sembari berucap, "jangan khawatir. Aku tidak akan bermalas-malasan.
Akhirnya mereka mulai berangkat meninggalkan Sharance, meninggalkan Micah bersama Raven yang setia menunggu kepergiannya sampai tidak terlihat. Setelah mereka semua berpamitan, Micah dan Raven saling berpandangan, kemudian tersenyum bersamaan sebelum memutuskan untuk kembali ke rumah mereka.
Di sepanjang jalan, Micah merenungkan apa yang telah dia pelajari dari Sage Tellah dan guru kultivasi Sun Tian. Dia memutuskan untuk fokus pada mengembangkan kemampuan sihirnya, tetapi juga tidak akan menyerah pada pelajaran kultivasi dan jurus-jurus kultivasi yang dia dapatkan.
Sesampainya di rumah, Micah mulai merasa lelah dan beristirahat, mendadak dirinya mengingat kembali kejadian kejadian unik saat acara itu segera dimulai sampai akhirnya selesai. Micah kemudian berdiri dan mencatat semua yang dialami waktu itu dalam suatu miliknya yang rupanya tidak pernah ditulis lagi selama acara tersebut.
Pada keesokan harinya, mendadak Micah mendapatkan sekumpulan surat dari kotak pesan yang ada dirumahnya. Hampir semua surat itu ditujukan untuknya, kecuali surat misterius yang pengirimnya bernama Dia Finch, entah kepada siapa.
Meskipun tidak memiliki guru untuk membimbing dan membantu dirinya, Micah telah memiliki kitab sihir pemberian Tellah yang akan mengajarkannya dalam bentuk Teori. Kitab itu adalah hadiah yang sangat berharga bagi Micah, karena memungkinkan dia untuk mempelajari dan mengembangkan kemampuan sihirnya sendiri.
Micah membuka kitab sihir dan mulai membaca teks pertama di dalamnya. Teks itu berisi penjelasan tentang dasar-dasar sihir dan cara menggunakan energi alam untuk menciptakan mantra-mantra sihir yang kuat. Micah membaca teks itu dengan seksama, mencoba memahami setiap kata dan ayat dalam teks tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai membaca, Micah mulai berlatih dengan menggunakan teori yang telah dia pelajari. Dia mengambil seutas tali dan mencoba memangkasnya dengan menggunakan mantra-mantra yang dia pelajari dari kitab sihir. Pada awalnya, Micah kesulitan memahami cara mengatur energi alam dan memfokuskan pikirannya. Namun, setelah beberapa kali mencoba, dia mulai merasakan getaran energi alam dan bisa mengarahkannya dengan lebih baik.
Setelah berhasil memotong tali dengan mantra-mantra sihirnya, Micah merasa senang dan percaya diri. Dia merasa bahwa pelatihan sihir ini bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai tanpa bantuan guru. Meskipun tantangan yang dihadapinya cukup besar, Micah tidak menyerah dan terus belajar dengan tekun. Dirinya yakin bahwa setiap keberhasilan yang dia capai adalah hasil dari kerja kerasnya sendiri dan pengetahuan yang dia peroleh dari kitab sihir.
Micah terus mempelajari bab-bab berikutnya dalam kitab sihir dan mencoba menciptakan mantra-mantra sihir yang lebih kuat dan kompleks. Dia menyadari bahwa tidak ada jalan pintas dalam pelatihan sihir, dan setiap kemampuan yang dia miliki haruslah diperoleh dengan kerja keras dan tekun.
Meskipun hari itu penuh dengan latihan dan penelitian yang melelahkan, Micah merasa sangat puas dengan kemajuannya. Dia berharap dapat terus belajar dan mengembangkan kemampuan sihirnya, baik dengan bantuan guru kultivasi maupun dengan kitab sihir yang diberikan oleh Sage. Micah tahu bahwa perjalanan ini akan berlangsung lama, tetapi dia bersedia menempuhnya dengan penuh semangat dan tekad.
Micah memulai hari kedua pelatihannya dengan tekad yang kuat untuk meningkatkan kemampuan sihirnya. Setelah memperoleh gulungan jurus kultivasi dari gurunya, dia dengan antusias mulai mempelajari cara mengarahkan energi alam melalui tubuhnya dan mengatur aliran energi itu untuk mencapai tahap kultivasi yang lebih tinggi.
Dia mempelajari gerakan meditasi dan pernapasan yang harus dilakukan untuk mencapai keadaan kultivasi yang optimal. Micah sangat fokus dan tekun dalam latihan kultivasi, terus berulang kali melakukan gerakan meditasi dan pernapasan untuk memperkuat energi kultivasinya.
Meskipun latihan ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian yang tinggi, Micah terus belajar dan berlatih dengan tekun. Setelah beberapa jam berlatih, Micah merasa energinya semakin kuat dan dia dapat merasakan kekuatan yang meningkat dalam tubuhnya.
Dia memutuskan untuk mencoba menggabungkan kultivasi dengan sihirnya dan mencoba menciptakan mantra-mantra sihir yang lebih kuat dengan bantuan energi kultivasinya. Awalnya, dia mengalami kesulitan untuk mengatur kedua energi itu bersama-sama, namun dengan tekun berlatih dan berulang kali mencoba, Micah berhasil menciptakan mantra-mantra sihir yang lebih kuat dengan bantuan energi kultivasinya.
__ADS_1
Micah sangat senang melihat kemajuan yang dicapainya dan merasa semakin percaya diri dengan kemampuan sihir dan kultivasinya. Dia menyadari bahwa pelatihan sihir dan kultivasi tidak mudah, tetapi dengan tekun berlatih dan belajar, dia yakin bisa mencapai kemampuan yang lebih tinggi dan menjadi ahli sihir dan kultivasi yang hebat.
Pada akhir hari kedua pelatihan, Micah merasa sangat lelah tetapi juga sangat puas dengan hasil kerjanya. Dia memahami bahwa untuk menjadi ahli kultivasi yang hebat, diperlukan kesabaran, tekun, dan konsistensi dalam berlatih. Meskipun pelatihan sihir dan kultivasi memerlukan usaha yang besar, Micah percaya bahwa hasilnya akan sepadan dengan kerja kerasnya dan dia siap melanjutkan perjalanan menuju kemampuan yang lebih tinggi.